MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
Extra Part


__ADS_3

Setelah lelah beraktivitas seharian Rani hanya bergelung di tempat tidur, bahkan untuk membersihkan diri pun Rani merasa terlalu malas.


Ia mengelus perutnya yang menyembul, kini kehamilannya memasuki usia 24 minggu.


Rani tersenyum mengingat bagaimana Tama melonjak senang setelah melihat dua garis di atas alat kecil yang telah Rani celupkan pada urinenya.


Setelahnya pria itu semakin tekun bekerja, semua pekerjaan diambil, termasuk antar jemput anak sekolah kembali ia lakukan.


Bahkan saat mendapatkan hari libur, Tama akan berkerja apapun yang bisa pria itu lakukan, katanya karena tak ingin anaknya hidup susah seperti Bapak dan Ibunya.


Waktu Rani bilang jangan terlalu ngoyo karena Rani pun akan berkerja untuk menghidupi anak mereka kelak, malah Tama menyuruh Rani saja yang berhenti kerja agar ia tak kelelahan.


Rani tentu menolak, lagi pula ia tak betah tinggal di rumah hanya duduk-duduk saja.


Setidaknya Rani selalu merasa hidupnya lebih bersemangat saat berkutat dengan pekerjaannya, saat ini.


Lamunan Rani buyar saat sentuhan terasa di perutnya.


"Mandi dulu ya? udah aku siapin air hangat," ucap Tama lembut, yang kini berganti menciumi perut buncit Rani.


Rani memasang wajah cemberut, "Anaknya aja terus yang di sayang-sayang."


Tama tergelak, ia lantas mengecup bibir Rani yang telah mengerucut sempurna.


"Masa Ibu cemburu dek, sama kamu," kekeh Tama kembali pada perut Rani, seolah anaknya itu dapat diajak berbicara.


Rani memiringkan tubuhnya membelakangi Tama, agar pria itu tak bisa mengadu lagi pada anaknya.


Tama tergelak, ia tak terkejut dengan tingkah laku manja Rani. Waktu kehamilan pertama juga Rani bersikap seperti ini.


Ya walaupun istrinya masih gengsi untuk mengakuinya, Tama tahu sebenarnya karena Rani ingin diperhatiin.


Tama merebahkan tubuhnya tepat dibelakang Rani.


Ia kemudian mengecup tengkuk istrinya yang masih terhalang rambut.


Tangannya ia gerakkan mengelus-elus perut Rani, kemudian beralih memeluk tubuh istrinya yang sedikit mulai berisi.


"Nggak usah pegang-pegang," omel Rani, namun tangan Tama tak ia tepis.


"Lah kok gitu, aku kan pengen sayang-sayang kamu."


Rani memejamkan matanya, namun hatinya masih bergemuruh. Jangan tanya kenapa, ia sendiri tak tahu. Inilah hormon orang hamil yang terkadang membuat Rani juga sebal.


"Nggak usah sayang-sayang!"


Tuh kan, padahal Rani seneng banget sebenarnya, tapi yang keluar dari mulutnya malah kata-kata menyebalkan.


Untungnya Tama punya stok kesabaran yang tak terbatas.


"Iya deh maaf, aku juga sayang kok sama kamu. Mulai hari ini, saat ini engkau cintanya aku ....... "


Tama bernyanyi menirukan sepenggal lagu yang tengah viral di sosial media.


"Kemaren-kemaren enggak?!"


Haduh, Tama merasa kali ini idenya gagal. Padahal tadi niatnya biar romantis.


"Ya nggak gitu dong sayang, dari awal ketemu juga kamu udah cintanya aku," bela Tama.


Merasakan Rani yang masih tak bereaksi Tama dengan jahil menenggelamkan seluruh wajahnya di tengkuk, Rani.


"Mandi dulu sayang, nanti makin malam dingin lho."


"Nggak mau, males!"


"Kok males, bau acem nanti."


Rani beringsut menjauh, "Nggak usah deket-deket kalau gitu!"

__ADS_1


"Hei, hei, jangan gitu dong," ujar Tama menarik lengan Rani lembut agar perempuan itu telentang sepenuhnya.


