
Seperti yang telah Bapak dan Ibu katakan kemaren, ternyata mereka langsung pulang ke kampung kembali di pagi harinya.
Rani dan Tama mengantarkan tepat pukul 08.00 wib, karena ternyata suami Mbak Wiwit memesankan tiket kereta pulang sekalian.
"Bu, kenapa cuman sebentar di sini nya," keluh Rani dengan memeluk Ibunya.
"Iya, nanti kalau adekmu libur panjang ya, Ibu kesini lagi inshaallah."
Ibu menatap Rani lekat, kemudian pandangannya jatuh pada jari Rani yang masih menyentuh kedua tangannya.
"Nduk, ini?"
Rani mengikuti arah pandang Ibunya, ia lantas tersenyum, "Iya Bu, dikasih Tama."
Rani berusaha berbisik agar tak terdengar oleh Tama yang berjarak beberapa meter mengurusi tas, dan barang bawaan lainnya.
Ibu mengerling jahil, "Cieee, baik banget ya Nak Tama itu, romantis pula."
Rani mengangguk, Ia tak dapat menahan senyumannya.
"Semoga keluarga kecil kamu selalu bahagia ya Nduk," tutur Ibu memeluk erat Rani.
Rani baru menyadari bahwa ia sangat merindukan kehangatan pelukan Ibu.
"Semuanya sudah siap," ujar Tama mendekat bersama Bapak di sampingnya.
"Kalian hati-hati ya di sini, apapun yang terjadi nantinya tolong kabari Bapak."
Bapak menggaruk-nggaruk kumisnya yang mulai menebal, beliau terlihat mulai gusar. Rani baru menyadari hal ini, Bapaknya itu selalu menutupi kesedihan beliau dengan salah tingkah, entah menggaruk kumis atau mengetukkan tangannya ke tangan lainnya.
"Iya Pak, tapi semuanya udah selesai. Bapak nggak perlu khawatir lagi," ucap Rani lembut.
"Nggak bisa gitu, buktinya kejadian kemaren terjadi di luar prediksi kan? kalian harus tetap waspada. Bapak nggak mau ada yang kalian sembunyikan nantinya."
Rani sudah membuka mulutnya siap menjawab, namun Bapak lebih dulu melanjutkan apa yang beliau sampaikan.
"Nggak pokoknya kalian harus tetap mengabari Bapak, apapun yang terjadi. Bapak tahu kamu khawatir Bapak akan khawatir dan kepikiran, tapi Bapak akan lebih sedih kalau terjadi sesuatu pada kamu, Bapak malah kaya orang bodoh yang nggak tahu menahu apapun," lanjut Bapak kali ini terlihat serius.
__ADS_1
Tama menyentuh tangan Rani, sebelum dirinya sempat menjawab.
"Iya Pak, Tama bakal ngabarin Bapak dan Ibu."
Akhirnya Tama mengiyakan, keinginan Bapak. Meski Rani paham betul apa yang sebenarnya Bapak inginkan, ya tetap saja Rani hanya mengkhawatirkan kesehatan pria paruh baya yang telah membesarkannya.
"Iya Pak."
Akhirnya hanya kalimat tersebut yang keluar dari mulut Rani, terlebih kereta ke Boyolali telah datang membuat Bapak dan Ibu harus segera bergegas jika tak ingin ketinggalan.
Bapak kini beralih pada Tama, menantu satu-satunya saat ini karena hanya Rani yang baru menikah untuk sekarang.
Seperti biasa beliau akan menepuk pundak Tama, "Bapak percaya kamu bisa jaga anakku Tama, apalagi setelah apa yang terjadi. Semoga kamu nggak pernah berubah sampai kapanpun."
Tama menunduk, namun tersirat senyum diwajahnya, dirinya merasa bahagia karena Bapak tak sedikitpun menyesal telah menyerahkan putrinya, namun juga ada sedikit Rasa khawatir dalam dirinya apakah ia bisa menjaga Rani selamanya?
"Pak, terima kasih suah percaya sama Tama. Tapi, Tama tentunya tetap butuh doa dari Bapak, agar dapat menjaga Rani, dan keluarga kecil ini nantinya."
Dan sudah dapat ditebak apa yang terjadi selanjutnya, Bapak memeluk Tama seperti dejavu, Rani dan Ibu langsung berpandangan.
Kedut mata beliau menandakan akan menangis membuat hati Rani menghangat.
"Ibu dan Bapak pulang ya, kalian jaga diri," ucap Ibu melambai sebelum masuk ke dalam kereta.
"Kalau sudah sampai kabari ya Bu," ujar Rani turut melambaikan tangannya.
Rani tak mengalihkan pandangan nya, hingga Bapak dan Ibu hilang di tengah kerumunan penumpang kereta lainnya.
"Kita pulang?" Tama menyentuh tangan Rani.
Rani menoleh setelah lamunannya buyar, menatap kereta yang meninggalkan gerbong.
Rani menghela napas, "Kamu harus kerja kan?"
"Iya, yuk."
Tama meraih tangan Rani, yang kemudian ia genggam sepanjang perjalanan ke parkiran.
__ADS_1
Terima kasih kepada Babe Jerris yang telah meminjamkan Tama mobilnya, sehingga mereka dapat mengantar Bapak dan Ibu.
"Kamu masih di kasih libur sama Mbak Lulu kan?" Tama menghentikan langkahnya untuk sekedar menatap perempuan di sampingnya.
"Iya," ucap Rani lemas, mengingat dirinya akan sepanjang hari di rumah sendirian.
Tama berbinar ada ide di kepalanya, "Gimana kalau kamu ikut aku aja?"
"Hmm? ikut kemana?"
"Ikut aku kerja," ucap Tama bersemangat.
"Boleh memangnya? Jangan ah, nanti aku malah ganggu kamu lagi."
Rani takut mengganggu kerja suaminya itu.
"Nggak apa-apa dong, tenang aja nanti aku sediain satu kursi khusus buat kamu," ucap Tama masih bersemangat.
Rani kembali menggeleng, "Jangan ih, nanti nggak enak sama Retno sama yang lain juga."
Tama terkekeh, "Udah biarin aja, kita bikin Retno panas sekalian biar dia mupeng dan nyari cowok."
Rani memukul tangan Tama, "Ih! dasar usil banget sihhh!"
Tama tergelak, "Nggak apa-apa, biar dia ngomel-ngomel nanti. Lagian katanya Rego mau ketemu kita."
Rani mengangkat wajahnya, "Rego?"
Pasalnya memang kasus kemaren masih dalam proses penyelidikan, kalau Rego ingin menemui mereka apa ada sesuatu yang akan terjadi.
"Apa ini tentang Rafi?"
Tama mengangkat kedua pundaknya, "Mungkin."
Meski langkah kakinya masih terus mengikuti langkah Tama, namun pikiran Rani tak tenang, mungkinkah ada kendala, apakah akhirnya Rafi akan lolos begitu saja seperti sebelumnya.
[]
__ADS_1