MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 70 : K e c u p


__ADS_3

Tama membuka pintu perlahan berharap Rani tak terbangun, ia hanya tak siap jika Rani akan histeris seperti sebelumnya.


Setelah Babe dan Emak pergi untuk mencari sarapan Tama memilih mengecek keadaan Rani.


Ia tatap lekat perempuan yang entah sejak kapan menjadi seluruh alasan hidupnya tetap bertahan.


Tangan Tama bergerak merapikan anak rambut Rani, ia usap sisa air mata di pelupuk mata istrinya itu.


Masih ada sedikit ruang di samping Rani, membuat Tama memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sana.


Ternyata perempuan itu menyadari kehadirannya.


Rani memiringkan tubuhnya agar menghadap Tama, meski tak ada lagi air mata di wajahnya, tetep saja Tama merasakan bagaimana hancurnya Rani saat ini, dari sorot matanya.


Rani mengangkat tangannya menyentuh seluruh wajah Tama.


Mulai dari dahi pria itu, tulang hidung, hingga ke bibirnya, Rani seakan mengukir kan sesuatu di sana.


"Apa kalau anak kita lahir akan mirip sama kamu ya?"


Tama meraih tangan Rani, "Mungkin," jawabnya, kemudian ia kecup tangan Rani, "Atau mungkin, mirip kamu."


Rani kembali sendu, "Maaf Tama, maafin aku nggak bisa jaga anak kita,,,,,, mafin ak,"


Rani tak dapat melanjutkan lagi kalimatnya karena bibirnya yang kini gantian Tama kecup.


Meski awalnya hanya kecupan ringan, Tama kembali menempelkan bibirnya, menuntun Rani perlahan agar mereka dapat saling menyalurkan emosinya.


Namun Rani masih tak dapat menggerakkan mulutnya, ada rasa aneh menjalar begitu saja di seluruh tubuhnya, karena ini kali pertama bagi dirinya.


Setelah Tama menjauhkan tubuhnya, baru Rani dapat mengambil napas dengan lega.


"Aku nggak mau kamu nyalahin diri sendiri lagi. Sekarang tugas kita berdoa, kalau memang ini yang terbaik, kita bisa apa Rani? yang di atas lebih tahu mana yang terbaik untuk kita."


Rani memejamkan matanya saat sesak itu kembali muncul.


"Rani, aku juga sama hancurnya dengan kamu. Kita harus bisa saling menguatkan, anggap aja ini cobaan buat kita, biar kita lebih jagain anak kita nantinya. Aku baru sadar kalau selama ini nggak pernah sekalipun ngobrol sama jabang bayi di perut kamu, mungkin hal itu juga yang bikin dia kesepian," kenang Tama dengan wajah sedihnya.


"Itu karena aku egois Tama, aku nggak ngasih izin kamu. Aku ngikutin ego aku sendiri, yang masih benci sama kamu," lirih Rani masih menyalahkan dirinya sendiri.


Tama kembali mengecup bibir Rani, membuat perempuan itu menutup mulutnya.


"Tama, aku serius!"


Rani sekarang tampak kesal dengan apa yang Tama lakukan, beginilah cara pria itu menyelesaikan masalah? batinnya.

__ADS_1


"Pokoknya kalau kamu masih nyalahin diri sendiri aku nggak akan berhenti," tutur Tama kembali mengecup bibir Rani yang tertutup tangan perempuan itu.


"Tama!" Rani membentak nya, namun tak terdengar bentakan sama sekali di telinga Tama, karena suara Rani yang masih tampak begitu lemas.


"Iya, iya. Karena kakak harus lebih dulu ke surga, nanti kita lebih perhatian sama dedek ya," bujuk Tama mengelus pinggang Rani, membuat tubuh Rani mau tak mau semakin merapat padanya.


Rani menyatukan kedua alisnya, bingung dengan maksud Tama, "Dedek?"


Tama sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat perut Rani, "Maksud aku kita nanti lebih perhatian lagi sama dedek, kalau dia udah ada nanti," ucap Tama mengelus perut Rani.


Rani memukul pelan tubuh Tama, "Kamu mulai lagi deh!"


"Emangnya,,,,, kamu nggak mau bikin lagi," seloroh Tama membuat Rani kembali menjerit kesal.