Setelah posisi Rani berubah, Tama menyangga kepalanya dengan tangannya agar lebih leluasa menatap wajah Rani.


"Lucu banget deh kalau lagi cemberut," ucapnya dengan bibir tersungging ke atas.


Rani tak berani membalas tatapan Tama, "Nggak ada lucu-lucunya!"


Tama merapikan rambut Rani yang menutupi dahi, "Kamu kenapa sih sayang?"


Rani berdecak, "Nggak tahu, sebel!"


Tama tergelak, "Kan udah aku bilang kalau kamu ngomel gini makin gemesin."


Tama menciumi kedua pipi Rani, membuat Rani sedikit merasa lebih baik.


Emosinya seperti menurun, apalagi saat Tama mencium dahi, lalu beralih pada kedua kelopak matanya, dan yang terakhir di bibir nya.


"Udah mendingan?" Tanya Tama setelah menghentikan kegiatannya.


Rani berdehem membasahi kerongkongan untuk menutupi rasa gugup, saat napas Tama terasa menyapu bagian wajahnya.


Meski Tama sudah sering melakukan hal tersebut, tetap saja Rani merasakan kegugupan saat wajahnya sedekat ini dengan pria itu.


"Dikit," cicitnya pelan membuat Tama terbahak.


"Ck! ketawa mulu deh!" Rani kembali kesal, emangnya dia tengah melawak? selalu saja Tama tertawa seperti itu saat bersama dengannya.


"Siapa suruh lucu."


"Bapak-bapak receh, polll!"


Tawa Tama kembali berderai, namun kemudian ia menghentikannya melihat wajah Rani yang kembali masam.


"Kita makan di luar aja mau nggak? biar kamu relaks cari angin segar gitu," usul Tama berharap hal itu dapat membuat suasana hati Rani membaik.


"Kita makan sate di depan, masak kamu nggak mau?"


"Nggak. Lagi nggak pengen."


"Terus maunya apa?"


"Nggak tahu!"


Tama menghela napas, ternyata tak semudah itu membujuk Rani.


Ia kemudian bangkit, mungkin istrinya lelah makanya uring-uringan.


Tama berinisiatif memijit pelan kaki Rani, berharap hal itu dapat membantu.


Setelah beberapa saat keduanya diam, Tama teringat sesuatu, "Sayang minggu ini pernikahan Retno, kita datang ya? kamu mau datang kan?"


"Iya," jawab Rani sekedarnya.


"Eh tapi kalau kamu capek nggak masalah aku dateng sendiri," ujar Tama kemudian.


"Enggak. Retno udah baik banget sama kita, masak aku nggak datang di hari bahagianya. Apalagi kalau kamu datang sendiri nanti ada yang ngira kamu masih perjaka ting-ting lagi."


Tama seketika tertawa keras, satu lagi, semenjak Rani hamil perempuan itu lebih posesif.


Bahkan saat Tama dapat pelanggan antar jemput anak perempuan SMA, yang bisa dibilang remaja. Rani ngambek seharian padanya.


"Aku akan bilang dong, kalau aku udah taken, udah punya istri di rumah."


"Tapi tetap aja modelan kaya kamu gitu sering bikin cewek-cewek halu buat dapetin kamu."


"Masak sih?" Goda Tama.


"Iyalah! emang kamu nggak sadar?"

__ADS_1


"Enggak tuh," kekeh Tama.


"Setiap aku jalan sama kamu, cewek-cewek nggak berhenti lihatin kamu. Padahal ada aku segede gini di samping kamu."


Di usia Tama yang sudah mendekati kepala tiga, anehnya pria itu semakin menawan, berbeda dengan Rani yang mulai insecure karena berat badannya bertambah, bahkan kerut-kerut wajahnya mulai terlihat.


Tama mengelus dagunya, "Kok aku bisa nggak sadar ya. Makanya kamu jagain aku dong biar nggak diambil orang lain."


"Ya kamu harusnya tahu diri udah punya istri nggak usah tebar pesona!"


