MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 28 : P e r d e b a t a n


__ADS_3

Mata Rafi terasa begitu berat saat dirinya harus terpaksa bangun karena bel rumahnya yang sejak tadi berbunyi tanda ada tama yang datang. Rafi baru tiba di Jakarta pada pukul 06.00 pagi tadi dan ia yang menyetir dari kampung Rani sendirian merasa tubuhnya sangat kelelahan. Akhirnya Rafi memutuskan untuk tidur sepanjang hari


sebelum besok dirinya harus kembali bekerja seperti biasanya karena jatah cutinya telah berakhir.


Betapa Rafi kesal mendapati Elgin ternyata yang sudah mengganggu tidur lelapnya.


“Yaampun lo lama banget sih buka pintunya.”


Elgin menerobos masuk begitu saja setelah Rafi membuka pintu rumahnya, tentunya dengan muka kusut khas orang bangun tidur.


“Lo ngapain kesini sih?” tanya Rafi kesal.


“Gue khawatir kali, mana pager nggak di kunci. Lo gue telponin nggak ngangkat, kan gue takut kalau tiba-tiba lo bunuh diri perkara putus cinta,” cerocos Elgin yang sudah berkeliling entah mencari apa.


Rafi lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu, “Ck! Tidur gue, tadi pagi baru sampe Jakarta. Lo ngapain sih?”


Elgin masih mengelilingi tiap sudut rumah Rafi, “Lo sendirian?”


“Yaiyalah. Bonyok gue udah pindah ke rumah di Kelapa Gading.”


“Rumah segede gini tinggal sendirian, nggak kesepian lo?”


Rafi sudah merebahkan tubuhnya siap melanjutkan tidurnya kembali, “Ya menurut lo aja dah gimana.”


“Orang tua lo udah kaya ngapain lo masih capek-capek kerja?” tutur Elgin yang kini sudah duduk di samping Rafi.


“Hm.” Rafi tak merespon banyak ia hanya bergumam seadanya.


“Eh gue nggak sendirian, Miraa! Lo ngapain sih di luar sini masuk,” suruh Elgin pada seseorang yang ternyata masih di luar.


Rafi yang hampir saja terbawa mimpi kembali membuka matanya lebar, “Ngapain lo ajak sih?”


Elgin menatap Rafi heran, “Yaelah emang kenapa kita kan besti, lagian ni anak mau ikut sendiri nggak nyuruh gue, yakan Mir?”


Mira yang ditanya kini menyembulkan kepalanya dari luar, ia kemudian tersenyum agak kikuk karena menyadari kondisi Rafi yang terlihat sedang kacau.


“Maaf ya, aku boleh masuk kan?” tanyanya meminta persetujuan yang punya rumah.


Rafi kemudian terduduk, “Iya, masuk aja.”


“Kamu kacau banget Raf. Aku udah tahu semuanya dari Elgin.” ucap Mira kini sudah tepat berada di samping Rafi.


Rafi kemudian menatap tajam pada Elgin yang hanya tertawa-tawa tanpa dosa, padahal Rafi sudha memperingatkan jangan sampai temna-temannya yang lain tahu.


“Sorry Raf, kita kan udah temenan lama gue nggak bisa diem aja.”


Rafi menyandarkan tubuhnya, “Yasudahlah mau gimana lagi.

__ADS_1


Mira dapat melihat bagaimana raut terluka Rafi, ia berinisiatif untuk mengelus pelan lengan cinta pertamanya itu.


“Jadi mau kita apain Tama?” tanya Elgin serius seakan siap untuk membuat rencanan perang.


Rafi justru memberikan reaksi yang sebaliknya, “Udahlah, mau gimanapun juga Tama temen kita.”


“Lo masih anggap dia temen? Serius Rafi? Si bangsat itu masih lo anggap teman?” Elgin tak habis pikir dengan Rafi.


“Jangan lupa kalau kita dulu juga sering jahat sama dia Gin,” tutur Rafi mengingatkan.


“Yaelah, itu semua cuman candaan anak SMA biasa,” protes Elgin tak percaya dengan apa yang dirinya dengar.


“Menurut kita candaan, tapi nyatanya itu bikin Tama sakit hati. Udahlah biarin ini jadi urusan gue, kalian nggak perlu ikut campur,” pungkas Rafi.


Elgin ternganga syok dengan apa yang baru saja dirinya dengar, “Kalau itu mau lo ya terserah deh, tapi jangan larang gue buat ngasih pelajaran ke orang yang udah jahat sama sahabat gue.”


Rafi tak ingin memperpanjang perdebatannya, sehingga ia tak merespon lagi apa yang Elgin katakana toh baginya mungkin saja itu hanya emosi sesaat, terlebih Elgin juga sama dekatnya dengan Tama sama seperti dirinya.


“Apa yang Elgin bilang benar Rafi, Tama sudah jahat banget sama kamu,” tutur Mira turut menanggapi pembicaraan dua pria di hadapannya.


“Udah biarin aja Mir, sok baik si Rafi,” kesal Elgin.


“Bacot! Udah kalian pulang aja sana, mau tiduru gue,” usir Rafi.


“Rani gimana Raf?” tanya Mira kemudian.


“Apa Rani akan ke Jakarta lagi?” tanya Mira lagi.


“Aku nggak tahu, kemaren setelah mereka menikah aku langsung balik ke sini tanpa bicara apapun lagi,” ujar Rafi.


“Lo masih bersedia menyaksikan pernikahan Rani sama Tama? Serius?” tanya Elgin tak percaya.


