
“Kusut banget lo pada,” sambut Laras pada Tama yang saat ini tengah merapikan berbagai jenis pastry di etalase.
Laras menatap Tama dan Retno yang sedari tadi menghela napas kasar seakan bersaut-sautan.
Tama menoleh pada Retno yang berada di sampingnya, “Lo masih dipaksa nikah?”
Retno mengangguk lesu, “Iya, mana dikasih waktu cuma sebulan lagi. Lo sendiri kenapa ada masalah lagi sama Rafi?”
Retno dan Laras sedikit banyak mengetahui apa yang tengah Tama alami, terlebih saat dirinya kembali ke café dengan wajah yang lebam setelah ia berantem dengan Rafi.
“Tadinya gue kira masih bisa beteman sama dia, eh tahunya makin kesini makin keterlaluan. Terang-terangan mau ngerebut bini gue,” terang Tama yang kembali emosi jika mengingat momen tadi pagi.
“Cowok biasa gitu egonya tinggi mana mau ngalah, meskipun akata dia awalnya bakal lepasin Rani, tetep aja. Apa lagi orang kaya Rafi, mana pernah dia mau ngalah si,” ujar Retno yang sudah kenal dengan Rafi sejak SMA itu.
Tama beralih pada gelas-gelas yang masih basah, ia kemudian berinisiatif untuk mengeringkan dengan kain lap di tangannya, “Dulu dia baik, bahkan udah gue anggap sahabat sendiri, ya walaupun gue sering di manfaatin.”
Retno menggeleng keras, “Lo nggak tahu atau pura-pura nggak tahu sih, dari dulu Rafi sering jahatin lo Tama. Inget nggak pas lo di hukum bersihin toilet kelas 12, nah itu karena buku lo dituker sama buku kosong, makanya lo dianggap nggak ngerjain tugas.”
“Serius lo?” tanya Tama kaget, pasalnya ia belum pernah tahu mengenai kenyataan tersebut, karena waktu itu ia kira bukunya ilang begitu saja.
“Terserah lo deh, kalau lo nggak percaya,” ucap Retno meyakinkan.
“Lo kenapa baru ngomong sekarang, gue bener-bener nggak tahu bahkan setelah gue kena hukuman itu Rafi traktir gue makan Retno,” ujar Tama mengingat kembali memorinya di bangku SMA kala itu.
“Gue mau ngomong, tapi di halangin mulu sama Waren. Mereka pokoknya jahat banget Tam, makanya gue heran kenapa lo masih betah berteman sama mereka,” ucap Retno tak habis pikir dengan Tama.
“Ceritain semuanya Kak Retno, biar Bang Tama tahu.”
Tama dan Retno sontak menoleh melihat siapa yang turut nimbrung obrolan mereka, ternyata itu Aya, mahasiswi yang bekerja part time di café Comfort Zone sebagai penyanyi cover, yang artinya partner Tama.
“Lo ngapain di sini nggak ke kampus?” tanya Retno heran kenapa gadis 20 tahunan itu malah nongkrong di cafenya.
Aya meletakkan semua barang bawaannya di meja bar, “Gue tinggal ngerjain skripsi Kak, jadi bisa di mana aja. Lagian gue udah bilang sama Kak Laras kok, kalau mau kesini.”
Aya menunjuk Laras yang kini tengah menyiapkan pesanan pelanggan, namun perempuan itu tampaknya terlalu fokus sehingga tak menyadari kedatangan Aya.
Memang sore ini ada jadwal live music sehingga Aya memutuskan untuk datang ke café dari pada tempat lainnya.
“Semangat Aya! Bentar lagi lulus nih,”ucap Tama memberikan semangat pada Aya.
__ADS_1
“Makasih Bang Tama yang paling ganteng!” Seru Aya bersemangat.
“Hush, lo jangan terlalu genit sama Tama, doi udah punya bini,” ucap Retno mengingatkan, yang dibalas Tama hanya dengan tawa kecilnya.
“Mbak, lo ngapain bingung sih masalah calon suami, sama itu aja yang sering kesini itu lho, siapa Bang namanya?” Aya mengingat-ngingat siapa nama pemuda yang sering sering dirinay lihat datang ke café mereka.
Tak sulit bagi Tama tentunya mengetahui siapa yang Aya maksud, terlebih beberap hari ini ia bahkan sering kali bertukar cerita dengan pemuda itu, “Altar,” ucapnya seraya melihat reaksi Retno.
“Tama tolong meja nomor enam minta pastry coklat caramel,” ucap Laras yang tengah membuat kopi di tempatnya.
“Siap!” Tama dengan cekatan melakukan apa yang Laras perintahkan.
“Iya Mbak Retno, lo mendingan sama Bang Altar, cakep gitu kaya koko koko Jaksel,” ucap Aya memberi masukan.
Retno melotot seketika sebelum meninggalkan Aya untuk kembali bekerja, “Amit-Amit!”
