
Setelah semua siap, Rego mengomando pasukannya agar di posisi siaga.
Sedangkan Tama dan rombongannya diwajibkan untuk tak banyak protes, mengikuti semua arahan yang Rego berikan.
Pasukan mendekat mulai memasuki kawasan industri yang terhampar luas.
Meski begitu tak sulit bagi mereka menemukan keberadaan Waren dan taman-temannya, karena terlihat sorot penerangan dari salah satu bangunan.
Tama tepat dibelakang Rego, membuatnya takjub menyaksikan sediri bagaimana temannya ini bekerja.
"Lo keren juga, gue akui Go," timpal Tama membuat Rego sukses melotot.
"Lo ngapain Tama? Mau gue putar balik? kita nggak usah nolongin Rani?"
Tama kini yang gantian melotot, "Jangan njir!"
"Makanya fokus lo!" Rego kembali melangkah membuat Tama mau tak mau mengikutinya.
Sebenarnya bukan karena dirinya tak fokus, hanya saja melihat bagaimana temannya ini beraksi membuat Tama turut bangga, memiliki teman dengan profesi sekeren itu.
Benar terlihat mobil jeep dan satu motor besar yang tadi teman-temannya itu gunakan untuk menculik Rani.
Terlihat ada gerakan yang di dalam sana, membuat Rego dan timnya harus ekstra hati-hati.
Saat pintu utama yang terbuat dari besi ruangan itu terbuka di situ pula Rego berteriak.
"Mulai!"
Detik itu pasukan mengacungkan senjata untuk menangkap mereka berlima.
"Angkat tangan!" seru Rego tegas.
Terlihat Elgin, Waren, Dimas, sedangkan Maditra dan Rafi menyusul di belakangnya.
Kelimanya mengangkat tangan sesuai dengan perintah Elgin, Tama kemudian menampakkan dirinya.
"Dimana Rani?!" teriak Tama, berharap kelima orang itu segera menyerahkan Rani.
Waren menurunkan tangan congkak, "Gue nggak percaya sama kalian semua, ini cuman pura-pura kan? Hey kalian dibayar Tama pake apa sampai mau di suruh-suruh gini?"
"Mereka bawa senjata beneran anjing!" kesal Maditra pada Waren.
__ADS_1
"Maditra lo kenapa cupu. Elgin udah beresin semuanya kan Gin?" ucap Waren masih angkuh membuat Rego semakin Geram.
Rego mendekati Waren, "Udah cukup dengan semua tingkah kekanakan lo!"
Waren membelalakkan matanya, "Lo? Lo Rego?"
Begitupula dengan keempat temannya yang terlihat terkejut, "Rego ini lo?" Dimas menggoyang-goyangkan tangan Rego, namun ditepis begitu saja oleh pemiliknya.
Rego membuka topi serta masker yang dirinya kenakan.
"Ngapain kita takut kalau ini Rego, lo keren banget Go," ucap Elgin menepuk kedua tangannya tanda takjub pada temannya itu.
Rego kembali mengacungkan senjatanya, "Kalian salah! Gue kesini justru untuk menangkap kalian semua!"
"Ayolah Go, lo sohib kita kan?" Tampaknya Waren masih berkilah, ia menganggap Rego tengah bermain-main.
"Tangkap!" perintah Rego.
Lima orang dengan senjata di tangannya maju memborgol teman-teman Rego.
"Jangan bercanda anjing!" umpat Elgin akhirnya.
"Rafi! ini semua salah lo! Gimana ini kita semua bakal di tangkap?" Dimas ternyata mulai panik dengan tangannya yang tak dapat dengan bebas bergerak lagi.
Rafi berusaha melepaskan tangannya namun sayang semua itu sia-sia, "Oke, gue bakal lepasin Rani, tapi jangan gini caranya!"
"Ini semua bukan cuman tentang Rani, tapi kalian semua udah ditipu sama Waren," ungkap Rego membuat teman-temannya mengernyitkan alis.
"Maksud lo apa? Gue ngga pernah melakukan apapun," bantah Waren geram.
"Nggak pernah melakukan apapun lo bilang?" geram Tama menarik kerah baju pria berambut gondrong itu.
"Maksud lo apa Go? Jelasin sama kita semua lo tahu apa sih!" Maditra turut mendesak, sampai sejauh ini yang dia lakukan hanyalah membantu Rafi merebut Rani kembali.
