MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 4 : H a n c u r


__ADS_3

Tama mengerjapkan matanya beberapa kali, ia menyadari ada sesuatu yang aneh mulai


menjalari perasaannya.


Rani kemudian menarik tangannya, ia hanya tak ingin ada seseorang yang melihat hal


tersebut terlebih Rafi, akan ada kesalahpahaman nanti.


“Aku mau bawa ini ke depan,” kata Rani cepat dengan membawa semangkuk sambal kecap


yang telah dirinya buat.


Rani kemudian meninggalkan Tama begitu saja yang masih tak bergeming mengatur


perasaannya yang tak menentu.


Terlihat yang lainnya sudah mulai memanggang ikan yang nanti akan disantap bersama, Rani


langsung duduk di samping Rafi yang tengah bersenda gurau dengan teman-temannya.


“Rani, udah selesai?” tanya Rafi pada Rani yang hendak duduk disampingnya.


Rani mengangguk, “Udah.”


“Makasih ya,” tutur Rafi lagi.


“Jangan pacaran mulu kalian, bikin iri gue aja!” cibir Waren yang merasa keberatan


menyaksikan hal tersebut.


“Sewot aja lo. Nyari cewek makanya, jangan gangguin Juwita mulu kerjaan lo,” timpal


Rafi.


“Lo nggak tahu aja Raf, Waren kan udah cinta mati sama Juwita,” Rego kali ini yang


turut menimpali.


Juwita yang sadar namanya disebut merasa keberatan, “Nggak usah bawa-bawa gue ya


kalian. Waren impoten makanya nggak punya cewek.”


“Woi! Enteng banget mulutnya,” teriak Elgin yang tengah bersantai di tepi kolam di mana


letaknya tak jauh dari tempat mereka memanggang ikan.


“Mulut lo nggak pernah disekolahin ya. Gue jambak juga lo,” tutur Waren kesal.


“Sabar bro,” kata Dimas menepuk-nepuk pundak Waren.


Sedangkan yang lainnya hanya tertawa mendengar pertikaian yang tengah terjadi.


Rani baru menyadari villa tersebut memiliki halaman yang sangat luas, di sisi kana


untuk parkir mobil sedangkan di sisi kiri terdapat gazebo yang sudah lengkap


dengan perlengkapan barbeque,


terlebih ada kolam di sampingnya.


Seperti sudah dari sananya jika villa ini didesain untuk agenda-agenda seperti ini,


Rani merapatkan blazer yang ia


kenakan karena udara malam yang semakin dingin.


“Kamu kedinginan ya?” tanya Rafi terdengar khawatir.


“Iya, tapi nggak apa-apa, yang penting aku udah pake blazer,” jawabnya meyakinkan, saat itu pula sekilas Rani melihat


Tama yang mulai bergabung dengan yang lainnya.


Bau harum dari ikan yang dipanggang mulai menguar tanda telah matang, perut yang


sedari tadi masih tak terisi kian meronta-ronta.


Mereka akhirnya dengan lahap menyantap hidangan spesial yang itu, Rani pun


turut menikmatinya.


Namun pada suapan kelima entah kenapa Rani merasa mual serta kepalanya pusing, ia


meletakkan piringnya sebelum akhirnya berlari masuk ke villa.


“Eh, cewek lo kenapa tuh?” tutur Dimas pada Rafi.


Semua kemudian menoleh kearah Rani yang berlari terburu-buru masuk ke dalam villa.


“Yaampun, kayanya mag dia kumat, soalnya dari siang dia belum makan,” jelas Rafi sebelum akhirnya berlari menyusul Rani.


“Wah parah banget, punya cewek nggak diperhatiin,” celetuk Fauzan.


“Atau jangan-jangan?” kata Waren menatap teman-temannya secara bergantian.


“Waren stop! Jangan mikir yang enggak-enggak lo,” ujar Maditra mengingatkan.


“Siapa tahu kan? Lagian kita semua udah dewasa, apalagi Rani kelihatannya polos gitu,” tutur Waren enteng.

__ADS_1


Bukan jawaban yang Waren terima kali ini, seseorang yang entah dari mana mencengkram kerah bajunya hingga piring yang tengah ia gunakan jatuh menyebabkan isi di dalamnya jatuh berserakan.


