MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 3 : T a m a


__ADS_3

Pukul 20.35 mereka akhirnya tiba di salah satu villa yang terlihat bangunan baru,


berbeda dengan villa disekilingnya yang catnya mulai pudar.


Rafi melepas seatbelt terlebih dahulu


untuk memastikan apakah Rani akan nyaman bertemu dengan teman-temannya.


“Rani, kamu beneran nggak keberatan ketemu teman-teman aku?”


Rani yang hendak membuka pintu mobil menoleh, “Yaampun Rafi, kita udah sampai sini, lho.


Kamu tenang aja, aku nggak akan kabur kok.”


Raka terkekeh mendengar jawaban kekasihnya, “Aku takut aja kalau kamu nggak nyaman nanti,


kalau nanti mereka bercandanya kelewatan jangan didengerin ya,” tuturnya


berharap Rani akan memahami hal tersebut.


“Udah tenang aja. Kamu jangan terlalu khawatirin aku ya,” kata Rani meyakinkan.


“Woi! Ngapain lo di dalam mobil berduaan, keluar sini!”


Entah suara siapa itu, yang pasti salah satu teman Rafi meneriaki mereka berdua yang


masih tak beranjak.


“Udah yuk, nggak enak sama yang lain udah nungguin,” pinta Rani setelah mendengar seruan tersebut.


Rafi mengangguk, “Makasih ya, sayang.”


Tak lupa Rafi dengan sigap menggenggam tangan Rani, ia terlihat ingin memamerkan


perempuan itu pada teman-temannya.


“Asik, ada yang bawa cewek baru, nih,” celetuk seseorang yang sudah berdiri didepan


pintu menyambut mereka.


“Eh bro, apa kabar?” Rafi melakukan tos serta dipeluknya temannya itu.


“Baik. Lo gimana?” tanya teman Rafi kemudian.


“Alhamdulillah baik. Eh, kenalin calon bini gue, Rani,” tuturnya bersamaan dengan tangannya


yang menunjuk Rani.


“Halo Rani. Kenalin gue Waren,” ucap Waren dengan mengulurkan tangan.


Rani dengan cepat menyambut uluran tangan tersebut, “Halo salam kenal juga.”


Dua orang lainnya yang tentunya teman Rafi juga mendekat untuk menyambut kedatangan


mereka.


“Halo-halo! Eh Rafi gue kangen banget sama lo!” perempuan berambut pirang yang masih tak diketahui Rani namanya itu langsung memeluk Rafi begitu saja.


“Jangan main peluk calon suami orang lo! Lihat tuh ada ceweknya,” tutur Waren menarik


tangan perempuan rambut pirang.


“Namanya juga kangen,” sungut perempuan itu dengan muka cemberut.


Rafi hanya tersenyum melihat kelakukan kedua temannya, “Kenalin calon bini gue,


inshaAllah,” tuturnya menunjuk Rani.


Salah satu pemuda dengan rambut gondrong yang sedari tadi hanya diam saja akhirnya


menimpali, “Halo Rani. Maaf ya, kamu baru datang aja menyaksikan keributan ini.”


“Kamu beneran calonnya Rafi?” tanya perempuan berambut pirang dengan mata membulat masih tak percaya.


“Ya iyalah, Kriwil, masa boongan,” lagi-lagi Waren menimpali.


Memicingkan matanya perempuan itu menendang tulang kering Waren, “Bisa diam nggak sih, lo!”


Waren seketika membungkuk kesakitan dengan memegangi kakinya, “Parah banget lo. Untung cewek, kalau cowok udah gue tonjok.”


“Kalian masih nggak berubah ternyata, dewasa dong udah mau kepala tiga juga,” tutur Rafi menggelengkan kepala tak habis pikir dengan apa yang dirinya saksikan


“Ya begitulah Raf, lo tahu sendiri gimana kalau Waren sama Juwita udah ketemu, kaya


tikus sama kucing,” jelas pria berambut gondrong.


