MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 47 : K h a w a t i r


__ADS_3

Rani mondar-mandir menunggu Tama, pria itu tadi mengatakan akan segera pulang, namun


entah mengapa hingga pukul setengah satu Tama masih tak terlihat.


Rani tak dapat menahan dirinya untuk tak khawatir pada suaminya itu, tetap saja sekarang


mereka tinggal satu atap mau tak mau Rani harus peduli pada Tama. Ia mencoba


kembali menelpon pria yang sedari tadi membuatnya tak bisa tenang, namun lagi-lagi


Tama tak mengangkat panggilannya.


Saat Rani hendak melakukan panggilan kembali ada mobil yang masuk ke pekarangan kostnya, Rani


mengerutkan alis karena ia tak pernah melihat mobil tersebut sebelumnya,


terlebih tak mungkin Rafi datang ke kostannya di jam segini.


Betapa terkejutnya Rani melihat Tama dengan susah payah turun dari mobil, sehingga


entah siapa pria yang mengantarnya membantu menahan tubuh Tama.


Tama tersenyum melihat Rani yang sudah menunggunya di teras depan, “Hai, maaf ya


bikin kamu khawatir.”


Rani tak habis pikir dengan pelipis yang diperban dan muka lebam pria itu, kenapa Rani


tak dihubungi, kenapa Tama lebih memilih Rani seperti orang bodoh yang


mengkhawatirkannya tanpa tahu apa yang terjadi.


Rani masih tak mengeluarkan sepatah katapun, ia masih menatap Tama dengan perasaan


yang sulit ia pahami, sedih namun juga kesal ingin segera mengeluarkan


kemarahannya.


Setelah Tama berada tepap dihadapan Rani, ia melepaskan tangannya dari bahu Altar yang


sedari tadi membantunya berjalan, “Al, makasih banyak ya. Sorry udah


ngerepotin,”


Altar kemudian melepaskan pegangannya pada Tama, “Yakin lo bisa masuk sendiri?” tanyanya


memastikan.


“Bisa, ni ada bini gue. Lo langsung cabut aja,” ucap Tama seraya menunjuk Rani yang masih


tak bergeming.


“Oke, deh gue pamit ya. Mbak saya permisi,” Altar akhirnya memilih untuk pamit terlebih


ia menyadari suasana yang kurang baik bila dirinya masih tetap di sana.


Rani mengangguk dan tersenyum dengan sopan, “Makasih ya,” ucapnya tak lupa berterima


kasih.


Altar benar-benar pergi setelah berpamitan, setelah mobil Altar menjauh baru Rani


bereaksi yang membuat Tama hampir saja terjatuh karena limbung.


“Kamu kenapa nggak bilang sih kalau terjadi sesuatu gini!”Rani mendorong Tama kesal.


“Aw! Sakit Rani,” ucap Tama yang untungnya ia bisa dengan cepat berpegangan pada tembok.


Rani menyadari kondisi Tama benar-benar tidak baik-baik saja, ia lantas menggandeng


tangan Tama perlahan, “Kamu kenapa lagi Tama, aku bingung tiap kali kamu pulang


banyak luka gini, apasih yang kamu lakuin di luar saja yang nggak aku tahu.”


Rani meletakkan tangan Tama agar melingkar di bahunya, ia menuntun pria itu untuk


masuk ke kamar.


“Maaf, aku nggak mau kamu kepikiran.”


Rani membantu Tama agar duduk di atas tempat tidur, perempuan itu kemudian mengunci


pintu kamarnya.


Sedangkan Tama mengamati tiap gerakan Rani dalam diam, apakah perempuan itu benar


mengkhawatirkannya atau hanya perasaan Tama saja, bohong jika Tama tak berharap


Rani peduli padanya.

__ADS_1


Rani mengambil segelas air yang kemudian ia berikan pada Tama, Rani duduk tepat


disamping pria itu.


“Apa yang terjadi?” tanya Rani berusaha selembut mungkin, perempuan itu merapikan rambut Tama


yang berantakan dan ternyata bagian depan kepala pria itu tampak membiru, “Sakit?”


tanyanya.


Tama mengangguk, “Aku, aku nggak apa-apa kok cuman jatuh dari motor tadi.”


Rani menatap Tama datar, “Bohong.”


Tama meneguk minumnya, ia tak ingin Rani tahu apa yang sebenarnya terjadi bukan


apa-apa Tama hanya tak ingin Rani kepikiran apalagi Rani tengah mengandung.


“Iya, aku tadi kecelakaan.”


Rani memutar matanya malas, “Kamu kira aku bodoh ya, aku tahu kali mana luka


kecelakaan sama pukulan, Tama. Sama siapa kamu berantem? Rafi lagi?”


Tama menggeleng, “Aku nggak berantem sama Rafi.”


“Lalu kenapa? Kamu sebenarnya siapa Tama kenapa punya banyak musuh gini?” tuduh Rani.


Tama menganga ia tak percaya dengan apa yang Rani pikirkan tentangnya, “Aku nggak


punya musuh, aku nggak tahu kenapa mereka ngelakuin ini sama aku.”


Tama menutup mulutnya, ia baru sadar keceplosan, “Maksud aku, ya aku nggak tahu


bakal kecelakaan, aku nggak berantem sama siapa-siapa.”


Namun sayang Rani sudah sangat jelas menangkap apa yang Tama katakan sebelumnya, “Siapa?


Siapa mereka?”


Tama menutup matanya, berusaha mencari cara agar Rani tak menanyakan lagi apa yang


terjadi padanya, “Aku capek boleh aku istirahat?”


