MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 30 : P a c k i n g


__ADS_3

Hari ini jadwal Rani adalah packing barang untuk di bawa ke Jakarta, berbeda dengan Tama yang santai karena barangnya hanya sedikit Rani sampai terheran-heran kenapa cowok selalu lebih simple mereka cukup membawa satu tas ransel yang di isi beberapa potong pakaian saja.


Kalau Rani jangan di tanya, ia bahkan harus membawa koper belum lagi printilan-printilan lainnya Ibu selalu membuatkan masakan yang sekiranya bisa tahan lama seperti sambal goreng, kering tempe, bahkan cumi sambal ijo, untuk Rani, meskipun dirinya selalu menolak Ibu selalu bilang, nanti kamu pasti kangen sama masakan Ibu.


Tama sekarang tengah mengikat kardus yang isinya makanan kering beserta rengginang tentunya itu semua Ibu yang menyiapkan.


“Nak Tama, kamu sukanya apa? Biar Ibu carikan atau kalau kamu mau masakan seperti Rani biar Ibu masakin,” tawar Ibu yang kini meletakkan beberapa kotak makanan yang telah terisi lauk pauk.


Tama tersenyum senang, belum pernah ia merasakan momen tersebut namun Tama tak ingin merepotkan Ibu yang sedari pagi sudah di dapur.


“Makasih Bu, tapi Tama nggak pengen apa-apa.”


“Lagian ini sudah banyak Bu, Rani nggak akan habis kalau makan sendiri. Pastilah Rani akan makan semua ini dengan Tama,” ucap Rani yang masih memasukkan bajunya ke dalam koper.


Rani juga merasa kasihan pada Ibu yang sedari pagi sudah sibuk menyiapkan berbagai hal untuk Rani.


“Iya Bu, benar kata Rani. Ibu istirahat saja ya,” bujuk Tama.


Akhirnya Ibu hanya dapat menganguk, perempuan itu turut duduk di samping Rani mengamati anak dan menantunya itu tengah sibuk membereskan barang.


“Kamu bawa barang banyak banget Nduk.”


Rani menatap ruang tengah yang sangat berantakan penuh dengan barangnya, “Iya Bu, Rani juga bingung kenapa bawaan Rani selalu sebanyak ini,” tawa Rani kemudian, “Tapi nanti baju-baju yang Rani pisahin ini tolong kasih aja ke orang ya Bu, soalnya sudah kekecilan.”


Rani menunjuk baju di sampingnya yang telah dirinya pisahkan, dari pada mubazir lebih baik baju itu dapat di manfaatkan lagi oleh orang lain yang membutuhkan.


Ibu meraih baju yang Rani maksud, “Kamu emang nggak bisa make lagi?”


“Enggak Bu, udah nggak muat.”


Ibu mengangguk paham, “Yaudah nanti Ibu kasih ke Mbah Ngatmini, beliau cucunya banyak masih kecil.”


“Oh iya Bu, Rani mau nitip ya buat jajan cucunya Mbah Ngat nanti.”


Rani memang memiliki kebiasaan selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk dibagikan kepada yang lebih membutuhkan, termasuk Mbah Ngatmini yang seorang diri mengurus ke empat cucunya. Sedangkan anaknya sudah merantau ke Kalimantan sampai sekarang nggak pulang, setelah suaminya meninggal dua tahun lalu Mbah Ngatmini harus mencari nafkah sendiri jadi buruh tani di kampung. Bersyukurnya tinggal di kampung biaya hidupnya tak semahal di Jakarta, setidaknya Mbak Ngat tak terlalu terbebani, terlebih lingkungan di kampung yang masih sangat tinggi soasial serta gotong royong. Tak jarang juga Ibu dan orang sekitar memberi Mbah Ngatmini masakan matang.

__ADS_1


“Iya, nanti Ibu sampaikan. Kemaren katanya beliau masuk angin,” kata Ibu.


“Lho, lha udah diperiksa belum?” tanya Rani khawatir.


“Kalau orang kampung mana peduli periksa Ran, kerokan paling juga langsung sembuh.”


Memang di kampung Rani masyarakatnya belum terbiasa untuk periksa ke dokter, kecuali sakitnya sudah parah dan tak kunjung sembuh pengobatan masih menggunakan cara-cara tradisonal.


“Mbah Ngatmini siapa? Mbah kita?” tanya Tama penasaran yang sedari tadi ternyata menyimak pembicaraan Ibu dan anak di hapadannya.


“Ada itu Mbah-mbah sudah sepuh sekali, tapi masih jadi tulang punggung. Rani suka ngasih sedekah buat bantu Mbah Ngatmini,” jelas Ibu.


“Ibu, ngapaian di ceritain sejelas itu,” protes Rani.


“Lha wong Tama belum tahu kok,” Ibu tak kalah protes.


Tama merasa sangat bahagia mengetahui hal tersebut, ia merasa tak salah memilih perempuan baik seperti Rani, ya walaupun terhadap dirinya Rani masih sangat ketus tapi perempuan itu ternyata sangat baik dan peduli dengan orang sekitarnya.