Waren dan Juwita kali ini beralih memelototi pria gondrong karena tak terima disebut


kucing dan tikus.


“Rani, ini Elgin yang punya acaranya dan yang punya villa ini,” jelas Rafi pada Rani yang


sedari tadi hanya menyimak.


“Semoga kamu nggak jantungan ya Ran, ketemu sama teman-temannya Rafi,” tutur Elgin dengan dramatis.


Rani hanya tersenyum maklum menanggapinya, lantas mereka kemudian masuk kedalam villa


yang bernuansa putih krem.


Meskipun tak begitu mewah namun cukup nyaman untuk berkumpul dengan teman atau berlibur dengan keluarga.


Rani melihat beberapa teman Rafi lainnya yang tengah sibuk dengan kegiatannya


masing-masing, ada seseorang dengan potongan cepak memetik gitar didepan televisi yang masih menyala.


Tak hanya itu ada yang tengah sibuk didapur mempersiapkan entah apa yang Rani pikir


sepertinya itu mempersiapkan sesuatu untuk dipanggang, ia dapat menyaksikannya


karena dapur yang sangat dekat dengan ruang tamu.

__ADS_1


Selain itu terdengar keributan candaan beberapa orang dari lantai dua yang entah siapa belum Rani ketahui.


“Teman-temanku yang sangat saya sayangi, tolong semuanya perhatian!” Kali ini Elgin memanggil semua temannya, berharap seruannya didengarkan.


“Rani, maaf ya, temen aku banyak banget jadi kamu harus kenalan sama mereka semua,”


bisik Rafi.


“Iya, nggak apa-apa,” kata Rani maklum.


Layaknya peserta study tour, semua teman Rafi serempak memusatkan perhatiannya pada Elgin, yang kemudian berpindah pada Rani seolah bertanya-tanya siapa dirinya.


Seseorang menuruni tangga, “Asik! Sohib gue bawa pacar baru!”


Saat semuanya sudah berkumpul di ruang tengah tepatnya depan televisi yang masih


juga menyala Rafi tersadar ada sesuatu yang salah.


“Eh, sebentar. Ini kenapa kalian dateng sendiri, bukannya harus bawa pasangan?”


tanyanya heran.


Kemudian serempak temannya tertawa terbahak-bahak, “Kita emang ngerjain lo, Raf,” celetuk salah satu pria yang berkulit sedikit gelap.


Elgin menepuk pundak Rafi, “Kita pengen lihat lo bawa cewek Raf, lagian lo udah jomblo lama banget. Kita kira lo bakal dateng sendiri, eh ternyata udah ada.”


“Parah banget ya lo pada! Kasian cewek gue nih, pulang kerja harus kesini,” terang


Rafi bersungut-sungut.


“Udah nggak apa-apa,” kata Rani menenangkan Rafi.


“Icikiwir, sosweet banget sih,” celetuk Waren.


“Kenalin dong,” seru lainya.


Rafi kembali fokus pada Rani, “Mereka semua ini teman SMA aku Rani. Ini Tama,”


menunjuk pada pria yang tadi Rani ingat memainkan gitar, tampan juga, pikir Rani.


Tama yang namanya disebut memberikan senyuman tanda salam kenal yang kemudian Rani balas dengan sopan.


“Ini Mira,” lanjut Rafi menunjuk perempuan manis yang menggunakan sweater rajut berwarna biru.


“Maditra,” menunjuk pria berkaca mata dengan kumis tipis.


Kali ini Rafi menunjuk pada pria botak, “Ini Rego, orang batak dia, jadi kalau ngomongnya


kenceng jangan kaget ya.”


Semuanya lantas tertawa mendengar pernyataan Rafi, Rego pun tak merasa keberatan ia bahkan ikut terbahak.


“Ini Dimas, dan ini Fauzan,” tutup Rafi pada perkenalan semua temannya yang diakhiri


oleh dua temannya yang menurut Rani sangat tinggi.