Sontak semuanya tertawa mendengar hal tersebut, bahkan Laras pun turut menimpali, “Jangan gitu Ret, nanti malah kalian berjodoh lho. Aya lo pengen minum nggak?”
“Nggak akan!” teriak Retno dari belakang, karena dia akan kembali pada tugasnya membuat aneka pastry untuk pelanggan.
“Nanti aja Kak,” ucap Aya sopan.
Tama mencuri-curi waktu untuk mengirimkan pesan pada Rani, agar perempuan itu tak lupa makan siang. Hal ini sudah terbiasa Tama lakukan, ia ingin Rani merasakan perhatian darinya.
Setelah mengirimkan pesan pada Rani, Tama memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya, terdengar suara gemerincing pertanda pintu café dibuka ada pelanggan baru yang datang.
Tama buru-buru kembali ke meja cashier, untuk mencatat kalau saja pelanggan tersebut langsung memesan pesanan.
“Ada yang bisa saya ban,” ucapan Tama terhenti setelah ia melihat siapa orang yang saat ini dihadapannya.
“Ternyata lo kerja di sini,” ucap pria dengan jaket kulit dengan tindik di telinga kirinya.
“Elo Waren, apa kabar? Udah lama nggak ketemu,” tanya Tama bersikap senormal mungkin, pasti semua temannya sudah tahu masalah yang terjadi antara dirinya dan Rafi.
“Kabar gue baik banget,” ucap Waren setelahnya pria itu mendekatkan dirinya pada Tama sedikit berbisik, “Yang nggak baik Rafi, gue denger-denger lo nidurin ceweknya ya?”
Waren sengaja ingin memancing emosi Tama, untungnya Tama masih dapat mengendalikan dirinya terlebih saat ini ia harus bersikap profesional, Waren adalah pelanggannya.
“Sorry, lo mau pesen apa?” tanya Tama tak menghiraukan apa yang baru saja Waren katakan.
__ADS_1
Waren tersenyum sinis, pri airu tahu bahwa Tama mencoba mengalihkan pembicaraan, “Kok lobisa sih, ngerebut cewek temen lo sendiri. Lebih parahnya dengan cara yang sangat menjijikkan.”
Tama mengepalkan tangannya, “Lo kalau nggak mau mesen apapun mendingan pergi dari sini.”
“Kenapa lo jadi panas, bener kana pa yang gue omongin?” Waren masih berusaha memojokkan Tama.
“Mau lo apa sih anjing!” akhirnya kesabaran Tama habis juga, “Kalau mau ngajak gue berantem nggak di sini, gue lagi kerja.”
Waren tertawa meremehkan, “Bener ternyata orang buangan, akan tetap jadi orang yang nggak berguna. Lo seenggak laku itu ya, sampai ngambil cewek temen lo sendiri, mana cewek yang lo bela-belain kan? tahunya mau juga tidur sama sembarang cowok.”
“Jaga mulut lo bangsat!” Tama menarik kerah jaket Waren.
Hal tersebut sukses menarik perhatian samua orang, “Ada apa Tama?” Laras dengan sigap menarik tanga Tama.
“Lo ajarin ini Mbak temannya nggak punya sopan santun sama pelanggan,” pungkas Waren merapikan kembali pakaiannya.
“Ada apa ini?” Retno langsung berlari setelah dirinya mendengar keributan di luar, “Waren lo ngapain di sini?”
Retno heran mengapa teman SMA nya ada di sana, terlebih melihat Tama yang seperti siap mengajar Waren.
“Lo bilangin nih temen lo, kerja yang bener,” ketus Waren ia kemudian pergi meninggalkan café begitu saja.
“Eh, lo yang nggak tahu diri ngapain juga kesini bikin keributan!” Retno sudah siap akan melemparkan gelas kea rah Waren untung saja Aya dengan sigap menahan tangannya.
“Mbak udah tenang, pelanggan pada ngelihatan kita,” ucapnya membuat Retno kembali mengatur napasnya.
“Udah, kita balik ke kerjaan masing-masing ya, masalah ini nanti kita bahas lagi,” tutur Laras mengingatkan, karena waktu makan siang sehingga café mereka tengah ramai pengunjung.
“Sorry ya guys, gara-gara gue jadi ada keributan di sini,” ucap Tama merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
“Lo tenang aja Tama, gue bakal ngasih perhitungan kalau si Waren berani ke sini lagi.”
Retno seakan siap menghadang siapapun yang akan mengganggu ketenangan mereka, terutama Tama.
Mereka akhirnya kembali pada tugasnya masing-masing begitu juga dengan Tama, namun ia kembali mengecek ponselnya untuk memastikan apakah Rani telah membalas pesannya apa belum, dan ternyata masih sama taka da notifikasi dari perempuan itu.
Tama jadi khawatir apakah Rani juga diganggu oleh Waren dan teman-temannya, mungkin mulai sekarang Tama harus lebih waspada.
[]
__ADS_1
Ps. Dag dig dug aku jadi takut kalau Tama di apa-apain nihhhh :(