MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 39 : L e l u c o n


__ADS_3

Rani terpekur menatap pantulannya di kaca, ia mengamati perutnya yang masih belum membesar mungkin karena baru berjalan dua minggu kehamilannya.


Ia menyentuh perutnya, berusaha merasakan kehadiran makhluk kecil di dalam sana, meski masih terasa aneh namun entah kenapa Rani merasa tenang seperti ada seseorang yang menghiburnya.


Rani mengelus perutnya sekali lagi, “Nak, kamu beneran ada ya? maaf ya kalau Ibu masih sulit menerima kamu,” Rani seperti berbicara dengan dirinya sendiri karena tak ada jawaban dari dalam sana.


“Tapi Ibu akan berusaha menyayangi kamu ya Nak, oke? Kamu jangan marah ya sama Ibu,” ucap Rani lagi, ia tersenyum menatap pantulannya sendiri di kaca.


Tak lama ponselnya berdering pertanda panggilan masuk, ternyata Ibu yang menelponnya.


“Assalamualaikum Bu,” ucap Rani setelah mengangkat panggilan.


“Ya Allah Nduk, kamu kok nggak nelpon Ibu kalau sudah sampai di Jakarta,” ucap Ibu terdengar kesal, memang Rani sempat berpikir untuk menelpon ke rumah namun ia lupa.


“Maaf banget Bu, Rani lupa mau nelpon Ibu. Sekarang Rani jarang banget buka hp,” tuturnya berusaha membuat Ibu memahaminya.


“Yasudah nggak apa-apa, kamu akur kan sama Nak Tama?” tanya Ibu yang membuat Rani sedikit mengerutkan keningnya.


“Akur Bu, kami nggak pernah berantem kok,” jelas Rani.


“Enggak berantem, tapi kamu marahin Tama mulu, kasian lho dia.”


Rani menghela napas, orang tuanya bahkan sekarang lebih peduli pada Tama dari pada dirinya, “Iya. Enggak Rani marahin.”


“Lha kamu sudah periksa lagi?”


“Belum Bu, belum sempat. Tama juga sudah mulai kerja, jadi kami sibuk.”


Itu hanya alasan Rani, padahal dianya yang menolak ajakan Tama untuk ke dokter dengan dalih hemat.


“Alhamdulillah kalau Tama sudah mulai kerja, kerja di mana?” Ibu tampaknya penasaran dengan pekerjaan menantunya.


“Kerja di café Bu,” ia meloudspeaker ponselnya karena dirinya ingin menyiapkan malam, sepulang kerja Rani tadi sempat berbelanja ke pasar, ia berpikir tak ada salahnya sesekali memasak, toh biar lebih hemat juga.


“Café itu apa toh Ran?” Ibu masih tak familiar memang dengan tempat-tempat nongkrong anak muda jaman sekarang.


Rani mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kresek, sebenarnya Rani sudah pulang sejak sore tadi namun karena merasa lelah Rani memilih merebahkan tubuhnya yang terasa sangat kaku.


“Itu lho Bu, yang buat ngopi anak muda tapi ya sekarang lebih modern, kue-kuenya pun modern,” jelas Rani berusaha menjelaskan sebisanya.


Menu yang akan Rani masak tak terlalu rumit dirinya hanya akan membuat sayur bayam, dan menggoreng tempe mungkin tambahannya Rani akan membuat sambal terasi, biarkan saja kalau Tama tak doyan masakannya, pikirnya.


“Oalah, Alhamdulillah yang penting halal.”


“Bapak kemana Bu?” tanya Rani, karena sedari tadi dirinya tak mendengar suara Bapaknya.


“Biasa Nduk, pacaran sama Pakdhe mu.”

__ADS_1


Rani tertawa mendengar apa yang Ibu katakan, “Nggak apa-apa Bu, mungkin Bapak bosen di rumah terus. Oh iya Bapak jadi menerima pesanan Pakdhe?”


Rani teringat bahwa Bapaknya ingin mulai kembali kerja, meski dirinya sudah melarang tetap saja beliau kekeh ingin melakukannya.


“Jadi Nduk, sudah mulai sejak kemaren,” tutur Ibu.


Rani mulai menyiapkan semua bahan masakan yang dirinya perlukan, namun saat hendak mulai mengupas bumbu dapur entah kenapa isi perutnya bergejolak Rani sampai harus lari ke kamar mandi.


“Nduk kamu kenapa?” tanya Ibu panik, yang ternyata mendengar suara mual Rani.


Rani heran, ia tak biasanya mengalami hal seperti itu, “Bu, Rani kok mual ya ngupasin bawang,”


“Itu karena kamu lagi hamil deh kayaknya,” ucap Ibu.


“Memangnya ngaruh ya Bu?”


“Setiap orang yang lagi hamil tantangannya  beda-beda Nduk, orang pas hamil Rendi, kamu inget nggak? Ibu jarang banget lho dekat-dekat Bapak karena Ibu jadi mual kalau nyium bau Bapak,” kenang Ibu.


Rani mengurut pelipisnya, “Iya Bu, kenapa ya aneh banget, Rani jadi males masak kalau gini.”


