
Tama kembali mengecup kening Rani, membuat perempuan itu mengerjap-ngerjap.
"Kamu kenapa sayang? Kok kaya bingung gitu?"
Rani seketika menyadari apa yang tengah terjadi.
"Kamu Tama kan?"
Detik berikutnya ia menepuk jidatnya sendiri, hal bodoh apa yang baru saja dirinya lakukan.
Tama tergelak, pria itu lantas kembali mengecup dahi Rani lagi.
"Bukan, ini pangeran dari kayangan," ucap Tama tersenyum jahil.
Tama kini beralih pada kedua mata Rani, yang masih melihatnya dengan tatapan bingung.
Saat Tama hendak mencium bibirnya, Rani menahan tubuh suaminya, "Udah ah malu, kamu udah pulang dari tadi?"
Tama terkekeh, gemas mencubit pipi Rani, "Lucu banget sih. Baru aja sayang."
Rani berusaha duduk, "Oh iya, Ibu sama Bapak-"
"Ibu sama Bapak tidur di rumah Babe, udah tenang aja. Mereka udah istirahat kok," terang Tama.
"Kamu udah makan?"
Rani mengikat rambutnya, ia menyibak rambut yang menutupi matanya.
Tama mengamati tiap gerakan Rani yang menurutnya sangat menarik, "Udah sayang, kamu udah makan?"
Rani mengangguk, ia kemudian mengingat cerita Wawan tadi sore, kalau dipikir-pikir Rani belum mengucapkan terima kasih pada Tama.
"Tama," panggilnya lembut.
"Hmm."
"Makasih ya, udah nemuin aku malam itu. Kalau nggak ada kamu aku mungkin udah, nggak tahu lagi deh."
Tama meraih tangan Rani, ia remas pelan tangan mungil itu,
"Makasih juga ya sayang, kamu bertahan sampai aku datang."
Rani mengerutkan dahinya, membuat Tama bertanya apakah ada yang salah dengan kalimatnya.
"Kenapa?"
Rani memukul pelan tangan Tama, "Itu mulut udah lancar banget kayanya."
"Hah?" Kali ini Tama lah yang terlihat bingung, "Maksudnya?"
Rani mencebik pura-pura kesal, "Itu manggil sayang - sayang mulu."
__ADS_1
Tama tergelak, ia menahan perutnya sendiri karena tertawa.
"Kamu kenapa makin gemesin sih, jangan gemes gitu dong nanti aku nggak tahan pengen nyium terus."
Rani menjauhkan tubuhnya beberapa senti, "Tuh kan! kumat mesumnya!"
"Makanya jangan galak-galak. Tapi aku nggak masalah sih, kalau kamu galak gitu," ucap Tama yang malah terlihat salah tingkah.
"Dih! Bapak-Bapak mesum!" kembali memundurkan tubuhnya.
"Jangan jauh-jauh dong." Tama menahan lengan Rani lembut, "Kamu tutup mata sebentar boleh?"
Rani menatap Tama penuh selidik, "Mau ngapain emangnya?"
"Ada deh, makanya kamu tutup mata dulu ya," bujuk Tama.
"Enggak ah, kamu mau ngusilin aku kan?"
Rani penuh selidik, ya bagaimana tidak meskipun Tama memang suami yang baik jangan salah, pria ini sering kali menjahili Rani, palingan juga mau nyuri cium lagi.
Tama berdecak, "Ayolah sayang, bentar aja."
"Mau ngapain sih! Kalau mau ganti baju yaudah buka aja, biasanya juga kamu sengaja buka baju depan aku kan?"
Tama kelabakan, memang benar juga, ia sering mengerjai Rani dengan hal seperti itu, ya siapa suruh Rani lucu kalau lagi panik menutup matanya.
"Enggak, bukan ganti baju. Ayo dong please."
"Yaudah iya, buruan."
Akhirnya ia menutup matanya, untuk beberapa saat tak ada yang terjadi.
"Tama? ayo buruan."
