MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 23 : P i l i h a n I b u


__ADS_3

“Aku pamit ya,” kata Rafi setelah ia menyadari waktu telah menunjukkan malam hari.


Rani mengangguk, mereka hari ini telah menghabiskan banyak waktu bersama, meskipun keduanya sadar bahwa ini menjadi hari terakhir bagi mereka.


“Hati-hati ya. Ka, aku nggak masalah lho, kalau kamu langsung berangkat ke Jakarta,”


Belum sempat Rani menyelesaikan kalimatnya Rafi langsung memotongnya, pria itu tak setuju dengan apa yang dikatakan Rani.


“Enggak. Aku akan nunggu sampai kamu nikah.”


“Kamu yakin?” tanya Rani memastikan Rafi tak masalah dengan hal tersebut.


Rafi mengangguk, ia menatap Rani sejenak sebelum akhirnya menginjak pedal gas meninggalkan rumah Rani.


Rani masih tak beranjak ia mantap mobil Rafi yang kian menjauh, namun entah kenapa kali ini tak begitu membuatnya merasa sesak sebaliknya Rani merasa lega.


“Udah, jangan di liatin mulu,” seseorang tiba-tiba telah berada di sebelahnya.


Rani terkejut mendapati seseorang tersebut, “Kok kamu masih di sini?”


“Emang nggak boleh?” jawab pria itu kemudian.


Rani tak menggubrisnya lagi, ia berbalik akan masuk ke dalam rumah namun kemudian ia teringat sesuatu.


“Tama, keluarga kamu sudah tahu mengenai masalah ini?” tanya Rani ragu-ragu.


Tama berjalan mendahului Rani, “Enggak.”


“Hah?” Rani tak habis pikir, mereka bahkan akan segera menikah namun pria itu tak memberi tahu  keluarganya?


Tama seakan tak menggubris kekhawatiran Rani, ia duduk di atas bangku teras Rani, “Ngapain juga,”


“Tama, kita mau nikah lho. Atau kamu sebenarnya sudah punya istri dan anak ya makanya merahasiakan hal ini?” Rani mulai mencurigai identitas pria sawo matang tersebut.


“Cie,,,,sekarang udah mau nikah nih sama aku?”


“Ck, apaansih,” sewon Rani.


Tama terkekeh, “Aku sejahat itu ya di mata kamu Ran?”


“Lagian, siapa coba yang nggak mengabari keluarganya padahal mau menikah. Pastilah siapapun akan curiga,”  tutur Rani yang kemudian turut duduk di samping Tama.


Tama menatap langit malam yang sedikit mendung matanya menerawang, “Pasti akan sangat membahagiakan kalau aku bisa memberitahu seluruh keluarga aku Ran,”


“Lalu kenapa kamu memilih nggak ngasih tahu mereka?”

__ADS_1


Tama menatap Rani sesaat sebelum akhirnya ia kembali menatap langit yang tanpa satupun bintang malam ini, “Kamu tahu sendiri, aku nggak tahu Ibu ada di mana. Beliau nggak menerima aku dan malah kabur dengan pria lain. Begitu pula dengan Ayah aku, aku nggak tahu beliau di mana,”


“Nenek yang merawat kamu?” tanya Rani penasaran.


“Nenek aku sudah meninggal.”


Detik itu juga Rani tercekat ia merasa bersalah telah menanyakan hal tersebut pada pria di sampingnya, entah kenapa dirinya sekarang merasa iba.


“Nggak perlu kasihan sama aku Rani.”


“Enggak,” jawab Rani meski kini matanya telah berlinang air mata, Rani baru menyadari belakangan ini ia selalu menangis.


“Aku sudah cerita hal ini ke Bapak dan Ibu, lihat reaksi kamu sekarang aku jadi paham kenapa mereka tetap menerima aku meskipun aku pemuda yang sangat bejat.”


“Kenapa?”


“Mungkin karena mereka kasihan sama aku. Tapi Ran, aku murni cerita apa adanya, agar kalian tahu bagaimana keluarga aku yang sebenarnya, bukan untuk dikasihani.”


Tama kembali menatap Rani, ia pun menyadari perempuan itu mengusap matanya bahkan di bawah lampu teras yang remang-remang Tama dapat melihat hidung Rani yang memerah.


“Rani kamu nangis?”


Rani mendongak dengan mengusap-usap matanya, “Enggak, kelilipan.”


Tama tertawa, “Yaelah masih aja make alasan klise kelilipan, udah jangan nangis. Aku nggak apa-apa kok.”


Mungkin ini jadi hal baik, batinnya. Rani mulai peduli dengan kehidupannya, namun terlepas dari itu semua Tama setidaknya harus mulai mempersiapkan diri untuk masa depannya kini bukan hanya dirinya yang harus ia pikirkan namun ada Rani dan anaknya.


Tak hanya Tama kini Rani pun demikian, ia akan mencoba menerima Tama karena Bukan lagi amarah yang mengusai Rani, justru ia amat kasihan dengan pria itu.


