MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 64 : S i k s a


__ADS_3

Telinganya mendengar tawa renyah membuat Rani membuka mata.


Ingatan Rani kembali pada dirinya yang di paksa masuk ke dalam mobil meninggalkan Tama.


"Tolong! Tolong! Tama!" teriak Rani namun tak ada satupun orang datang menolongnya.


Terakhir kali dirinya berteriak ia langsung di bekap oleh Rafi dengan seutas kain putih membuat Rani kehilangan kesadarannya.


Entah berada di mana Rani sekarang, lantainya begitu dingin dan kotor, bahkan kedua tangan dan kakinya terikat dengan tali tambang.


Rafi terlalu kejam untuk ini, apa kisah cinta mereka yang telah terjalin selama dua tahun tak berarti apa-apa bagi pria itu?


"Tolong! Tolong!" teriak Rani berharap siapapun dapat menolongnya.


Bagaimana keadaan Tama sekarang? Rani kembali mengingat para penjahat tadi yang memukuli Tama dengan teganya.


"Tolong!" teriak Rani sekuat tenaga.


Pintu didorong dari luar membuat Rani merapatkan tubuhnya pada kerasnya tembok.


"Kamu kenapa berisik banget sih?"


Meski penerangan ruangan tersebut remang-remang namun Rani dapat dengan jelas melihat wajah Rafi.


"Rafi! Kamu kenapa jadi orang jahat!"


Rafi mendekatinya dengan seringaian membuat Rani kembali merasa takut, "Manusia berubah Rani. Dan kamu yang bikin aku jadi orang yang jahat sekarang."


Rani berusaha menjauhkan tubuhnya dari Rafi yang semakin mendekatinya, "Tolong jangan! Rafi tolong jangan ganggu kami lagi!"


Sayangnya permohonan Rani yang menyayat hati itu tak membuat Rafi tersentuh, pria itu menarik wajah Rani, "Oh sekarang udah mulai cinta sama Tama? Apa perlu aku bunuh dia sekarang juga?"


Rani menggelengkan kepalanya, "Jangan! Jangan!"


"Kenapa kamu lebih milih dia?!" Rafi menghempaskan wajah Rani dengan kasar.

__ADS_1


Membuat Rani semakin tergugu, ia ketakutan apa yang akan Rafi lakukan padanya dan Tama.


"Oh aku tahu, karena anak ini kan?!" Rafi menunjuk perut Rani, "Apa perlu aku juga nyingkirin dia Rani!"


Rani menggeleng lagi, "Tolong, huh huh tolong jangan!"


Rafi menyadari Rani yang semakin ketakutan dengan keberadaannya, ia kembali mendekati Rani, "Ya ampun, sayang maaf ya. Aku nggak bermaksud bikin kamu ketakutan gini," Rafi merapikan rambut Rani yang berantakan.


"Sayang Rani, maaf ya."


"Rafi tolong, tolong udah aku nggak kuat lagi. Jangan ganggu aku dan Tama lagi," isak Rani membuat Rafi kembali naik pitam.


"Kamu masih mau pilih Tama?! Anak haram itu?! Dibandingkan aku? Woi sadar!" Rafi kembali berubah seratus delapan puluh derajat di menit berikutnya.


"Ra, Raf, Fi, mau kamu sebenarnya apa?" ucap Rani sesegukan.


"Masih kurang jelas?! Tinggalin Tama, Rani. Kita mulai lagi semuanya dari awal ya?" ucap Rafi menurunkan nadanya.


Namun percuma, Rani telah terlampau menatap Rafi tak lebih dari seorang penjahat yang menculiknya.


"Raf, biar makan dulu dia," ucap Elgin.


"Kenapa nggak lo tidurin aja si Raf, palingan juga langsung mau si Rani," tawa Waren membuat Rani merasa jijik dengan pria itu.


Rani meludahinya, "Jaga mulut kamu Waren!" Kenapa kalian semua jahat sama Tama? selama ini dia salah apa?"


Waren yang tak terima menarik rambut Rani, "Kurang ajar juga ternyata mulut lo!"


Rafi menyaksikan hal tersebut hanya diam saja, mungkin hatinya sudah mati. Atau memang selama ini beginilah sifat asli pria itu.


"Udah Waren, biar ini urusan Rafi," ucap Dimas menarik Waren agar meninggalkan Rani.


Waren melepaskan rambut Rani dengan kasar, membuat kepalanya hampir mengenai kerasnya lantai.


Setelah Waren, Elgin dan Dimas meninggalkan ruangan tersebut Rafi kembali mendekati Rani.

__ADS_1


"Makan dulu ya sayang," ucap Rafi membuka kotak nasi.


"Lebih baik aku mati kelaparan! Dari pada makan, makanan yang kalian kasih!" teriak Rani.


Rafi semakin kesal, "Kamu dari tadi membantah! Bisa nggak nurut sekali aja jadi perempuan!"


"Nggak sudi aku nurut sama kamu!"


Rafi menampar Rani, "Plak! Apa aku harus perkosa kamu Ran? Biar kamu mau milih aku!"


"Aaa!!! Tolong! Rafi sadar! Kamu kenapa jadi kaya gini!" teriak Rani.


"Kalau itu cara biar kamu jadi milik aku! Akan aku lakuin Rani!" Rafi menarik rambut Rani.


Kini Rafi mendekap Rani dengan paksa, ia tarik wajah Rani agar berada tepat di depan mukanya. Dengan tangannya yang dingin, Rafi membelai rambut Rani.


Rafi mendekatkan wajahnya, ia cium Rani dengan paksa, namun Rani berusaha semakin melawan.


"Najis! Bajingan! Aku nggak akan sudi menyerahkan diri aku sama kamu Rafi!"


Rafi melotot marah, "Nggak usah sok suci! Kamu sudah kotor Rani! Kotor! Selama ini aku bersabar dengan nggak nyentuh kamu. Cih! Kamu lebih memilih pria yang memperkosa kamu!"


"Cukup!" teriak Rani, "Setidaknya sekarang aku bersyukur karena lebih memilih Tama! Bukan kamu!"


Rafi meremas pipi Rani, "Ngomong sekali lagi! Anak kamu akan lenyap sekarang juga Rani!"


"Tadinya aku menyesal karena menikah sama sahabat kamu, aku merasa berdosa sama kamu Rafi. Tapi sekarang? aku malah bersyukur milih dia dibanding kamu!"


Rafi menampar wajah Rani berkali-kali membuat pipi Rani terasa begitu panas.


"Raf! Udah dulu kayaknya ada yang ngikutin kita!"


Perkataan Maditra membuat Rafi menghentikan aksinya, ia kemudian mendorong Rani hingga tersungkur.


"Diam di sini!" kecam Rafi, pria itu kemudian meninggalkan Rani.

__ADS_1


[]


__ADS_2