“Tama, aku sekarang istri kamu jadi sudah seharusnya aku tahu apa yang terjadi,” tutur


Rani menahan lengan Tama yang membuat pria itu harus mengaduh kesakitan karena


“Ah, sakit,” ucap Tama menahan lengannya.


Rani melepaskan lengan Tama begitu saja, “Maaf, aku nggak tahu ada luka di situ.”


Masih dengan menahan lengannya Tama menatap Rani, “Kita tidur aja yuk, ini udah malem


banget kasian kamu.”


“Tama,” ucap Rani yang masih ingin menanyaan apa yang terjajdi.


“Rani, kita bahas besok ya?” ucap Tama masih berusaha membuat Rani tak mendesaknya


untuk menceritakan apa yang Tama alami.


Rani akhirnya mengalah, terlebih ia melihat Tama yang begitu lemas mungkin saat ini


memang Tama butuh istirahat. Perempuan itu kemudian mengangguk, ia membantu Tama


melepas jaket yang pria itu kenakan betapa terkejutnya Rani melihat ada jahitan


di sana.


“Ya Allah Tama, ini parah banget nggak heran muka kamu biru semua gitu pasti seluruh


badan kamu juga kesakitan kan?”


Rani menahan tangis, dapat ia bayangkan betapa ngilunya seluruh tubuh Tama sekarang.


Namun perempuan itu tak ingin membuat Tama menyadari dirinya yang sangat sedih


melihat keadaan pria itu.


Rani dengan cekatan menyiapkan tempat tidur agar Tama segera berbaring dengan


nyaman, ia tak lagi banyak bertanya mungkin setelah kondisi Tama membaik baru Rani


akan mencari tahu lagi.


Tama dengan susah payah menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, meski rasanya


sangat sakit dengan sekuat tenaga Tama menahannya.

__ADS_1


Rani mematikan lampu utama dan segera menyalakan lampu tidur agar pria itu dapat


segera beristirahat.


Rani menjatuhkan tubuhnya tepat di sebelah Tama, agar ia dapat dengan leluasa


menatap pria itu meski dengan cahaya yang sangat minim. Rani tak sadar kini ia


meneteskan air mata, ia sendiri tak yakin apa dirinya merasa kasihan pada Tama


atau karena bawaan janinnya yang menyadari Ayahnya babak belur saat ini.


Rani dapat melihat Tama yang kesulitan untuk tidur mungkin karena sakit diseluruh


tubuhnya, ia berinisiatif mengelus tangan Tama berharap hal itu dapat membuat


pria itu lebih tenang.


Tama yang merasakan sentuhan di tangannya membuka mata, ia berusaha untuk menghadap ke


arah Rani namun gagal karena lengan sebelah kanannya ada jahitan sehingga tak


dapat ia jadikan tumpuan.


“Jangan terlalu banyak gerak Tama, udah terlentang aja,” ucap Rani mengingatkan.


Tama patuh, ia hanya memiringkan kepalanya agar dapat melihat wajah Rani sepenuhnya,


“Rani kamu nangis?”


Rani tak menjawab, ia menutup matanya meski tangan perempuan itu masih mengelus pelan


tangan Tama.


“Aku nggak punya musuh Rani, kamu nggak perlu khawatir,” ucap Tama pelan ia berusaha


mengusap mata Rani dengan tangan satunya.


Rani membuka kembali matanya, “Bukan aku yang khawatir, anak kamu ini yang khawatir


lihat Ayahnya tiap pulang babak belur.”


Tama terkekeh, “Kalau kamu khawatir bilanng aja kali, aku malah seneng banget.”


“Siapa sebenarnya yang ngelakuin ini sama kamu Tama?” tanya Rani kalut.


Tama menatap langit kamarnya yang gelap, “Aku nggak tahu.”


“Kamu pernah ngelakuin apa gitu nggak kesalahan?” tanya Rani lagi.


Tama kembali menggeleng, “Enggak, seinget aku ya enggak sih.”


“Siapa kira-kira orang yang nggak suka sama kamu?” tanya Rani lagi yang kembali di


jawab dengan gelengan oleh Tama.


“Rani, kamu tahu nggak?” tanya Tama tiba-tiba membuat Rani bingung.


“Tahu apa?” tannya Rani kembali.


“Tadi waktu di rumah sakit aku pas sadar langsung pengen ketemu kamu,” cerita Tama.


“Ya Allah, kamu masuk rumah sakit juga?” tanya Rani tak percaya, “Kenapa nggak ngabarin


aku sih!”


Tama meringis merasa bersalah, “Aku kan pingsang, lagian aku nggak mau bikin kamu


kepikiran.”


“Terus kenapa pengen ketemu aku?” tanya Rani penasaran.


“Nggak tahu, aku pengen cepet-cepet lihat kamu. Eh pas tadi begitu nyampe kamu ada di


depan lega banget rasanya, kaya tenang gitu,” ujar Tama jujur itu hal yang ia


rasakan setelah melihat Rani begitu tiba tadi.


Rani reflek memukul bahu Tama “Bisa-bisanya gombal, udah istirahat.”


Tama tertawa melihat reaksi Rani, “Iya, kamu juga istirahat. Maaf ya udah bikin


tidur larut malam.”


“Maaf-maaf mulu udah kayak lebaran aja,” gerutu Rani, ia lalu menutup matanya agar Tama


melakukan hal yang sama Rani berdoa semoga keadaan Tama membaik.


[]

__ADS_1


Writer's Note : Cie Rani bilang aja sih udah mulai khawatir, Tama udah ngarep tuhhh


__ADS_2