Tama tahu-tahu sudah melongokkan kepalanya ke dalam kamar, memang Rani belum menutup pintu karena ia ingin masak takut asap akan membuat sesak nantinya.


“Assalamualaikum,” ucap Tama melepas sepatunya.


Rani melihat jam di mejanya yang masih menunjukkan pukul 20.00 wib, yang artinya Tama pulang lebih cepat hari ini, “Kamu kok udah pulang?”


“Ibu, Tama baru tadi siang kepikiran mau nelpon ke rumah sepulang kerja,” ucap Tama mendekat pada ponsel yang tergeletak di samping Rani, ia pun meletakkan tas dan gitarnya di bawah tempat tidur.


“Iya Nak, Ibu kepikiran kalian tadi makanya nelpon. Yasudah kamu istirahat dulu aja, Ibu tutup dulu ya?”


“Lho kok cepat sekali nelponnya Bu?” protes Tama.


“Ibu sudah dari tadi kok nelpon Rani, besok lagi ya, Ibu sudah ngantuk besok mau ke pasar pagi-pagi.”


Rani tahu itu hanya alasan Ibu saja, padahal Ibu pasti merasa beliau tak ingin mengganggu Rani dan Tama.


“Iya Bu, kok di tutup?” Rani turut protes.


“Udah, kamu nyiapin makan aja itu buat Tama. Sudah dulu ya assalamuaikum anak-anak Ibu.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Ibu langsung menutup telepon beliau begitu saja meninggalkan keheningan.


Tama mengamati kamar Rani yang terlihat sedikit berantakan di depan kamar mandi yang memang disediakan sepetak kecil untuk memasak, “Kamu mau masak? Aku nggak tahu lho kalau kamu juga masak, soalnya nggak kemaren nggak ada kompor kan?”


Tama mengamati dengan seksama tempat tersebut yang terlihat sedikit berbeda, ada kompor portabel dan alat masak lainnya.


“Aku emang jarang masak, tapi ada kompor portabel dan alat masak kok buat jaga-jaga kalau pengen masak,” jelas Rani, “Semua aku simpan dalam kotak itu, di atas lemari.”

__ADS_1


Rani menunjuk kotak besar yang berada di atas lemarinya, namun kemudian ia menatap Tama sedikit memohon.


“Kenapa?” tanya Tama kemudian, pria itu akan bersiap membersihkan dirinya di kamar mandi.


“Tapi kayanya aku nggak bisa lanjutin deh, soalnya tadi sempet mual sama bau bawang,” tutur Rani, ia kira Tama akan menertawainya atau bahkan meledeknya namun di luar dugaan pria itu justru tersenyum maklum.


“Wajar, karena kamu lagi hamil. Aku aja yang masak ya? lagian ngapain masak, aku tadi sempet mikir mau ngajak kamu makan di luar lho,” kata Tama jujur, memang sedari tadi ia berniat di ingin mengajak Rani makan di luar begitu Retno menyuruhnya pulang karena mukanya yang lebam-lebam.


Rani mendekat ke arah Tama, Tama yang terkejut dengan hal tak terduga itu pun merapatkan dirinya ke tembok, “Kamu mau ngapain?” tanya Tama panik.


Rani menyentuh pelipis Tama yang berwarna ungu, reflek Tama memekik, “Awww! Sakit Rani,”


“Kamu kenapa sering banget luka sih, habis berantem ya?” tanya Rani menyelidik.


Tama kikuk, ia bingung ingin menjawab apa tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya bahwa tadi siang dirinya berantem dengan Rafi, dan itu semua terjadi karena Rani.


Tama buru-buru masuk ke kamar mandi sebelum Rani semakin menginterogasinya, “Nggak apa-apa, tadi kejedot di café.”


“Kamu kejedot berapa kali sampai mukanya biru semua?” Rani tahu Tama menyembunyikan sesuatu darinya.


“Temboknya empuk, jadi mental-mental kepalaku,” jawab Tama ngawur.


“Nggak lucu,” kesal Rani, yang sukses membuat Tama tertawa terbahak-bahak karena alasannya sendiri yang sangat tidak masuk akal.


“Rani,” panggilnya kemudian, masih dari dalam kamar mandi.


“Apa?” jawab Rani singkat.


“Bagi hati kamu sedikit dong, boleh?”


Tak butuh waktu lama Rani dengan yakin menolaknya, “Nggak,” dan Tama telah memprediksi jawaban itu.


“Hmmmm, yaudah,” ucap Tama pasrah.


“Kalau hati aku dibagi-bagi, nanti tinggal separo, marilah aku,” jawab Rani enteng, dan lagi-lagi sukses membuat Tama terbahak-bahak ternyata Rani yang bersikap judes padanya bisa membuat lelucon juga.


Rani paham apa yang Tama maksud, hanya saja dirinya merasa belum siap menuruti permintaan Tama, namun Rani kali ini berusaha agar tak menyakiti hati lelaki itu.


[]


Ps. Kenapa hubungan ini berjalan rumit sekali ya, ayo dong Rani kamu buka hati pelan-pelan kasih Tama sedikit ruang :(


Mana leluconnya ngasih harapan gitu ke Tama :(


*Maaf ya banyak typo


Bantu like komen dan share ya guyss❤🥂

__ADS_1


__ADS_2