
Rani tampak aneh baru kali ini ia tak lepas menatap Tama, entah karena dirinya yang masih ketakutan atau memang ada hal lain yang tak Tama ketahui.
“Kamu kenapa ngeliatin aku sih?” tanya Tama yang sedikit salah tingkah karena merasa diawasi.
“Aku nggak akan jahatin kamu lagi kok, kalau itu yang kamu takutin. Janji,” tutur Tama meyakinkan Rani.
Rani menghela napas kembali bersandar pada kursi penumpang kini dirinya merasa jauh lebih tenang, jangan tanya kenapa entah sejak kapan dia merasa nyaman berada di sisi Tama, bukan lagi takut. Mungkin orang akan berpikir aneh bukan? Tapi itulah yang dirinya rasakan.
“Rani? Kenapa si? Mau balik ke mode sewot lagi?” Tama menatap Rani heran.
Tingkah perempuan di sampingnya memang selalu tak dapat menebak tingkah Rani yang sering di luar prediksinya. Tama meniup tangannya kembali karena merasa perih, dirinya harus mengambil tisu dalam tasnya untuk megusap bekas darah yang sudah kering di sana.
“Ck! Lagian kenapa nggak hati-hati sih! Bisa-bisanya kena pembatas jalan, kok bisa kamu sampai ke jalan katanya tadi mau pesan makan,” omel Rani kini perempuan itu membuka tas selempangnya untuk mengeluarkan tissue basah dari sana.
“Ya mana aku tahu, namanya juga musibah,” Tama mengerucutkan mulutnya, dia lagi sakit gini kenapa malah diomelin.
“Sini!” Rani menarik tangan Tama begitu saja.
“Nggak ada lembut-lembutnya ya Allah,” ucap Tama sedih yang dibuat-buat seperti anak kecil.
“Nggak usah bawel deh!”
Rani ketus ia mengusap pelan tangan Tama yang ternyata menampilkan goresan kecil di sana.
“Kenapa darahnya banyak banget? Ini cuma goresan kecil Tama, dari pada luka ini tangan kamu lebih ke lebam.”
Rani heran, melihat tangan Tama yang penuh darah padalah lukanya tak sebesar itu, perempuan itu kembali menatap Tama curiga.
“Enggak, aku nggak ngapa-ngapain serius cuma kena kaca di toilet serius.” Tama tak sadar kini dirinya gelagapan.
“Aku nggak ngomong apa-apa padahal, kenapa kamu kaya panik gitu?” Rani menyadari ada yang Tama sembunyikan.
Tama mengalihkan wajahnya, “Ya kamu gitu banget ngelihatnya, aku kan selalu salah di mata kamu.”
Rani memutar bola mata malas, “Suuzon mulu jadi orang.”
Keduanya malah saling sewot satu sama lain, setelah tangan Tama terlihat bersih keduanya hanya diam tak ada lagi yang bersuara.
Tama yang melihat tisu basah bekas membersihkan tangannya dengan diam mengambilnya dari tangan Rani, dirinya juga kesal kenapa selalu di marahi Rani padahal ia jadi seperti ini untuk membela perempuan itu. Namun dalam sekejap Tama menyadarkan dirinya, astagfirullah aku kan sudah jahat banget sama Rani kenapa masih berharap lebih sih.
__ADS_1
Tama buru-buru kembali ke tempat duduknya, “Rani kamu makan dulu ya, aku tadi beli roti.”
Pria itu mengeluarkan beberapa cemilan serta sebotol air mineral dalam kresek yang tadi dirinya bawa.
Tak lupa Tama membukakan bungkus roti sebelum memberikannya pada Rani, “Nih, kamu makan dulu ya.”
Rani tak menjawab ia menerima roti yang Tama berikan, setelah satu gigitan baru Rani bertanya kenapa pria itu tak ikut makan bersamanya.
“Kamu nggak makan?”
Tama mengambil sebungkus roti lagi dalam plastik, “Ini, aku beli banyak tadi, kalau kamu mau lagi bilang ya.”
Rani mengangguk, tapi ia rasanya tak akan tambah lagi ini saja dengan susah payah Rani berusaha menelannya, terlebih ia merasa kembali mual. Setelah dua kali gigitan ternyata Rani tak dapat menahannya lagi ia kembali ingin muntah, Rani seketika menutup mulutnya dengan rapat.
Tama menyadari hal tersebut tentunya, “Kenapa? Mau muntah lagi?”
Rani mengangguk-angguk dengan cepat, ia semakin rapat menutup mulutnya karena takut isi perutnya menyembur mengenai Tama.
Tama dengan cepat mengeluarkan semua isi kresek di tangannya, kemudian ia buka lebar-lebar agar Rani dapat mengeluarkan isi perutnya itu dengan leluasa.
