
* Siap-siap senyum-senyum yaaaa :)
Pagi ini Rani bangun lebih dulu ketimbang Tama, ia segera solat subuh karena hari ini
Rani memilih untuk membuat sarapan sendiri.
Sebelum Rani beranjak untuk membuat sarapan perempuan itu menatap Tama yang masih tertidur
pulas, mukanya yang semalam lebam kini tampak semakin biru bahkan matanya
sedikit bengkak, Rani merasa tak tega melihatnya. Ia betulkan selimut Tama yang
sudah tak beraturan hingga menutupi dada pria itu, Rani tatap sekali lagi Tama
sebelum ia beranjak.
Hari ini Rani akan membuatkan Tama bubur agar pria itu tak kesulitan memakannya, pasti sangat
ngilu membuka mulut terlalu lebar.
Rani masih tak habis pikir, kalau memang Tama tak memiliki musuh apa pria itu
memiliki utang pada seseorang sehingga dihajar separah itu pikirnya.
Rani larut dengan pikirannya sendiri, sehingga ia tak sadar Tama sudah terduduk
ditempat tidur, ia terkejut mendapati Tama yang melihat ke arahnya.
“Astagfirullah, kamu kenapa udah bangun?” Rani mendekati Tama yang masih tak bergeming mungkin
pria itu masih mengumpulkan nyawa, pikirnya.
Tama memasang ekspresi sedih seperti biasanya saat Rani bersikap cuek padanya, “Kamu kenapa?” tanya Rani.
“Sakit,” ucap Tama sedih, pria itu bahkan berkaca-kaca.
“Yang mana?” tanya Rani panik, “Mana? Ini?” Rani meniup-niup luka dilengan Tama.
“Badan aku sakit semua,” ucap Tama lagi dengan mata berkaca-kaca.
Rani yang awalnya panik tertawa terbahak-bahak, yaampun yang kini mulai menangis.
“Yaampun, ahahah maaf ya, tapi kok ini agak lucu,” tawa Rani.
“Sakit banget, huff huff,” Tama bahkan meniup-niup lukanya sendiri.
“Sabar-sabar, iya ini pasti sakit, semua badan kamu soalnya parah banget lukanya. Nanti kita kedokter lagi
ya?” tawar Rani berusaha menenangkan pria dewasa yang berubah jadi anak lima
tahun itu.
Rani tertawa karena aneh juga heran, ternyata Tama pria yang selalu sok kuat bisa
menangis juga sangat tidak cocok dengan postur tinggi cowok keren Ibu kota yang melekat padanya..
Tama menggeleng, “Mahal rumah sakit.”
“Nggak apa-apa, rezeki udah ada yang ngatur, nanti kita cari bareng lagi,” ucap Rani
masih berusaha menenangkan.
“Kamu sendiri yang bilang harus hemat,” tutur Tama sambil mengusap air matanya dengan
tangan kiri persis anak TK yang minta jajan, dan itu sukses membuat Rani
terbahak lagi.
“Iya maaf, ya. Kamu tidur lagi aja, nanti kita periksa lagi sepulang aku kerja,”
kata Rani menepuk pelan punggung Tama.
Tama kembali menggeleng, “Aku mau solat.”
“Tapi ini, luka kamu parah banget lho,” ucap Rani mengingatkan.
“Nggak apa-apa, aku harus lebih rajin ibadah Rani, aku nggak tau hidup aku sampai
__ADS_1
kapan apalagi setelah kejadian ini, dan juga apa yang aku lakuin ke kamu. Aku
harus bertobat,” ucap Tama yang sukses membuat Rani menganga.
“Ih, nggak boleh ngomong gitu, kita berdoa panjang umur sehat biar bisa gedein anak
ini bareng-bareng,” tutur Rani, dia merasa sedih melihat Tama jadi seperti ini.
“Iya Rani, aku cuman pengen memperbaiki diri lebih baik lagi,” jawab Tama yang membuat Rani
terharu.
“Iya, semoga kamu jadi lebih baik terus ya kedepannya.”
Tama akhirnya benar melaksanakan solat meski dengan jalan yang tertatih-tatih bahkan pria itu
menolak saat Rani berusaha untuk membantunya.
Rani kembali menyiapkan makanan di dapur, ia sempat berpikir apakah sekarang memang
waktu bagi dirinya membuka hati untuk Tama.
Dua minggu sudah Rani berada satu atap dengan pria itu tak pernah sekalipun Rani merasa di sudutkan, bahkan Tama tak pernah sekalipun marah atau berkata kasar, ia merasa nyaman berada di dekat Tama, berbeda sekali
dengan waktu itu, waktu pertama kali setelah kejadian itu Rani merasa ketakutan bahkan hanya dengan kehadiran Tama disekitarnya.
Setelah dipikir-pikir serta mengesampingkan egonya, Rani merasa khawatir saat
melihat keadaan pria itu semalam. Bahkan Rani menyadari, sekarang ia melihat Rafi
tak semangat seperti dulu, malahan Rani lebih ingin menjaga perasaan Tama.
Rani menggeleng-gelengkan kepalanya, jangan sampai apa yang dirinya katakan dalam
hati didengar oleh Tama, ia kemudian mengintip punggung pria itu yang masih
terduduk di atas sajadah.
