
Hampir seminggu sejak Tama menginap di penginapan yang letaknya tak jauh dari rumah Rani, jangan tanya siapa
yang membayar karena pastilah Rafi yang membayarnya. Alasannya karena Rafi memiliki keuangan yang lebih baik dari Tama, meskipun begitu Tama menawarkan diri untuk membayar namun temannya itu tak menggubrisnya.
Rafi kini tengah terlihat sibuk dengan laptopnya saat Tama kembali membeli makan untuk mereka, sejak tiba di kota ini memang keduanya tak banyak bicara hanya sesekali yang hanya ditanggipi Rafi ogah-ogahan, Tama sadar semua ini teradi setelah apa yang telah dirinya lakukan sehingga Tama pun hanya dapat menerimanya.
“Makan Fi, gue beliin nasi kuning,” Tama meletakkan sebungkusu nasi di samping Rafi, sedari pagi mereka bahkan belum makan apapun karena pikiran masing-masing.
Rafi hanya menatap sejenak, sebelum akhirnya kembali pada layar laptopnya kembali.
Tama mulai membuka bungkus nasinya, “Lagi banyak kerjaan lo?”
Rafi menghela napas, “Gitu deh.”
“Balik aja lo ke Jakarta,” tutur Tama setelah menyuap nasinya.
Rafi menatapnya kesal, “Brisik lo!”
“Lagian hubungan kalian udah selesai, jadi dari pada lo ninggalin kerjaan mendingan balik sana,” ucap Tama berharap Rafi mengerti bahwa dirinya ingin pria itu meninggalkan Rani.
Rafi meletakkan laptopnya di atas tempat tidur, “Bacot!”
“Bapak Rani nyuruh gue tanggung jawab,” ujar Tama kemudian, ia ingin melihat bagaimana reaksi dari Rafi.
Rafi meremas sebungkus nasi yang belum ia buka di tangannya, dirinya teringat bagaimana Rani yang meminta hubungan mereka berakhir serta Bapak Rani yang sempat ia temui meminta untuk mengiklaskan Rani begitu saja agar dapat menikah dengan orang lain, hal ini membuat Rafi semakin galau beberapa hari ini.
“Emang itu yang lo mau kan?!” suara Rafi meninggi, ia yakin seribu persen bahwa Tama masih berusaha memanasinya agar dia meninggalkan Rani.
“Iya. Tapi buat apa juga, nggak ada gunanya. Masih tetap lo yang Rani mau.”
Tama meneguk air meneralnya, tenggorokannya terasa mengering terlebih setiap dirinya megingat bagaimana tatapan Rani yang masih sangat membenci dirinya.
Rafi menatapnya sekilas, “Gue tahu. Tapi percuma juga Bapaknya nyuruh dia nikah sama lo. Gue tahu gimana Rani, dia bakal nurut sama bokapnya apapun yang terjadi.”
Tama sedikit sumringah, meski mereka berdua sama-sama serba salah namun setidanya di sini yang memiliki
peluang paling besar adalah dirinya.
“Kalau atas permintaan Bapaknya gue harus tetap menikah sama Rani, apa lo bakal ikhlas,” tanya Tama kemudian.
Rafi masih enggan membuka bungkus nasinya, terlebih setelah membahas hal tersebut Rafi sepertinya tak
napsu makan lagi.
“Pasti nggak ikhlas gue, tapi mau gimana lagi gue nggak punya pilihan lain,” jawab Rafi menerawang, ia bahkan
tak sanggup membayangkan Rani menikah dengan pria lain selain dirinya.
Rafi mulai kini berusaha untuk meredam emosinya, terlebih pada teman yang dulu ia anggap sahabat mukanya
masih banyak bekas luka serta lebam karena entah berapa kali telah dirinya pukuli. Meskipun tak mudah Rafi sadar bahwa tak selamanya hidup akan berjalan sesuai dengan apa yang dirinya mau, Rafi belajar untuk menerima apapun takdir yang terjadi dalam hidupnya saat ini dan juga nanti.
Rafi akan berusaha menerima fakta tersebut, namun ia akan dengan siap mengulurkan tangan untuk Rani kapanpun perempuan itu butuhkan.
