
Seperti yang Tama katakan sebelumnya, sepulang dari rumah sakit mereka akan mampir ke rumah Babe Jerris dan Emak.
Tama ingin mengenalkan Rani, lagi pula ia sudah berjanji dengan kedua orang tua angkatnya untuk membawa Rani ke rumah.
Namun Tama masih belum juga menggunakan uang yang Babe Jerris kasih sebagai hadiah pernikahannya, ia ingin membelikan Rani cincin sebenarnya, namun Tama masih ragu takut Rani tak suka dengan pilihannya apalagiĀ Tama belum begitu paham dengan selera Rani
Emak sangat antusias melihat kedatangannya, apalagi bertemu Rani. Perempuan itu tadi bahkan sampai memeluk Rani berkali-kali karena masih tak menyangkan kalau Tama telah menikah.
Kedua perempuan itu tengah di dapur yang entah membuat apa, namun Rani hanya duduk tak boleh memegang apapun setelah Emak mengetahui dirinya tengah mengandung.
"Tama, ini kok kamu bisa dapat perempuan secantik dan sesopan ini dari mana?" tanya Emak dari arah dapur, sedangkan Tama di ruang tengah bersama Babe menonton bola.
Tama tersenyum malu-malu, "Rezeki anak soleh Mak."
Babe meminum kopi di gelasnya yang nyaris habis, "Jadi sampai sekarang mantannya gangguin elu?"
Tama ikut meminum kopi di gelasnya, beberapa saat lalu memang Tama sempat menceritakan apa yang telah ia alami pada Babe Jerris.
Jerris bukan sekedar pemilik kontrakan yang diketahui banyak orang, dulunya lelaki ini mantan ketua preman Kampung Rambutan dan sekitarnya, sangarnya bukan main. Bahkan Babe sampai sekarang masih memiliki anak buah yang masih setia dengannya. Beberapa bekas tatonya yaitu pedang panjang di area tangan kanannya masih sedikit terlihat.
Jangan tanya bagaimana ketika beliau memasuki area Kampung Rambutan, semua orang kocar-kacir tak berani melihat ke arahnya.
Baru setelah memutuskan menikah Jerris tak lagi menjadi preman karena istrinya bersikeras akan memilih pria lain jika pria yang hampir 60 tahun itu tak berubah.
Bela diri pencak silat, menjadi salah satu ilmu yang beliau kuasai. Sebenarnya Tama sempat belajar sedikit, namun setelah sibuk bekerja ia memilih tak melanjutkan lagi latihannya.
Baru sekarang Tama merasa menyesal mengapa ia tak mempelajari ilmu itu dengan tekun, sehingga harus terima dihajar teman-temannya.
"Iya Be, makanya aku mau minta tolong sama Babe," ucap Tama kemudian.
Jerris mengangguk-angguk paham di kursinya, sorot mata tajamnya yang dulu pernah membuat Tama kecil ketakutan masih tetap sama.
"Lo mau gue bantu apa?"
__ADS_1
"Kalau bisa, Tama pengen anak buah Babe jagain Rani. Soalnya Tama khawatir kalau Rafi bakal gangguin Rani," ujar Tama berharap Jerris mau membantunya, "Tama juga takut, kalau Rafi ternyata nggak berhenti sampai kemaren aja, bisa jadi sampai sekarang dia masih berusaha mau ambil Rani."
"Seharusnya lo yang gue jagain Tong. Lo aja sampai bonyok gini," Jerris memegangi pundak Tama dengan kuat, membuatnya meringis.
"Ya kan Tama laki-laki, bisalah jaga diri. Kalau Rani, perempuan Tama nggak akan tenang kalau ninggalin dia," tutur Tama jujur. Tak ada yang lebih membuatnya takut untuk saat ini, kecuali kehilangan Rani.
Jarris menggeplak kepala Tama, "Kaya gini lo bilang laki-laki? Kok bisa lo jadi anak gue kalau letoy gini Tama."
Tama mengusap kepalanya yang baru saja mencicipi geplakan tangan mantan preman di sampingnya, "Ya ampun Be, kemaren Tama lagi apes aja."
"Babe ngapain mukul kepala Tama, kasian lho dia," kata Ibu yang sudah turut bergabung membawa bakwan goreng.
Rani dibelakang Emak, hanya tersenyum mengamati hal tersebut. Ia melihat Tama yang menepuk-nepuk tempat duduk di samping pria itu menyuruh Rani duduk di sana.
