
Pagi ini Rani dibangunkan oleh wanginya nasi goreng yang menguar ke seluruh penjuru kamarnya, ia membuka mata dan langsung terkejut mendapati sudah pukul 06.00 yang artinya Rani kesiangan solat subuh lagi.
“Astagfirullah,” ucap Rani mengelus perutnya, “Maaf ya Nak, Ibu kesiangan lagi.”
Rani dapat melihat Tama yang tengah sibuk di dapur, pria itu terlihat mengaduk nasi goreng bahkan Tama terlihat sudah mandi, rambut basahnya dibiarkan acak-acakan.
“Kamu rajin banget jam segini udah masak,” ucap Rani mendekati Tama.
“Eh, udah bangun Ibu cantik,” ujar Tama memberikan senyum terbaiknya di pagi itu.
“Gombal. Kenapa nggak bangunin aku sih, aku kesiangan mulu solatnya,” ujar Rani kesal ia mengikat rambutnya yang terurai berantakan khas bangun tidur.
“Maaf ya, aku nggak tega mau bangunin, semalem kan kamu larut banget baru bisa tidur.”
Tama mengambil dua piring yang kemudian dirinya isi dengan nasi goreng buatannya, ia tak lupa menambahkan potongan timun yang tadi dirinya beli di tukang sayur keliling di depan masjid.
“Kamu emang hari ini masuk pagi?” tanya Rani mengamati gerakan Tama memotong-motong timun, ia kagum dengan betapa lihainya pria itu saat berada di dapur.
Tama menghentikan gerakannya untuk melihat wajah Rani, “Cuci muka dulu gih, ileran tuh.”
“Ck, nyebelin banget,” ucap Rani kesal, namun ia kemudian menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.
“Solat aja Ran, nggak masalah kok kesiangan, daripada enggak kamu ninggalin,” ucap Tama mengingatkan, meski Tama tak begitu agamis namun dirinya sering mengikuti kajian selepas solat di masjid sehingga sedikit mengetahui ilmu agama, tak hanya itu bahkan media sosial sekarang banyak sekali kajian-kajian ustad berseliweran di berandanya.
“Gitu ya, oke deh.”
Rani akhirnya solat subuh, meski dirinya kesiangan, sedangkan Tama membersihkan peralatan dapur yang tadi dirinya gunakan.
Tama begitu bersemangat melakukan pekerjaan rumah, entah kenapa ia malah ingin Rani duduk manis tanpa melakukan apapun, biar saja dirinya yang melakukan semuanya.
Sambil menunggu Rani untuk sarapan bersama Tama merapikan tempat tidur mereka, tak hanya itu bahkan dirinya menyapu lantai kamar hingga teras yang hanya beberapa meter itu, bagaikan seseorang yang hatinya berbunga-bungan Tama bersenandung selama mengerjakan itu semua bahkan Yori tetangganya yang kebetulan baru membuka pintu kamarnya menggelengkan kepalanya menatap Tama.
“Lo rajin banget jam segini udah nyapu,” ujar Yori setelahnya perempuan itu menguap karena masih mengantuk.
“Eh Yori, pagi. Iya nih, ada kerjaan pagi soalnya jadi sekalian aja,” ucap Tama ia meletakkan sapu di pojokan rak sepatu setelah menyelesaikan pekerjaannya.
“Rani, lo nyari suami apa pembantu sih? Kenapa ini laki lo semuanya yang ngerjain,” teriak Yori agar Rani di dalam mendengarnya.
Tama hanya terkekeh, “Ada-ada aja lo Yori, udah sana sekolah anak-anak.”
“Enak aja, udah dewasa ya gue!” teriak Yori kesal karena dikatai anak-anak.
Sedangkan Tama hanya tertawa meninggalkan Yori masuk ke kamar untuk sarapan dengan Rani yang sudah selesai solat.
__ADS_1
“Rani sarapan yuk,” ajaknya dengan muka polos yang membuat Rani mau tak mau mengangguk.