"Tama!" sentak Rani memukul Tama lagi.


Tama terkekeh, setidaknya Rani terlihat lebih baik sekarang, ia usap pelan goresan di samping bibir Rani, "Kita saling nguatin ya sayang. Aku takut banget kehilangan kamu."


Rani mengangguk pasrah, ia tahu betul saat ini bukan hanya dirinya yang terpukul tapi juga Tama.


"Apa yang udah mereka lakukan sama kamu Rani?"


Tama kembali mengelus lembut wajah Rani yang masih terlihat bekas goresan di sana.


"Oh iya, mereka sekarang gimana?"


Tama mencium bagian dahi Rani yang sedikit ada luka goresan di sana.


"Tama?"


"hmm" gumam Tama masih sibuk dengan kegiatannya. Ia kembali menciumi wajah Rani di bagian lainnya yang tampak memerah.


"Tama!" Rani menahan wajah Tama agar berhenti.


Tama menatap Rani sedih, karena menghentikan kegiatan itu.


"Mereka udah ditangkap sayang, ternyata malam itu Waren yang ngerencanain semuanya, sampai aku melakukan hal jahat ke kamu," ungkap Tama menunggu reaksi Rani.


Namun perempuan itu masih tak merespon, sampai Tama melanjut kembali ceritanya.


"Waren, dia taruh obat di minuman aku. Dan dia juga yang nyuruh aku buat lecehin kamu. Sedangkan Rafi dan yang lainnya, ditangkap karena udah menculik dan dugaan penganiayaan terhadap kamu. Apa kamu siap kalau nanti polisi minta keterangan dari kamu, untuk keperluan penyelidikan?"


Sebenarnya keberatan dengan hal tersebut, karena Rani sekarang sudah sangat tertekan dan ini Tama sampaikan pada Rego melalui pesan tadi.


"Aku nggak keberatan. Biar dia dapat hukuman yang setimpal, kalau cara ini bikin dia mendapatkan itu aku mau Tama," ucap Rani yakin.

__ADS_1


"Kamu serius?" Tama memastikan sekali lagi keputusan istrinya itu.


Rani mengangguk mantap, membuat Tama begitu bangga pada perempuan itu.


Tama mengusap-usap rambut hitam Rani, "Dan kamu tahu siapa yang udah ungkap ini semua?"


"Siapa?" tanya Rani.


"Rego."


"Hah? Rego teman kamu itu?" beo Rani.


"Iya, ternyata selama ini dia udah nyelidikin kasus ini," ungkap Tama membuat Rani mengangguk paham.


Tama kemudian teringat sesuatu, "Kalau Ibu dan Bapak? apa kita akan kasih tahu yang sebenarnya?"


Rani diam sejenak sebelum akhirnya ia kembali mengangguk, "Bapak dan Ibu nggak pernah suka aku nyembunyiin sesuatu dari mereka, sepahit apapun itu. Tapi mungkin kita harus pastiin Ibu dan Bapak dalam kondisi tenang."


"Oke, kalau itu memang yang terbaik," tutup Tama.


"Kamu nggak kerja?" tanya Rani kemudian.


"Enggak. Aku mau jagain kamu," ucap Tama kembali membawa Rani dalam dekapannya.


Ia hirup dalam-dalam wangi istrinya itu yang bercampur dengan aroma obat rumah sakit.


"Kamu harus tetap kerja!" suruh Rani mendorong tubuh Tama.


Meski begitu tenaganya tak berhasil membuat Tama melepaskan rengkuhannya.


"Tama? HP aku mana? aku mau nelpon Mbak Lulu," pinta Rani.


"Tama," panggilnya lagi namun masih tak ada jawaban.


Kemarin jadi hari yang begitu panjang bagi Tama, ia dekap erat Rani berharap tak akan lagi kehilangan perempuan dalam hidupnya.


"Tama ih!"


"Hmmmm," gumam Tama.


"Tama kamu tidur ya?"


"Hmmmm," gumamnya lagi.


Sepertinya usaha Rani akan sia-sia, ia kemudian menggerakkan tangannya untuk kembali memeluk pria di hadapannya.

__ADS_1


Rani menepuk-nepuk pelan punggung lebar Tama, membiarkan lelaki itu beristirahat.


[]


__ADS_2