Begitupun dengan Tama, siap nggak siap ia telah mempersiapkan dirinya untuk bertanggung jawab atas
perbuatan yang telah dirinya lakukan.
__ADS_1
“Bapak Rani minta gue mulai nyiapin berkas ke KUA,” ujar Tama pelan, ia bahkan sempat ragu untuk mengatakan
hal tersebut.
Namun di luar prediksi Tama, temannya itu hanya mengangkat kedua bahunya sepertinya ia akan berusaha melepas Rani.
“Lo nggak masalah?” tanya Tama kemudian.
Rafi masih tak bereaksi, ia hanya menghela napas.
“Fi beneran nih?” Tama kembali menanyakan hal tersebut, namun setengah memanasi tentunya.
“Masih kurang lo gue hajar?” tanya Rafi kemudian ia bahkan bangkit dengan tangan yang di kepal layaknya siap
meninju.
Tama kemudian terkejut ia dengan cepat mengambil bungkus nasi dan air mineralnya sebelum menghilang, di balik pintu.
Tama tak dapat menahan kelegaannya, ia berharap Rafi benar-benar dapat melepaskan Rani, tak dapat dipungkiri ada rasa bersalah yang teramat pada temannya itu, ia dan Rafi telah berteman sejak SMA, namun untuk kali ini saja Tama tak akan mengalah pada temannya itu.
Tama bergegas untuk datang ke rumah Rani lagi, karena hari ini ia di suruh Bapak Rani mendaftarkan dirinya
dan Rani ke KUA.
Tugas Tama sekarang tinggal meyakinkan meyakinkan Rani, lebih tepatnyay mengambil hati Rani.
Pastinya akan sangat sulit, seperti yang ia lihat sekarang setibanya di rumah Rani semuanya terlihat
bersitegang, antara Bapak dan Rani.
“Pak, tolong jangan paksa aku, aku nggak mau menikah.”
“Bukan begitu Pak, aku belum siap.” Rani sekarang tampak memelas, ia bahkan menangis.
Tama yang tak tega melihat hal tersebut mendekati Bapak, berharap ia dapat membujuk pria yang telah ia
hormati tersebut.
“Bapak ada apa?” tanyanya.
“Kamu dan Rani harus menikah, tapi lihat bagaimana dia selalu membantah Bapaknya.”
Rani menatapnya kesal, “Gara-gara kamu!”
“Rani aku minta maaf ya, tapi bisa kita omongin ini pelan-pelan?” lalu Tama beralih pada pria paruh baya di sebelahnya, “Bapak kita omongin ini pelan-pelan ya? supaya Rai tenang dulu.”
“Nggak bisa, menunggu dia tenang malah akan semakin membantah Bapak. Rani harus nurut, ini sudah keputusan yang tepat.”
“Tepat untuk siapa Pak? Untuk Bapak? Tapi enggak buat Rani!” Rani semaki histeris ia bahkan tak sadar meninggikan nada bicaranya.
“Rani! Kamu nggak boleh bicara seperti itu pada Bapakmu.” Kali ini Ibu yang mengingatkan Rani,
bagaimanapun Bapak orang tua Rani yang harus di hormati.
Tama mendekati Rani, ia memegang kedua bahu Rani “Rani, kamu tenangin diri dulu ya, aku paham kamu
masih benci kan sama aku, tapi tolong kita harus cari jalan tengahnya Rani.”
__ADS_1
Meski tatapannya sarat akan kekesalan namun Rani tak dapat memberontak saat Tama membantu dirinya untuk duduk di bangku, bahkan pria itu mengambilkan dua cangkir air putih untuk dirinya dan Bapak.
“Bapak minum dulu ya, supaya tenang,” Tama memberikan segelas air putuh kepada Bapak, “Kamu juga minum dulu,” kata Tama, sambil merapikan riap-riap rambut Rani yang kemudian di tepis
perempuan itu.
Semuanya kini terlihat lebih tenang, Bapak, Ibu, Rani begitupula dengan Tama telah duduk di ruang tengah.
