
Entah apa yang Tama pikirkan dengan beraninya ia telah berada di depan bagunan tingkat bernuansa hitam putih itu. Setelah sehari sebelumnya ia harus menerima pukulan bertubi-tubi dari pemilik rumah tersebut. Tama meneguk ludahnya berulang kali, ia berusaha meyakinkan dirinya untuk memencet bel.
Tinung Tinung Tinung
Berisik bel pertama tak membuat pemilik rumah membuka pagar, akhirnya ia memilih untuk memencet tombol yang sama kembali barang kali masih tidur orangnya, pikir Tama.
Tinung Tinung Tinung
Diam beberapa saat, masih tak ada tanda-tanda ada seseorang yang akan membukakan pagar, namun sangat mustahil jika rumah ini tak berpenghuni di mana ada satu mobil terparkir di garasinya.
Tak lama seseorang kemudian terlihat keluar dari rumah tersebut, sangat berbeda dengan tampilan biasanya yang rapi kini rambutnya acak-acakan dengan pakaian sejak dua hari lalu Tama lihat mata merah bahkan ada lingkaran hitam di bawah matanya.
Jika Tama sekarang berkaca mungkin kondisi dirinya pun tak jauh berbeda dengan pria yang kini telah berada dihadapannya saat ini.
“Ngapain lo kesini?” tanya pria itu dengan tajam.
“Gue, gue tahu gue salah tapi tolong lah sekarang yang harus kita pikirin Rani,” ucap Tama sebisa mungkin berusaha tak turut emosi dengan situasi mereka.
“Semua ini salah lo bangsat!”
Tama tak ada pilihan lain ia kini kembali di pukuli oleh Rafi, bahkan perutnya yang sejak kemaren belum ia isi jadi sasaran empuk pria yang masih dirinya anggap teman itu. Di tengah kesakitannya Tama berusaha menenangkan Rafi.
“Please dengering gue,” Tama beringsut mundur, ia berusaha agar pukulan Rafi tak mengenainya lagi.
Rafi masih nyalang, ia mengepalkan tangannya giginya gemeretak ingin mengeluarkan seluruh emosinya saat itu juga, namun ia tahan setelah mendengar apa yang dikatakan Tama selanjutnya.
“Kita harus ketemu Rani, biar dia yang putusin maunya gimana. Tolong gue tahu, gue salah dan gue akan tanggung jawab itupun kalau Rani yang izinin,” jelas Tama panjang lebar masih dengan memegang perutnya yang kesakitan.
“Trus gue gimana bangsat! Gue gimana? Gue harus ngerelain orang yang udah sangat gue cintai?” Rafi berteriak frustasi kini ia menarik rambutnya frustasi.
“Gue memang brengsek Rafi, lo mau mukulin gue sampai mati pun nggak akan ada yang berubah. Sekarang kita harus cari Rani, gue nggak mau sesuatu terjadi sama dia,” Tama bangkit ia masih berusaha membuat Rafi mulai berpikir agar tak berlarut-larut.
“Rani pulang kampung,” jawab Rafi kemudian, pasalnya Rani sempat mengatakan padanya bahwa akan ada acara keluarga, hal ini juga yang membuat dirinya dan Rani sempat berdebat sebelumnya.
“Sorry gue nggak tahu. Tadi gue sempat ke kostnya dan dia udah nggak ada jadi gue
mikir yang enggak-enggak,” cicit Tama.
Kini keduanya tampak lebih tenang, meskipun Tama tak bisa berbohong bahwa bekas pukulan Rafi masih terasa perih di tubuhnya.
__ADS_1
“Sebenarnya apa sih mau lo?” tanya Rafi.
Tama menatapnya, ia hanya khawatir mengenai satu hal, “Kalau Rani ternyata hamil, dan dia nggak berani bilang. Gue takut dia melakukan sesuatu yang nggak seharusnya, makanya gue akan dengan siap bertanggung jawab,” tutur Tama dengan yakin, namun entah bagaimana terdengar memuakkan di telinga Rafi.
Namun Rafi pun menakutkan hal yang sama, Rani bukanlah perempuan yang akan merengek pada orang lain. Ia yakin perempuan itu akan memilih menghadapinya sendiri segala permasalahan yang tengah terjadi, mungkin saja Rani akan pergi sejauh mungkin tanpa kembali membawa anaknya dan hidup sendiri.
“Kita harus nyusul Rani, Fi. Gue nggak mau nanti keluarganya tahu dan dia sendirian. Gue adalah orang yang harus disalahin dalam hal ini. Gue yang paling pantas di di bunuh kalau emang harus ada yang mati,” semua itu bukanlah bualan semata, Tama memang sudah mempersiapkan dirinya berkorban untuk apapun nanti yang harus
ia hadapi, terlebih berkorban bagi Rani.
Meski Rafi sangat membenci kalimat yang baru saja ia dengar, tetap saja apa yang dikatakan oleh Tama benar adanya, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Rani saat perempuan itu berada di kampungnya, terlebih jika kedua orang tua Rani mengetahui hal tersebut.
Akhirnya mengesampingkan ego dirinya sendiri Rafi setuju dengan usul Tama, ya setidaknya ia bisa izin cuti minggu ini terlebih setelah Rafi rela berhari-hari lembur di minggu kemaren.