Seperti yang dikatakan Bapak, pernikahan mereka akan berjalan dengan sederhana cukup akad di KUA, serta dihadiri keluarga inti saja.


Rani tak masalah dengan hal tersebut, bahkan memang itu yang dirinya inginkan terlebih kondisinya sekarang tengah mengandung. Rani sedikit bersyukur karena perutnya belum membesar setidaknya tak ada yang mengetahui bahwa dirinya hamil, untuk saat ini.


Nggak kebayang Rani jadi Mbak Wiwit yang di cemooh tetangganya karena hamil di luar nikah, kalaupun nanti ada yang mengomentari pernikahan Rani yang terjadi di KUA, Rani sudah menyiapkan jawaban kalau dirinya memilih tak menginginkan pernikahan yang mewah cukup sederhana dan sacral.


“Sudah pada pulang?” tanya Ibu yang melihat Rani memasuki dapur.


Rani merasa lapar karena sedari siang ia tak makan apapun, “Sudah Bu.”


“Kasihan juga ya Nak Rafi,” tutur Ibu yang mampu membuat Rani menghentikan tangannya  yang tengah mengambil nasi.


“Mau gimana lagi Bu, sudah terjadi begini. Ibu kok belum istirahat?”


Ibu tengah memindahkan piring dari rak basah kedalam lemari, Rani sampai heran ia sepertinya tak pernah melihat Ibu duduk dengan santai ada saja yang beliau kerjakan.

__ADS_1


“Nanggung. Tapi kalau kamu nggak hamil, mungkin Ibu akan milih Nak Tama,” kata Ibu entang yang membuat Rani mengernyitkan keningnya.


“Lho, kok Tama. Lha wong Rani pacarannya sama Rafi,” jawab Rani yang kini duduk di meja makan siap menyantap makan malamnya.


“Nggak tahu, Tama tu terlihat lebih sopan lebih lebih sesuai aja dengan kita Nduk.”


“Rafi juga sopan Bu. Lha sesuai gimananya?” jawab Rani tak terima, padahal Rafi tak kalah sopan dengan Tama.  nggak lihat waktu Rafi masuk ke rumah kita, dia kok kaya kaget gitu lihat rumah kita sederhana gini.” Jelas Ibu panjang lebar.


Rani melahap makanannya, mendengar perkataan Ibu membuat Rani semakin merasa lapar, “Bu Rafi tu orang kaya, ya wajar dia bersikap begitu.”


“Makanya Ibu bilang, Tama lebih sesuai dengan kita,” jawab Ibu tak mau kalah.


Ibu telah menyelesaikan pekerjaannya, kini beliau duduk tepat di samping Rani menemari putrinya yang makan dengan lahap.


“Kamu sudah menerima Tama, Nduk?” tanya Ibu.


Aku menelan terlebih dahulu nasi di mulutnya, “Bismillah Bu, kita lihat saja bagaimana dia akan bertanggung jawab.”


“Nak Tama, baik lho Nduk,” tutur Ibu meyakinkan Rani.


“Rafi juga baik Bu, lebih baik malahan,” Rani tampaknya juga tak mau kalah membandingkan dua pria tersebut.


“Kamu nggak tahu kan kalau kemaren Nak Tama bantuin Bapak benerin genteng depan yang bocor,” sepertinya Ibu tak peduli dengan anaknya yang tengah makan, Rani sampai tersedak mendnegar fakta tersebut.


“Kok bisa?” tanya Rani penasaran.


“Kata Bapak itu dia lihat Bapak sudah kesusahan naik-naik tangga, eh tahu-tahu tu anak langsung bantuin dan nyuruh Bapak duduk aja,” cerita Ibu.


“Pantesan Bapak luluh, capernya ternyata gitu,” cemooh Rani.


Ibu sepontan langsung menggeplak kepalanya, “Aduh Bu,”


“Lagian kamu kalau ngomong ya, emang dia anaknya baik kok. Nggak Cuma Bapak, Pakdhe Marno saja dia bantuin, waktu kesusahan angkatin gabah ke rumah, eh Tama peka langsung bantuin Pakdhemu.” Ibu semakin bersemangat menceritakan Tama.


“Awal-awal Bu, biasa gitu. Nanti juga lama-lama kelihatan aslinya.”


“Yaampun Rani, kok kamu jadi suuzon gini. Ibu nggak pernah lho ngajarin kamu bersikap seperti itu.” Raut wajah Ibu kini tampak sedikit kecewa.


“Yaa kan,”


“Udah cepetan makannya, habis itu istirahat.”


Setelah mengatakan hal tersebut Ibu langsung pergi begitu saja meninggalkan Rani yang semakin heran, bahkan Ibu sekarang telah berada di pihak Tama.


Rani yakin ada yang nggak beres, pasti orang tua Rani sudah kena pelet Tama, bahkan dirinya pun sudah terkena mengingat ia kini begitu mengasihani lelaki itu.

__ADS_1


[]


__ADS_2