Rani tersenyum sebelum memperkenalkan dirinya yang kesekian kali, “Halo semuanya,


“Jadi Rani selamat datang di villa ini. Karena kita udah lama nggak ngumpul


bareng makanya aku ngundang kalian semua, yah itung-itung menjaga silaturrahmi,”


jelas Elgin panjang lebar.


“Halah, lo mau pamer villa baru kan?” celetuk Waren yang disambut sorakan lainnya.


“Ya,pamer tipis-tipis lah,” jawab Elgin dengan tertawa, “Pokoknya enjoy ya guys! Gue pengen kalian disini happy ya! Oh ya, Mir bumbu buat barbeque udah siap kan?” tanya


Elgin beralih pada perempuan manis yang duduk di sofa.


“Udah dong,” jawab Mira dengan mengangkat ibu jarinya.


“Sip. Kita


bisa mulai ya, bakar-bakarannya. Tapi ingat jangan bakar villa gue kalian,” kata Elgin mengingatkan.


Mendengar perkataan Elgin lagi-lagi semuanya tertawa, Rani tak merasa canggung ditengah-tengah mereka justru sebaliknya teman-teman Rafi tampak sangat akrab dan peduli satu sama lain yang membuat Rani turut nyaman.


“bro, ada yang kurang,” timpal Waren.


“Apaan?” tanya Juwita penasaran.


“Anggurlah!” jawab Waren dengan yakin.


“Astagfirullah Akhi! Dosa meminum anggur merah,” ujar Rego yang sedari tadi hanya diam saja.


“Tenang buat kalian yang mau minum udah gue siapin di kulkas. Tapi tolong jangan ganggu yang nggak mau minum, ya. Kita udah dewasa bebaslah kalian punya pilihan


masing-masing,” terang Elgin mengingatkan.


“Yaudah kalau gitu kita mulai aja, enjoy guys!” tutup Elgin.


Semuanya langsung bubar untuk mempersiapkan acara mereka selanjutnya yaitu barbeque begitupula dengan Rafi yang sudah menuju dapur.


Rani celingukan melihat tempat mana yang sekiranya ia dapat meletakkan tas selempangnya agar tak mengganggunya untuk membantu yang lain.


“Taruh sini aja,” tutur pria hitam manis yang Rani ketahui bernama Tama, ia menunjuk


meja kecil di samping sofa.


“Oh iya.” Rani segera meletakkan tasnya di meja tersebut.


“Suka daging nggak?” tanya Tama lagi.


Rani yang melipat lengan bajunya siap untuk membantu di dapur menoleh, “Kalau daging sapi suka, kalau kambing kurang suka.”


“Kita akan bakar daging kodok,” jawabnya enteng.


Rani terkejut, “Serius?”


Tama terkekeh, “Enggak bercanda.”

__ADS_1


Keduanya kemudian tertawa, Rani semakin merasa nyaman karena teman kekasihnya itu yang menurutnya ramah, bagaimana tidak Rani yang baru kenal dengannya sudah


dijahili.


“Rani, sini!” Itu Rafi yang memanggilnya agar Rani bergabung di dapur yang hanya berjarak


satu satu meter dari tempatnya sekarang.


“Aku kesana dulu ya,” pamit Rani pada Tama yang sudah terlihat menyetel gitarnya


lagi.


Setibanya Rani di dapur Rafi langsung menyambutnya dengan memberikan pisau dan talenan.


“Mir, lo harus tahu cewek gue pinter banget masak,” kata Rafi pada Mira yang tengah


mengoleskan bumbu pada ikan yang akan dibakar.


Mira tersenyum menanggapi, sedangkan Rani hanya mengikuti Rafi yang telah menuntunnya pada tempat bumbu-bumbu yang telah berserakan dimeja dapur.


“Rani kamu bikin sambel kecapnya ya? aku suka banget sambel bikinan kamu soalnya,”


pinta Rafi.


