MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 63 : K e h i l a n g a n


__ADS_3

Kehilangan pernah Tama rasakan sebelumnya ketika nenek meninggal.


Selain itu ia tak pernah lagi merasakan kehilangan apapun, termasuk orang tuanya.


Mungkin karena ia ditinggalkan saat usianya belum mengenal kata sakit.


Namun kali ini Tama dapat merasakan sesak melihat Rani, istri tercintanya yang tengah mengandung calon buah hati mereka dibawa begitu saja oleh Rafi.


Tama mencari ponsel di sakunya, berharap ada yang dapat menolongnya ia dengan cepat mencari nama Babe Jerris.


Saat sambungan terhubung, Tama dengan segera menceritakan apa yang telah terjadi padanya.


"Babe tolongin Tama," ucap Tama semakin kalut bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Rani.


"Kenapa? Lo kenapa?"


"Rani, Be. Rani dibawa Rafi."


"Tu kan! Gue bilang juga apa kalian butuh penjagaan 24 jam!"


"Be, tolong Tama harus gimana? Rani, Rani gimana Be?"


"Tenang! Tama tenang! Sekarang lo kudu fokus biar bisa nolongin Rani. Lo sekarang di mana? Gue bakal kirim anak buah!"


Tama menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan diri, "Tama kirim alamatnya sekarang ya."


"Iya buruan! Lo kudu tenang fokus, insha Allah Rani baik-baik aja."


"Iya Be, Tama tutup ya."


Setelah menutup panggilan tersebut Tama mengirimkan alamatnya.


Tangannya yang bergetar membuat dirinya beberapa kali harus kembali mengetik ulang.


"Rani, tolong bertahan tunggu aku."


Inikah akibat dari dosanya? membuat Tuhan menghukumnya dengan berbagai cobaan.


Ia masih berusaha bersikap tenang, meski sangat sulit, "Mikir Tama! Mikir."


Siapa lagi yang dapat dirinya hubungi, polisi sepertinya akan menolak laporannya, apalagi minimal 1x24 jam baru bisa melaporkan orang hilang, lagi pula polisi pasti tak akan menerimanya karena terlibat dengan Elgin dan Rafi.


Rego, mungkin Rego dapat membantunya karena Tama ingat kalau tadi tak ada pria itu diantara mereka.


Tama menghubungi nomor Rego, namun panggilan pertama tak diangkat.


Tama mencoba lagi menekan tombol panggil berharap Rego dapat membantunya.


"Halo Tama, sorry gue lagi di jalan."


Terdengar suara bising dari tempat Rego.


"Rego, tolong gue Go!"


"Kenapa? Rafi bikin ulah lagi?"


Ternyata Rego telah menduga apa yang membuat dirinya terdengar gelisah.

__ADS_1


"Lo udah tahu?" tanya Tama kemudian.


Rego tak langsung menjawab, terdengar bising kembali membuat Tama harus memanggilnya sekali lagi, "Rego?"


"Gue pinggirin motor dulu," suara Rego tak terdengar beberapa saat, "Gue kemaren sempat kontekan sama Maditra, dia ngajak buat gue gabung. Tapi gue males, kalau mereka masih kaya bocah gitu."


"Jadi lo udah tahu?"


"Gue tahu Tama, tapi ya gue kira masih rencana mereka aja. Nggak tahu kalau bakal beneran mereka lakuin."


"Tolongin gue Go! Ini Rani mereka bawa!"


"Lo tenang ya, gue bakal cari cara."


"Gimana gue bisa tenang Go! Kenapa nggak lo bilang dari awal supaya gue bisa bawa Rani pergi sejauh mungkin!"


Tama semakin geram, apa yang sekarang harus dirinya lakukan.


"Sorry banget Tama, ini emang salah gue. Gue juga belum bilang apa yang sebenarnya harus kalian ketahui!"


"Basi tahu nggak! Sebenarnya apa sih yang lo tahu Go! Bilang sekarang!"


"Gue bakal ceritain semuanya sama kalian! karena gue butuh bukti buat ungkap ini semua. Tunggu kabar dari gue, gue bakal bantuin lo nyari Rani."


Rego langsung memutus panggilannya pada saat itu juga membuat Tama semakin kalut.


Tama semakin panik, ia tak siap untuk kehilangan Rani.


Ia mengambil tas Rani yang tergeletak di jalanan, dengan segera mengendarai motornya mencari kemanapun yang memungkinkan Rafi membawa istrinya.


Itu Wawan yang selalu menjaga Rani dari jauh, dengan satu orang lagi yang tak Tama ketahui namanya.


"Kita cari dulu Rani," ucap Tama menyalakan mesin.


"Oke, nanti yang lain bakal nyusul," ucap Wawan yang kemudian melaju mengikuti Tama.