"Iya, iya, sabar dong," ucap Tama seraya mengambil tangan kanan Rani.
"Mau ngapain sih?!"
"Ya Allah, sabar sayang," ucap Tama masih mempertahankan nada lembutnya.
Rani kemudian merasakan sesuatu di masukkan ke dalam jari manisnya, ia sudah menebak pasti itu benda bulat kecil yang Rani tahu apa itu.
Meski Tama belum menyuruhnya membuka mata, namun Rani sudah tak kuasa menahan senyum di bibirnya.
"Udah, sekarang buka mata kamu," suruh Tama.
Benar tebakan Rani, di jari manisnya telah terpasang cincin cantik sekali dengan mata kecil di tengahnya. Meski terlihat simple, namun terkesan elegan dan mewah dalam waktu yang bersamaan.
"Suka nggak?"
Pertanyaan Tama membuyarkan ke takjub kan Rani beberapa saat lalu, ia lantas mengangguk terharu.
__ADS_1
"Suka banget. Makasih ya."
Tama tersenyum lebar sekali, membuat gurat-gurat tipis di mata pria itu terlihat, "Cantik di jari kamu."
Rani tak dapat membendung rasa senangnya, baru kali ini ia mendapat hadiah spesial seperti ini.
"Maaf ya, aku butuh waktu lama untuk pasangin cincin di jari kamu. Seharusnya dari kita nikah waktu itu."
Memang ketika mereka menikah secara dadakan di kampung, tanpa persiapan Tama tak sempat membeli cincin. Pemasangan cincin waktu itu hanya formalitas meminjam milik orang yang entah siapa, itupun Mbak Wiwit yang mencarikan nya.
Tak menjawab Rani justru beringsut mendekati Tama, ia lantas mencium bibir pria di hadapannya.
Hanya kecupan singkat, hingga Tama menahan tubuh Rani agar posisi keduanya tetap merapat.
"Makasih, sa... yang?"
Rani terlihat gugup, membuat Tama kembali menertawakannya.
"Kamu jangan gitu dong," keluh Tama.
"Gitu gimana?" tanya Rani bingung.
"Jangan terlalu gemesin malam ini, aku kan lelaki biasa, aku bisa aja lepas kendali," keluh Tama lagi.
"Terus?" kini Rani tahu kemana arah pembicaraan ini, ia sedikit menyeringai jahil.
Tama menatap Rani dengan muka sedih, "Kita nggak bisa sekarang, aku nggak tega lihat kamu masih sakit."
"Maksud kamu aku nggak boleh gini?"
cup, Rani kembali bermain-main dengan bibir penuh Tama yang entah sejak kapan hal ini berani ia lakukan.
Entah kemana perginya Rani yang polos dan malu-malu itu, tangannya menarik tengkuk Tama semakin mendekat membuat remasan tangan Tama pun semakin menguat di pinggangnya.
Perasaan kecewa, kesedihan, kebahagiaan, yang mereka alami menjadi satu. Penantian Tama benar-benar berakhir.
Rani menikmati apa yang dirinya lakukan bersama Tama sejauh ini, tak ada lagi penyesalan yang tertinggal di hatinya.
Rani jadi teringat, bagaimana jadinya kalau waktu itu dirinya memilih untuk kabur dari rumah, dan menyia-nyiakan pria baik di hadapannya.
Karena kehabisan napas, Tama melepaskan dirinya, "Rani please, kalau kamu belum bisa sekarang tolong jangan siksa aku ya. Ini jahat banget lho."
Rani menatap wajah Tama yang sudah memerah dengan jahil, "Masak sih?"
Namun tangannya kembali ia lingkarkan pada pinggang Tama, Rani menepuk-nepuk pelan punggung Tama agar pria itu sedikit tenang.
"Meski kamu gituin nggak akan tenang aku sayang, ini beda," ucap Tama terdengar seperti anak-anak yang minta es krim.
Rani hanya tertawa mendengarnya, "Makanya jangan mesum."
[]
__ADS_1