MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 9 : R a b u .1


__ADS_3

Akhirnya Rani hari ini bisa pulang lebih awal karena izin mudik ke kampungnya ternyata begitu mudah disetujui oleh Mbak Lula, apalagi waktu Rani bilang kalau Ibunya di kampung menunggu kepulangan Rani.


Selain itu memang Mbak Lulu akan menambah karyawan baru lagi besok, semoga mereka nantinya bisa dengan mudah beradaptasi, sehingga pekerjaan yang ada dapat terselesaikan dengan baik.


Saat Rani


membereskan barang-barangnya, Ito salah satu rekan kerjanya yang menghandle sosial media mendatangi Rani.


“Ran, ada yang nyariin diluar.”


Rani mengerutkan kedua alisnya, “Siapa?”


Ito mengamati Rani yang masih memasukkan barang-barangnya kedalam Ransel yang hari


ini ia kenakan, “Cowok lo.”


Tiga hari berlalu sejak kejadian itu, ia masih tak berbicara dengan Rafi, bahkan satu pesanpun tak pernah ia kirimkan meskipun berkali-kali telah Rani ketik namun akhirnya dirinya hapus kembali.


“Makasih, gue duluan ya.”


Rani kemudian pamit kepada semua rekan kerjanya sebelum benar-benar meninggalkan kantor, ia dapat dengan mudah menemukan Rafi yang kini tengah duduk di kursi lobi mengenakan kemeja biru kesukaannya.


Rafi masih tak menyadari kehadiran Rani, karena ia tengah mengetik pesan yang entah


untuk siapa itu Rani pun tidak tahu.


Rani langsung duduk tepat disebelah Rafi, “Sibuk banget Mas,” katanya bercanda.


Rafi kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku, “Rani, kamu ternyata. Aku kira siapa.”


“Emang kamu maunya siapa?” Rani berpura-pura membuat mimik cemberut layaknya anak-anak


yang minta dibelikan permen.


Tak menghiraukan perkataan Rani, Rafi justru langsung memeluk Rani, “Kangen.”


Rani berusaha melepaskan tangan Rafi, bukan apa-apa ia takut ada yang melihat


nantinya ia akan diledek habis-habisan.


“Rafi, ih. Jangan di sini kalau mau peluk-peluk.”


Rafi tak menghiraukannya ia kini beralih memegang kedua pipi Rani, “Kamu udah nggak


apa-apa kan?”


Rani tersenyum, “Iya. Aku udah baik-baik aja kok. Maaf ya, aku terlalu kekanakan.”


Rafi kembali memeluk Rani, “Kangen banget. Sebenarnya aku mau kesini kemaren, tapi kerjaanku banyak jadi harus lembur.”


Rani yang kini balas memeluk kekasihnya itu mengangguk, bagai ada sayatan di hatinya. Rani sadar betapa ia sangat mencintai Rafi, namun ia sudah tak pantas bersanding dengan pria ini.


“Makan yuk,” ajak Rafi.


“Boleh, di tempat biasa?” Rani menyebutkan tempat makan nasi goreng favorit mereka yang


tak jauh dari tempat kerja Rani.


Cukup berjalan kaki sekitar 10 menit mereka telah tiba di sebuat tenda kaki lima yang sudah terlihat ramai malam itu.


Setelah memesan dua porsi nasi  goreng plus dengan acarnya Rani teringat bahwa Rafi belum mengetahui rencana mudiknya.


“Rafi aku besok mau pulang ke Boyolali.”

__ADS_1


Rafi tampak terkejut, “Kok dadakan?”


Sebenarnya nggak dadakan, hanya saja Rani baru memberitahu Rafi hari ini.


“Iya, Ibu kangen sama aku katanya. Sepupu aku juga mau nikah Jumat besok.”


Rafi menggeleng tak habis pikir, “Rani, kalau saudara kamu yang nikah harusnya aku datang.


Kita kan mau nikah Rani.”


Rani memutar otaknya ia berusaha mencari alasan yang masuk akal, pembahasan tentang


hubungan mereka berdua membuatnya tertekan.


“Kamu belakangan ini sibuk kerja Rafi, jadi aku nggak mau ganggu kamu. Lagi pula kitabahkan belum ngomong sama keluarga masing-masing kan, tentang keseriusannhubungan kita ini?”


Semoga Rafi tak mempermasalahkan lagi, batin Rani dalam hati bagaimanapun ia masih tak


sanggup berkata jujur pada Rafi.


“Seharusnya ini bisa jadi momen yang pas, aku dateng ke keluarga kamu. Kalau kamu ngomong seminggu yang lalu aku pasti akan ambil cuti Ran,” Rafi tampak kesal, meski begitu Rani dapat melihat pria itu tengah menahan amarahnya.


Dua piring nasi goreng tersaji di hadapan mereka, Rafi yang sedari tadi lapar tak napsu makan lagi, bagaimana bisa Rani berpikir demikian dirinya merasa kekasihnya itu tak serius menerima lamarannya.


“Rafi, aku pengen kita nggak gegabah ya, dengan pernikahan kita ini.”


Jangan tanya bagaimana jantung Rani yang saat ini berdegup sangat kencang, semua kalimatnya hanya alasan saja untuk menutupi masalah sebenarnya. Mungkin saja sebelum kejadian itu terjadi ia akan dengan senang hati membahas pernikahan mereka.


“Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu, kalau kamu belum siap nikah sama aku kenapa kamu terima lamaran aku?”


“Bukan gitu maksud aku Rafi.”


