
Hari ini tak seperti biasa tentunya, terutama bagi Tama kini Rani hadir di hadapannya membuat Tama sedikit gugup.
Meski begitu ia telah menyiapkan satu stand mic lagi, hari ini tak hanya Aya saja yang akan bernyanyi namun dirinya juga.
Untung saja Aya, tak keberatan dengan hal itu. Tama ingin mempersembahkan satu lagu untuk Rani, semoga saja tak mengecewakan.
Sedangkan Rani saat ini dengan tidak sabar ingin segera melihat penampilan Tama.
Pria itu telah mengganti kaos hitam seragam kerjanya, dengan kemeja kotak-kotak yang ia biarkan terbuka, sedangkan di dalamnya Tama mengenakan kaos putih polos membuat penampilannya terlihat santai.
Belum lagi rambutnya yang dibiarkan begitu saja terkena angin malam, membuat Rani harus menolehkan kepalanya beberapa kali karena setiap kali ia sadar dirinya tak berkedip.
"Malam semuanya!" sapa Aya selaku vokalis, "Hari ini kita bakal mempersembahkan satu lagu spesial untuk seseorang yang berarti dalam hidup gitaris kita ini ya."
Perkataan Aya sukses membuat pengunjung bersorak, sedangkan Tama yang mulai memetik gitarnya tersenyum malu-malu melihat ke arah Rani.
Rani menghembuskan napas lega untung saja Aya tak menyebutkan namanya.
"Tapi tentunya lagu ini untuk kalian semua malam ini, mungkin yang lagi galau sedang memperjuangkan seseorang dalam hidupnya. Ini lagu untuk kalian," lanjut Aya lagi.
Melodi mulai mengalun masuk ke dalamintro lagu yang akan mereka nyanyikan.
Rani mulai menebak lagu apa yang akan mereka bawakan, namun karena dirinya bukanlah penikmat musik sehingga ia tetap tak talu lagu apa itu.
Hidupku tanpa cintamu, bagai malam tanpa bintang
Aya mulai menyanyikan satu kalimat pertama dari bait lagu tersebut, namun masih terdengar asing di telinganya.
Sehingga ia hanya akan fokus pada lirik, dan juga Tama.
Kok bisa Tama bertambah kegantengannya, dua kali lipat, namun kemudian Rani menggeleng, bahkan berkali-kali lipat kenapa Tama dengan gitarnya membuat kharisma laki-laki semakin kuat? pikir Rani.
Cintaku tanpa sambut mu bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih ku harus miliki mu
Rani memangku tangannya di atas meja, ya Allah kenapa Rani baru sadar suaminya secakep ini.
Tama kini menatap ke arahnya, membuat Rani gelagapan karena ketahuan tengah menatap pria itu.
Kali ini Tama mendekatkan mulutnya tepat di depan mic, membuat Rani menahan napas.
Aku bisa membuat mu jatuh cinta kepada ku meski kau tak cinta kepada ku
Rani terkesiap, apa sebenarnya saat ini Tama tengah mengungkapkan isi hatinya?
Beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa
Benar sekali bukan? Ini tak hanya sekedar lagu tapi memang kisah mereka.
Simpan mawar yang ku beri mungkin wanginya mengilhami
Sudikah diri mu untuk kenali aku dulu
__ADS_1
Sebelum kau ludahi aku, sebelum kau robek hatiku
Ya ampun sekarang Rani hampir saja menangis, ia ingin berlari memeluk Tama. Selama ini apakah Rani sudah terlalu jahat pada suaminya itu sampai Tama menyanyikan tiap baris lagu itu, Rani bisa merasakan kesedihan di sana.
Aku bisa membuat mu jatuh cinta kepada ku meski kau tak cinta kepada ku
Beri sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa
Rani mengelus perutnya, ia seakan ingin memberi tahu pada anaknya kalau sekarang ia benar-benar telah menerima Tama lebih dari sebelumnya.
Betapa beruntungnya Rani memiliki lelaki sebaik Tama.
Rasanya pandangan Rani tak bisa lepas dari Tama, hingga lagu-lagu berikutnya sampai Retno membuyarkan lamunannya.
"Yaelah terpesona nyampe mangap gitu Ran," ledek Retno membuat Rani salah tingkah.
"Eh enggak kak."
Retno meletakkan sepiring kecil dessert buatannya, "Cobain dong, produk baru gue."
"Makasih ya Kak," Rani tersenyum sopan.
"Nggak usah kak, panggil aja Retno."
Retno menarik bangku di hadapan Rani.
"Iya, Retno."
"Nah, gitu dong. Gimana si Rafi masih gangguin lo?" tanya Retno kemudian.
