MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 24 : T e m a n


__ADS_3

Rafi tak langusng beristirahat, malam ini ia kembali galau dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya. Apakah dirinya benar-benar sanggup menyaksikan pernikahan Rani dan Tama? Benarkah saat ini dirinya kembali sendiri lagi? Siapa yang akan menjadi jodohnya kelak? Selalu saja Rafi gagal dalam percintaan, bahkan percintaan kini tak lagi manis untuknya.


Rafi menatap langit-langit kamarnya, ia melihat ke arah luar jendela sesekali memastikan temannya sekaligus juga seseorang yang mengkhianatinya belum juga kembali, padahal ada hal yang ingin Rafi pastikan terlebih dahulu sebelum pria itu sah menjadi suami Rani.


Ponselnya berdering tanda seseorang telah meneleponnya, Rafi berdecak kesal pasalnya dirinya sedang tak ingin di ganggu siapapun. Dengan bermalas-malasan Rafi akhirnya mengambil ponsel yang terletak di nakas samping tempat tidur.


“Halo,” jawabnya malas tanpa melihat nama yang tertera di layar.


“Woi! Lo kemana aja?! Susah banget sih dikabarin,” suara orang di sebrang terdengar kesal membuat Rafi harus mengelus telinganya karena berdengung.


“Kenapa?” tanya Rafi to the point karena tak ingin waktunya di ganggu.


“Yaelah, lo kenapa sih, sewot amat.”


“Ada apa sih?”


“Enggak, gue sama anak-anak mau liburan nih, tapi lo sama Tama susah banget di hubungin, kenapa sih kalian?” ucap seseorang di sebrang lagi.


Rafi mengurut keningnya yang terasa pusing, apakah ia harus menceritakan yang sesungguhnya pada Elgin dan teman-teman yang lain, apa yang harus dirinya lakukan sekarang.


“Rafi, lo masih hidup kan?”


“Ck! Iya, lagi sibuk gue,” jawabnya singkat.


“Yaelah, jangan bohong deh, gue ke kantor lo ya. Kata mereka lo lagi ambil cuti, cie lagi liburan bareng Rani ya?” goda Elgin, tak tahu bahwa apa yang terjadi pada Rafi tak seindah itu.


“Enggak,” jawab Rafi singkat.


“Trus? Tama juga kemana?”desak Elgin tak sabar.


“Gue di Boyolali, kampungnya Rani.”


“Ha?! Jangan bilang lo mau ngelamar Rani?”


Rafi diam sejenak, “Enggak. Tama yang bakal nikahin Rani.”


“Ha?!”


Rafi kembali berdecak, “Ha, he, ha, he mulu lo. Udah ya, gue tutup.”


“Eits jangan dong! Coba jelasin ke gue, kok bisa Tama yang bakal nikah sama Rani?” Elgin semakin penasaran, dirinya benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja Rafi katakan.


“Bener yang lo bilang, Tama punya perasaan sama Rani. Dia bangsat banget, Gin. Lo tahu? Tama hamilin Rani,” kata Rafi, deru napasnya naik turun menandakan dirinya kembali emosi mengingat masalah yang terjadi.


“Tuh kan, makanya lo kalau gue bilangin percaya. Trus bokap nyokapnya tahu?”


“Tahu lah, makanya mereka bakal nikah. Tadinya gue mau tetap nikahin Rani, tapi dia nggak mau, dia selalu bilang udah nggak pantes buat gue, begitupun sama Bapaknya yang nyuruh Tama untuk bertanggung jawab,” jelas Rafi panjang lebar.

__ADS_1


Terdengar  Elgin menghela napas, “Gila Man, kasihan banget hidup lo. Sini ke Jakarta aja gue peluk, Nggak nyangka gue sama Tama kok bisa dia jahat sama lo?”


“Setelah minum di villa lo malam itu,” Rafi kembali meremas rambutnya.


“Mabuk ataupun enggak tetap aja yang dia lakukan itu brengsek. Lo ngapain masih di sana? Jangan tanya lo ngemis-ngemis sama Rani buat tetap balikan?” tebak Elgin.


“Gue masih cinta sama Rani,” jawab Rafi lemah.


“Sabar brader, masih banyak ikan di lautan.”


“Rani cuma satu,” jawab Rafi kini matanya mulai berkaca-kaca.


“Apa perlu kita hajar si Tama?”


“Nggak perlu, nggak akan ada yang berubah. Satu lagi jangan bilang sama anak-anak yang lain.”


“Mana bisa, gila ya lo? Walaupun kalian berdua teman gue, tetep aja Tama brengsek Raf, dia harus di kasih pelajaran.”


Rafi mengehela napas, “Nggak usah. Gue nggak mau Rani malah kepikiran dan nantinya buat dia makin tertekan sama masalah ini.”


“Rani pasti seneng kalau cecunguk itu kita hajar, dia pasti juga benci banget sama Tama kali Raf,” Elgin masih bersikeras bahwa temannya itu harus diberi pelajaran.


“Udah ya, please jangan,” pungkas Tama.


“Ck! Terserah lo deh.”


