
Rani tak berajak sejak siang tadi, ia kini hanya meringkuk dalam kamar perihal kedua pria tadi entahlah Rani tak peduli lagi mereka akan menginap di mana malam ini.
Begitupun dengan Bapak yang mungkin masih coba menerima kenyataan kalau anaknya sudah tas suci lagi, beliau sedari siang belum juga mau keluar dari kamar bahkan Ibu bilang beliau belum mau makan.
Rani bingung apa yang harus dirinya lakukan sekarang, nggak mungkin juga kalau kabur meninggalkan masalah begitu saja.
Ibu sudah beberapa kali masuk ke kamar Rani menyuruhnya makan, namun Rani rasanya tak dapat menelan makanan sekarang ia lantas hanya menggeleng.
Pintu kamar kembali di buka, namun kali ini bukan Ibu tapi Iyo menyembulkan kepalanya Rani bisa melihat adiknya itu merasa bersalah.
Iyo duduk menunduk di tepi ranjang Rani, “Mbak aku minta maaf ya, gara-gara aku jadi kaya gini.”
Rani tak memberikan jawaban, lagi pula cepat atau lambat dengan cara lain tetap saja hal ini akan ketahuan jadi ia tak menyalahkan Iyo.
“Maaf ya Mbak, aku nggak tahu kalau ada benda itu dalam tas Mbak Rani,” katanya lagi.
Iyo semakin menenggelamkan kepalanya, kini adik bungsunya itu bahkan menangis Rani merasa kasihan melihatnya.
“Wes, ini bukan salah kamu. Ini semua memang salah Mbak Rani, makanya Bapak dan Ibu kecewa,” tutur Rani berusaha agar Iyo tak semakin menyalahkan dirinya.
“Ini salah Iyo Mbak, kalau Iyo nggak berantakin tas Mbak pasti nggak akan jadi gini,” Iyo masih saja mengulang kalimat itu, anak itu benar-benar menyesal sekarang.
“Iya sudah, Mbak maafin makanya kamu nggak boleh gitu lagi ya, sekarang sana ngaji biar nggak telat,” setelah magrib memang jadwal Iyo mengaji, maka dari itu Rani mengingatkan adiknya untuk segera pergi ngaji.
“Oh iya Mbak, berarti kalau Mbak Rani hamil harus langsung menikah dengan mas-mas tadi siang itu?” tanya Iyo polos.
“Hus! Anak kecil nggak usah ikut-ikutan, sana ngaji!” Usir Rani kesal, ngapaian juga Iyo mengingatkannya hal yang membuat Rani kembali emosi, Iyo langsung lari begitu saja setelah Rani omeli.
Hamil ataupun tidak Rani masih belum siap jika harus menikah sekarang, namun bagaiman bisa ia menolak perintah dari Bapak terlebih sudah terjadi seperti sekarang.
Rani harus merelakan melepas kekasihnya, Rafi. Ia tetap tak akan menikah dengan Rafi, Rani sudah tak pantas bersanding dengan Rafi. Ia yakin ada banyak perempuan yang lebih baik di luar sana yang akan bersanding dengan Rafi nantinya.
Pintu kamarnya kembali di buka oleh seseorang, ternyata Ibu.
“Nduk makan ya?” Tanya Ibu yang kini duduk di tepi ranjang Rani.
Rani takjub pada Ibu yang bisa setegar ini menghadapi masalah, meskipun ia tahu bahwa sebenarnya Ibu pun turut hancur.
__ADS_1
“Ibu sudah makan belum?” Alih-alih menjawab pertanyaan Ibunya, Rani memastikan bahwa Ibunya sudah makan.
Ibu mengangguk, “Sudah, ayo kamu harus makan.”
“Bapak sudah makan belum Bu?” Rani juga mengkhawatirkan Bapaknya.
“Sudah tadi, Ibu bujuk makan pake soto. Mau bagaimanpun ini semua sudah terjadi, kita nggak boleh berlarut-larut Nduk. Ibu mau kita hadapin semua ini bersama.”
Rani rasanya ingin menangis lagi, apa yang dikatakan Ibunya berhasil memberikan sedikit kekuatan pada Rani yang tadinya ia berpikiir akan mengakhiri hidupnya.
“Bapak sekarang di mana Bu?” Rani masih saja tidak tenang, pasalnya dalam kondisi saat ini Bapak bisa saja berbuat sesuatu yang tidak diinginkan.
“Bapakmu ke rumah Pakdhe Marno, mau ngerembukin kamu baiknya bakal gimana kedepannya.”
Rani membeliakkan matanya, “Ngapain Bu, Rani tu masih belum siap menikah. Kalaupun
Rani hamil biar Rani yang mengurus sendiri anak ini.”
“Kalau kamu nggak menikah sekarang kapan kamu siapnya Nduk? Lagi pula lelaki itu mau bertanggung jawab. Apa kamu tega melihat anakmu lahir tanpa Ayahnya apa kamu tega?” kini Ibu semakin memojokkan Rani.
“Rani juga belum tentu hamil Bu,” ucapnya.