Rani yang sedari tadi belum makan membuat perutnya kosong, hanya cairan bening yang dirinya keluarkan, namun tubuhnya kembali lemas.
“Udah nggak apa-apa,” jawab Rani lemas.
Tama mengoleskan minyak angin pada tekuk Rani, ada satu tempat yang seharusnya diolesi minyak angin juga tapi Tama tak berani untuk mengoleskannya begitu saja, sedikit ragu akhirnya Tama memberikan minyak itu ke tangan Rani.
“Rani, kamu harus olesin ini juga di perut kamu,” ucapnya.
Rani menatap Tama yang menolehkan mukanya berusaha tak melihat Rani, “Serius kamu sok sopan gitu, padahal malam itu aja kamu yang buka paksa baju aku Tama.”
Rani merasa aneh, apa sebenarnya Tama berkepribadian ganda karena sifatnya yang sebenarnya sangat berbeda dengan apa yang terjadi malam itu.
“Udah belum?” tanya Tama tak menghiraukan pernyataan Rani barusan.
“Udah,” jawab Rani setelah mengoleskan minyak angin pada perutnya.
“Rani, aku sangat menghargai perempuan. Semua yang terjadi di malam itu benar-benar di luar kendali aku,” jelasnya kemudian, bahkan Tama kini menatap Rani sepenuhnya meskipun wajah perempuan itu tak terlihat jelas karena lampu bus padam pertanda semua penumpang tidur.
Rani yang saat ini lemas tak kuat berdebat lagi dengan Tama, “Iya, terserah kamu deh.”
__ADS_1
“Aku serius ngomong gitu Rani, nggak ada yang aku karang,” ucap Tama berusaha meyakinkan Rani.
Rani menutup matanya yang semakin berat, ia hanya bergumam untuk menanggapi Tama, “Hmmmm.”
Tama yang sadar Rani ingin istirahat akhirnya kembali pada posisi nyamannya, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi sepenuhnya berusaha untuk tidur.
Namun sulit sekali untuk kembali lelap saat pikirannya melalang buana entah kemana, kembali ke malam itu yang sulit sekali dirinya sendiri ingat apa yang telah Tama lakukan pada Rani serta pekerjaan apa yang sekiranya akan Tama kerjakan nantinya.
Pria itu butuh pekerjaan segera, untuk keperluan sehari-hari juga untuk persalinan Rani nantinya, juga untuk Bapak dan Ibu di kampung.
Tama membuka matanya saat ia menyadari ada seseorang yang bisa ia hubungi, semoga saja ada peluang. Tama merogoh ponsel di saku celananya, ia menuliskan satu nama di pencarian kontaknya.
Setelah menemukan nama Retno, pria itu dengan segera mengklik tombol panggil.
“Halo?” suara di sebrang terdengar serak.
“Retno, ini gue Tama,” ucap Tama terlalu bersemangat, namun kemudian ia menurunkan volume suaranya agar penumpang lain tak merasa terganggu, “sorry ni ganggu malam-malam,” ucapnya kembali merasa tak enak.
“Lagian lo kenapa nelpon jam segini sih?” Retno di sebrang tampaknya sedikit kesal.
Tama merasa bersalah saat melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 23.45 wib, Sorry banget kepepet nih,”
“Kenapa?” tanya Retno kemudian.
“Gue lagi butuh kerjaan nih? Di café lo udah ada yang main musik belum?” tanya Tama berharap-harap ini peluangnya.
Retno tak langsung menjawab, perempuan itu sepertinya berpikir untuk memutuskan hal tersebut.
“Gue tanyain sama Laras dulu ya, Tam? Soalnya ini kan usaha gue sama dia, nah tapi lho tenang aja kalau memang kita butuh, gue yang nanti langsung ngabarin lo ya.”
Tama senangnya bukan main, ia bahkan menatap Rani yang tertidur di sampingnya, “Iya, siap Retno. Langsung kabarin gue kapanpun ya.”
Setelah menutup panggilannya dengan Retno, Tama merapal semua doa yang dia bisa semoga kali ini benar-benar rezekinya, semoga Tuhan mengasihani calon Bapak yang akan menafkahi anak dan istrinya itu.
Tak sampai di situ Tama kembali membuka ponselnya, pada aplikasi pencarian ia mencari lowongan pekerjaan yang mungkin sesuai dengan kapasitasnya. Tama saat ini hanya bisa berusaha dan berdoa, hanya yang di atas yang dapat menentukan, semoga apa yang dirinya lakukan saat ini dipermudah.
[]
*Teman-teman jangan lupa mampir di cerita baru aku ya!! enjoyyy!
__ADS_1