
Rani mondar-mandir menunggu Tama, pria itu tadi mengatakan akan segera pulang, namun
entah mengapa hingga pukul setengah satu Tama masih tak terlihat.
Rani tak dapat menahan dirinya untuk tak khawatir pada suaminya itu, tetap saja sekarang
mereka tinggal satu atap mau tak mau Rani harus peduli pada Tama. Ia mencoba
kembali menelpon pria yang sedari tadi membuatnya tak bisa tenang, namun lagi-lagi
Tama tak mengangkat panggilannya.
Saat Rani hendak melakukan panggilan kembali ada mobil yang masuk ke pekarangan kostnya, Rani
mengerutkan alis karena ia tak pernah melihat mobil tersebut sebelumnya,
terlebih tak mungkin Rafi datang ke kostannya di jam segini.
Betapa terkejutnya Rani melihat Tama dengan susah payah turun dari mobil, sehingga
entah siapa pria yang mengantarnya membantu menahan tubuh Tama.
Tama tersenyum melihat Rani yang sudah menunggunya di teras depan, “Hai, maaf ya
bikin kamu khawatir.”
Rani tak habis pikir dengan pelipis yang diperban dan muka lebam pria itu, kenapa Rani
tak dihubungi, kenapa Tama lebih memilih Rani seperti orang bodoh yang
mengkhawatirkannya tanpa tahu apa yang terjadi.
Rani masih tak mengeluarkan sepatah katapun, ia masih menatap Tama dengan perasaan
yang sulit ia pahami, sedih namun juga kesal ingin segera mengeluarkan
kemarahannya.
Setelah Tama berada tepap dihadapan Rani, ia melepaskan tangannya dari bahu Altar yang
sedari tadi membantunya berjalan, “Al, makasih banyak ya. Sorry udah
ngerepotin,”
Altar kemudian melepaskan pegangannya pada Tama, “Yakin lo bisa masuk sendiri?” tanyanya
memastikan.
“Bisa, ni ada bini gue. Lo langsung cabut aja,” ucap Tama seraya menunjuk Rani yang masih
tak bergeming.
“Oke, deh gue pamit ya. Mbak saya permisi,” Altar akhirnya memilih untuk pamit terlebih
ia menyadari suasana yang kurang baik bila dirinya masih tetap di sana.
Rani mengangguk dan tersenyum dengan sopan, “Makasih ya,” ucapnya tak lupa berterima
kasih.
Altar benar-benar pergi setelah berpamitan, setelah mobil Altar menjauh baru Rani
bereaksi yang membuat Tama hampir saja terjatuh karena limbung.
“Kamu kenapa nggak bilang sih kalau terjadi sesuatu gini!”Rani mendorong Tama kesal.
“Aw! Sakit Rani,” ucap Tama yang untungnya ia bisa dengan cepat berpegangan pada tembok.
Rani menyadari kondisi Tama benar-benar tidak baik-baik saja, ia lantas menggandeng
tangan Tama perlahan, “Kamu kenapa lagi Tama, aku bingung tiap kali kamu pulang
banyak luka gini, apasih yang kamu lakuin di luar saja yang nggak aku tahu.”
Rani meletakkan tangan Tama agar melingkar di bahunya, ia menuntun pria itu untuk
masuk ke kamar.
“Maaf, aku nggak mau kamu kepikiran.”
Rani membantu Tama agar duduk di atas tempat tidur, perempuan itu kemudian mengunci
pintu kamarnya.
Sedangkan Tama mengamati tiap gerakan Rani dalam diam, apakah perempuan itu benar
mengkhawatirkannya atau hanya perasaan Tama saja, bohong jika Tama tak berharap
Rani peduli padanya.
__ADS_1
Rani mengambil segelas air yang kemudian ia berikan pada Tama, Rani duduk tepat
disamping pria itu.
“Apa yang terjadi?” tanya Rani berusaha selembut mungkin, perempuan itu merapikan rambut Tama
yang berantakan dan ternyata bagian depan kepala pria itu tampak membiru, “Sakit?”
tanyanya.
Tama mengangguk, “Aku, aku nggak apa-apa kok cuman jatuh dari motor tadi.”
Rani menatap Tama datar, “Bohong.”
Tama meneguk minumnya, ia tak ingin Rani tahu apa yang sebenarnya terjadi bukan
apa-apa Tama hanya tak ingin Rani kepikiran apalagi Rani tengah mengandung.
“Iya, aku tadi kecelakaan.”
Rani memutar matanya malas, “Kamu kira aku bodoh ya, aku tahu kali mana luka
kecelakaan sama pukulan, Tama. Sama siapa kamu berantem? Rafi lagi?”
Tama menggeleng, “Aku nggak berantem sama Rafi.”
“Lalu kenapa? Kamu sebenarnya siapa Tama kenapa punya banyak musuh gini?” tuduh Rani.
Tama menganga ia tak percaya dengan apa yang Rani pikirkan tentangnya, “Aku nggak
punya musuh, aku nggak tahu kenapa mereka ngelakuin ini sama aku.”
Tama menutup mulutnya, ia baru sadar keceplosan, “Maksud aku, ya aku nggak tahu
bakal kecelakaan, aku nggak berantem sama siapa-siapa.”
Namun sayang Rani sudah sangat jelas menangkap apa yang Tama katakan sebelumnya, “Siapa?
Siapa mereka?”
Tama menutup matanya, berusaha mencari cara agar Rani tak menanyakan lagi apa yang
terjadi padanya, “Aku capek boleh aku istirahat?”