“Yori kamu apain sebel gitu dia?” tanya Rani yang tadi sempat mendengar teriakan Yori.
Tama tertawa kecil, “Enggak akku bercandain aja. Oh iya hari ini aku jadwal bersih-bersih kontrakan makanya berangkat pagi, kamu masuk jam berapa hari ini?”
“Aku palingan masuk jam 08.30 wib,” jawab Rani, ia mengambil sendok yang Tama sodorkan sebenarnya Rani jarang sekali sarapan, tapi karena ini masakan Tama tak mungkin ia menolaknya.
“Semoga kamu suka ya sama masakan aku,” ujar Tama berharap Rani menyukai masakannya, ia mengamati Rani yang mulai menyuap nasinya.
“Enak kok,” ucap Rani setelah mengunyah beberapa kali nasi di mulutnya, “Kamu terampil banget kalau masak.”
“Enggak kok, biasa aja. Nanti kalau aku selesainya cepet, kamu aku anterin ya?” tawar Tama lantaran ia ingin mengantar Rani kerja setelah membersihkan kontrakan, terlebih Tama sekitar jam 09.45 baru ke café hari ini.
Rani menggeleng, “Nggak usah, kamu nanti harus bolak-balik, aku naik angkot aja.”
“Tapi aku pengen nganterin kamu,” ucap Tama yang mulai bertingkah layaknya anak-anak, ia sendiri merasa aneh mengapa akhir-akhir ini dirinya sering bersikap seperti anak kecil yang minta di sayang-sayang, Tama terkekeh merasa malu sendiri.
“Dih, mulai. Nggak usah lebay ya, mendingan kamu langsung kerja aja. Hemat bensin ih, jangan boros-boros katanya mau bawa aku ke dokter,” ucap Rani panjang lebar.
Tama senang mendengar ucapan Rani, “Beneran kamu mau periksa ke dokter?”
Rani mengunyah nasi di mulutnya yang sangat lezat, meski dimasak dengan sederhana tapi inilah yang Rani rindukan khas masakan rumahan.
“Tapi kamu harus hati-hati ya, jangan terlalu capek,”ujar Tama mengingatkan ia tahu bagaimana Rani yang kerap memaksakan diri dalam berbagai hal pastilah perempuan itu akan melakukan hal yang sama pada pekerjaannya.
“Iya, bawel.”
Di tengah kegiatan sarapan mereka yang begitu nikmat deru suara mobil berhenti tepat di depan kostan Rani.
Tama melongokkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang pagi sekali sudah akan bertamu ke tempat orang, hilang selera makannya seketika mengetahui itu mobil Rafi.
Sedangkan Rani yang sudah hafal betul dengan suara kendaraan itu, tak perlu ikut melongok ia sudah lebih dulu menebak-nebak apa yang dilakukan Rafi sepagi ini mendatanginya.
Rani melirik Tama yang moodnya telah berubah seratus delapan puluh derajat, bahkan pria itu terlihat sulit menelan makanannya sendiri.
“Assalamuailaikum, Rani,” ucap Rani melongokkan kepalanya ia tersenyum ramah pada Rani, “Oh, lagi pada sarapan ya, aku bawain makanan nih.”
Rafi mengangkat tinggi-tinggi totebag yang ia bawa, berharap Rani dapat melihat perhatiannya masih sama seperti dulu.
Rani melirik Tama yang tak merespon sama sekali, pria itu masih sibuk mengaduk-aduk nasinya Rani bisa menebak kalau Tama tak lagi bernapsu makan.
“Rafi, kamu ngapain pagi-pagi kesini?” tanya Rani ia berdiri menghampiri Rafi yang berdiri di pintu.
__ADS_1
“Woi Tama, lo lagi nahan berak diem aja,” canda Rafi, namun tak sepenuhnya bercanda tentunya ia sengaja ingin membuat Tama kesal dengan keberadaannya.
