MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 79 : S a l t i n g


__ADS_3

Semilir angin malam tampaknya membuat Rani hampir saja tertidur kalau saja Tama tak menyentuh tangannya.


Tama terkekeh, "Kamu ngantuk ya?"


Saat ini mereka tengah di tengah jalan menunggu lampu merah berubah warna, akhirnya hari ini Rani seharian berada di cafe.


Mengamati Tama saat berinteraksi dengan pelanggan, melihat bagaimana Tama dengan cekatan mengantar tiap pesanan, bahkan dengan sabar menghadapi pengunjung cafe yang rewel perkara pesanannya salah.


Yang terakhir tentunya Rani terpesona beberapa kali dengan lihainya jari jemari Tama memetik gitar.


Meski begitu kejadian tadi siang bertemu Rafi sangat menguras tenaga Rani.


"Kamu hari ini pasti capek banget," ucap Tama lagi kembali mengelus pergelangan Rani yang melingkar di perutnya.


Rani tersenyum, "Iya, tapi aku seneng."


"Oh ya?" Tama kembali terkekeh.


Renyah sekali terdengar di telinga Rani, membuat Rani kembali menegakkan tubuhnya.


"Iya. Oh iya, soal tempat tinggal kita," kata Rani dengan nada tenang, sebelumnya mereka sempat membicarakan mengenai tempat tinggal apakah akan menetap di rumah sekarang atau kembali ke tempat kost Rani.


Lampu lalu lintas kembali hijau, pertama Tama harus kembali menarik gasnya.


"Kalau kamu masih pengen tinggal di kost, ya nggak apa-apa. Nanti aku tinggal bilang sama Babe," ujar Tama sedikit meninggikan volume suaranya karena suara mesin kendaraan yang mendominasi jalanan.


"Justru aku mau bilang, aku mau kita tinggal di rumah kamu."


Tama mencoba melihat ekspresi Rani dari kaca spionnya, "Kamu yakin?"


Rani mengangguk, "Iya. Seperti yang kamu bilang, toh kita bisa lebih hemat kalau tinggal di rumah. Daripada tiap bulan harus bayar."


"Iya, kalau tinggal di rumah pengeluaran kita yang biasanya buat bayar tempat tinggal, bisa di tabung. Ya, siapa tahu nanti kita dikasih rezeki punya anak, tempatnya juga lebih proper kan?"


Rani mengangguk lagi, "Iya, aku sekarang ngikut kamu aja deh, kan kamu imamnya."


"Alhamdulillah, aku jadi terharu dengarnya. Jadi makin sayang," gurau Tama..


Rani mencubit pinggangnya, membuat Tama mengaduh, "Sakit sayang."

__ADS_1


"Mulai gombal," gerutu Rani.


"Lho aku nggak pernah gombal, aku beneran sayang."


"Tama," panggil Rani.


"Iya?" Tama sedikit menolehkan kepalanya agar dapat mendengar suara Rani, "Kenapa sayang?"


"Gombal mulu ih!"


Tama tertawa, "Ya ampun, beneran sayang di bilang gombal."


Meski Rani senang bukan main, tetap saja ia ingin terlihat biasa saja, "Lagian kamu, sekarang mulutnya manis banget."


"Ya gimana ya, dapetin kamu tu susah banget Rani. Makanya aku pengen sayangi kamu sepenuh hati, dan aku jaga. Itu juga janji aku ke Bapak. Walaupun aku nggak bisa menjanjikan kebahagiaan dengan ngasih apapun yang kamu mau, tapi aku janji nggak akan kurang-kurang ngasih kasih sayang ke kamu."


Perkataan Tama panjang lebar membuat dada Rani menghangat, bahkan air matanya siap keluar.


"Tapi, apakah kamu bahagia Ran, sama aku sejauh ini?"


Rani berdehem, ia sedikit gugup terlebih angin malam ini kembali terasa dingin di kulitnya.


Usapan lembut di tangan Rani kembali dirinya rasakan.


