MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 20 : H a m i l


__ADS_3

Rani beberapa kali mengusap tangannya yang berkeringat, ia merasa sangat gugup saat ini menunggu gilirannya untuk masuk ke ruangan dokter.


Tama paham dengan gestur Rani, meski keduanya tak banyak bicara Tama berusaha untuk menenangkan Rani dengan mengelus pelan pundak perempuan itu sesekali. Entah kenapa Rani tak lagi menolaknya, atau lebih tepatnya mungkin Rani tak peduli dengan apapun yang dirinya lakukan.


Sebelum berangkat ke rumah sakit menggunakan motor Bapak, beliau berpesan untuk hati-hati dan jangan bawa motor dengan kecepatan tinggi karena Rani sewaktu SD pernah mengalami kecelakaan bersama pakdhenya, yang kemudian membuat Rani trauma hingga sekarang, Tama dapat melihat bagaimana Bapak sangat menyayangi


putrinya.


“Saudari Rani,” panggill petugas kesehatan yang artinya sudah tiba giliran Rani untuk diperiksa.


Rani segera bangkit, namun kemudian ia menoleh pada Tama yang juga ikut bangkit bermaksud ikut serta dengan Rani, “Kamu tunggu sini aja.”


Tama menggeleng merasa keberatan, “Nggak, aku ikut. Ini anak aku juga.”


Rani memutarkan bola matanya, “Apaan sih, aku nggak hamil,” ucap Rani kesal kini mengekori Tama yang berjalan lebih dulu, “Tama!” Rani meraih lengan Tama berusaha menghentikan langkah pria itu.


Namun Tama melepaskan tangan Rani dan masuk begitu saja saat dipersilahkan oleh petugas perwat yang sedari tadi telah menyaksikan pertengkaran kecil mereka.


“Selamat pagi Mas dan Mbak, silahkan duduk,” tutur dokter berhijab dengan ramah yang telah menunggu mereka di mejanya.


Rani yang tadi sempat gugup sedikit rileks karena doktek tersebut sangat hangat, begitu pula dengan Tama dengan sigap menarik kursi pasien untuk Rani.


“Wah manis sekali, penganten baru ini pasti,” tutur dokter itu lagi dengan yakin, meskipun tak benar namun Rani dan Tama memilih untuk tak menjawab.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter itu kemudian.


“Saya mau periksa Dok, apakah hamil atau tidak,” jawab Rani.


Dokter tersebut kemudian melihat layar monitor di sampingnya, yang entah data apa Rani


tak dapat melihat dengan jelas dari posisi duduknya.


“Sebelumnya sudah pernah coba tes menggunakan alat tes kehamilan?” tanyanya seraya mengetikkan sesuatu di komputernya.


“Sudah Bu, tapi hasilnya tidak hamil. Namun saya ingin memastika lagi apakah saya


hamil atau tidak,” jelas Rani.

__ADS_1


Doter tersebut enatap Rani dengan seksama, “Apakah ada tanda-tanda kehamilan seperti rasa mual, telat, dan ciri-ciri kehamilan lainnya?”


“Tidak Dok. Malahan saya belakangan ini merasa seperti orang akan datang bulan. Hanya saja dia tidak percaya kalau saya tidak sedang hamil.”


Rani menunjuk Tama yang sedari tadi menyimak, tentunya Rani mengungkapkan hal tersbeut untuk menekankan saja bahwa dirinya tidak hamil, karena begitu yang ia yakini.


Dokter tersebut tertawa, “Wajar Mbak, mungkin suaminya nggak sabar mau punya anak, iya kan Mas?”


Tama salah tingkah sendiri mendengar dirinya di sebut sebagai suami Rani, berbeda dengan Rani yang kini tengah memelototinya, Tama kemudian hanya tersenyum sopan.


“Coba kita periksa dulu ya.”


Dokter mengarahkan Rani untuk berbaring pada tempat tidur pasien yang telah di sediakan, lengkap dengan alat yang Rani tepat itu untuk USG karena ia biasa melihatnya di sinetron.


Tama dari tempat duduknya memperhatikan tiap gerakan Rani, ia masih tak menyangka dapat mengenal Rani hingga sampai pada titik ini hubungannya dengan Rani ya meskipun belum resmi ada rasa hangat menjalar di hatinya bisa-bisanya Tama tak mengingat sedikitpun kejadian malam itu, salahkan dirinya sendiri yang meminum alkohol Tama menggeleng-gelengkan kepalanya.


Saat itu pula ternyata Rani menatapnya heran, “Kenapa?” tanyanya masih dengan nada yang sewot.


Tama tersenyum dan menggeleng lagi, ia kemudian menunjuk pada pada Dokter di samping Rani yang tengah menyiapkan peralatan untuk pemeriksaan agar Rani fokus pada hal tersebut.


“Maaf ya Mbak, boleh di buka area perutnya.”


Rani mengangguk, ia mengangkat bajunya area perut, lalu dokter tersebut mengoleskan cream yang Rani pun tak tahu namanya, namun terasa menenangkan saat cream tersebut mulai ia rasakan di pernukaan kulitnya.


