
Saat ini Rani tengah menunggu bus keberangkatan untuk ke Jakarta, akhirnya tiba juga di mana dirinya akan kembali ke Ibu Kota. Terlebih Mbak Lula yang sudah memborbardir pesan agar Rani segera berangkat karena pesanan yang tengah membludak, terlebih Mbak Lula belum tahu apa yang tengah Rani alami.
Tentunya Rani tak sendiri karena ada Tama yang sekarang menemaninya, pria itu sedari tadi ribut agar Rani tak mengangkat barang apapun dengan dalih untuk menjaga kandungannya yang masih sangat muda. Sebelum berangkat bahkan Tama menyuruh Rani untuk memeriksakan kandungannya, namun Rani menolak, ia memilih nanti saja diperiksa begitu tiba di Jakarta sekalian.
Ibu dan Bapak juga nggak kalah riweh, ingin mengantarkan Rani ke terminal padahal biasanya mereka membiarkan anak perempuannya naik ojek sendirian. Alhasil Bapak boncengan sama Ibu dengan motor supranya, sedangkan Rani dan Tama menggunakan ojek.
Seperti biasanya Rani akan memberikan uang pegangan pada Ibu, untuk kebutuhan rumah dan sekolah adiknya meskipun pada awalnya Ibu selalu menolak namun setelah Rani paksa akhirnya beliau menerima juga.
“Maaf ya Nduk, Ibu selalu merepotkan kamu,” tutur Ibu.
Rani menggeleng keras tak setuju dengan apa yang Ibunya katanya, “Bu, Rani nggak pernah mikir seperti itu lho, Ibu dan Bapak ya tanggung jawab Rani.”
“Tapi Ibu kasian sama kamu, apalagi sekarang kamu sudah berkeluarga. Ibu minta sekarang kamu yang paling penting mikirin diri kamu sendiri dulu ya, kalau lebih baru kamu mikirin rumah,” kata Ibu.
Rani mengangguk, “Iya Bu, Rani juga mau minta maaf kalau misalnya nanti kirimnya nggak seperti biasanya ya,” ia kemudian beralih pada Bapak yang duduk di samping Ibu di tempat tunggu keberangkatan, “Bapak harus janji sama Rani, jangan terlalu capek ya.”
Ibu menepuk pundak Rani, “Iya nggak apa-apa Nduk. Tenang aja nanti Bapakmu biar Ibu marahin kalau terlalu capek.”
“Ibumu sukanya nesu-nesu terus,” gerutu Bapak.
“Ya makanya jangan nyari masalah terus,” omel Ibu kemudian.
“Udah-udah, jangan ribut di sini,” lerai Rani kemudian sebelum Ibu dan Bapaknya kembali ribut yang mana akan menjadi tontonan orang lain.
Tak lama kemudian seorang lelaki dengan usia sekita 30-an memanggil calon penumpang untuk keberangkatan Jakarta.
“Siap-siap bagi yang tujuannya kota Jakarta, bisa masuk ke bus selanjutnya.”
Petugas tersebut menunjuk pada bus yang baru saja datang, serempak setiap orang dengan tujuan yang sama berkumpul.
Rani dan Tama kemudian turut mempersiapkan diri agar tak ketinggalan, tak lupa keduanya berpamitan dengan Bapak dan Ibu.
“Ibu Rani pamit ya,” Rani mencium tangan Ibunya.
Ibu kemudian berkaca-kaca, sedih rasanya melepas putrinya kembali untuk merantau jauh di sana terlebih sekarang putrinya tengah mengandung. Ibu memeluk Rani erat, beliau berdoa untuk keselamatan Rani, “Nduk, kamu hati-hati ya di sana. Jaga kesehatan, jaga jabang bayi di perut kamu ya.”
Rani mengangguk, ia pun kini mencoba untuk menahan tangisnya, “Iya Bu, pasti. Ibu sehat-sehat nggih.”
Tama tersentuh melihat hal tersebut, ia pun mengekori Rani untuk mencium tangan Ibu “Bu, Tama pamit dulu ya.”
“Iya, le tolong jaga Rani dan anak kalian ya,” tutur Ibu sama seperti Rani beliau memeluk Tama layaknya anaknya sendiri.
__ADS_1
“Iya Bu,” jawab Tama.
Rani pun lanjut berpamitan pada Bapak yang sedari tadi terlihat hidungnya sudah kembang-kempis berusaha agar tak menangis.
“Pak, Rani pamit ya,” ucapnya seraya mencium tangan Bapak.
“Iya, Nduk. Kamu hati-hati yo,” beliau menepuk pelan pundak Rani, ia tak menyangka anak
perempuannya sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu.
Setelah Rani tiba saatnya Tama turut mencium tangan Bapak, awalnya ia sangat terkejut karena Bapak tiba-tiba memeluknya, bahkan Ibu dan Rani hampir tak berkedip menyaksikan hal tersebut.
Bapak terkenal yang paling kaku di rumah, beliau sosok Bapak yang bahkan tak pernah mengungkapkan rasa sayangnya pada anak-anak beliau, sehinga adegan ini tak pernah mereka bayangkan akan terjadi.
“Tama jaga Rani seperti janji kamu. Jangan lagi kamu sakiti dia, dan jangan biarkan siapun menyakiti Rani lagi,” ucap Bapak tegas.