Rafi mengangguk, walaupun terdengar bodoh mungkin tapi itulah yang dirinya inginkan setidaknya dirinya menyaksikan salah satu momen dalam hirup Rani.


“Semua pasti berlalu Raf,” ujar Mira yang kembali mengelus pelan lengan Rafi.


“Gila lo, gue nggak nyangka lo sekuat itu. Kalau gue jadi lo, bakal gue obrak-abrik pernikahannya kemaren,” tutur Elgin yang emosinya semakin meningkat.


Rafi memejamkan matanya, teringat begitu jelas bagaimana saat Rani resmi menjadi


istri orang lain dan bukan dirinya.


“Aku masih nggak nyangka Tama sejahat itu,” tutur Mira tak habis pikir.


“Tenang Raf, masih banyak cewek lain. Lagian lo udah cakep, mapan, anak orang kaya, pasi banyak cewek yang ngantri, iya kan Mir?” Elgin meminta persetujuan Mira, yang hanya di jawab anggukan oleh perempuan dengan rambut sebahu itu.


“Nggak ada yang seperti Rani,” ucap Rafi masih memejamkan matanya.

__ADS_1


“Yaelah, banyak. Nanti gue cariin deh, kalau perlu gue seleksi, lo tinggal catet aja kriterianya apa aja.”


“Nggak perlu. Gue Cuma mau Rani,” tukas Rafi.


“Yaelah masih aja lo ngarepin Rani. Lagian ya, kalaupun hubungan kalian berlanjut akan susah dapet restu dari bonyok lo kali,”


Rafi serta Mira serempak menatap Elgin dengan tatapan bertanya apa kiranya yang akan membuat hubungan Rafi dan Rani tak direstui.


“Kesenjangan sosial, lo orang kaya bro, Rani? Tahu kan jawabannya,” jelas Elgin.


Seketika bantal yang sedari tadi di pegang oleh Rafi melayang ke muka Elgin, “Bacot! Meskipun Rani bukan orang kaya dia selalu berjuang buat keluarganya, gue salah satu orang yang sangat bangga sama dia. Nggak kayak lo yang kaya karena duit orang tua.”


Rafi sudah sangat kesal, bahkan kini rasa kantuknya sudah hilang sepenuhnya setelah mendengar perkataan Elgin.


“Sabar Rafi, Elgin cuman bercanda,” ucap Mira menenangkan Rafi.


“Berandanya nggak lucu, udah sana kalian cabut deh! Gue lagi kesel banget ni,” tutru Rafi bersungut-sungut.


“Yaelah, yuk Mir cabut. Kita kan bersikap gini karena peduli sama dia, kenapa malah sewot kaya anak perawan PMS,” cibir Elgin tak terima dengan sikap Rafi.


Akhirnya Elgin dan Mira meninggalkan Rafi yang berusaha menstabilkan emosianya, keadaan hati yang tengah terluka serta rasa lelah yang ia rasakan membuat apapun yang dikatakan temannya tak berarti apa-apa, karena saat ini yang Rafi butuhkan hanya waktu sendiri untuk menenangkan diri.


Sedangkan di tempat lain kini perempuan yang membuat hati Rafi tak karuan tengah bercengkraman di ruang tengah bersama keluarganya.


“Jadi kalian mau balik ke Jakarta kapan?” tanya Bapak setelah meneguk teh di gelasnya.


Rani yang saat ini tengah asik memakan kacang bawang buatan Ibunya melirik Tama di sampingnya, namun Tama menyerahkan semua keputusan pada istrinya itu.


“Besok lusa Pak, Rani sudah terlalu lama ambil cutinya,” jawab Rani.


Ibu datang dari arah dapur membawa pisang goreng untuk cemilan malam mereka, “Lha nanti tetap tinggal di tempat kamu yang sekarang Nduk?”


Rani mengangguk, “Kalau Rani iya Bu, sudah nyaman soalnya. Ibu kostnya juga baik, begitupun dengan lingkungannya.”


“Lho, kok kalau kamu, lha Tama kamu suruh cari rumah sendiri gitu?” protes Bapak yang mengingatkan Rani bahwa dirinya sekarang sudah tidak sendiri lagi.


Rani menepuk jidatnya, ia sampai lupa bahwa pria disampingnya ini sudah sah tinggal satu atap dengannya. “Ya terserah dia mau di mana, tapi kalau Rani maunya tetap di tempat sekarang.”


“Aku palingan ngikut kamu Rani, tapi apa nggak masalah kalau kita tinggal di kost kamu bukan apa-apa ya, apa boleh kostan tempat kamu sekarang untuk pasangan suami istri?” tanya Tama memastikan.


“Iya, Nduk. Apalagi tempat kamu kecil kan, nanti kalau kamu melahirkan tempatnya sempit gimana?” Ibu khawatir kost Rani tidak muat menampung anak dan menantunya, terlebih Rani tengah mengandung.


“Di kost Rani sekarang nggak masalah kalau suami istri Bu, ada kok tetangga Rani yang jugagitu,” jelas Rani.


“Iya Bu, nggak masalah senyamannya Rani saja. Kita akan mulai semuanya dari awal, Tama sekarang mengutamakan Rani saja.”


Tama berusaha menengahi agar taka da berdebatan lagi antara anak dan orang tua di hadapannya. Bapak dan Ibu menyetujui hal tersebut, semoga saja ini dapat menjadi awal yang baik bagi dirinya dan Rani.

__ADS_1


[]


__ADS_2