MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 68 : K e s e d i h a n K e s e k i a n


__ADS_3


Ilustrasi from Pinterest 📌


...****************...


Setelah semua pelaku dibawa ke kantor polisi tempat itu mulai digeledah untuk mencari keberadaan Rani.


Untung saja apa yang Rafi katakan benar adanya, setelah pintu besi itu dibuka terlihat seorang perempuan yang tergeletak lemas di sana.


Tama berlari setelah menyadari itu Rani, istrinya.


Mendengar pintu di buka Rani membuka mata, ia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya yang terasa sakit.


"Rani," panggil Tama lembut.


"Tama? Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Rani lemas, namun perempuan itu terlihat khawatir.


Melihat keadaan Rani membuat Tama syok, tangannya bergetar, ia sentuh wajah cantik istrinya yang terluka.


"Rani, kenapa kamu masih bisa khawatir sama aku, sedangkan keadaan kamu kaya gini? Maafin aku, maafin aku udah terlambat jemput kamu," lirih Tama, pundaknya kini mulai bergetar.


Begitupun dengan Rani, ia berusaha duduk dengan bantuan Tama.


Matanya mulai berkaca-kaca, betapa bersyukurnya Rani, akhirnya Tama berhasil menemukannya, "Tama, aku takut."


Rani berkata lirih membuat hati Tama terasa semakin sakit, ia dekap Rani dengan erat, "Rani, maafin aku, maafin aku."


Rani menyentuh tangan Tama, "Aku takut kalau Rafi akan bunuh kamu dan anak kita, aku takut."


Tama mengelus puncak kepala istrinya yang begitu rapuh, "Rani, kamu tenang ya sekarang ada aku. Aku akan jagain kamu dan anak kita. Sekarang kita pergi dari sini ya?"


Rani mengangguk, air matanya kembali deras tak terbayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya kalau saja Tama tak datang.


"Kita pulang ya," ucap Tama dengan lembut.


Tama mengangkat tubuh kecil Rani dengan hati-hati berharap tangannya tak semakin melukai perempuan berharga itu lagi.


"Mending lo bawa dia ke rumah sakit dulu,, lukanya parah gitu, gue udah siapin ambulans di depan, " tutur Rego.


Tama mengangguk, keadaan Rani sekarang membuat dadanya sesak, apalagi muka Rani yang terluka, entah apa yang telah Rafi lakukan.


"Tama tunggu!" Rego menghadang langkah Tama yang hampir mencapai pintu.


Tama memasang wajah bertanya, "Kenapa?"

__ADS_1


"Itu," tunjuk Rego pada kaki Rani membuat Tama mengikuti arah telunjuk temannya.


Tama membelalakkan matanya melihat cairan merah telah mengalir dari kaki Rani.


Kakinya lemas membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.


Hampir saja Tama kehilangan keseimbangan kalau saja Rego tak menahan tubuhnya yang hampir limbung.


"Tama kuat! lo harus kuat, karena sekarang pertahanan Rani cuman lo!" Rego meremas bahu Tama.


"Rani," ucap Tama bergetar.


Rani yang telah membenamkan seluruh wajahnya pada leher Tama merasakan hal tersebut.


"Tama, sakit," keluh Rani.


Tama dapat merasakan tubuh Rani yang semakin dingin dalam dekapannya.


"Rani tolong bertahan," harap Tama.


Dengan Rani di gendongannya, Tama berjalan secepat mungkin.


"Ambulans! tolong istri saya dalam keadaan darurat!" teriak Tama di sepenjuru bangunan.


Petugas berseragam putih kali ini membantunya memasukkan Rani ke dalam mobil rumah sakit itu.


"Tolong cepat! istri saya kesakitan!" Tama tak dapat lagi berpikir, ia hanya ingin Rani segera sampai rumah sakit tepat waktu.


Tama meraih tangan Rani yang terkulai lemas, sedangkan perempuan itu tak sadarkan diri lagi.


"Rani tolong bertahan," lirihnya dengan punggung bergetar.