Bukan hal yang sulit bagi Rani membuat sambal kecap, hanya butuh bawang merah, tomat, cabai, kecap, dan sedikit perasan lemon sudah sangat lezat, tapi apakah teman-teman Rafi akan menyukainya.


“Teman kamu yang lain pada suka nggak sama sambal kecap?” tanya Rani memastikan.


“Tenang aja Ran, mereka semua tong sampah kok, jadi apa aja pasti dimakan,” kata Mira


yang menyadari keraguan Rani.


Rani mengangguk, “Oke aku buat sambalnya ya.”


“Oke sayang. Aku keluar dulu ya, mau lihat tempat manggangnya sudah siap apa belum.”


Rafi berlalu menyisakan Rani dan Mira.


Mulanya keduanya tetap diam sampai Juwita datang membuka percakapan, ada banyak hal


ingin Juwita tanyakan pada Rani.


“Rani ngomong-ngomong lo udah kenal Rafi dari kapan?” tanyanya to the poin.


Rani mulai memotong bawang merah yang telah ia kupas sebelumnya, “Mungkin kurang


lebih dua tahunan.”


“Wow lama juga ya, tapi kenapa dia baru ngenalin lo sekarang ya. Sama lo pernah cerita


nggak Mir?” tanya Juwita yang kali ini beralih pada Mira.


Mira mengedikkan bahunya, “Enggak tuh.”


“Atau karena dia masih suka sama lo ya?” tanya Juwita enteng tanpa menghiraukan


keberadaan Rani.


“Lo kalau ngomong jangan sembarangan dong, ada Rani juga,” kata Mira tegas.


“Eh maaf ya Rani, soalnya mereka waktu SMA pernah pacaran. Nih, Mira aja sampai sekarang


belum pacaran lagi,” kekeh Juwita.


Rani yang mendengar fakta tersebut bingung harus memberi reaksi apa, pasalnya memang


sedari tadi Mira menatapnya dengan cara berbeda dari yang lain, Rafi juga tak


pernah menceritakan masalalunya dengan Mira.


“Lo bener-bener ya Juwita, bisa diem nggak!” Sentak Mira.


“Emang gue salah? Kan lo sendiri yang bilang masih nggak bisa lupain Rafi,” ucap


Juwita lagi yang semakin menyulut emosi lawan bicaranya.


Rani semakin kikuk, apa yang harus ia lakukan terlebih jika dua perempuan yang


bersamanya saat ini bersitegang. Belum sempat Rani melontarkan perkataannya


seseorang muncul dari balik pintu dapur.


“Pada kenapa si? Malah ribut. Udah ditungguin tuh, ikannya,” kata Tama yang terlihat sedikit kesal.


Rani bersyukur dalam hati, untungnya ada Tama jadi dia tak perlu repot-repot


menyusun kata-kata untuk melerai mereka.


Namun Rani tak bisa bohong kini ia memikirkan tentang Mira dan Rafi yang ternyata pernah berhubungan, meskipun sudah berlalu tetap saja terlebih Mira yang masih tak memiliki kekasih hingga saat ini.


Rani kini sibuk memikirkan bagaimana


kalau ternyata benar bahwa Mira masih memiliki perasaan pada Rafi, apakah Rani


bisa diam saja pura-pura tak tahu menahu, serta bagaimana ia akan menanyakannya


pada Rafi, bagaimana kalau kekasihnya itu marah karena Rani mengusik masa


lalunya.


Saat Rani bingung dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya seseorang menahan tangannya


yang hampir terkena pisau.


“Rani, hati-hati. Kamu jangan ngelamun kalau lagi megang pisau.”


Rani tersadar, benar sedikit lagi pisau tajam itu akan memotong jatinya. Lalu ia


berpindah pada seseorang yang saat ini tepat disampingnya.


“Tama, kok kamu ada di sini?”

__ADS_1


 []


__ADS_2