
Tama merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena aktivitasnya dengan Rani beberapa detik lalu.
Meski masih gelagapan namun Rani berusaha mengatur ekspresinya senormal mungkin.
"Bapak? kok bisa ada di Jakarta?"
Tama buru-buru mencium tangan kedua mertuanya, lalu ia ambil tas di tangan Bapak.
Pria yang Rani sebut Bapak itu, berdehem mengontrol kembali setelan wibawanya seperti biasa.
Sedang Ibu di belakang Bapak berlari memeluk Rani, "Ya Allah, Ndut. Kamu gimana keadaannya, udah baikan? masih sakit?"
Rani mengangguk lemah, ia peluk Ibu erat-erat mencari kekuatan dari hangatnya tangan perempuan yang telah melahirkannya.
"Sing sabar yo Nduk, mungkin Allah pengen kalian jadi orang tua yang siap dulu," sambung Ibu masih memeluk Rani.
"Duduk Pak," Tama menggeser satu-satunya kursi tunggu yang berada di samping pasien.
Bapak diam duduk di kursi tersebut, namun kini wajahnya terlihat sendu.
"Aku yang cerita sama Bapak dan Ibu masalah ini," jelas Tama.
Rani tampak hampir mengajukan protesannya, namun dengan segera Tama memberikan penjelasan.
"Maaf aku belum sempat jelasin. Waktu kamu diculik aku panik banget, apalagi setelah kamu keguguran. Makanya waktu aku nanya kamu apakah Ibu dan Bapak akan kita kasih tahu, dan kamu bilang nggak masalah. Aku akhirnya pelan-pelan ngasih tahu Bapak dan Ibu," jelas Tama panjang lebar.
"Bapak, Bapak nggak apa-apa kan? Bapak jangan kepikiran ya," ucap Rani meringsut mendekati Bapak yang sedari tadi hanya diam saja.
Ibu mengelus pundak Rani lembut, "Bapak mu nggak apa-apa Ran, kemaren sempat naik darah tingginya. Tapi udah nggak apa-apa."
"Ya Allah Pak," sedih Rani menatap Bapaknya yang masih saja diam.
Bapak tahu-tahu bangkit membuat ketiga orang di ruangan tersebut saling pandang apa yang akan Bapak lakukan.
Beliau mengepalkan "Di mana bajingan itu! kalau tahu dia akan berbuat sejauh ini nggak pernah sudi aku nerima dia masuk ke rumah ku."
Tama dengan sigap menahan tangan Bapak, "Bapak, yang tenang ya. Polisi udah urus semuanya."
__ADS_1
"Bajingan! Asu! berani dia berbuat jahat pada anakku," kecam Bapak masih tak tenang.
"Bapak, istigfar udah sepuh di jaga tutur katanya," ujar Ibu mengingatkan.
Ibu menarik tangan Bapak yang semula ditahan Tama, "Duduk dulu."
Rani memberikan sebotol air mineral yang masih tersegel pada Ibu, berharap dengan minum dapat membuat Bapak lebih tenang.
"Bapak, Rani udah nggak apa-apa. Bapak jangan kaya gini, bahaya lho Pak," ujar Rani.
Setelah Bapak meneguk hampir setengah botol, baru beliau terlihat menghela napas.
"Lha Bapak dan Ibu kesini naik apa?" tanya Rani kemudian.
"Naik kereta, kemaren siang. Suami Mbak Wiwit yang mesenin tiket, katanya Nak Tama yang minta tolong."
Ibu menatap Tama yang berdiri di sisi Bapak, takut kalau Bapak akan kembali emosi.
"Lha kesini nya?"
Pasalnya orang tua Rani belum pernah pergi dari rumah sejauh ini, palingan hanya kondangan mentok nya ke Solo.
Tama menatap kedua mertuanya yang masih terlihat kelelahan setelah perjalanan jauh.
"Belum," jawab Ibu. Sedangkan Bapak masih diam saja.
Rani memandang Bapaknya sedih, entah apa yang terbersit di benak beliau sekarang.
Tama beralih pada Rani sesaat, "Aku ajak Ibu dan Bapak makan dulu ya Rani. Nanti Bapak dan Ibu biar istirahat di kontrakan aku aja. Toh di sana ada dua kamar, nanti kita juga sementara waktu pulang ke sana dulu."
Karena saat ini Rani memang belum memiliki planing apapun, akhirnya ia mengangguk setuju.
"Bapak, Ibu, kita makan dulu ya?"
Tama berjalan terlebih dulu menuju pintu, namun kedua orang tuanya masih tak bergeming.
"Makan dulu sama Tama, Pak, Bu," ucap Rani membuat Ibu akhirnya mengangguk.
__ADS_1
"Emoh aku, nggak doyan makan."
Bapak tampaknya kali ini sulit untuk dibujuk.
"Ayo Pak, ojo koyo cah cilik!" Ibu mengomel menarik tangan Bapak.
"Bapak, jangan gitu. Bapak harus makan," ucap Rani turut membujuk.
Tama mendekati kembali Bapak, "Bapak moggo Pak, nanti kita makan sate kambing di depan rumah sakit ini. Terkenal enak Pak."
Dan sukses, Bapak langsung bangkit mendahului Ibu maupun Tama.
Rani menghela napas lega, ia kemudian berpandang-pandangan dengan Ibu, berkata kok langsung mau di bujuk Tama? namun tentunya tanpa suara.
Karena detik berikutnya Rani dan Ibu cekikikan melihat tingkah Bapak.
"Kita makan dulu ya, kamu mau aku bungkusin sate juga?" tanya Tama pada Rani yang masih tak percaya dengan tingkah Bapak.
Meski terdengar menggiurkan, namun Rani menggeleng.
Rani menggeleng, "Aku enggak deh, lagi nggak pengen."
Tama memberikan senyum tulusnya sebelum meninggalkan Rani, saat pintu hampir tertutup sepenuhnya Rani kembali memangil suaminya.
"Tama,"
Tama kembali menahan pintu, ia membalikkan tubuhnya agar dapat melihat Rani.
"Iya? kamu mau mesan sesuatu?"
Rani menggeleng, ia tersenyum lembut, "Makasih ya, udah bujuk Bapak."
Tama turut menyunggingkan senyumnya, "Karena Bapak juga, Bapak aku. Begitu pun dengan Ibu."
Setelah mengatakan hal tersebut hati Rani menghangat, bersyukur sekali ia patuh pada perkataan kedua orang tuanya untuk menikah dengan pria sebaik Tama.
Ya, meskipun pertemuan mereka tak semanis kisah asmara pasangan lain di luar sana, hatinya membuncah bahagia.
__ADS_1
[]