“Jaga mulut lo! Hargai perempuan, otak lo harusnya dibersihin biar nggak kebanyakan


tai isinya,” ucap Tama tegas.


Waren yang kesal merasa dirinya dihina lantas mengayunkan tangannya memukul Tama, “Maksud lo apa? Dan kenapa lo yang nggak terima bangsat! Lo siapanya Rani? Bapaknya?”


Saat Tama hendak bangkit membalas pukulan yang telah ia terima, Rego dan Maditra dengan sigap menahan tubuh Tama.


“Anjing. Kalian pada kenapa sih, kenapa pada ribut di acara gue?” teriak Elgin frustasi.


Sedangkan Juwita dan Mira mulai ketakutan dengan apa yang tengah mereka saksikan.


“Jangan kaya anak TK dong,” tutur Mira kemudian.


“Waren jaga mulut lo. Rafi sendiri yang bilang kalau mag Rani mungkin saja kambuh,”


kata Maditra masih dengan menahan Tama yang sedari tadi bersikeras untuk


menghajar Waren.


“Mir, coba lo cek ke dalem, kalau memang butuh obat gue udah sediain dalam laci dekat


tv,” pinta Elgin.


Tanpa berpikir panjang Mira segera menuruti perkataan Elgin meninggalkan


teman-temannya begitu saja, biarlah jika mereka akan adu otot sekalian, Mira


tak peduli.


Begitupun dengan Juwita, tak ada lagi suara cempreng keluar dari mulutnya, ia berlari


mengekori Mira masuk ke villa.


Tanpa menghiraukan Juwita yang beberapa waktu lalu masih membuatnya kesal Mira segera mengambil kotak obat di tempat yang dikatakan Elgin tadi.


Sedangkan Rani masih berada dalam toilet, Rafi dengan setia mengetuk pintu menanyakan


apakah Rani baik-baik saja.


“Rani, sayang kamu kenapa?” tanya Rafi.


Rani tak memberikan jawaban, ia masih berjongkok di depan closet, rasanya tulang-tulangnya melunak. Tak ada lagi memiliki energi, makanan yang disantap Rani dengan lezat telah keluar seluruhnya tak bersisa.


“Rani aku masuk ya?” tanya Rafi semakin khawatir.


“Raf, Rani gimana?” Mira mendatangi Rafi dengan kotak obat ditangannya.


“Rani, gue bawa obat nih, lo keluar dulu ya?” Mira turut mengetuk pintu.


“Rani, buka dulu pintunya,” tak lagi mengetuk kini Rafi mulai menggedor pintu semakin


keras.


Akhirnya pintu terbuka, terlihat Rani dengan wajah yang begitu pucat serta keringat di


pelipisnya.


Rafi dengan sigap menahan tubuh Rani yang hampir jatuh, “Kamu kenapa Rani?”


“Kayanya mag aku kambuh, telat makan jadinya gini,” jawab Rani pelan dengan sisa energi


yang dirinya miliki.


“Rani gue bawa obat, lo minum ya?” Mira turut bantu menahan tubuh Rani di sisi


lainnya.


Juwita hanya diam saja mengekori mereka yang menuju sofa ruang tengah. Setelah


Rani duduk dengan nyaman, Mira menyodorkan obat serta segelas air putih.


“Raf, mendingan Rani biar istirahat di atas. Kalau di bawah takutnya bakal


keberisikan sama yang lain,” terang Mira.


“Iya Raf, Rani biar di atas aja. Nanti kita yang cewek-cewek juga bakal tidur di


atas,” kali ini Juwita turut memberikan masukan.


Rani yang menjadi objek pembahasan mereka sedikit tak setuju, “Aku udah nggak


apa-apa, palingan minum obat udah mendingan. Jadi kita ke depan lagi aja, gabung sama yang lain.”


Rafi menggeleng, “Enggak, kamu mendingan istirahat, besok kita pulang supaya kondisi


kamu sudah baikan. Apalagi ini sudah terlalu malam sayang, kamu istirahat aja.”


Rani yang tak memiliki banyak tenaga akhirnya menurut saat dirinya di bawa ke lantai atas.


Lantai dua memiliki ruang tengah yang lebih kecil, hanya ada satu meja serta dua kursi


di sisinya. Selebihnya terdapat dua kamar dan satu kamar mandi, tak terlalu


besar namun tak sempit pula.