“Rani, Bapak hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Punya anak perempuan buat Bapak setiap hari kepikiran, nggak tenang. Tapi sekarang sudah terjadi begini, ya mau bagaimana lagi Bapak nggak ada pilihan lain selain menikahkan kamu.”
Bapak kita tak di kuasai emosi, bahkan Rani mendengar suara beliau yang tenang kali ini Bapak benar-benar menyampaikan keinginan beliau sebanarnya.
“Lagi pula dia mau tanggung jawab,” Bapak menunjuk ke arah Tama, “Selain memang karena berbuatan dia, nggak
mungkinkan kalau kamu akan menceritakan kepada pria lain kalau kamu nanti akan menikah, Bapak nggak rela kalau kamu di jelek-jelekkan oleh orang lain Rani.”
Rani meletakkan gelas yang masih belum ia minum airnya itu di atas meja, “Kalau itu yang Bapak khawatirkan, Rani nggak perlu nikah juga nggak masalah Pak.”
“Hus, kamu itu kalau ngomong jangan gitu,” kata Ibu kembali mengingatkan Rani.
“Kamu nggak boleh selamanya membenci orang Rani. Perlu kamu ingat Bapak pun membenci Tama, bahkan tak sudi Bapak melihat anak ini, tapi lagi-lagi kita manusia biasa, Allah saja maha pemaaf siapa kita yang sangat sombong nggak mau memaafkan orang lain,” ucap Bapak dengan bijak, berharap putrinya itu memahami apa yang Bapaknya inginkan.
“Bahkan Rani masih belum bisa memaafkan dia Pak, jijik Rani melihat wajahnya,” umpat Rani kemudian.
Tama terkejut, ia tak dapat berbohong bahwa dirinya terluka dengan perkataan Rani barusan, namun lagi-lagi semua ini terjadi karena ulah Tama sendiri, lebih tepatnya karena pengaruh alkohol.
“Rani aku minta maaf, kamu bisa membenci aku sepuasmu aku nggak keberatan. Tapi tolong kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”
Rani menggeleng, “Ada satu Syarat,” ucapnya kemudian.
Ketiga orang di sana menatapnya dengan raut wajah mempertanyakan apa yang akan menjadi Syarat.
“Aku akan memastikan apakah aku benar-benar tidak hamil ke dokter kandungan, kalau ternyata aku hamil aku akan nurut untuk menikah. Tapi kalau hasilnya memang aku nggak hamil, Bapak nggak bisa paksa aku lagi. Aku akan memilih tetap nggak mau menikah.”
“Tapi kemarena kata kamu nggak hamil Nduk?” tanya Ibu.
“Berdasarkan test pack yang aku gunakan hasilnya memang nggak hamil Bu, kata Mbak Wiwit aku harus tetep coba periksa biar hasilnya lebih akurat,” jelas Rani.
Meski awalnya Bapak tempak terlihat berpikir, namun kemudian beliau menyetujui Syarat Rani tersebut.
“Kalau memang itu mau kamu, Bapak akan menyetujui, tapi ingat kalau ternyata kamu hamil kamu harus nurut apa kata Bapak,” tutur Bapak tegas.
“Rani, aku juga punya satu Syarat,” kali ini Tama tak ingin kalah dari Rani, ia pun akan mengajukan satu Syarat.
Rani melengos, “Apa?” tanyanya singkat.
“Aku yang mengantar kamu ke dokter,” Rani tampak akan protes, “Kalau kamu hamil, berarti itu juga anak aku Rani,” ucap Tama tegas tak mau ditolak lagi.
Rani hanya bisa pasrah, “Oke.”
“Kapan kamu akan periksa?” tanya Bapak.
“Besok Pak,” jawab Rani yang entah kenapa kini dirinya terdengar tak percaya diri, ia hanya berdoa kalau
hasilnya akan tetap saja bahwa dirinya tak hamil.
Berbeda dengan Tama di sampingnya yang berharap sebaliknya, ia berdoa berulang kali agar Rani hamil, Rani
__ADS_1
mengandung anaknya sehingga tak ada alasan lagi bagi Rani menolak dirinya.
[]