
...****************...
Setelah keadaan Rani membaik, akhirnya dirinya diperbolehkan pulang oleh Dokter.
Ibu dan Bapak masih setia menemani Rani, sedangkan Tama dengan berat hati harus masuk kerja, apalagi Rani yang menyuruh agar tak terlalu lama meninggalkan pekerjaan demi menjaganya.
Namun demikian Tama telah mempersiapkan segalanya kepulangan Rani hari ini. Wawan akan menjemput ke rumah sakit menggunakan mobil Jerris.
Ibu mengemasi semua barang-barang yang Rani bawa.
"Mertua kamu baik kan Nduk?"
Ibu tampaknya khawatir kalau Rani bertemu dengan mertua yang jahat bak ftv Indosiar yang biasa perempuan itu tonton, apalagi setelah Rani menceritakan semuanya kalau mertuanya itu orang tua angkat Tama.
Rani yang tengah melipat baju yang tadi dirinya kenakan tertawa mendengar pertanyaan IBu.
"Baik kok Bu, kemaren sebelum Ibu datang mereka yang jagain Rani."
Ibu terlihat menghembuskan napas lega, "Syukurlah kalau memang kamu diterima dengan baik."
Bapak mendekat mengamati gerak-gerik kedua perempuan yang berharga dalam hidupnya, "Kita nanti pulangnya kemana Nduk?"
Rani menuruni tempat tidur, "Kata Tama kita nanti ke rumah Babe Jerris, yang dari dulu dipake Tama."
"Maksudnya Tama di kasih rumah?" Ibu tampaknya masih bingung.
Rani mengangguk, "Iya Bu, jadi Babe Jerris ini tu punya kontrakan empat apa, yang juga sejajar sama rumahnya. Nah dulu satu Tama tinggal di sini sama neneknya, tapi karena Babe tu udah kasian sama Tama akhirnya yaudah Tama di suruh tinggal di situ tanpa bayar."
IBu mengangguk paham, bahkan sedari tadi Bapak juga menyimak.
"Ternyata masih ada yang baik ya, di kota besar gini," decap Ibu kagum.
Rani turut mengangguk, "Alhamdulillah, Bu. Sekarang malah di kasih ke Tama satu rumah itu. Kata Tama si Babe udah beberapa kali nyuruh Tama ngurus surat-suratnya, biar diganti atas nama Tama."
Bapak mendengar kalimat tersebut mengulum senyum, namun masih sedikit sulit dipercaya, "Itu beneran?"
"Ita Pak, Tama sendiri yang cerita sama Rani."
''Kok bisa baik banget mereka sama Tama," Gumam Ibu masih tak percaya.
Rani berpikir sejenak, ia pun tak tahu pasti apa jawabannya, "Mungkin, karena Tama sering bantu-batu mereka. Terus juga, yah mereka nggak punya anak Bu, mau di kasih ke siapa nanti segitu banyak rumahnya."
__ADS_1
"Memang selain di situ ada di mana lagi Nduk?"
Ibu Rani memang sangat kritis, beliau akan mempertanyakan banyak hal kalau di rasa masih ada yang mengganjal di hatinya.
Untung saja Rani belakangan ini kerap bertanya banyak hal pada Tama sehingga ia sedikit banyak tahu.
"Di Tanah Abang juga ada rumah, sama di mana gitu Rani nggak terlalu ingat waktu Tama cerita Bu," ujar Rani jujur.
"Untung kamu dulu dengerin kata-kata Bapak ya Nduk, kalau kamu akhirnya berakhir sama Rafi, Ibu udah nggak tahu lagi apa yang bakal kamu alami," tutur Ibu menatap Rani dalam.
Rani tersenyum hangat, "Iya alhamdulillah BU, walaupun awalnya terpaksa, tapi sekarang Rani bahagia sama Tama."
Bapak berdehem untuk mengambil perhatian dua perempuan itu, "Benar kan? Bapak tu ya wes ada firasat kalau Tama yang terbaik untuk kamu."
Bapak menarik ujung kumisnya yang tebal, terlihat percaya diri kalau semua ini terjadi karena keputusan beliau.
"Iya Pak, terima kasih nggih. Udah pilih suami yang tepat untuk Rani," ujar Rani.
Bapak seketika mengembangkan senyumnya, Rani tak pernah melihat sebelumnya Bapak sumringah begitu namun dirinya bisa turut merasakan apa yang orang tuanya rasakan sekarang.
