MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 6 : P u l a n g


__ADS_3

“Rani kamu lagi PMS, ya?” hanya satu kalimat itu yang terlontar dari mulut Rafi


meskipun setelahnya ia merutuki diri sendiri, bisa-bisanya nanyain hal kaya gitu.


Mereka telah tiba di depan kost Rani, tak ada percakapan lagi sepanjang perjalanan, Rafi hanya tak ingin mengganggu Rani ia berusaha memberikan waktu bagi kekasihnya untuk menangis agar merasa lebih lega.


Namun tak bisa dipungkiri Rafi sangat ingin tahu apa yang telah membuat Rani terlihat


semenderita itu, atau kekasihnya tengah memiliki masalah dengan orang tuanya? Pikirnya, pasalnya beberapa minggu lalu Rani sempat terlihat murung karena masalah keluarganya.


Keduanya masih berada dalam mobil Rani tak menjawab pertanyaan Rafi, ia hanya diam


menatap jalanan yang masih lenggang pagi itu.


“Sayang?” tanya Rafi lagi.


“Maafin aku,” hanya itu yang terucap dari mulut Rani, dadanya kembali sesak sulit


sekali baginya menceritakan apa yang telah ia alami.


“Maaf untuk?” Rafi meraih tangan Rani yang sedari tadi ia perhatikan mengepal.


Ia cukup terkejut karena tangan itu dingin bahkan kaku, Rafi melepaskan satu-persatu


jemari Rani.


“Sayang kamu boleh cerita apapun sama aku, kamu harus ingat aku ini akan jadi suami


kamu orang yang akan selamanya melindungi kamu,” lanjutnya ia berharap Rani


percaya padanya.


Rani hanya diam menatap Rafi, bagaimana mungkin ia dapat menceritakan perbuatan keji


sahabatnya, dan apakah Rafi akan tetap menerima Rani seperti sebelumnya? Bukankah


Rafi akan menganggapnya perempuan murahan yang tak bisa jaga diri? Rani sudah


sangat kotor, ia bahkan yakin bahwa bukan hanya Rafi pria manapun tak akan


menerima dirinya.


Alih-alih menjawab Rani melepaskan tangan Rafi yang sedari tadi mengusap lembut jari-jemarinya.


“Rafi aku mau istirahat, karena besok harus kerja lagi,” ucap Rani.


Tak ada lagi rona senyuman di wajah Rani keceriaannya telah hilang entah kemana, ada


sesuatu yang tersirat di matanya yang sulit Rafi artikan, akhirnya dari sekian


banyak pertanyaan yang ingin Rafi tanyakan ia urungkan begitu saja.


“Yaudah, kamu istirahat ya. Kalau ada apa-apa langsung kabarin aku,” tutur Rafi


kemudian.


Rani hanya mengangguk, membuka pintu mobil dan meninggalkan Rafi begitu saja.


Semakin lama berada di dekat Rafi membuat Rani semakin merasa sesak, khayalan


hidup bahagia bersama Rafi telah hilang tak ada lagi harapan yang ia miliki.


Rani segera mengunci pintu kamarnya berharap Rafi segera pergi dari sana,


meninggalkannya.


Tuhan mengapa aku harus mengalami hal ini? apa kau begitu membenciku Tuhan?

__ADS_1


Rani menjambak-jambak rambutannya sendiri tak karuan, ia menangis sejadi-jadinya bagaimana


kalau dirinya hamil? Bagaimana masa depan dan cita-cita yang telah ia


rencanakan? semua pertanyaan memenuhi kepalanya.


Rani kali ini memukul perutnya sendiri layaknya orang yang kesetanan ia berharap tak ada


apapun yang nantinya akan hidup di dalam sana. Terdengar gila memang, namun


begitulah yang Rani pikirkan sekarang.


Tangannya yang mulai mengeras tak ia hiraukan, Rani terus memukul-mukul dirinya bahkan ia


menggaruk dengan kasar merasa jijik dengan tubuhnya hingga kulitnya yang putih


berubah menjadi merah sangking kasarnya ia garuk.


Benar-benar bukan waktu yang tepat ponselnya berdering dengan nyaring, panggilan pertama


tak ia hiraukan, namun ternyata ada panggilan masuk lagi masih sama Rani tetap


tak menerima penggilan tersebut.


Seakan dengan sengaja mengganggu Rani ponsel itu berdering kembali, tak ada pilihan


lain Rani kemudian merogoh ponselnya yang berada dalam tas.


Ternyata Ibunyalah yang menelpon setelah ia melihat nama yang tertera di layar ponsel


tersebut, Rani berusaha menarik napas terlebih dahulu menenangkan diri sebelum


menjawab panggilan itu.


“Assalamualaikum,” jawabnya setelah merasa lebih baik.


Rani mengusap sisa airmatanya, seakan ibunya dapat melihat dirinya, “Maaf Bu, aku tadi lagi


mandi?”


*“Lho kok suara kamu bindeng gitu? Apa lagi sakit?”*suara Ibunya


mulai terdengar khawatir.