Rani kehabisan kata-kata, ia tak menyangka Rafi mempermasalahkan hal tersebut. Rani kemudian coba mencari topik lain untuk mengalihkan pembahasan mereka, sebelum dirinya pergi ia tak ingin dalam keadaan marahan lagi.


“Nggak usah mengalihkan pembicaaran ya,” Rafi tampak masam, namun setelahnya pria itu tetap menjawab pertanyaan Rani, “Waktu di villa pada nanyain kamu kerja di mana, tinggal di mana. Biasalah anak-anak pada penasaran. Kenapa emangnya?”


Rani yang hendak menyuap nasinya terhenti, ia kemudian berpikir apakah mungkin tebakannya


benar, mungkinkah benar Tama yang datang ke kostnya.


“Kemaren katanya ada yang ke kost aku, tapi tetanggaku nggak tahu siapa.”


“Cowok?” tanya Rafi.


“Iya,” jawab Rani.


“Selain aku, ada yang tahu kost kamu di mana?” Rafi menyuap lagi nasinya yang kesekian.


“Nggak ada, aku memang nggak pernah bilang sama orang lain. Lagian kenapa kamu cerita


sih, aku tinggal di mana,” kini Rani yang gentian kesal.


“Mereka cuman nanya, itu hal yang wajar kan? Di mana kamu tinggal? Kerja di mana?” Rafi


memperagakan bagaimana seandainya orang lain bertanya hal tersebut.


Rani tak menanggapi lagi, ia sengaja mengalihkan topik agar tak harus debat lagi namun yang terjadi malah sebaliknya, mungkin karena keduanya dalam kondisi yang lelah setelah bekerja seharian.


Ponsel Rafi yang terletak di atas meja menyala menampilkan beberapa pesan yang masuk, pemilik ponsel lantas dengan segera membacanya.


“Mira pindah ke Jakarta hari ini,” ucapnya kemudian yang meletakkan benda pipih itu


kembali.

__ADS_1


Meskipun Rani sedikit tak bersemangat membahas mengenai Mira namun ia sebisa mungkin tak


memperlihatkannya, “Oh ya?”


“Dapat kerjaan di sini, tadi anak-anak pada bantuin dia pindahan,” jelas Rafi meskipun


Rani tak memintanya menceritakan lebih lanjut.


“Kok kamu nggak bantuin?” entahlah namun Rani pun sadar kini suaranya terdengar kesal, ia tak dapat mengesampingkan apa yang telah ia ketahui mengenai hubungan Rafi dan Mira di masa lalu.


“Aku lagi banyak kerjaan, lagian mau jemput Raniku.”


Oke kini Rafi tengah berusaha mencairkan suasana kembai diantara mereka yang tadinya sempat bersitegang.


“Tuh,bmasih pada rame di grup,” katanya sambil menunjuk layar ponsel Rafi yang masih terlihat pesan masuk bergantian.


“Pada ngajakin kumpul di rumah Mira,” Rafi meneguk air mineralnya.


“Yaudah, kamu ikutan aja. Tadi nggak batuin kan, nggak enak lho sama yang lain,” meski kesal Rani pura-pura oke saja kalau Rafi datang ke tempat Mira.


“Tapi aku nganter kamu dulu ya?”


Nah kah, emang dasar nggak peka Rafi, Rani tak sungguh-sungguh mengatakan hal tersebut.


“Nggak usah. Kamu langsung pergi aja,” jawab Rani dongkol.


“Bentar deh, kayanya ada yang lagi cemburu nih,” Rafi menggoda Rani yang mukanya saat ini sudah masam lagi.


“Gimana nggak cemburu coba, Mira dulunya mantan kamu kan?” Rani kini sepenuhnya menghadap Rafi.


“Itu waktu SMA Rani. Kalau sekarang kita pure temenan. Kamu tumben cemburu gini, biasanya nggak pernah.”


Sebenarnya Rani tak cemburu, hanya saja Rani tak dapat menahan dirinya kepikiran setiap kali mengingat hubungan Rafi dan Mira, terlebih apa yang dikatakan Juwita malam itu kalau Mira masih memiliki perasaan pada Rafi.


“Yaudah aku mau pulang, soalnya belum packing buat pulang kampung besok.”


Pungkasnya kemudian, agar tak memperpanjang perdebatan mereka berdua, dua tahun menjalin


hubungan dengan Raka baru kali ini mereka mengalami hal seperti ini.


Rafi pun tak banyak protes lagi, mereka akhirnya munuju kost Rani tanpa banyak bicara.


“Besok kalau pulang hati-hati ya sayang,” tutur Rafi setelah mereka tiba tepat di


halaman kost Rani.


“Iya, maaf ya kalau aku hari ini emosin,” Rani menurunkan egonya, ia sadar emosinya


begitu meletup-letup tadi.


“Iya,nmaafin aku juga ya.”


Tak sampai di situ, Rafi ikut turun dari mobil ia hendak mengantarkan Rani terlebih ini malam terakhir Rani di Jakarta.


Langkah Rafi kemudian terhenti begitu ia melihat Rani menghentikan langkahnya dengan raut wajah terkejut, entah apa yang membuat Rani seketika mengepalkan tangannya.


Menoleh ke arah pandang Rani, ternyata di sana ada seseorang yang telah duduk tepat di kursi panjang depan kamar Rani, yang membuat Rafi terkejut ia mengenal pria itu.


Detik berikutnya Rani histeris, perempuan itu terjatuh seakan seluruh penyangga tubuhnya ambruk Rafi menyaksikan Rani berteriak Pergi! Pergi! beberapa kali pada Tama.


Apa yang telah Tama lakukan pada kekasihnya?


[]

__ADS_1


__ADS_2