Rego menarik Tama kembali menyuruh temannya itu untuk kembali tenang, biar semuanya berjalan sesuai rencana.
"Malam itu, di villa Waren udah masukin cairan GHB di gelas Tama. Nggak sampai di situ dia nyuruh Tama yang udh mabuk untuk lecehin Rani. Sekarang lo semua tanya ke dia, kenapa dia melakukan hal busuk itu," tunjuk Elgin pada Waren.
Rafi yang mendengarnya menggertakkan giginya, ia telah ditipu oleh Waren. Berarti dalang di balik semua ini Waren, dan Waren yang membuat dirinya kehilangan Rani.
"Anjing lo Waren! Bangsat! Kalau tahu semua ini ulah lo, nggak akan lagi sudi gue berteman sama lo!" Dengan tangan yang terborgol Rafi bukan main ingin menghajar Waren saat itu juga, sayangnya tubuh Rafi di tahan oleh polisi.
__ADS_1
"GHB apaan?" tanya Dimas yang tak tahu menahu mengenai hal tersebut.
"Lo jelasin Rafi, media lo juga pernah nulis tentang kasus ini," kata Rego singkat.
"Obat pemerkosa di kasusnya Reynhard Sinaga," jelas Rafi tak kalah singkat, ia mempertahankan tatapan tajam pada Waren.
"Itu salah satu narkotika kelas C di Inggris, zat kimia ini sebetulnya digunakan untuk kebutuhan industri. Makanya Waren dapatin obat itu dari sini, pabrik industri keluarganya sendiri," jelas Rego.
"Terus kenapa gue!? Kenapa sasaran lo gue?!" Tama meminta penjelasan dari mulut Waren.
"Karena gue nggak pernah suka sama lo anjing! Lo yang nggak level berteman dengan kita, tapi mereka minta masukin lo, awalnya emang semuanya seru, dengan segala permainan yang kita buat. Tapi lama-lama boring, kalian semua peduli sama dia. Manusia sok suci! udah jelas-jelas dia anak haram! Cuman sampah yang nggak diterima di mana-mana," cecar Waren panjang lebar memuntahkan semua iri hati yang dirinya rasakan.
"Lo yang sampah! Semua ini terjadi gara-gara lo, gue ngotorin tangan untuk hal yang sia-sia gini," kesal Maditra pada Waren.
"Bangsat Waren! lo nggak jauh beda sama anak ingusan di pinggir jalan," umpat Elgin yang juga tak terima atas apa yang harus dirinya terima.
"Udah tahu kan kalian sekarang? Udah dewasakah kalian dengan menculik Rani, ngehajar Tama, sampai nyuap polisi untuk hal kaya gini?" Rego tersenyum meremehkan, "Bahkan kalian mencoreng reputasi keluarga kalian sendiri."
"Di mana Rani? Jawab di mana kalian sembunyiin Rani!" Tama sudah cukup bersabar dengan semua drama temannya, ia hanya menginginkan Rani.
Rafi menunjuk satu ruangan terkunci di dalam gudang tersebut menggunakan kepalanya, "Rani di dalam sana, kuncinya di kantong gue."
Saat Tama hendak mengambilnya Rego menahannya kembali, "Apa lagi sih Go! Kalau Rani kenapa-kenapa lo mau tanggung jawab?!"
"Sabar gue ambilin, sekarang mereka udah jadi tahanan," kesal Rego memarahi Tama kembali.
Rego mengambil kunci ruangan dari balik saku celana Rafi, "Kalian ditangkap atas penganiayaan yang kalian lakukan pada Rani dan Tama. Waren anda kami tangkap karena telah menyalahgunakan obat-obatan terlarang."
Polisi mulai membawa kelima teman Rego, membuat mereka berusaha melawan, meski begitu usaha yang mereka lakukan sia-sia karena hukum akan tetap berjalan.
"Rego please! Please! Tolongin gue, gue cuman ngikutin mereka," teriak Dimas memohon untuk dilepaskan.
Elgin melawan, ia menahan tubuhnya yang didorong oleh polisi, "Go, lepasin gue! Lo bakal berurusan sama bokap gue anjing!"
''Silahkan Gin, silahkan," ucap Rego tak merasa terintimidasi sedikitpun dengan ancaman Elgin.
Tak menghiraukan teman-temannya, Tama mengambil kunci dari tangan Rego.
"Gue harus segera selamatin Rani."
[]
__ADS_1