
Hari demi hari berlalu, Tama yang semakin pulih lukanya kembali masuk kerja begitupun dengan dua orang yang Babe Jerris perintahkan menjaga Rani.
Tama sengaja menyuruh kedua orang itu untuk tidak terlalu menampakkan diri agar Rani tak curiga dengan keberadaannya. Mereka hanya menjaga Rani ketika perempuan itu keluar rumah, namun penjagaan tersebut tak berlaku saat ada Tama di samping Rani.
Setelah hidup dengan Rani selama satu bulan Tama mulai mengetahui kebiasaan perempuan itu saat kelelahan, seperti sekarang Rani tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka membuat Tama tertawa melihat kelucuan perempuan itu.
Sepertinya Rani sudah mulai nyaman tinggal bersama Tama, hal itu pun dapat Tama lihat dari bagaimana gestur tidur Rani yang semakin hari semakin mepet dengannya, perempuan itu akan merangsek ke arahnya perlahan.
Tama sudah pasti tak keberatan dengan hal tersebut, bahkan saat Tama meletakkan tangannya untuk memeluk pinggang Rani, tak ada lagi gerakan kaget dari perempuan itu.
Tama saat ini masih enggan beranjak karena melihat wajah tidur pulas Rani, menurutnya seperti anak kecil. Tangannya bergerak merapikan anak rambut Rani yang berantakan, ingin sekali ia menyuruh Rani berhenti bekerja agar perempuan itu tak perlu merasa kelelahan, namun Rani selalu bilang ada mimpinya di sana yang tengah ia bangun.
Maka Tama selaku suami yang baik hati, selalu berinisiatif memijit kaki Rani sebelum mereka tidur, awalnya Tama menerima penolakan namun lambat laun Rani menerima perlakuannya itu.
Tama jadi tak tega membangunkan Rani, meski jam terus berjalan. Dalam hidup Tama tak pernah sekalipun ia berharap waktu berhenti, namun di momen ini Tama berharap tuhan menghentikan waktu sekarang juga agar Tama bisa selamanya mendekap Rani.
Rani bergerak-gerak kecil membuat Tama harus menahan napasnya, takut kalau Rani melihat wajahnya malunya sekarang.
Perempuan itu membuka matanya perlahan, begitu melihat Tama sontak Rani menutup mukanya, "Kamu ngapain lihatin aku, malu."
Tama tersenyum lebar, "Ngapain malu? udah sah ini."
"Tetep aja, malu muka bantal gini," ujar Rani tertawa menutup mukanya.
"Sholat yuk?" ajak Tama menepuk kepala Rani.
"Heem," jawab Rani masih dengan kedua tangannya yang menutupi wajah.
__ADS_1
"Rani aku boleh nggak pegang perut kamu?" tanya Tama takut-takut Rani akan mengomelinya di subuh hari begini.
Rani menyingkirkan tangannya, ia mengernyit heran, "Ngapain? mulai mesum deh!"
Tuh kan benar dugaan Tama, selain kebiasaan tidurnya Tama juga hapal betul bagaimana Rani selalu mengomel untuk menutupi salah tingkahnya.
Tama menyangga kepalanya dengan tangannya agar dapat lebih leluasa melihat gurat-gurat merah di wajah Rani, "Emang kenapa? toh kita nggak pernah gituan tahu selama udah sah."
Rani langsung terperanjat bangun, rasa kantuknya hilang seketika, "Astagfirullah Tama, jangan bikin aku takut lagi ya!"
Tama tertawa terbahak-bahak, ia turut bangun dari posisi tidurnya, "Enggak Rani, aku cuman pengen ngobrol sama anak aku. Boleh nggak?"
Rani yang sudah menutup tubuhnya dengan kedua tangannya menghembuskan napas lega, "Ya ampun, kamu bikin kaget aja. Boleh aja sih, tapi ......"
"Tapi kenapa?" Tama menautkan kedua alisnya menunggu kalimat selanjutnya yang akan Rani katakan.
Tama kembali tertawa, "Iya, aku paham. boleh sekarang?"
Rani terlihat masih berpikir, namun detik berikutnya perempuan itu malah berlari ke kamar mandi dan menutup pintu begitu saja membuat Tama menggelengkan kepalanya.
"Nggak sekarang ya! aku mau solat keburu kesiangan lho!"
"Alasan kamu aja kan?" ucap Tama kemudian. tapi Tama paham betul apa yang Rani katakan tadi, pastinya Rani butuh waktu untuk itu.
Tama akhirnya membereskan tempat tidur sambil menunggu gilirannya membersihkan dirinya.
"Tama! tolong ambilin handuk aku, hehe," teriak Rani dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Nah, ini kebiasaan Rani yang kesekian selalu melupakan handuknya tiap kali ke kamar mandi. Tama bergegas memberikannya sebelum perempuan itu akan berteriak lagi memanggil namanya.
"Makasih ya," ucap Rani menerima uluran handuk dari Tama.
Kalau Tama diam saja, Rani akan terus mengatakan hal itu seperti sekarang, "Tama? makasih ya?"
Tama sengaja tak memberikan jawaban, ia ingin terus mengerjai Rani, "Tama! Kamu marah kalau aku minta tolong?"
Tama ter kikik pelan mendengar ucapan Rani, "Tama? kamu marah karena aku belum siap kamu pegang-pegang aku?"
Lah? Tama harus beristigfar mendengar hal itu, kapan juga dirinya mau pegang-pegang Rani, dia pengen nyapa anaknya yang kebetulan di dalam perut Rani, itu aja.
"Tama ih! makasih ya!"
Rani tampaknya masih berusaha keras untuk mendapatkan jawaban Tama, meski suara air gemericik tanda perempuan itu sudah melakukan kegiatannya di dalam sana, "Tama, ya ampun! kamu udah nggak mau nolongin aku lagi? mau ngambek? Katanya sayang! bohong! ngapain nikahin aku kalau gitu!"
Tama terbahak mendengar omelan Rani yang pasti sudah memasang ekspresi ngambeknya itu, "Iya Rani, cantikku, sayangku, sama-sama ya."
"Lagian jawab gitu doang susah banget! kalau nggak ikhlas aku nggak akan minta tolong lagi selamanya!" kesal Rani.
Tama menghentikan gerakannya yang kini sudah mulai menyapu kamarnya, "Kalau kamu ngambek aku masuk nih."
Ancam Tama membuat Rani buru-buru melarang pria itu, "Eh iya iya iya, jangan masuk!"
Tama tertawa lebar, sejak bersama Rani satu hal yang selalu ia sadari setiap hari ada saja yang membuatnya sakit perut karena capek tertawa.
[]
__ADS_1