Berdehem sebelum menjawab, “Enggak kok Bu, aku sehat Alhamdulillah. Ibu kenapa nelpon?”


“Anu, perasaan Ibu kok nggak enak ya, kamu nggak apa-apa beneran?”


Rani menutup mulutnya sekeras mungkin, ia berharap tangisannya yang entah telah


berapa kali hari ini tak terdengar.


“Nduk, kalau kamu nggak terlalu banyak kerjaan mbok ya pulang. Ibu kangen sama kamu.”


Rani sebisa mungkin berusaha agar terdengar baik-baik saja, “Bu, tapi kan bulan


depan Rendi mau bayaran sekolah,” jawab Rani berharap Ibunya menerima alasannya


dengan mengatakan Adik pertamanya yang akan bayaran sekolah.


“Udah kamu jangan terlalu mikirin itu, uang yang kamu kirim kemaren masih cukup,” jawab Ibu berusaha membujuk Rani.


“Lha, Bapak katanya mau renovasi rumah, butuh banyak uang nanti.”


“Jangan terlalu kamu pikiran kemauan Bapak, kamu udah cukup bantu keluarga kita, nduk. Ibu pengen kamu sekarang fokus sama diri kamu aja.”


Rani merasa terharu pasalnya memang Ibunya tak pernah sekalipun membebani Rani, sebagian

__ADS_1


besar memang Bapak yang selalu menyampaikan kebutuhan di rumah.


Meski begitu Rani tak pernah merasa keberatan, ia ingin membantu keluarganya apalagi


Bapak yang sudah tak bekerja karena kakinya yang sering sakit.


*“Emang kamu nggak kangen sama Ibuk?”*desak Ibunya lagi.


“Ya kangen Bu,” jawab Rani, ia tentunya ingin sekali pulang, namun apakah ia siap


menceritakan apa yang telah menimpa Rani ini? Namun dalam kondisi seperti ini


orang yang sangat ingin Rani temui ya, Ibunya.


“Yaudah pulang ya?” bujuk Ibunya lagi.


Rani terdiam sejenak, mungkin saja ia bisa menenangkan dirinya sejenak di kampung


kebutuhan rumah masih bisa menggunakan uang tabungannya.


Terlebih Rani tak yakin dalam situasi saat ini ia bisa fokus bekerja, terutama


mengerjakan project yang telah Mbak Lulu kasih.


“Oh iya, Mbak Wiwit juga mau nikah hari Jumat besok, kamu nerima undangannya kan?”


Ah iya, Rani teringat Mbak Wiwit sepupunya dua hari lalu mengirim undangan elektronik


berbentuk file pdf yang belum sempat Rani buka.


“Iya Bu, aku sampai lupa. Belakangan ini memang lagi banyak kerjaan Rani,” jelasnya berharap


Ibu mengerti.


“Lho ya dibales itu pesannya, nggak enak sama Mbak Wiwit kita masih saudaraan deket kalau sama dia,” tutur Ibu mengingatkan.


“Iya Bu, nanti kalau Rani dikasih izin sama atasan bakal pulang. Lha Bapak mana, kok nggak ada suaranya?” Rani menanyakan keberadaan Bapaknya yang masih tak terdengar, biasanya beliau paling semangat cerita kalau telpon Rani.


*“Bapakmu di tempat Pakdhe Warto, udah pamer katanya rumah mau direnovasi jadi bagus, padahal make uang anaknya nggak malu,” *jawab Ibu bersungut-sungut.


“Yo nggak apa-apa Bu, emang Rani kerja buat Ibu dan Bapak kok, biarin saja. Apa kakinya udah sembuh?”


“Udah. Kemaren kayanya kecapekkan aja habis panen di sawah. Kamu nggak usah khawatir itu Cuma sakitnya orang udah tua.”


“Periksain toh Bu, takutnya kenapa-napa,” tutur Rani, pasalnya ia sangat tahu karakter orang tuanya yang tidak mau ke dokter kalau sakit, katanya mahal mending beli obat di warung langsung sembuh pasti gitu tiap Rani suruh periksa.


“Enggak, nanti juga sembuh. Yaudah Ibu mau masak dulu ya nduk.”


“Yaudah Bu. Ibu sehat-sehat ya di rumah.”


“Iya. Kamu jangan lupa makan dan jangan tinggal sholat.”


“Nggih, Bu.”


“Pulang ya, Nduk?” Bujuk Ibunya yang sudah kesekian kali.


“Nggih, nanti Rani kabari.”


Panggilan kemudian ditutup, hanya dengan berbicara melalui telpon dengan Ibunya membuat


perasaannya lebih baik.


Sepertinya ia memang harus pulang, setahun ini Rani memang belum pulang kampung sekalipun,


untuk menjernihkan kembali pikirannya Rani memutuskan untuk pulang, besok ia


akan coba bicara dengan Mbak Lulu, semoga saja atasannya itu mengerti.

__ADS_1


[]


__ADS_2