Tama membuang napas kasar, namun ia berusaha tersenyum seramah mungkin, “Pagi Raf, pengangguran lo pagi-pagi udah main ke rumah orang?”
Rafi tertawa garing, “Mau ngirim sarapan, siapa tahu kalian pada belum sarapan.”
“Kamu nggak perlu repot-repot Rafi, kita udah sarapan kok. Tama udah masak,” ucap Rani meski tampak tenang, namun percayalah Rani takut akan terjadi perkelahian di pagi hari antara dua pria di hadapannya saat ini.
“Kanu butuh asupan yang cukup ya Rani,” ucap Rafi memberikan totebag tersebut ke tangan Rani.
“Makasih ya, lo perhatian banget sama istri gue. Tapi besok kayanya nggak perlu lagi deh, soalnya gue bisa ngurus istri gue sendiri,” ketus Tama, bagaimana dia bisa menahan emosi melihat pria lain kini memegang tangan Rani, ya meskipun untuk ngasih totebagnya itu tetap saja, ngapain juga Rafi memegang langsung tangan istrinya.
“Ya, ya, good luck deh. Rani kamu berangkat jam berapa? Mau bareng aku?” tanya Rafi beralih pada Rani.
Rani meremas totebag di tangannya, ia tak ingin lagi ada keributan antara dirinya dan Tama, namun ia masih ada rasa senang jika berada di dekat Rafi. Rani menatap Tama yang menunggu jawabannya, pastilah pria itu berharap Rani akan menolak, “Maaf Rani, aku hari ini masuknya siang, jadi dari pada kamu kesiangan mendingan kamu duluan aja.”
“Nggak apa-apa Rani, kita kan searah. Kamu nggak perlu takut sama ni orang,” ucap Rafi menunjuk Tama dengan telunjuknya.
Tama membuang muka, ia tersenyum sinis pada tingkah Rafi yang masih berusaha ingin mengambil hati istrinya, “Lo sekarang jadi taxi online apa gimana sih, buka jasa anter jemput bini orang?” tanyanya ketus.
“Ya, kalau buat Rani gue nggak masalah bahkan kalaupun dia butuh 24 jam bakal gue jabanin,” jawab Rafi mantap.
“Tapi makasih banget, nggak perlu. Gue bisa anter jemput istri gue sendiri,” ucap Tama sengaja menekankan pada kata istri, agar Rafi tahu posisinya saat ini.
Namun yang terjadi sebaliknya, Rafi masih tak mau mengalah, “Kalau lo nggak sebejat itu, mungkin Rani jadi istri gue kali.”
“Udah! Udah! Ini masih pagi ya Allah. Rafi mendingan kamu pergi ya, makasih banget tapi mulai sekarang kamu nggak perlu repot-repot lagi,” tutur Rani menengahi pertengkaran diantara dua pria itu.
“Silahkan pergi ya, kita tidak menerima tamu,” ucap Tama dengan gestur tangan mempersilahkan Rafi untuk meninggalkan tempat itu sekarang juga.
“Kamu juga, berangkat sekarang keburu kesiangan,” ucap Rani beralih pada Tama.
Rafi tak ada alasan lagi untuk tetap di sana, terlebih pukul 08.00 dirinya sudah harus tiba di kantor akhirnya Rafi memilih untuk pamit.
“Rani, kalau gitu aku pamit ya.”
Setelah Rani mengangguk Rafi akhirnya memilih untuk meninggalkan kostan Rani, tentunya dengan suasana hati yang tak menentu, jika tak ada Rani mungkin ia sudah baku hantam lagi dengan Tama.
Rani menatap mobil Rafi yang kian jauh, ia kemudian beralih pada benda di tangannya tanpa berpikir pun Rani paham apa yang saat ini tengah Rafi lakukan.
Sedangkan Tama dari tempatnya dapat menyaksikan bagaimana perempuan yang ia sayangi itu terlihat sendu atas kepergian pria lain.
[]
__ADS_1
Ps. Ya begitulah namanya juga mantan, agak-agak masih ada harapan :(