
Setelah mendapatkan informasi dari Retno di mana motornya berada Tama langsung bergegas akan segera mengambilnya.
Namun sayangnya tak semudah itu, Tama harus mengisi formulir yang entah apa dirinya pun tak begitu paham, belum lagi ada administrasi yang harus dilengkapi.
Tiba di mana sekarang Tama harus menceritakan kronologi kejadian yang telah menimpa dirinya, baru motor itu dapat diambil.
"Jadi sebenarnya kamu kenal dengan mereka?" tanya seorang petugas yang sedari tadi telah mengetik informasi yang Tama ceritakan.
Tama diam sesaat, ia kembali berpikir apakah akan menceritakan yang sebenarnya meski tanpa bukti atau memilih melupakan kasus ini begitu saja.
"Mas? apa Mas Tama kenal dengan orang yang telah menyerang semalam?" tanya petugas tersebut kembali karena belum mendapat jawaban dari Tama.
Tama meletakkan kedua tangannya di atas meja, "Awalnya saya nggak tahu orang-orang yang menyerang saya siapa, tapi setelah salah satu dari mereka berbicara saya akhirnya mengetahuinya Pak."
Petugas tersebut mengerutkan alisnya, "Jadi mereka siapa?"
"Teman-teman saya sendiri Pak," ucap Tama dengan yakin.
"Apa ada bukti?" tanya petugas itu lagi setelah mengetikkan sesuatu di komputernya.
Tama menggeleng, "Tapi saya kenal betul dengan suara teman saya itu Pak. Belum lagi tadi pagi salah satu teman saya yang juga satu komplotan dengan mereka."
"Berarti ini hanya permasalahan antar teman?" Petugas tersebut menatap ponselnya yang menyala tanda ada pesan masuk.
"Awalnya memang saya berteman dengan mereka, namun setelah penyerangan itu mereka bukan teman saya lagi Pak. Saya merasa tak punya masalah. Tapi mereka telah melakukan penganiayaan pada saya," jelas Tama panjang lebar.
Tak seperti sebelumnya, petugas tersebut tak langsung memasukkan keterangan Tama justru lelaki dengan usia sekitar 30-an itu masih fokus dengan pesan di ponselnya.
__ADS_1
Tama masih diam menunggu pertanyaan selanjutnya, petugas tersebut kemudian menatap Tama sesaat sebelum akhirnya pria itu bangkit untuk berbicara yang entah siapa Tama tak dapat mendengar dengan jelas.
Tama menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 16.00 wib, artinya satu jam lagi Rani pulang, ia berharap wawancara ini segera berakhir.
Sekitar sepuluh menit akhirnya petugas tersebut kembali duduk di tempatnya tanpa mengatakan satu patah katapun membuat Tama sedikit gusar.
"Pak, jadi berapa lama saya masih harus di sini?" tanya Tama dengan sopan.
Petugas tersebut kembali mengetikkan sesuatu di komputernya, "Kasus ini tidak dapat kami lanjutkan, jadi Masnya sudah boleh pergi."
"Maksud Bapak?" tanya Tama yang terheran-heran setelah dirinya menceritakan semua itu mengapa kasusnya di tutup begitu saja.
"Kami sudah menerima laporan bahwa ini hanya masalah kesalah pahaman diantara pertemanan maka dari itu kalian dapat menyelesaikannya secara baik-baik," ucap Petugas tersebut yang kini tak dapat Tama terima alasannya.
"Nggak bisa gitu Pak, saya diserang sampai kaya gini lho," tutur Tama menunjuk keadaan dirinya yang penuh lebam.
"Mohon maaf Mas, kasus ini sudah kami tutup. Silahkan ambil motor Mas dan kasus ini selesai," tutur petugas tersebut seraya menunjuk pintu keluar di ruangan itu.
"Bapak dibayar berapa? sampai lebih memihak mereka dari pada saya warga Indonesia yang minta keadilan!" Tama menggebrak meja di hadapannya membuat beberapa petugas polisi di luar mendengar keributan tersebut.
"Silahkan keluar! Mas sudah nggak bisa kondusif lagi," ucap petugas tersebut yang kini sudah berdiri secara terang-terangan mengusir Tama.
"Pak, tolong proses kasus ini. Mereka sudah melakukan hal yang sangat mengancam keselamatan nyawa saya dan istri saya," Tama menangkupkan tangannya, berharap petugas tersebut berubah pikiran.
"Bawa dia keluar!" perintah petugas itu membua kedua polisi masuk kedalam ruaangan.
Namun tetap saja Tama akan kalah dengan teman-temannya yang memiliki wewenang, ia ditarik keluar oleh kedua polisi lainnya membuat Tama tak dapat melawan lagi.
__ADS_1
Tama menghempaskan tangannya ia berusaha kembali masuk, "Siapa yang udah nyuruh Bapak nggak lanjutin kasus ini!"
Belum dapat dapat mengatakan hal lainnya ia sudah kembali ditarik oleh polisi, "Mas mau ditahan karena sudah berbuat onar di kantor polisi?"
Tama tahu dirinya tengah diancam, "Kalau akhirnya kalian nggak proses kasus ini ngapain dari tadi nanya kronoliganya? semua cuma formalitas aja!"
Tubuh Tama didorong begitu saja keluar dari kantor tersebut, "Woi Pak! dimana keadilan untuk rakyat kecil seperti saya!"
Namun tetap tak ada jawaban, saat Tama hendak menerobos masuk lagi tepat saat itu tubuhnya kembali ditarik keluar, ia bahkan setengah di seret menuju tempat sepeda motornya berada.
"Ambil sepeda motor anda, dan tinggalkan tempat ini," ucap salah satu petugas kepolian yang melihat Tama tajam.
"Benar kata orang keadilan selalu tumpul ke bawah, buat apa penegak hukum ada di negara ini, sampah!" umpat Tama yang membuat salah seorang petugas polisi terpancing emosinya.
"Hati-hati kalau bicara, saya akan tahan kamu!"
Tama mengambil motornya tak menggubris apa yang petugas itu katakan, "Percuam kalian jadi polisi kalau nggak berguna!"
Petugas polisi tersebut semakin tersulut, ia bahkan menendang motor Tama "Turun lo!"
Namun salah satu petugas polisi lainnya menahan polisi tersebut, Tama telah menstater motornya tak ada gunanya juga ia menghabiskan tenaga untuk meminta keadilan di sini.
"Kalian cuma preman yang sembunyi di balik seragam."
Setelah mengatakan hal itu Tama meninggalkan tempat tersebut, ia geram bukan main atas apa yang menimpanya.
Bagaimana bisa dirinya berteman dengan orang seperti Rafi and the gengnya itu, lalu sekarang pada siapa lagi dirinya dapat mengadu meminta keadilan.
__ADS_1
Uang bisa membeli segalanya apalah Tama yang tak punya jabatan, uang, bahkan orang tua pun dirinya tak punya.
[]