
Rani hampir saja lupa untuk berkedip meyaksikan suaminya yang baru keluar dari kamar mandi
dengan kaos oblong serta rambut yang basah.
Sedangkan Tama tak menyadari hal tersebut, ia dengan santai mengurai rambutnya siap membuat
makan malam.
“Kamu tadi mau masak apa?” tanya Tama mengamati semua bahan yang Rani beli.
Namun karena tak mendengar jawaban dari perempuan yang ditanya, Tama menoleh ke arah Rani, “Ran?
Kamu kenapa bengong?”
Rani yang kedapatan menatap pria itu gelagapan, “Eh, apa?”
“Kamu kenapa sih, ngelihatin aku gitu banget ada yang aneh ya?” tanya Tama menyentuh
seluruh wajahnya sendiri.
Rani sebisa mungkin mengatur ekspresinya agar terlihat normal, “Kamu nanya apa tadi?”
Rani mendekati Tama yang kembali sibuk dengan bahan masakan di dapur, ia tak yakin Tama
dapat memasak.
“Aku tadi nanya kamu mau masak apa?” ucap Tama mengulang kembali apa yang dirinya tanyakan.
“Aku mau masak sayur bayam, sama goreng tempe, yang Simpel-simpel aja sih. Kamu emangnya bisa masak?” tanya Rani kini mengamati Tama yang sudah mulai memetiki sayur bayam.
“Malem-malem gini emang enak makan sayur bayam?” tanya Tama yang sedikit ragu, menurutnya
menu makan malam yang familiar seperti nasi goreng.
Rani menghentikan kegiatan Tama dengan menyentuh lengan pria itu, “Bentar deh emang kamu bisa
masak?”
“Lihat aja nanti,” ucap Tama yakin, “Beneran masak sayur bayam?”
Rani mengangguk, “Orang aku lagi kepengen makan itu, trus pake sambel kayanya enak.”
“Oke deh, yaudah kamu duduk di sana aja,” Tama mengusir Rani dengan menyuruh perempuan
itu duduk di area tempat tidur.
“Enggak ah, aku mau di sini aja.”
Rani dengan setia berdiri di sisi Tama, ia mengamati tiap gerakan Tama yang
menurutnya sangat cekatan.
“Aku grogi kalau masak di liatin,” ucap Tama mulai memotong tempe menjadi bagian
yang lebih kecil.
Rani membuat ekspresi malas, “Dih, jangan lebay deh, ngerasa ikut MasterChef kamu?”
__ADS_1
Tama terkekeh, “Ya grogi aja karena kamu lihatin. Lagian katanya tadi mual nyium
bau bawang?”
“Iya, tapi kalau nggak megang langsung jadi biasa aja,” jelasnya.
Tama menatapnya curiga, “Bohong ya? kamu pengen aku masakin kan?”
“Enggak! Aku beneran mual tadi, kalau nggak percaya tanya aja Ibu,” kesal Rani, pasalnya
dirinya benar-benar tak berbohong akan hal tersebut.
Tama mengehentikan gerakannya, “Iya, iya percaya. Beneran nggak apa-apa ya kamu di
sini, aku mau ngupas bawang nih,” ucapnya menunjuk bawang di tangannya.
“Iya, semoga aman,” ucap Rani kemudian.
“Bener ya?” Tama memastikan sekali lagi apa yang akan dirinya lakukan tak membuat Rani
terganggu.
Setelah Rani mengangguk akhirnya Tama mengupas bawang, dan ternyata benar Rani tak memberikan reaksi apapun.
“Kok kamu nggak mual?” tanya Tama heran.
Rani pun sedikit heran dengan dirinya, “Iya, aku juga bingung, coba aku pegang,” ucapnya, begitu dirinya memegang bawang di tangan Tama, Rani merasakan perutnya akan bergejolak kembali.
Rani lantas langsung masuk kamar mandi, Tama dengan sigap mengurut tengkuk Rani, “Kamu ngapain megang bawang Rani, jadi mual lagi kan.”
Rani terlihat begitu lemas, mungkin memang ini karena dirinya tengah mengandung, “Ya
Tama memijat pundak Rani perlahan, “Nggak mungkinlah aku nggak percaya sama kamu. Udah enakan?”
Rani mengangguk, Tama menuntunnya namun kemudian perempuan itu menyingkirkan tangannya, “Udah aku nggak apa-apa, kamu lanjut aja masaknya.”
“Beneran udah nggak apa-apa? Apa perlu kita ke rumah sakit?” tanya Tama yang masih
khawatir karena muka Rani yang tampak pucat.
“Iya Tama, jangan lebay deh,” ucap Rani berusaha membuat pria itu tak terlalu
memikirkannya.
Tama akhirnya patuh, ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, “Iya, iya.”
Sementara Rani kembali mengamati apa yang pria itu lakukan, “Sebenarnya kamu kenapa sih tadi? Berantem sama siapa?”