“Tama, aku sekarang istri kamu jadi sudah seharusnya aku tahu apa yang terjadi,” tutur
Rani menahan lengan Tama yang membuat pria itu harus mengaduh kesakitan karena
“Ah, sakit,” ucap Tama menahan lengannya.
Rani melepaskan lengan Tama begitu saja, “Maaf, aku nggak tahu ada luka di situ.”
Masih dengan menahan lengannya Tama menatap Rani, “Kita tidur aja yuk, ini udah malem
banget kasian kamu.”
“Tama,” ucap Rani yang masih ingin menanyaan apa yang terjajdi.
“Rani, kita bahas besok ya?” ucap Tama masih berusaha membuat Rani tak mendesaknya
untuk menceritakan apa yang Tama alami.
Rani akhirnya mengalah, terlebih ia melihat Tama yang begitu lemas mungkin saat ini
memang Tama butuh istirahat. Perempuan itu kemudian mengangguk, ia membantu Tama
melepas jaket yang pria itu kenakan betapa terkejutnya Rani melihat ada jahitan
di sana.
“Ya Allah Tama, ini parah banget nggak heran muka kamu biru semua gitu pasti seluruh
badan kamu juga kesakitan kan?”
Rani menahan tangis, dapat ia bayangkan betapa ngilunya seluruh tubuh Tama sekarang.
Namun perempuan itu tak ingin membuat Tama menyadari dirinya yang sangat sedih
melihat keadaan pria itu.
Rani dengan cekatan menyiapkan tempat tidur agar Tama segera berbaring dengan
nyaman, ia tak lagi banyak bertanya mungkin setelah kondisi Tama membaik baru Rani
akan mencari tahu lagi.
Tama dengan susah payah menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, meski rasanya
sangat sakit dengan sekuat tenaga Tama menahannya.
__ADS_1
Rani mematikan lampu utama dan segera menyalakan lampu tidur agar pria itu dapat
segera beristirahat.
Rani menjatuhkan tubuhnya tepat di sebelah Tama, agar ia dapat dengan leluasa
menatap pria itu meski dengan cahaya yang sangat minim. Rani tak sadar kini ia
meneteskan air mata, ia sendiri tak yakin apa dirinya merasa kasihan pada Tama
atau karena bawaan janinnya yang menyadari Ayahnya babak belur saat ini.
Rani dapat melihat Tama yang kesulitan untuk tidur mungkin karena sakit diseluruh
tubuhnya, ia berinisiatif mengelus tangan Tama berharap hal itu dapat membuat
pria itu lebih tenang.
Tama yang merasakan sentuhan di tangannya membuka mata, ia berusaha untuk menghadap ke
arah Rani namun gagal karena lengan sebelah kanannya ada jahitan sehingga tak
dapat ia jadikan tumpuan.
“Jangan terlalu banyak gerak Tama, udah terlentang aja,” ucap Rani mengingatkan.
Tama patuh, ia hanya memiringkan kepalanya agar dapat melihat wajah Rani sepenuhnya,
“Rani kamu nangis?”
Rani tak menjawab, ia menutup matanya meski tangan perempuan itu masih mengelus pelan
tangan Tama.
“Aku nggak punya musuh Rani, kamu nggak perlu khawatir,” ucap Tama pelan ia berusaha
mengusap mata Rani dengan tangan satunya.
Rani membuka kembali matanya, “Bukan aku yang khawatir, anak kamu ini yang khawatir
lihat Ayahnya tiap pulang babak belur.”
Tama terkekeh, “Kalau kamu khawatir bilanng aja kali, aku malah seneng banget.”
“Siapa sebenarnya yang ngelakuin ini sama kamu Tama?” tanya Rani kalut.
Tama menatap langit kamarnya yang gelap, “Aku nggak tahu.”
“Kamu pernah ngelakuin apa gitu nggak kesalahan?” tanya Rani lagi.
Tama kembali menggeleng, “Enggak, seinget aku ya enggak sih.”
“Siapa kira-kira orang yang nggak suka sama kamu?” tanya Rani lagi yang kembali di
jawab dengan gelengan oleh Tama.
“Rani, kamu tahu nggak?” tanya Tama tiba-tiba membuat Rani bingung.
“Tahu apa?” tannya Rani kembali.
“Tadi waktu di rumah sakit aku pas sadar langsung pengen ketemu kamu,” cerita Tama.
“Ya Allah, kamu masuk rumah sakit juga?” tanya Rani tak percaya, “Kenapa nggak ngabarin
aku sih!”
Tama meringis merasa bersalah, “Aku kan pingsang, lagian aku nggak mau bikin kamu
kepikiran.”
“Terus kenapa pengen ketemu aku?” tanya Rani penasaran.
“Nggak tahu, aku pengen cepet-cepet lihat kamu. Eh pas tadi begitu nyampe kamu ada di
depan lega banget rasanya, kaya tenang gitu,” ujar Tama jujur itu hal yang ia
rasakan setelah melihat Rani begitu tiba tadi.
Rani reflek memukul bahu Tama “Bisa-bisanya gombal, udah istirahat.”
Tama tertawa melihat reaksi Rani, “Iya, kamu juga istirahat. Maaf ya udah bikin
tidur larut malam.”
“Maaf-maaf mulu udah kayak lebaran aja,” gerutu Rani, ia lalu menutup matanya agar Tama
melakukan hal yang sama Rani berdoa semoga keadaan Tama membaik.
[]
__ADS_1
Writer's Note : Cie Rani bilang aja sih udah mulai khawatir, Tama udah ngarep tuhhh