"Makasih ya," ujar Tama tulus.


"Tapi Tama, apa kamu yakin dengan apa yang Rafi katakan tadi? apa dia sungguh-sungguh dengan perkataannya?"


Tama tak langsung menjawab, ternyata mereka telah sampai rumah.


Masih dengan Rani yang duduk di belakangnya Tama hanya membuka helm, ia lantas memutar sedikit tubuhnya agar menghadap kepada Rani.


"Aku juga nggak yakin awalnya, tapi kalau aku lihat dari keadaan dia yang kacau tadi, em mungkin bisa kita percaya," ujar Tama menghela napas, ia kemudian menatap langit yang terlihat tak ada satupun cahaya di atas, "Walaupun aku khawatir apa yang akan terjadi kedepannya, kita serahin sama yang di atas ya semuanya."


Untuk kesekian detik Rani tak berkedip, sudah yang ke berapa kalinya Tama di tambah angin sepoi-sepoi membuat rambut pria itu acak-acakkan tak karuan, di sinilah Rani akan menikmati keindahan suaminya itu.


"Kamu setuju nggak kalau gitu?" Tama kembali menoleh pada Rani.


"Rani? di muka aku ada apa sih? kok kamu sampai cengo gitu," ucap Tama meraba-raba wajahnya sendiri.

__ADS_1


Rani yang tersadar seketika melompat dari motor, dan berlari masuk ke dalam rumah, namun tersadar kunci rumah ada di tangan Tama.


Tama tak sanggup menahan tawanya, "Kamu kenapa? kok jadi lucu gitu?"


"Anu kunci Tama, aku mau masuk," ujar Rani salah tingkah.


Tama geleng-geleng, "Baru tadi beberapa menit lalu ngomongin hal penting, eh endingnya salah tingkah gitu. Aku masih belum terbiasa lho, sama perubahan mood kamu yang berubah-ubah tiap menitnya gitu."


Rani menganga, apakah ia selama ini terlihat sebodoh itu di hadapan Tama? Demi apapun dirinya sangat malu.


"Kok kamu gitu sih!"


Tama mengambil kunci di tasnya, "Tuh kan, jadi galak."


"Emangnya kalau aku malu salah? kalau aku salah tingkah salah? salah sendiri kenapa cakep gitu kan aku juga bingung harus pasang ekspresi gimana kalau lagi terpeso-"


Rani kemudian membekap mulutnya sendiri, ia menyadari dirinya yang kelewat keceplosan. Sedangkan Tama yang tengah membuka kunci rumah klik, kemudian terhenti.


Sudut bibir Tama berkedut, ia tak dapat menahan senyumannya.


"Jadi karena terpesona nih," goda Tama mulai jahil, "Aku udah bilang belum sih, kalau kamu gemes aku nggak kuat, jadi pengen nyium."


Rani memasang ekspresi sok judes, "Ck! mulai lagi."


Tama menarik tangan Rani, "Untung udah nyampe rumah. Kamu ngomel-ngomel aja terus, biar aku makin nggak kuat trus ngapa-ngapain kamu di dalam."


Rani berusaha menarik tangannya, "Ih! mau ngapain kamu!"


Tama mengedipkan mata jahil, "Ada deh, yuk kita lanjut di dalem sayang. Nggak enak kan nanti di lihat tetangga, terus kita di videoin bisa viral besok."


Rani tertawa, ia akhirnya mengikuti Tama yang masih menuntunnya, entah apa yang akan suaminya itu lakukan padanya, "Bisa aja kamu."


Tama mengerling jahil, "Tapi pertama-tama helm kamu kita buka dulu ya."


Rani kembali tertawa dengan kebodohannya.


Setelahnya entahlah siapa yang memulai lebih dulu, keduanya telah larut dalam dunia mereka, Tama bahkan harus menunduk lebih dalam karena perbedaan tinggi yang mereka miliki.


[]

__ADS_1


__ADS_2