"Ini lho, si Tama malu-maluin anaknya preman kok bisa kalah ngelawan begal."
Tama memang meminta Jerris untuk tak menceritakan hal yang sesungguhnya pada Emak, agar perempuan itu tak mengkhawatirkannya.
"Salah sendiri kenapa dulu mau diajarin silat nggak mau," ucap Emak membuat Tama tertawa.
"Halah, kamu tu ya kenapa dari dulu nggak mau aja Mak sekolahin. Ini ya Ran, susah banget dibilanginnya, Mak udah wanti-wanti pulang sekolah makan ke rumah, ngaji. Nggak usah kerja, nggak usah mikirin biaya sekolah biar kami yang tanggung, tetap aja ngeyel apa-apa mau usaha sendiri katanya," cerita ber sungut-sungut mengingat bagaimana remaja Tama waktu itu.
Jerris turut menambahi membuat Tama tak dapat membela dirinya lagi, "Kami nggak punya anak Rani, jadi pengennya yaudah Tama kami angkat jadi anak sendiri. Tetap nggak mau dia, katanya takut ngerepotin."
"Tama nggak enak sama Babe, sama Emak juga. Lagian kalian udah baik banget sama Tama," tutur Tama.
Rani dengan bakwan ditangannya tersenyum tipis melihat pemandangan tersebut, ia bersyukur ternyata masih ada orang baik di tengah kehidupan Tama yang begitu menyedihkan.
"Kamu selalu gitu, kamu tahu Ran semua dia kerjain. Nyuci mobil, antar jemput anak kompleks depan sekolah, ngajar ngaji anak-anak, dia udah cerita belum? sama apa lagi ya ngecat juga pernah ya Be?" tutur Emak bersemangat.
Rani tertawa mendengarnya, "Iya Mak, dia udah cerita ke Rani, tapi yang ngecat itu belum."
"Pokoknya banyak, semua dia lakuin yang penting halal katanya tuh," kata Emak bersemangat seperti menceritakan anaknya sendiri.
__ADS_1
"Namanya usaha Mak," tutur Tama yang kemudian malu-malu melihat reaksi Rani, perempuan itu ternyata menyimak emak dengan semangat membuat hati Tama menghangat.
"Rani, kalian tinggal di sini aja ya?" tanya Emak kemudian, membuat Rani yang tengah menelan bakwan di mulutnya tersedak.
Tama dengan sigap mengambil air putih, "Pelan-pelan Rani," ucapnya menyodorkan air minum tersebut.
"Kamu itu lho Mak, bikin Rani keselek," ucap Jerris kemudian.
"Iya, maaf ya Rani," Ibu turut menepuk pelan punggung Rani.
"Iya Bu, Rani tadi mau jawab tapi sambil nelen juga, eh malah keselek," jelas Rani polos membuat ketiga orang di ruang tersebut tertawa menyaksikannya.
"Jadi gimana, mau ya tinggal di sini aja?" tanya Emak lagi membuat Tama dan Rani saling berpandangan.
"Rani udah nyaman tinggal di sana Mak," ujar Tama kemudian karena dirinya tahu pasti Rani merasa tak enak hati apabila menolak.
"Di sana kecil kan tempatnya, apalagi kalau kalian punya anak. Mendingan ya di sini," ujar Emak masih berusaha membujuk Tama dan Rani agar mau tinggal bersamanya.
"Kami pikir-pikir dulu ya Mak," ucap Rani kemudian.
"Biarin aja Mak, senyaman mereka mau tinggal di mana," tutur Jerris berusaha memberikan pengertian pada istrinya.
Emak kembali menuangkan kopi pada cangkir Babe, "Iya, tapi kalau bis adi sini aja. Biar rame gitu."
"Nanti tiap minggu Tama ke sini deh Mak, biar Mak sama Babe juga bisa main sama cucunya," ujar Tama membuat kedua orang tua angkatnya itu terlihat berbinar-binar dengan fakta mereka akan memiliki seorang cucu.
"Bener ye Tam?" tunjuk Ibu padanya meminta Tama untuk menepati perkataannya itu.
"Iya, siap Mak."
"Kita mau punya cucu, ya ampun. Nanti gue mau dipanggil nenek, Babe mau dipanggil apa kakak apa engkong?" tanya Emak bersemangat pada suaminya membuat Tama dan Rani tertawa menyaksikannya.
[]
__ADS_1
Ps. cie cieeee