“Tama, kamu nangis lagi?” tanya Rani sedikit ingin meledek pria itu.
“Dih, cengeng juga kamu ternyata,” ucap Rani membawa semangkuk bubur ditangannya.
Karena Rani tak ingin terlalu banyak menghabiskan waktunya di dapur apalagi Rani mual-mual
ketemu bawang ia akhirnya memutuskan untuk membuat bubur sumsum dari tepung
beras, lengkap dengan kuahnya dari gula jawa, sehingga sangat mudah dan cepat untungnya Rani
kemaren sudah menyiapkan bahan masakan sehingga ia tak perlu keluar untuk
belanja.
Tama masih tak beranjak membuat Rani kembali memanggilnya, “Tama? Sakit lagi ya?”
Tama mengangguk, “Iya sakit banget gimana aku kerja nanti.”
Rani meletakkan mangkuk di atas meja, “Yaampun, libur dulu kali Tama, bos kamu pasti
paham kok.”
Tama memutar tubuhnya menghadap Rani, “Mereka tahu Ran, semalam juga yang nolongin
aku mereka. Tapi aku nggak enak udah ngerepotin.”
“Nggak usah! Aku pokoknya nggak ngizinin kamu kerja ya, mereka juga bakal nyuruh kamu
pulang kali,” kesal Rani, bukan main pada Tama, tadi pria itu menangis karena
kesakitan sekarang malah mau kerja.
“Yaudah, aku nanti izin,” ucap Tama pada akhirnya.
Rani menyodorkan semangkuk bubur yang telah ia buat, “Sarapan dulu ya, semalem
dikasih obat kan?”
“Ada kok,” ucap Tama menerima semangkuk bubur yang masih hangat itu, “Kamu nggak makan?” tanya Tama melihat hanya seporsi bubur yang Rani buat.
__ADS_1
“Aku nanti aja, sekarang kamu buruan makan terus minum obat biar mendingan itu
sakitnya,” suruh Rani.
Tama menurut ia menyuap sesendok demi sesendok bubur yang Rani buatkan itu, “Enak,”
komentarnya.
Rani mengamati Tama yang makan dengan lahap, meski harus dengan hati-hati, “Kita
lapor polisi ya?”
Tama menelan makananya terlebih dahulu, “Udah, motor aku ada dikantor polisi.”
“Oh iya, aku nggak ngeh lho kalau motor kamu nggak ada,” tutur Rani, “Kamu punya utang
ya?”
Tama menghentikan gerakan tangannya, “Enggak ya Allah, aku nggak pernah utang, eh
pernah sekali sama Rafi itupun kepepet dulu buat beli obat nenek waktu aku SMA.”
“Ya siapa tahu yang udah mukuli kamu itu deptkolektor,”
kata Rani menyampaikan uneg-unegnya.
“Aku kayanya tahu, tapi aku mau mastiin dulu apakah benar atau perasaan aku aja,”
ujar Tama membuat Rani penasaran.
“Maksud kamu, kamu udah tahu siapa yang mungkin nyerang kamu itu?” tanya Rani.
“Iya, kemungkinan. Karena aku sempet denger suara salah satu dari mereka. Tapi karena
aku nggak punya bukti aku akan cari tahu dulu. Aku minta sama kamu hati-hati ya
Ran, takutnya mereka juga nyelakain kamu,” ucap Tama panjang lebar.
“Tama, kamu tahu apa yang paling aku takutkan sekarang?” tanya Rani.
Tama mengerutkan alisnya, “Apa?”
“Kamu, aku takut kalau kamu akan pulang dalam keadaan gini lagi,” ujar Rani sedih.
Tama menatap Rani dengan tatapan sendu, “Maaf ya, kalau tahu kamu akan lebih
menderita nikah sama aku, aku milih waktu itu nggak keras kepala buat nikahin kamu
Rani.”
“Aku nggak menderita Tama, aku baru sadar ternyata aku nggak kuat lihat kamu kaya gini,”
tutur Rani jujur, kali ini ia ingin mengungkapkan apa yang dirinya rasakan.
Tama meletakkan mangkuknya begitu saja, ia beralih menyentuh tangan Rani yang berada
disampingnya, “Rani, boleh nggak kalau aku,,,,” Tama menelan ludahnya,
kerongkongannya tiba-tiba terasa kering, rasanya Tama gugup seperti pertama
kali dirinya menembak perempuan dibangku SMA.
“Kenapa?” tanya Rani penasaran apa yang akan Tama katakana.
“Em, boleh nggak kalau, kalau aku panggil sayang?” tanya Tama polos membuat Rani
sebal dengan apa yang pria itu tanyakan.
“Ya ampun Tama! Kita lagi serius lho bahas penjahat yang bikin kamu kaya gini!” kesal Rani
ia tak sadar menjewer telinga Tama membuat pria itu mengaduh kesakitan.
[]
Writer's Note :; Akhirnya dipertengahan perjalanan cerita ini sampai juga di momen ini ya! hehe semoga suka!
Ayooo spam komen dong guys setelah kalian baca cerita ini, biar aku semangat hehe :)
__ADS_1