“Mau gue peluk nggak Raf?”


“Najis!”


“Udah cepetan balik sini, gue cariin lo cewek lain.”


“Bisa nyari sendiri gue,” jawab Rafi kesal.


“Sama Mira aja sih,” tutur Elgin masih berusaha membuat Rafi segera berpindah ke lain hati.


“Bodo amat.”


Rafi kemudian menutup ponselnya begitu saja, ia sudah terlanjur mengatakan yang sesungguhnya pada Elgin semoga saja temannya yang lain tak melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.


Rafi menatap layar ponselnya yang masih menyala, haruskah dirinya memberitahukan hal ini pada Rani, namun detik berikutnya Rafi menggelengkan kepalanya, Rani nggak seharusnya banyak pikiran terlebih perempuan itu sudah cukup menanggung beban masalahnya sendiri.


Pintu kemudian di buka dari luar tanda seseorang datang, Rafi sudah dapat menebak siapa seseorang itu karena memang hanya itu temannya yang berada di penginapan yang sama.


“Belum tidur lo?” tanya Tama begitu melihat Rafi yang masih menatap layar ponselnya.


“Gue nungguin lo,” jawab Rafi yang kemudian bangun dari posisi tiduran dan memilih duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Tama pun turut mendekati Rafi, “Mau mukulin gue lagi?”


“Anak-anak pada nyariin kita,” jawab Rafi tak menghiraukan tuduhan Tama.


“Trus?”


“Ya gue jawab aja, kalau lo sama Rani mau nikah,” tutur Rafi meskipun dirinya sedikit tercekat mengatakannya.


Tama mengedikkan bahunya tanda tak masalah dengan apa yang telah Rafi lakukan, “Yaudah kalau gitu.”


Rafi menatap Tama kesal, apakah masalah ini tak begitu menganggunya, melihat dari reaksi temannya itu sepertinya memang hal ini bukan apa-apa.


“Serius nggak masalah? Meskipun lo bakal di hajar sama mereka?” tanya Rafi.


Tama diam sesaat, “Udah biasa, hidup gue nggak seberuntung kalian. Udah hal biasa kalian berlaku sewenang-wenang sama gue.”


Rafi terlihat tak terima, “Kapan kita ngelakuin hal kaya gitu anjing? Dalam masalah ini pun lo yang brengsek!”


“Iya gue tahu gue yang salah kali ini, tapi sebelumnya apa lo inget waktu kita di SMA kalian nyontek tapi waktu di hukum semuanya pada nyalahin gue, dan kalian bayar gue biar gue tetap nggak bilang yang sebenarnya,” kenang Tama.


Rafi tampak terkejut karena setaunya itu hal biasa, hanya candaan semata ia tak menyangka ternyata Tama sekit hati dengan perlakuan mereka selama ini.


“Gue juga tahu kali Raf, kalian suka ngomongin gue di belakang kalau gue anak nggak punya orang tua,” lanjut Tama lagi, dirinya menghela napas mengingat masa-masa itu meskipun semuanya sekarang tak begitu berpengaruh lagi baginya.


“Oke kalau itu, dan semua hal di masa lalu bikin lo sakit hati gue minta maaf Tama. Tapi selain itu ada hal yang mau gue tanyakan sama lo,” ucap Rafi serius.


Tama membuka lebar-lebar kedua telinganya, Rafi kali ini tampak sangat serius dari raut wajahnya.


“Apa?”


Rafi berdehem sejenak, “Apa lo benar-benar akan menjaga Rani? Gue nggak mau ngebiarin Rani nikah sama orang yang akan nyakitin dia nantinya.”


“Gue mengakui apa yang gue lakukan salah, tapi dalam hal bertanggung jawab dan perempuan gue nggak pernah main-main Raf, lo tahu sendiri mana pernah gue mainin cewek. Apa lagi Rani, mungkin lo udah tahu kelau gue benar-benar mulai sayang sama dia, jangan tanya kenapa dan kapan gue juga gatau tapi inilah yang gue rasain.”


Rafi menatap dengan seksama raut wajah temannya itu, ia ingin memastikan adakah tanda kebohongan di sana, namun ternyata nihil Tama terlihat serius dengan apa yang pria itu katakana.


“Kalau gitu gue nggak ada hak lagi untuk rebut Rani,” tutur Rafi lemas.


Tama menyeringai, “Nggak akan bisa, tinggal selangkah lagi hubungan gue sama Rani.”


Rafi mengambil bantal dan melemparkannya pada Tama begitu saja, “Bangsat!” umpatnya.


Tama terkekeh, “Rafi, tapi sekali lagi gue minta maaf sama lo, gue serius.”


“Nggak akan gue maafin sampai kiamat!”


Rafi kembali melempari Tama dengan semua barang yang bisa ia raih, mungkin ini akhir dari semua kemarahannya sebelum ia dapat benar-benar mengikhlaskan Rani, sejahat apapun Tama ia ingat bagaimana mereka berteman baik sejak remaja, akankan kebencian tetap menetap selamanya dalam diri Rafi?

__ADS_1


[]


__ADS_2