MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 80 : I Love U


__ADS_3


...***********...


Setelah Rani sembuh ia kembali bekerja seperti biasanya, namun kali ini pekerjaan yang begitu menumpuk membuatnya kerap harus lembur.


Begitu juga dengan Tama, karena bulan lalu sering izin karena berbagai hal ada rasa tak enak dengan Retno serta Laras, ia memutuskan untuk lebih rajin mengurusi cafe.


Bahkan cafe semakin rama setelah salah satu selebgram pernah mampir kesana, dengan memberikan penilaian bintang lima.


Namun tetap saja perhatian Tama tak pernah surut, Rani sempat berpikir sikap Tama akan berubah lambat laun karena dirinya kini tak mengandung.


Namun nyatanya Tama masih setia menyiapkan bekal, membantu mengurusi pekerjaan rumah tangga, bahkan mengantar jemput Rani.


Masalah Rafi akhirnya selesai juga, pria itu telah berangkat ke Aussie seminggu setelah permintaan maafnya pada Rani dan Tama.


Begitupun dengan teman-teman Tama yang lain, seperti Dimas, Fauzan, Elgin, dan Waren mereka datang satu persatu meminta maaf dengan tulus pada Tama.


Rani bahagia melihat akhirnya suaminya itu tak lagi menerima perlakuan buruk lagi. Setidaknya, ia tak perlu khawatir tiap kali Tama pulang malam.


Namun Tama tampaknya belum bisa merasa tenang, apalagi saat notifikasi pemberitahuan dari ponsel Rani muncul, yang mengingatkan itu hari lahir Rafi, suaminya itu bukan kepalang cemburu, bahkan seharian tak bicara padanya.


"Tama, itu dulu. Lagian kami pacaran dua tahun, aku lupa kalau itu peringatan belum ku hapus. Masak kamu ngambek kaya anak SD sih!"


Meski marah Tama tak lantas mengeluarkan perkataan kasar atau sebagainya, tetap saja Rani merasa tak tenang dengan jawaban singkat dan seadanya dari Tama.


"Tama ,,,,," Rani masih berusaha membujuk Tama ia bahkan dengan sengaja mengalungkan tangannya pada Tama.


Namun tetap Tama pada pendiriannya, "Iya, aku nggak marah."


"Kalau nggak marah kenapa seharian diemin aku?" Rani memasang wajah sedih.


"Nggak apa-apa."


Rani jadi kesal sendiri ia tak tahu harus berbuat apa, sampai akhirnya Rani dengan berani mencium Tama paksa membuat pria itu akhirnya tak bisa menolak, luluh juga akhirnya.


"Kesel banget aku tu, mana kamu nulis, ulang tahun calon suami," keluh Tama.


Rani tergelak, "Ralat, ada emoticon love juga."


"Tuh kan, kamu mah gitu."


Rani tertawa terbahak-bahak, melihat bagaimana tingkah lucu Tama saat memprotes kesal.

__ADS_1


Ternyata tak sampai di situ kecemburuan Tama kembali terulang lagi hari ini, saat mereka mengurus kepindahan dari kost ke rumah Tama.


Pria itu telah memegang selembar potret dua orang di sana. Entah dari mana Tama menemukannya, namun Rani sudah was-was saat Tama mengatakan, "Ini mau dibuang atau di simpan," lengkap dengan muka masamnya.


Rani meringis merasa bersalah, memang dirinya belum sempat membersihkan kemarnya, apalagi membuang kenangan masa lalunya itu.


"Buang aja ke tong sampah," ucap Rani mendekati Tama yang masih berdiri di depan lemari yang terbuka.


"Yakin nih?" Tama semakin masam, namun hal tersebut membuat Rani gemas.


Ia lantas memeluk Tama dari belakang, "Jangan marah ya, itu masa lalu. Kan kamu sekarang masa depan aku, dan seterusnya."


Tama tak menjawab, ia justru melepaskan tangan Rani dan memutar tubuhnya agar dapat berhadapan dengan Rani.


"Kamu, udah nggak ada perasaan lagi sama Rafi kan?"


Rani tersenyum semanis mungkin, "Udah enggak lah. Suer."


Rani membuat gestur angka dua dengan tangannya, saat mengatakan kata suer.


Tama menundukkan wajahnya, ia kemudian mencium dahi Rani cukup lama.