Tama turut memuluk Bapak, “Iya Pak, pasti saya akan menjaga Rani. Saya janji akan mempertaruhkan segalanya untuk Rani dan anak kami, bahkan hidup saya sekalipun.”
Bapak kembali menepuk punggung Tama, entah kenapa pemandangan ini membuat Rani kembali ingin menangis, apakah memang takdir ini yang telah Tuhan takdirkan untuk dirinya? Rani buru-buru mengusap matanya sebelum yang lain menyadari hal tersebut.
“Yuadah, kalian segera masuk, takutnya ketinggalan,” ucap Ibu mengingatkan karena para penumpang telah masuk ke dalam bus tersebut.
Rani mencari tempat duduknya yang berada di barisan depan, namun entah kenapa ia merasa sedikit mual begitu masuk kedalam bus.
“Rani kamu kenapa?” tanya Tama yang menyadari Rani menutup mulutnya.
“Nggak apa-apa, tapi agak enek. Aku dudul di sebelah jendela ya?” pinta Rani kemudian.
Rani menunjuk tempat duduk mereka, yang berada di barisan ketiga dari tempat duduk supir. Tama mengangguk, “Iya boleh.”
Rani melongok ke arah luar dirinya mencari-cari keberadaan Ibu dan Bapak yang mungkin saja masih belum pulang, ternyata benar saja Bapak dan Ibu masih di tempat tunggu tadi menatap ke arahnya meskipun terhalang dengan kaca Rani dapat dengan jelas melihat orang tuanya itu.
“Kenapa?” tanya Tama turut melihat ke arah pandangan Rani.
“Itu Bapak sama Ibu masih belum pulang,” tunjuk Rani kea rah luar.
Tama kemudian mengikuti arah telunjuk Rani, benar saja masih ada Bapak dan Ibu di sana sepertinya mereka ingin melihat bus anaknya benar-benar pergi terlebih dahulu baru beranjak pulang.
Rani lagi-lagi merasa mual, ia menutup mulutnya rapat-rapat seperti ada gejolak yang akan keluar dari mulutnya.
“Rani, kamu mau muntah?” Tama mulai panic ia mencari-cari sesuatu dalam tasnya, “Bentar ya, bentar.”
__ADS_1
Setelah menemukan plastik hitam Tama membuka lebar-lebar agar Rani dapat mengeluarkan isi perutnya dalam kantong tersebut.
“Kamu keluarin di sini ya, ayo keluarin aja,” tutur Tama masih dengan tangannya yang memegang plastik tersebut.
Rani tampak berpikir tentunya hal ini membuatnya merasa malu dan tak enak, tapi apa daya isi dalam perutnya seakan semakin terdorong ke atas minta untuk di keluarkan.
“Udah nggak apa-apa, kamu malu?” tanya Tama lagi.
Rani kemudian mengangguk, ia menutup mulutnya semakin kuat karena muntahnya akan mendobrak keluar.
“Aku nggak akan lihat kamu, aku akan tutup mata.”
Tama menutup matanya sedangkan tangannya masih bersedia memegangi kantong kresek hitam itu untuk Rani, ia berusaha agar istrinya tak merasa malu.
Bus pun akhirnya mulai berjalan, tanda perjalanan mereka akan di mulai Rani yang tak punya ilihan lain akhirnya memuntahkan isi perutnya dalam kantong plastik yang Tama pegang. Tentunya Tama tak tinggal diam, ia mengurut pelan tengkuk Rani.
Akhirnya Rani merasa lega, ia kemudian merasa sangat lemah bersandar pada kursi penumpang kepalanya bahkan kini terasa pusing.
Tama dengan sigap mengusap sisa-sisa muntahan di mulut Rani setelah mengikat rapat kantong plastik hitam itu.
“Udah lega? Minum dulu ya.”
Tama mengulurkan sebotol air mineral yang entah kapan pria itu beli, bahkan setelah membuang muntahan Rani ke tempat sampah Tama kembali dengan membawa minyak kayu putih di pri aitu oleskan pada tengkuk Rani.
“Semoga pake ini mendingan ya,” tutur pria itu lagi.
“Maaf ya,” ucap Rani lemas.
“Iya nggak apa-apa, kamu kenapa nggak bilang kalau mabuk darat kan aku bisa nyiapin perlengkapannya, untuk ada plasti di tas aku,” ucap Tama yang kini memijat kepala Rani perlahan.
“Aku nggak tahu, biasanya nggak pernah gini,” Memang sebelumnya Rani tak pernah mabuk darat, “Kamu dapat minyak kayu putih dari mana?” tanyanya kemudian.
“Minjem punya Ibu-Ibu di belakang, aku bilang aja buat istriku yang lagi hamil, eh langsung di kasih katanya bawa double beliau,” cerita Tama bangga.
“Kok kamu bawa-bawa plastik di tas?” tanya Rani kemudian.
“Aku lupa buat apa waktu itu, tapi sampai hari ini untungnya masih ada plastik itu,” ungkap Tama.
Rani hanya mengiyakan, perempuan itu kemudian menutup matanya yang semakin berat. Bau minyak angin dan urutan pelan Tama ternyata mampu membuat Rani merasa tenang. Untuk kali pertama Rani merasa bersyukur ada Tama di sampingnya, meskipun ini perjalanan pertama mereka namun itulah yang Rani rasakan.
[]
__ADS_1