Ia tak akan rela jika Tama akan menemui Rani tanpa dirinya, “Yudah siap-siap lo, hari ini kita langsung nyusur Rani. Gue tahu alamat rumah dia,” ucapnya meski dengan ketus.
Rafi kemudian meninggalkan Tama begitu saja, tak ingin banyak membuang waktu Tama segera menstater motor giginya ia akan pulag dan siap-siap terlebih dahulu.
Sedangkan di tempat lain Rani akhirnya sampai di kampung halamannya, udara dingin dapat ia rasakan begitu menusuk kulitnya.
Pulang ke kampung selalu memberikan kesan ketenangan bagi Rani yang setiap harinya menghadapi kesemrawutan kota Jakarta.
Hanya membutuhkan waktu 15 menit akhirnya Rani kini berada di depan rumahnya yang masih sangat sederhana.
Ia menenteng beberapa kresek berisi oleh-oleh yang sempat dirinya beli di terminal, tak banya ada beberapa makanan seperti keripik, dodol, serta rempeyek yang tentunya ada di rumahnya, namun dari pada tangan kosong akhirnya Rani memutuskan membeli apapun yang ia temui tadi.
Karena masih sangat pagi pintu rumahnya terlihat belum terbuka, Rani meletakkan koper dan beberapa tentengannya tadi di atas bangku panjang yang berada di teras rumahnya, ia kemudian mengucap salam berharap Ibu atau Bapak sudah bangun.
“Assalamualaikum,” ucap Rani sedikit menaikkan volume suaranya.
“Waalaikumsalam,” itu suara Ibunya, memang Ibu Rani yang selalu bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan.
Pintu yang masih terlihat baru karena Bapak baru menggantinya beberapa bulan lalu]setelah Rani gajian akhirnya di buka menampilkan sosok wanita paruh baya yang sangat Rani rindukan.
“Yaampun Nduk, Ibu kangen banget,” Ibu langsung berhambur memeluk Rani.
Rani balas memeluk Ibunya, selama berada di Jakarta satu hal ini yang sangat Rani ingin rasakan saat dirinya butuh kekuatan.
“Lho Ibu kok makin kurus,” tutur Rani yang menyadari tubuh Ibunya lebih kecil dari terakhir kali Rani ingat.
__ADS_1
Ibunya terdengar tak percaya, “Mana ada, wong gembil gini kok,” Ibu Rani menepuk-nepuk kedua pipinya yang memang terlihat sedikit berisi.
“Masak toh Bu, badannya kurus pipinya gembil,” Rani terkekeh.
“Lha ini buktinya,” Ibu Rani kembali menepuk pipinya, “Udah ayo masuk dulu, Bapakmu
masih tiduran tadi, katanya nunggu kamu sampai baru mau bangun.”
Rani memasukkan semua barang-barangnya ke dalam rumah, baru beberapa ia melangkah masuk Bapak terlihat keluar dari kamarnya.
“Kirain rungon-rungonku, ternyata beneran kamu Nduk, sudah sampai rumah,” Rani kemudian dengan segera meraih tangan Bapaknya.
“Bapak sehat?” tanya Rani memastikan kabar Bapaknya.
“Sehat. Lha kamu gimana kerjanya lancar kan?” Bapak menatap Rani seakan tak percaya memang benar anak perempuannya yang saat ini berada di rumah.
“Alhamdulillah lancar. Oh iya Rani beliin Bapak dodol rasa durian, Bapak masih suka kan?” tanya Rani.
“Bapakmu apa yang nggak suka Rani, semua kalau bisa dia makan,” suara Ibu dari dapur menginterupsi, ternyata beliau membawakan segelas tes untuk Bapak.
“Ya kalau ada mendingan di makan, dari pada mubazir,” jawab Bapak sambil mencu-mencu nggak terima kalau di bilang Ibu begitu.
Rani mengeluarkan dodol yang ia beli dan ia berikan pada Ibu untuk disajikan ke piring Bapak, sedari muda memang Bapak sangat menyukai dodol.
“Rani Mbak Wiwit hari ini udah mau akad, lha kamu kapan?” Tanya Bapak sekonyong-konyong tak memperdulikan rasa lelah Rani setelah perjalanan jauh.
“Anaknya baru sampai mbok ya biar istirahat dulu!’ Bentak Ibu pada Bapak.
Rani masih tak memberikan jawaban, ia sibuk mengeluarkan oleh-oleh yang tadi dibelinya.
“Ya kan, Bapak sudah tahu, pengen lah lihat anaknya menikah,” jawab Bapak membela diri, beliau terlihat mulai meniup-niup tehnya.
“Setiap bulan jenengan minta uangnya buat kebutuhan rumah Pak, gimana Rani mau nikah? Jenengan**mbok ya yang pengertian sama anak. Udah Rani sana istirahat di kamar saja, jangan dengerin omongan
Bapak mu,” suruh Ibu yang semakin kesal dengan kelakuan Bapak pagi ini.
Rani yang tak ingin memperkeruh suasana menuruti perkataan Ibunya, ia segera menarik koper yang ia bawa dari Jakarata ke kamarnya.
Sebenarnya Rani ingin sekali menceritakan kepada orang tuanya bahwa ada seorang laki-laki yang telah melamar anak perempuannya, namun ia urungkan mengingat apa yang telah Rani alami di Jakarta.
__ADS_1
[]