Satu tempat pertama yang Tama datangi adalah rumah Rafi.


Tama tahu betul Rafi masih tak bisa melepaskan Rani dengan mudah, sehingga pria itu nekat untuk menculik Rani.


Begitu tiba di rumah Rafi, terlihat lampu padam membuat Tama tak dapat melihat dengan jelas situasi di dalam.


Saat Tama hendak membuka pagar, Wawan menahannya.


"Tunggu Bos, biar gue yang buka takutnya nggak aman."


Wawan yang mengomando berada di barisan paling depan, sedangkan Tama mengekori di belakangnya.


Namun nihil, tak terlihat tanda-tanda keberadaan seorang pun di sana, bahkan pintunya tak terkunci.


Pasti Rafi kali ini telah merencanakan dengan matang penculikan Rani.


Tama memukul meja kaca di ruang tengah, hingga puing-puing bening tajam berserakan membuat tangannya terluka.


"Bos nggak ada," lapor Wawan dan satu temannya yang mengecek seluruh rumah Rafi.


"Anjing! kemana mereka bawa Rani!" umpat Tama.

__ADS_1


Wawan mendekatinya membawa kain putih yang entah kain mana yang pemuda itu sobek, "Tangan lo berdarah bos. Pesan Babe Bos, lo kudu tenang biar kita bisa nyari bini lo."


Tama menarik kain itu yang kemudian ia pasangkan sendiri di tangannya, "Lo suruh gue tenang! istri gue yang hilang Wan! mana bisa gue tenang lagi!"


Tama langsung meninggalkan rumah Rafi, rumah selanjutnya yang akan pria itu tuju adalah rumah Elgin.


Sedari awal Elgin yang sudah memprovokasi dirinya dan Rafi.


Butuh Waktu lama karena rumah Elgin berada di Jakarta Pusat, akhirnya Tama berbalik arah ia akan mendatangi rumah Waren terlebih dahulu yang letaknya masih satu wilayah dengan rumah Rafi.


Tama telah merapalkan semua doa yang dirinya bisa, berharap Rani baik-baik saja.


Ponselnya kemudian berdering membuat Tama harus menepi terlebih dahulu.


"Tama, gue tahu Rani di mana. Tapi kita nggak bisa malam ini ambil Rani."


"Kenapa lagi! gue nggak bisa pulang tanpa Rani."


"Sabar Tama jangan gegabah. Kali ini nggak main-main, gue udah minta bantuan polisi karena ini kasus penting! gue minta sama lo buat tunggu sampai besok!"


"Ck! gue mau Rani, Go!"


"Iya gue tahu! Gue akan ceritain semuanya nanti. Sekarang lo mending pulang! siapin diri buat besok."


"Buat apa gue pulang kalau nggak ada Rani di sana? buat apa?" Tama semakin kalut, sebenarnya apa yang Rego sembunyikan.


"Gue mohon lo sabar satu malam ini aja, besok pagi jam 8 lo dateng ke Petak Tiga Belas Central Industri yang ada di Tanggerang Selatan."


Tama terkejut bukan main, "Maksud lo Rani mereka bawa ke sana?"


"Untuk saat ini baru itu yang gue bisa kasih tahu ke lo. Makanya lo tenang, biar gue dan tim gue yang mantau. Sekarang mending lo pulang Tama!"


Panggilan Rego akhiri sebelah pihak membuat Tama kebingungan, "Ada apa lagi ini ya Allah!"


Rego sebenarnya siapa? selama ini setau Tama temannya itu hanya pegawai marketing, kenapa ikut menyelidiki kasus ini?


Semua pertanyaan berkelabat di kepalanya.


"Kenapa bos?" tanya Wawan mendekati Tama.


"Besok jam 8 pagi, kita di suruh ke Petak Tiga Belas Central Industri, Tangsel," ucap Tama tegas.


"Siap! gue bakal bawa semua pasukan," tutur Wawan yang sudah siaga untuk semua perintah Tama.


"Malam ini kalian pulang aja siapin diri buat besok. Tapi gue minta kita berangkat dari subuh."


Wawan memberikan perhatian penuh pada Tama, "Siap!" ia kemudian menepuk pundak temannya untuk melajukan kendaraannya.


Sedangkan Tama yang tak ada pilihan lain dengan berat hati menuju kosannya.


Kali ini tak ada Rani di rumah, sesak sekali dadanya membayangkan bagaimana kalau mereka melukai Rani.


Tama mengusap kasar pipinya, ia merasa jadi lelaki pengecut tak ada yang bisa dirinya lakukan untuk menyelamatkan istrinya.


"Bego Tama! Lo pecundang! Aaaahhhhh! Bangsat!" teriak Tama di tengah jalan raya yang sepi dini hari.


[]

__ADS_1


__ADS_2