__ADS_1


Rafi membuka kamar yang tepat disebelah kamar mandi, tempat tidur berukuran besar


telah rapi beserta sprei nya yang berwarna biru muda.


Rafi dengan perlahan menuntun Rani agar menuju tempat tidur tersebut, “Rani, kamu


istirahat di sini ya.”


Rani hanya mengangguk pasrah, ia merebahkan tubuhnya yang semakin terasa berat di atas kasur yang empuk itu.


Rafi menutup seluruh tubuh Rani dengan selimut yang nyaman serta merapikan riap-riap rambut Rani yang tak beraturan lagi.


Entah berapa lama hingga akhirnya Rani tertidur, entahlah sepertinya efek obat yang


diberikan Mira dan juga tubuhnya yang lelah karena seharian  bekerja.


Sepertinya baru beberapa menit yang lalu Rani tidur nyenyak, ia merasakan seseorang masih mengusap pelan puncak kepalanya, Rafi kamu baik sekali, batin Rani sebelum akhirnya ia terkejut karena bukan Rafi yang saat ini berada di hadapannya begitu Rani membuka mata.


Tama, pria itu kini tengah duduk tepat di tepi kasur dengan tangannya yang masih


berada di kepala Rani.


“Tama, kamu dari kapan ada di sini?” tanya Rani menyingkirkan tangan pria itu.


Rani langsung bangkit dari tidurnya, terlebih ia menyadari pintu yang tertutup ia


tak bisa pura-pura bodoh bahwa saat ini Tama melihatnya dengan cara yang


berbeda.


Rani mulai ketakutan, “Tama kamu ngapain di sini?” tanyanya lagi mulai panik.


Tama tak menghiraukan pertanyaan Rani, ia hanya tersenyum tipis menatap Rani, “Cantik,”


bisiknya kemudian mulai mendekati Rani.


“Tama tolong, kamu jangan kaya gini,” Rani saat ini telah berdiri di atas kasur


karena Tama yang semakin mendekatinya.


“Tama, please! Jangan dekat-dekat!” Teriak


Rani.


Namun Tama bukan lagi Tama yang Rani lihat beberapa jam lalu, tatapannya berubah,


sulit untuk Rani artikan, bahkan ada bau alkohol yang menyengat ketika Tama semakin mendekatinya.


Rani menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya berharap kain tebal itu dapat


menjadi tameng bagi dirinya, “Tama tolong stop! Aku akan teriak!” ancamnya kali ini.


“Rani, kamar ini kedap suara, jadi nggak akan ada yang dengar kamu teriak,” jawab Tama


enteng, bahkan Rani dapat melihat seringaian kecil yang muncul di wajah itu.


Rani saat ini mulai menangis, pasalnya ia sangat bingung dengan situasi ini ia juga


merasa takut melihat Tama.


Tama semakin merangkak mendekati Rani yang tak ada lagi ruang untuk mundur, Rani


telah mepet dengan tembok tempat tidur, kali ini Tama tak hanya diam ia dengan


paksa menarik selimut yang sedari tadi Rani remas kuat.


Rani hanya bisa menangis dan memohon pada Tama agar tak melakukan hal yang selama ini ia takutkan, tak merenggut apa yang telah dirinya jaga.


Rani bahkan memanggil-manggil Rafi sekuat tenaga namun tak ada yang kunjung datang.


“Tama tolong jangan! Tolong!”


Tama tak menghiraukan tangisannya, pria itu bahkan menarik paksa semua pakaian Rani


yang tak bisa lagi menahan kepalanya yang semakin berat Rani hanya bisa


menangis.


Ia merapalkan semua doa yang dirinya bisa, tetapi pertolongan tetap tak datang.


Rani sekuat tenaga mendorong, menyakar, hingga menggigit namun hal itu tetap tak


menghentikan Tama yang tenaganya lebih besar darinya.


Rani tergugu, entah bagaimana masa depan hidupnya, Rafi, keluarganya, serta


mimpi-mimpinya.


Hidup Rani hancur malam itu juga, karena Tama sahabat kekasihnya. Rani sangat


membenci Tama.


Apa yang nanti harus dirinya lakukan? Bagaimana ia akan menceritakan hal ini pada


Rafi? Dan apakah Rafi akan tetap menerimanya? Rani menangis pilu, dadanya sesak saat memikirkan hal tersebut.


[]

__ADS_1


__ADS_2