Lalu dengan alat kecil yang bentuknya sedikit lonjong ditempelkan Dokter di permukaan perut Rani, beliau mulai menggerak-gerakkan alat tersebut dengan melingkar pada perut Rani.


Rani masih tenang sebelum dokter mengungkapkan kebenaran yang selama beberapa hari ini ia takutkan terjadi, “Mbak, selamat! Mbak hamil, meskipun belum terlihat  dengan jelas karena usianya baru satu minggu, tapi ini kabar baik untuk Mbak dan Suami.”


Deg, jantung Rani berdegup sangat kencang, dirinya hamil? Bagaimana ini? apakah dirinya harus menikah dengan Tama?


“Serius Dok?” tanyanya memastikan.


“Iya Mbak. Mbak bisa lihat di situ,” Dokter menunjuk monitor kecil di samping Rani berbaring, yang memang belum terlalu terlihat namun seperti ada gumpalan kecil di sana.


Tama turut mendekat untuk memastikan bahwa apa yang dirinya dengar benar adanya, “Dokter jadi Rani hami?” tanyanya antusias.


Dokter kini meletakkan alat tersebut, kemudian memusatkan perhatian sepenuhnya pada Tama dan Rani, “Mas, Mbak, selamat ya. Kalian akan jadi Bapak dan Ibu, usia kandungan sudah berjalan satu minggu.”

__ADS_1


“Tapi Dok, saya nggak ada tanda-tanda kehamilan,” Rani tampaknya masih tak percaya dengan fakta yang telah disampaikan Dokter.


“Memang usia kandungan yang baru satu minggu tak begitu signifikan tanda-tandanya Mbak, setiap orang berbeda-beda. Mbak Rani tadi sempat bilang ke saya kan, kalau rasanya seperti ingin datang bulan, seperti emosi yang tidak stabil, perut kembung, iya kan Mbak?” tanya Dokter meminta jawaban dari Rani.


Rani pun mengangguk karena memang hal tersebut yang ia rasakan, meskipun tak mual-mual. Rani bingung sedih atau senang, pasalnya ia harus berusaha menyambut anaknya dengan bahagia tentunya namun anak ini ada karena perbuatan Tama, dan dengan cara yang sangat Rani benci, terlebih lihat saja bagaimana ekspresi si pelaku saat ini yang senyum-senyum menatap monitor dan Rani secara bergantian.


Rani hanya bisa mengehela napas, ia sekarang hanya bisa pasrah karena dirinya tahu tak dapat membantah lagi apapun yang akan Bapak katakan nantinya.


Rani tersadar saat Tama meraih tangannya, perempuan itu menyadari Tama yang mulai berkaca-kaca, entahlah aneh rasanya karena Rani tak dapat menarik tangannya ia malah membiarkan Tama yang kini mulai menangis dengan posisi berdiri tepat di samping dirinya serta masih dengan tangannya yang kini pria itu genggam.


Rani mengelus perutnya yang masih rata, kini ia telah duduk di kursi koridor rumah sakit menunggu Tama yang katanya pria itu ingin meminta tips tambahan untuk menjaga ibu hamil, Rani tak ambil pusing dan ia kembali pada mode tak peduli dengan apapun yang akan pria itu lakukan.


Meskipun Rani tak sebahagia Tama namun ia sadar dalam perutnya kini akan tumbuh makhluk kecil yang mungkin para orang tua di luar sana inginkan, Rani akan berusaha menerima anaknya tersebut.


Karena Rani tak dapat menjadi anak yang baik, ia bertekad akan berusaha menjadi Ibu yang baik bagi anaknnya kelak.


“Ngelamun ya?”  tahu-tahu Tama telah duduk di sampingnya.


Rani tak menjawab ia maish sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Rani, aku harap kamu nggak membenci dia. Kalau kamu mau marah, mau benci silahkan benci aku sepuas kamu, tapi tolong sayangi dia,” tutur Tama yang kini menatap pada perut Rani.


Rani hanya melengos, “Bawel. Kamu senang kan, karena sekarang aku nggak bisa berkutik lagi, aku akan nurutin semua perkataan Bapak yang juga akan sangat menguntungkan kamu.”


Tama menahan napasnya, ia sadar masih tak ada ruang baginya dalam hati Rani, “Beri aku kesempatan Rani, aku akan jadi suami dan Bapak yang baik.”


“Kita lihat saja nanti,” ucap Rani kini ia bangkit mendahului Tama berjalan ke arah parkiran tempat motor mereka berada.


Tama dengan langkah cepat mensejajarkan dirinya dengan Rani, “Kamu nggak lapar?”


“Dikit,” jawab Rani tak acuh.


“Makan yuk, sebelum kita pulang,” ajak Tama yang tentunya hal ini termasuk langkah Tama mendekati Rani, “Kita bisa sambil cari angin, emangnya kamu nggak bosen di rumah terus?”


Tama bersemangat ia bahkan menawarkan berbagai opsi makanan yang mungkin akan Rani setujui, Tama kan mulai mencari tahu sedikit demi sedikit apa yang di sukai dan tak disukai Rani, calon istrinya itu.


[]

__ADS_1


__ADS_2