“Bapak sama Ibu sebenarnya nyuruh Rani menikah agar nggak malu kan? Karena Rani hamil di luar nikah?” Sepertinya Rani kini tengah dirasuki dedemit, berani sekali ia membantah Ibunya.
“Ya Allah gusti Nduk, Bapak dan Ibu tu mikirin supaya kamu yang nggak malu, supaya kamu nggak diomongin orang lain, supaya anak kamu punya Bapaknya kalau lahir nanti. Kok kamu malah bilang kaya gitu,” Ibu mulai bangkit, Rani dapat melihat kekecewaan di wajah Ibu.
Rani merasa menyesal, telah membantah perkataan Ibunya bahkan berpikiran buruk pada kedua orang tuanya.
“Mbak ada yang nyariin!” Iyo yang ternyata belum juga berangkat ngaji berteriak dari luar.
“Sekarang kamu pikirkan dengan matang keputusan apa yang akan kamu ambil Rani, kalau pilihan Bapak dan Ibu nggak sesuai sama kamu.”
Ibu lalu meninggalkan Rani begitu saja, hidungnya sudah kembang-kemping menahan tangis Rani bisa-bisanya kamu berani sama Ibu Bapak, batinnya.
“Mbak!” Lagi Iyo berteriak memanggil Rani.
Ia segera bangkit dari tempat tidurnya, “Iya, iya.”
__ADS_1
Siapa lagi yang mencarinya sudah malam begini, sebenarnya dirinya saat ini tengah tidak bersemangat untuk bertemu dengan siapapun, dengan susah payah Rani menyeret kakinya.
Rani ingin putar balik setelah mengetahui siapa yang mencarinya, Rafi telah duduk di atas bangku panjang depan rumahnya.
Pria itu langsung berdiri menyadari Rani membuka pintu, Rani sempat mengamati sekitar untuk memastikan adakah orang lain.
“Kamu nyariin Tama?” Rafi tampaknya menyadari apa yang tengah Rani cari.
Rani tak menjawab ia kemudian duduk di bangku yang diikuti Rafi kemudian, keduanya duduk
bersebelahan.
“Rani, kamu udah ngerasa lebih baik sekarang?” tanya Rafi kemudian.
Rani menghela napas, kalau semua masalah ini belum terjadi mungkin saat ini juga ia ingin sekali memeluk Rafi melampiaskan semua kekalutannya pada pria itu.
“Rafi, aku mau hubungan kita sampai di sini,” dengan susah payah Rani mengucapkan kalimat tersebut.
“Nggak aku nggak mau Rani, aku akan tetap menikahi kamu,” Rafi coba meraih kedua tangan Rani, namun gagal karena perempuan itu menepisnya.
“Aku nggak pantas buat kamu Rafi, aku sudah bukan Rani yang kamu kenal lagi. Aku sudah kotor, tolong jangan semakin membebani aku,” tuturnya.
Rafi merasa terluka, ia telah memikirkan keputusannya ini bahwa dirinya akan tetap menikah dengan Rani namun apa yang dirinya terima, perempuan itu memilih untuk mengakhiri hubungan mereka.
“Rani nggak ada yang berubah, kamu tetaplah Rani yang aku kenal. Kamu tetap Raniku, perempuan yang ingin aku nikahi,” ucapnya bergetar.
“Rafi, bahkan kamu sekarang terdengar meyakinkan diri sendiri kalau aku tetaplah Rani yang dulu, Rani yang kamu nikahi. Sudahlah Rafi, tolong kita akhiri saja di sini aku nggak pantas lagi buat kamu,” Rani meremas ujung bajunya, mungkin akan lebih baik jika Rafi marah padanya jika pria itu maish bersikap baik padanya hanya semakin membuat Rani merasa bersalah.
Rani terkejut, apakah iya kalau saat ini dirinya terdengar tidak yakin? Namun Rafi menggeleng cepat.
“Rani, tolong jelaskan bagian mana yang mmebuat aku terdengar meyakinkan diri. Aku memang sedari awal ingin menikahi kamu, apapun resikonya, atau apapun yang akan terjadi kedepannya pilihan aku tetap sama, aku ingin menikahimu,” kalimat Rafi kali ini penuh penekanan.
Rani merasa semakin menciut, “Rafi tolong jangan tekan aku lagi, aku ingin kita putus.”
Rani beranjak ia hendak masuk kembali dalam rumahnya sebelum Rafi menarik kembali tangannya, “Rani, tolong kasih kesempatan buat hubungan kita. Izinin aku menerima hidup kamu seutuhnya, begitupun dengan kamu yang akan menerima hidup aku. Kita jalanin kehidupan selanjutnya bersama-sama,” Rafi semakin kalut, ia tak sadar kini meremas tangan Rani, ada keputus asaan yang ingin dirinya sampaikan.
“Rafi maaf,” Rani melepaskakn tangan pria yang terlihat putus asa di hadapannya
__ADS_1
Ia sadar mereka sama patahnya, namun Rani tak memiliki pilihan lain Rafi masih pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya.
[]