Rani meminum coklatnya terlebih dahulu, "Tadi pagi dia dateng lagi, cuman nggak sempet ngomong apa-apa sih."
Retno membuat Rani sedikit tersentuh karena perempuan di hadapannya peduli padanya, namun ia menyadari ada kalimat yang terdengar aneh.
"Maksudnya kalah?" tanya Rani kemudian.
"Ya, kalah dapetin lo. Lo harus bersyukur Rani, karena lo berakhir sama Tama. Dia dari dulu orang baik," ucap Retno.
"Kalau Rafi?" tanya Rani lagi, karena ia jujur selama mengenal Rafi dua tahun, di matanya pemuda itu juga tak kalah baik.
"Ya, sebenarnya baik. Tapi dia cepet banget terpengaruh hal nggak baik. Nggak pernah mau kalah lagi, Tama tuh bego sabar banget berteman sama mereka," ujar Retno mengenang bagaimana ia melihat Tama yang berada di tengah teman-temannya itu.
"Pada ngomongin apa, cewek-cewek galak?" ucap Tama begitu ia bergabung.
"Gue tampol juga lo lama-lama," kesal Retno membuat Tama memundurkan tubuhnya takut kalau perempuan itu benar-benar mengangkat tangannya.
"Gue heran kenapa Altar betah sama lo, padahal galak gini ya Allah," tutur Tama mengelus dadanya sendiri secara dramatis.
"Kalau nggak ada Rani udah gue tendang ni anak. Kalian pulang aja duluan sana, ini Ibu hamil nggak baik pulang terlalu malem," ucap Retno kemudian.
"Boleh emang? Lo sama Laras dan Aya gimana?" Tama sedikit merasa tak enak dengan opsi tersebut.
"Nggak masalah, nggak terlalu rame juga malam ini. Biar kita yang handle. Ras, mereka biar duluan ya?" Retno meminta persetujuan Laras yang kebetulan tengah membersihkan meja di samping mereka.
Laras menghentikan gerakannya, "Iya, duluan sono kasian Rani lagi hamil."
"Aku nggak apa-apa kak, Tama biar beresin pekerjaannya dulu," ucap Rani keberatan.
__ADS_1
"Jangan Rani, nggak boleh. Tama mending cabut sekarang deh!" suruh Laras membuat Tama tak ada pilihan lain.
Benar juga kehamilan Rani masih sangat muda, ia jadi khawatir kalau pulang larut malam akan sangat bahaya.
"Rani, kita duluan aja," ajaknya menarik lembut tangan Rani.
Rani mengangguk, "Kak makasih ya, aku sering-sering main deh nanti."
"Iya boleh," ucap Retno tertawa melihat kepolosan Rani.
"No, Ras, duluan ya. Aya, gue duluan ya," pamit Tama.
Ia membawakan tas bahu Rani yang hari ini sedikit berat.
"Iya Bang hati-hati."
Setelah berpamitan dengan semuanya akhirnya mereka memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
"Aku aja yang bawa Tama," ucap Rani mengambil tas di tangan Tama.
Namun Tama menahannya, "Aku aja yang bawa. Ini isinya batu ya? Kok berat banget."
"Itu buku-buku, aku sekarang disuruh Mbak Lulu belajar biar bisa gambar-gambar baju gitu."
Tama mengangguk-angguk paham, "Kamu make jaket aku ya."
Tama membuka jaketnya lebar agar Rani dengan mudah memasukkan tangannya, namun perempuan itu masih enggan menerimanya, "Jangan aku, kamu aja yang make. Kan kamu yang bawa motor."
Tama menggeleng keras, "Enggak sayang, ini udah malem banget. Aku nggak mau kamu masuk angin."
"Tama, ini udaranya panas banget lho, aku nggak akan masuk angin," ucap Rani masih bersikeras menolak.
"Kalau anak aku masuk angin gimana? Ayo jangan ngeyel ya sayangku."
Karena Rani tak dapat menolak lagi akhirnya ia dengan berat hati memasukkan tangannya memakai jaket Tama.
"Udah fasih banget kayaknya," ucap Rani membuat Tama bingung.
"Apanya?"
"Itu manggil sayang-sayang mulu."
Tama memasangkan helm di kepala Rani, ia berhenti untuk mencubit kedua pipi Rani yang masih sedikit menyembul dari balik pelindung kepala itu, "Cie, salting."
"Ih enggak, enak aja."
"Cie Rani pipinya merah tuh."
"Apasih! enggak! "
"Cie Rani terpesona sama ketampanan suaminya. "
"Tama! "
Protes Rani membuat Tama tertawa, namun ia kembali menjahili perempuan itu sepanjang perjalanan.
[]
__ADS_1
Ps. Risalah Hati - Dewa 19 ✨