Bercak merah kian menodai celana kain yang Rani kenakan, membuat Tama semakin takut.


Ia usap bulir-bulir keringat dingin di dahi perempuan itu. Lalu ia kecup lama, berharap kekuatannya dapat tersalurkan.


Tak hanya Rani, ia pun mengecup lama perut rata Rani, "Anak ayah dan Ibu kuat kan? tolong bertahan ya Nak."


Untuk pertama kalinya, ia berbicara secara langsung dengan anaknya, dadanya semakin sesak membuat Tama hanya bisa berserah pada Tuhan untuk keselamatan anak dan istrinya.


Saat mobil putih yang mereka tumpangi berhenti, beberapa petugas kesehatan membawa Rani masuk ke dalam ruangan gawat darurat.


Tama ditahan keras saat dirinya hendak menyaksikan langsung pemeriksaan Rani.


"Bapak tolong tunggu di luar ya," ucap salah seorang petugas dengan seragam putihnya.

__ADS_1


"Dok, itu istri saya dan anak saya!" sentak Tama berharap dirinya diperbolehkan masuk.


Namun sayang, demi keselamatan Rani pula, Tama harus patuh pada peraturan rumah sakit.


"Kami tahu Pak, dan kami janji akan berusaha semaksimal mungkin," tutup petugas itu sebelum menutup rapat pintu kaca yang memisahkan dirinya dan Rani.


"Ya Allah tolong kami, tolong selamatkan Rani dan anak kami," rapal Tama.


Kakinya berjalan ke sana kemari tak menentu, batinnya bergemuruh tak tenang menanti dokter memeriksa Rani di dalam.


Tama hampir saja melompat ketika ponsel di sakunya berdering.


Babe Jerris ternyata yang menelponnya.


"Tama, anak buah gue udah cerita semuanya. Lo sekarang di mana?" tanya Babe terdengar khawatir.


"Babe, Rani, Rani pendarahan," ucap Tama kalut.


"Astaghfirullah, gue ke sana sekarang!" tutur Babe yang terdengar.


"Jangan Be. Sekarang Rani masih dalam pemeriksaan. Kalau Babe mau kesini, nanti siang saja," ujar Tama tak ingin membuat pria yang usianya sudah senja itu semakin khawatir, "Tama minta doa sama Babe, semoga Rani nggak kenapa-napa."


"Mana bisa begitu! Tama lo kebiasaan apa-apa nggak pernah cerita sama Emak ya!"


Tampaknya Babe tak dapat berbohong lagi pada istrinya, terdengar Emak sekarang yang mengomeli Tama.


"Maafin Tama. Tama cuman nggak pengen Emak kepikiran," ungkap Tama merasa bersalah.


"Kita sekarang kesana!" putus Emak tak mau dibantah.


Tama melangkah keluar menatap langit yang masih begitu gelap, "Mak, nanti siang aja kesininya. Bahaya jam segini bawa motor. Kasian Babe, Tama minta Mak sabar ya. Mak do'ain yang terbaik untuk kami."


Sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat suci dari masjid terdekat membuat Tama merasa lebih tenang.


"Yaudah kalau gitu, lo kabarin kita terus pokoknya!" Sepertinya kali ini Emak mulai setuju dengan Tama.


"Nanti Tama kirim alamat rumah sakitnya," ucap Tama kemudian, ia melihat seorang dokter keluar dari ruangan membuat Tama harus segera menutup telponnya, "Udah dulu ya Mak."


Tama segera meminta penjelasan mengenai keadaan Rani, "Dokter bagaimana keadaan istri saya?"


Dokter tersebut memperlihatkan wajah yang sama kusut nya dengan Tama, meski masih berusaha profesional Tama dapat melihat sedikit penyesalan di matanya.


"Bapak yang sabar ya." Dokter itu menepuk pundak Tama, membuat Tama semakin yakin apa yang sedari tadi ia takutkan terjadi.


[]

__ADS_1


__ADS_2