Tama mengernyitkan dahinya, "Aku nggak pernah tebar pesona lho."


"Itu muka kamu tebar pesona terus," tunjuk Rani pada wajah Tama.


"Ya, bukan salahku kalau aku tampan, toh?"


"Kesel aku tiap keluar, mana cewek-cewek cantik semua yang curi-curi pandang ke arah kamu."


Tama merangsek mendekati Rani kembali, "Maaf deh ya," ia mengusap pipi Rani, "Kalaupun diluar sana banyak orang yang ngelihatin aku kaya gitu, tapi tetep aja cuman kamu yang ada di mata aku Rani."


Rani tergagap ia hanya bisa terdiam, perkataan Tama membuat hatinya menghangat.


"Udah ya, jangan ngambek lagi dong. Udah cukup buat hari ini."


Rani masih diam, namun dalam hatinya merutuk dirinya sendiri karena sikap kekanak-kanakannya, apalagi setelah mendengar isi hati Tama panjang lebar.


"Aku tadi cepet-cepet pulang biar bisa ketemu kamu, kita kan beberapa minggu belakangan sibuk. Tiap aku pulang kamu udah tidur kecapekan, pagi berangkat kerja. Nggak ada waktu buat kita bermesraan, jadi udah ya ngambeknya mumpung besok minggu lho sayang. Kamu nggak mau kita ngapain gitu?"


"Emang mau ngapain?" Rani bertanya polos.


"Ya ngapain aja, mau lanjut sayang sayangan di kamar mandi?" Tama membelalakkan matanya melihat jarum jam di atas meja, "Ya ampun udah jam sembilan sayang, kamu nanti bisa sakit mandi malam."


Tama buru-buru berlari ke dapur mengambil air hangat yang sudah hampir dingin dan menuang nya ke dalam baskom.


Tak lama membawanya ke kamar, ia lalu mengambil handuk kecil dari lemari.


"Mau ngapain?" Rani tampak bingung, namun ia tak beranjak karena tubuhnya terasa terlalu berat untuk sekedar duduk.


"Udah kamu diem aja ya, aku lap aja deh badan kamu. Nggak usah mandi."


Rani tak banyak protes, apalagi saat Tama membuka satu persatu pakaiannya dengan hati-hati seolah Rani bayi yang baru lahir.


"Anak pinter," ucap Tama melihat Rani yang menurut mengangkat tangannya agar blouse yang ia kenakan bisa ditanggalkan.


Namun semua itu tak berlangsung lama, apalagi yang dilakukan Tama sekarang malah menciumi sekujur tubuh Rani, tiap kali pria itu hendak mengusap bagian tubuhnya dengan handuk basah.


Rani tertawa lepas karena merasa kegelian, "Tama! yang ada aku masuk angin kalau gini."


Karena ya, akan menghabiskan waktu lama jika Tama melakukan hal tersebut dengan curi-curi cium, sedangkan Rani keburu kedinginan.


"Ya sudah nggak aku lanjutin deh."


Rani kira Tama akan berhenti melakukan hal-hal menggelikan itu, namun yang ada malah Tama menyingkirkan baskom beserta handuk yang ia lempar entah kemana.


Ia kemudian meraih selimut untuk menutup seluruh tubuh Rani sebelum dirinya sendiri masuk kedalam selimut, melanjutkan apa yang Tama maksud dengan bermesraan.


"Katanya aku bau acem?" Rani berusaha menggoda Tama.


Tama yang telah memejamkan matanya karena menciumi leher Rani bergumam hampir tak terdengar, "Nggak masalah. Aku suka."


Rani tak lagi banyak protes, ia kini menerima dengan senang hati apa yang Tama lakukan.


Rani jadi merasa bersalah karena telah bersikap seperti anak-anak saat horman bandel menguasai dirinya.


"I love you, Tama."


Bisik Rani sebelum ia hanyut pada sentuhan Tama di kulitnya.


Tanpa pengaruh alkohol atau obat apapun itu, Tama sudah cukup bisa menyenangkan dirinya, dengan hal-hal yang tak pernah Rani bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2