Rani tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya, pasalnya ia belum sepenuhnya
mengetahui hidup Tama.
Tama menatap Rani, “Kamu yakin pengen tahu?”
“Iya, makanya aku nanya,” jawab Rani memasang ekspresi serius.
“Sama Rafi,” jawab Tama, setelah ia berpikir lama, biarlah Rani tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Rafi.
__ADS_1
“Rafi?” tanya Rani tak percaya, “Nggak mungkin,” ucapnya lagi.
Tama menghela napas, sudah menduga dengan apa yang akan Rani pikirkan, “Kenapa
nggak mungkin?”
“Aku kenal betul sama Rafi, dia bukan tipe orang yang akan mukulin orang lain, ya kecuali orang itu duluan yang cari masalah sama dia,” ucap Rani melirik Tama.
“Maksud kamu aku cari masalah sama dia?” Tama merasa sedikit kesal, kenapa Rani selalu memihak pada Rafi padahal disini dirinyalah suami Rani.
Rani mengangkat bahunya, “Ya siapa tahu kan? Rafi yang aku kenal bahkan nggak pernah sedikitpun ngomong kasar ke orang lain, dia lelaki baik yang pernah aku temui.”
Rani semakin membuat Tama kesal, pria itu memotong tempe dengan kasar sehingga
mengeluarkan suara kencang, tok tok tok karena berkali-kali mengenai talenan.
“Dia yang cari masalah sama aku Rani, dia masih berusaha ngedeketin kamu, apa kamu nggak sadar?”
“Aku sama Rafi hanya sekedar teman, jadi kamu nggak perlu berlebihan,” kata Rani
keberatan dengan apa yang Tama katakan.
“Terserah kamu deh, kamu mana pernah mikirin aku sih Ran,” ucap Tama pasrah, “Lagian kamu belum cukup kenal aja sama Rafi.”
“Tama, bahkan Rafi nggak pernah ngejelek-jelekin temannya apalagi kamu. Sulit sekali jadi dia yang harus ngelepasin aku, seharusnya kamu tahu itu,” tutur Rani masih tak terima dengan apa yang Tama katakan.
Tama tahu itu, dirinya sangat tahu diri sampai berkali-kali minta maaf pada Rafi, namun apa Rani tahu kalau Rafi semakin bersikap seenaknya tanpa memperdulikan batasan yang seharusnya pria itu lakukan pada perempuan yang statusnya sudah menjadi istri orang lain.
“Iya Rani aku udah minta maaf kok, tapi aku nggak suka aja dia masih ngedeketin kamu.”
“Kamu kenapa bisa negatif thinking banget sama Rafi sih?” Kesal masih membela Rafi.
“Kebalik, kenapa kamu yang selalu negatif thinking sama aku?”
Rani menghela napas, sepertinya setiap hari ada saja yang mereka ributkan, “Udah ah, nggak usah ribet ributin masalah sepele.”
Dan hal tersebut membuat Tama merasa lagi-lagi dirinyalah yang Rani kesampingkan, “Sepele buat kamu, bukan berarti sepele juga buat aku.”
Meski dirinya kesal, namun Tama sebisa mungkin tak meninggikan suaranya, ia hanya mengungkapkan apa yang sebenarnya dirinya rasakan.
Sakit sekali rasanya saat Rani malah membela Rafi di bandingkan dirinya, sedangkan Tama tengah berusaha menjadi sebaik-baiknya pria agar pantas berada di samping Rani.
Setelahnya tak ada lagi yang mengatakan apapun, Rani sibuk dengan pikirannya sendiri begitupun dengan Tama, yang lanjut memasak meski matanya teras lebih perih dari pada sewaktu dirinya mengupas bawang.
Diam-diam Rani melirik Tama, ia bahkan menepuk mulutnya berkali-kali, kenapa juga ini mulut nggak bisa ngerem, kesalnya pada diri sendiri.
Lagi, entah yang kesekian kalinya Rani melukai hati Tama, padahal beberapa waktu lalu Rani berniat tak ingin lebih melukai hati pria itu lagi.
[]
Ps. Makin rumit sekali bukan? gimana nihhh dengan pasutri ini,,,,,,,,
Mau kita lanjutin nggak ceritanya hahahahaha tenang akan ada waktunya bagi Rani benar-benar membuka hati untuk Tama, barusan aja dia sempat tersepona ngeliat Tama yang habis mandi, ayo Rani ngaku deh kamu......
Tapi kira-kira aslinya Rafi gimana ya? Padahal dia tadinya mau menerima dan berusaha merelakan Rani, kenapa sekarang kembali mendekati Rani lagi?
Penulis juga mulai kesel nih sama Rani,,,,,,,,,,
__ADS_1
Udah siap belum kita masuk ke konflik selanjutnya?
Enjoy ya!!!!!