"Kamu kenapa masih cemburu sama Rafi? Kan aku udah bilang nggak ada lagi siapapun di hidup aku kecuali kamu," ucap Rani setelah Tama kembali menatapnya.


Tama merengkuhnya, "Tetep aja kalian pernah menjalani hubungan, yang ya, mungkin berkesan? Rafi aja terakhir kali ketemu sama kamu matanya nggak bisa bohong kalau dia masih berharap."


"Emang bisa kebaca gitu?"


"Bisalah, aku bisa yang sesama laki-laki bisa baca gerak-gerik orang kalau masih punya perasaan," jelas Tama masih sedikit menggerutu, membuatnya semakin tampak lucu di mata Rani.


"Ya nggak penting Rafi atau siapapun suka sama aku, kalau aku milihnya kamu? and I love you. "


Kali ini Tama terlihat salah tingkah, gombalan Rani kali ini akhirnya berhasil.


"Makin lucu kamu."


Nah, kalau satu kata 'lucu' keluar dari mulut Tama sudah dipastikan Tama sudah kembali ke mode normalnya.


Di tambah kecupan-kecupan di seluruh wajah Rani membuatnya harus mengeliat karena geli.


"Udah ih, jangan di sini. Kan nggak lucu kita begituan di tempat berantakan gini."


Rani menahan wajah Tama dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Tama tertawa, "Iya, apalagi kalau nanti Yori main nyelonong kaya tadi bisa-bisa diomelin aku."


Rani tertawa terbahak-bahak, memang tadi saat Tama mencuri-curi menciumnya Yori entah dari mana langsung membuka pintu dan masuk untuk menemui Rani.


"Aku jadi sedih pisah sama tu anak," ujar Rani kemudian.


Tama mengusap pipi Rani, "Hei jangan sedih, nanti kalian bebas kalau mau main. Atau kamu kesini, ataupun Yori yang ke rumah tadi udah aku kasih alamat kita ke dia."


Mata Rani berbinar, "Beneran? makasih ya."


"Iya," jawab Tama tak sanggup menahan senyumnya, "Oh iya, ngomong-ngomong kamu bulan ini belum datang bukan kan? tumben."


Rani mengingat-ingat kapan terakhir kali ia menstruasi, benar saja seharusnya ini sudah jadwalnya.


Tama mendekatkan wajahnya, menyapu permukaan hidung Rani, "Aku beli testpack tadi, siapa tahu kali ini kita jadi orang tua."


"Kalau ternyata belum gimana?"


Tama mengangkat kedua pundaknya, "Ya nggak masalah, besok kita coba bikin lagi."


"Kalau hasilnya masih sama?"


"Kita bikin lagi, lagi, dan lagi sayang. Kita masih punya banyak waktu kok," ujar Tama tersenyum jahil.


"Kalau kita ternyata belum di kasih anak apa kamu akan tetap-"


"Hei! aku tetap seperti ini. Aku akan tetap sayang dan mencintai kamu seutuhnya. Aku bahagia banget hidup sama kamu Rani, jadi ya kalau kebahagiaan kita bertambah alhamdulillah banget kan."


Rani sedikit takut tiap kali membayangkan dirinya akan hamil, apakah kali ini akan berhasil atau kehilangan yang dirinya pernah alami akan terulang lagi.


Keguguran itu membuat Rani sangat terpukul, bagaimana kalau kali ini gagal lagi. Apakah Tama akan tetap bersamanya, apalagi Tama terlihat sudah sangat mengharapkan seorang anak.


"Sayang? kamu tenang aja ya, jangan terlalu di pikirin dan tertekan sama hal ini. Aku bahagia banget sama kamu, beneran. Dan kalau masalah anak, kamu jangan takut ya, semua yang terjadi kemaren bukan salah kamu. Kita akan jaga sama-sama anak kita nanti."


Rani tersenyum hangat, ada rasa lega di benaknya mengetahui apa yang Tama pikirkan.


"Beneran nggak masalah ya?"


Tama mengangguk, "Iya, sekarang kita coba tes dulu yuk."


Tama memutar tubuh Rani hingga membelakangi nya, lalu ia mendorong Rani lembut untuk menuju kamar mandi.


"Bismillah apapun itu hasilnya, aku akan tetap disamping kamu."

__ADS_1


Meski masih ada rasa gugup dalam dirinya, namun Rani siap dengan apapun hasilnya, terlebih ada Tama di sisinya.


-Selesai-


__ADS_2