Bapak datang dari luar membawa kantong kresek hitam yang entah apa isinya, “Besok jadi berangkat Nduk?” tanya Bapak yang turut nimbrung.


“Bapak bawa apa itu dalam kresek?” tanya Ibu menunjuk pada kresek hitam yang masih di tangan Bapak.


Bapak kemudian mengengkat kresek tersebut, “Ini pisang, dari Pakdhe Marno katanya biar di bawa Rani buat bekel.”


“Ya Allah, nggak usah Pak buat di rumah saja. Lagian bawaan Rani sudah banyak,” tutur Rani merasa keberatan jika ia harus membawa pisang tersebut.


“Hush, kamu sudah diperhatiin Pakdhemu malah gitu,” omel Ibu pada Rani.


Sebenarnya bukannya nggak mau, tapi Rani ingat pisang makanan yang nggak bisa di tumpuk atau dijadikan satu dengan barang lain, “Perjalanan Rani jauh Bu, bisa satu hari satu malam, nanti pisangnya blonyok.”


“Oh gitu toh,” akhirnya Ibu mengerti maksud Rani.


“Yaudah, kalau nggak mau kamu bawa nanti sore biar di goreng Ibu,” ucap Bapak kemudian.


Rani lalu teringat sesuatu, “Oh iya Pak, Rani mau minta maaf mungkin renovasi rumahnya belum bisa dalam waktu dekat. Rani mau fokus nabung buat lahiran dulu, dan juga buat bayaran sekolah adek-adek.”

__ADS_1


Ketiga orang di sana serempak menatap Rani, memang selama ini Rani yang menjadi tulang punggung keluarganya, kaki Bapak yang sering sakit membuat beliau tak dapat bekerja seperti dulu.


Bapak mengehela napas, “Nggak apa-apa Rani, jangan kamu jadikan beban. Apalagi sekarang kamu sudah menikah, dahukan dulu kepentingan kamu. Nanti kalau bisa Bapak mulai kerja lagi.”


Rani tentunya keberatan dengan hal itu, “Jangan Pak, udah Bapak jangan kerja biar Rani saja yang cari uang. Cuman ya mungkin nggak kaya dulu yang selalu ada lebih.”


“Iya Pak, biar Tama bantu Rani,” tutur Tama tak ingin membuat Bapak khwatir dan juga Rani terbebani sendiri.


“Udah nggak apa-apa, Bapak dapat pesenan dari Pakdhemu buat bikin lemari kok jadi nggak terlalu berat, Bapak kerjain yang sekiranya bisa Bapak kerjakan. Jangan terlalu kamu manjain orang tua ini Nduk,” tutur Bapak sambil berkelakar layaknya orang yang masih muda saja.


Pekerjaan Bapak sebelumnya memang tukang kayu, namun jangan salah karena banyak hasil pekerjaan Bapak seperti tempat tidur, lemari, kursi, dan masih banyak disukai orang, sehingga waktu muda dulu Bapak kerap menerima pesanan dari luar kota.


“Iya Rani, Ibu juga masih bisa bikin keripik dari singkong nanti di bawa Iyo kesekolahnya, jadi bisa buat makan sehari-hari,” Ibu tak mau kalah dari Bapak.


“Udah-udah, nggak ada yang cari uang. Bapak dan Ibu sekarang tanggung jawab Rani,” ucap Rani tegas.


“Dan tanggung jawab Tama,” lanjut Tama kemudian.


“Lho kalian kok larang orag tua, wong kita juga bosen kalau nggak ngapain-ngapain, biarin aja toh, Ran,” kata Ibu.


Rani akhirnya mengalah mau gimapun Ibu dan Bapak punya keinginan sendiri yang sulit Rani larang, meskipun ia tetap keberatan dengan hal tersebut.


“Tapi Rani minta Bapak dan Ibu jangan ngoyo ya, tetap Rani yang ngirimin Ibu dan Bapak tiap bulan.”


“Iya kamu tenang saja,” tutur Ibu.


“Yasudah kalian lanjutin ya, Bapak mau ke Pakdhe lagi,” ucap Bapak kini bangkit setelah meletakkan kreseknya.


“Gusti wong kok pacaran terus sama Pakdhe Marno,” protes Ibu.


Bapak terkekeh, “Lha dari pada sama Ibu, marah-marah terus setiap hari.”


Ibu semakin menggerutu kesal karena tak terima dengan apa yang Bapak katakan, sedangkan Rani dan Tama hanya tertawa melihat kelakuan Bapak dan Ibu itu.


Namun Rani tak sadar Tama memiliki harapan yang besar dalam dirinya, semoga nanti kita bisa begitu ya Ran, meskipun kemudian ia tepis jauh-jauh takut hal itu tak akan pernah terjadi dan hanya menjadi harapan semu.

__ADS_1


[]


__ADS_2