"Bapak jangan sombong, Ibu juga kan ngasih usul, kalau Rani sebaiknya bersama Tama," protes Ibu sedikit kesal.
"Yo enggak, dari awal aku yang tetap pada pendirian memilih Tama. Kalau Ibu kan plin plan, awalnya pilih Rafi karena bawa mobil, pegawai, baru setelah Bapak kasih pencerahan Ibu pilih Tama juga," cerita Bapak panjang lebar.
Rani tertawa mendengar hal tersebut, sungguh ia tak pernah tahu kalau ternyata Bapak dan Ibu sempat mendebatkan siapa yang akan mereka jadikan seorang menantu, sampai akhirnya pilihan keduanya jatuh pada Tama.
"Lha yo IBu, kenapa mikirnya begitu. Walaupun Tama bukan pegawai tapi dia berjuang untuk kehidupannya,, berbagai hal anak itu lakukan yang penting halal," ucap Bapak tak kalah panjang lebar.
"Ya aku juga mikir begitu dari awal-"
Ibu dan Bapak masih lanjut beradu argumen siapa yang paling berjasa atas bersatunya Tama dan Rani, hingga ponsel Rani berdering membuat untuk beberapa saat keduanya fokus pada sumber suara.
Rani menempelkan benda pipih itu pada telinganya.
"Siapa?" tanya ibu tanpa suara.
"Tama," ucap Rani tak kalah pelan, "Halo Tama?"
"Kamu udah siap?" tanya Tama dari seberang, dengan latar bising orang berlalu-lalang.
"Udah, udah siap semuanya."
"Oke, aku telponin Wawan ya, biar jemput kamu."
__ADS_1
"Iya boleh,"
"Nggak apa-apa kan untuk sementara waktu di rumah aku, mending kita pindah permanen aja?"
Rani berpikir sejenak, memang tak ada salahnya kalau ia memilih untuk tinggal di rumah Tama, namun kontrak kamar Rani belum habis sehingga sayang.
"Em ,,,,,, kita omongin nanti ya, di rumah. Kalau untuk sekarang nggak masalah."
"Oke deh, hati-hati ya sayang."
Rani tersenyum mendengar panggilan itu, entah kenapa semakin hari terdengar Tama semakin fasih mengatakannya.
"Iya."
"Emak udah masakin banyak makanan, karena tahu Bapak dan Ibu mau datang."
"Oh ya?" Rani merasa bersyukur dengan hal itu, tak hanya dirinya namun Emak menerima orang tua Rani dengan baik.
"Iya. Makanya kamu nanti bilang sama Bapak dan Ibu jangan sungkan anggap aja rumah sendiri. Udah dulu ya sayang, aku mau lanjut kerja, ada pelanggan dateng nih," tutur Tama mulai sedikit terdengar buru-buru.
"Iya Tama, makasih ya," ucap Rani kemudian.
"Makasih doang? Nggak ada kiss jarah jauh gitu?"
Rani tertawa mendengar hal tersebut, bisa-bisanya Tama mengatakan hal itu padahal baru beberapa detik pria itu mengatakan ada pelanggan yang datang.
Terlebih Rani tak dapat melakukannya karena Ibu dan Bapak sedari tadi mencuri dengar percakapannya dengan Tama.
"Nggak ada, udah kamu lagi kerja fokus. Aku tutup."
Panggilan Rani tutup secara sepihak, ia tertawa membayangkan wajah Tama yang pasti mencebik serta menggerutu karena kecuekan Rani.
Saat semuanya siap, Rani hanya perlu meninggalkan rumah sakit, seseorang mengetuk pintunya yang memang telah terbuka.
Bapak dan Ibu merapat ke arah Rani, takut kalau itu salah stau suruhan Rafi yang akan mencelakai kembali putrinya.
Seseorang melongokkan kepalanya, membuat Rani yang yang sempat menahan napas karena tegang akhirnya merasa lega.
"Rani?"
"Ya ampun Rego? Kamu Rego kan?"
Sontak Rego tertawa, pria yang Rani yakini lebih tinggi dari Tama akhirnya masuk dengan satu pria lain.
__ADS_1
"Halo apa kabar Rani, tenang-tenang saya Rego Bu, Pak, temannya Tama."
[]