
Dua puluh menit telah berlalu setelah dokter memeriksanya namun Tama masih tak sadarkan diri.
Luka di pelipisnya telah diperban dengan baik, serta beberapa luka lainnya sudah
dibersihkan sedangkan sobekan dilengannya harus dijahit karena cukup parah.
Tama terlihat begitu mengenaskan, terlebih wajahnya yang lebam membuat Laras ngilu
melihat pria itu terbujur lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
“Guys gimana keadaan Tama?” Retno yang baru tiba langsung memberondong Laras dengan berbagai pertanyaan, “Ada luka dalam nggak dia? Gimana apa harus operasi?”
Laras akhirnya merasa lega setelah melihat kedatangan Retno, “Nggak apa-apa, lukanya udah diobatin dokter tadi, tapi setelah Tama sadar mungkin ada yang harus di cek
lagi takutnya ada organ dalamnya yang bermasalah.”
Retno duduk di kursi tunggu dengan lemas, ternyata Retno tak sendiri ia datang
bersama Altar temannya.
“Kok lo bisa sama Altar?” tanya Laras menatap lelaki yang duduk di samping Retno.
“Nggak tahu ni orang langsung nyusul begitu gue bilang ada di kantor polisi,” jelas Retno sambil mengatur napasnya.
“Oh iya, urusan sama polisi gimana?” tanya Laras penasaran, memang temannya tadi yang dimintai keterangan di kantor polisi.
Retno mengangguk, “Aman kok, gue ceritain semua yang tadi gue lihat. Palingan nanti
polisi tinggal minta keterangan Tama aja buat nyari pelakunya.”
Laras menyandarkan punggungnya, “Syukurlah, kalau gitu.”
Bagi mereka ini adalah pengalaman pertama mengalami hal seperti ini yang ternyata
sangat menguras energi.
“Kak, gimana ini? kita kudu ngabarin keluarganya kan?” Aya yang sedari tadi
mondar-mandir menunggu Tama sadar akhirnya mengatakan sesuatu.
Retno dan Laras terperanjat seketika, benar juga apalagi Tama sekarang sudah menikah
pasti istrinya khawatir di rumah.
Retno kemudian mengingat sesuatu, “Dimana hp Tama?”
Laras dan Aya menggeleng serentak, mereka kemudian masuk ke dalam ruangan di mana Tama berada untuk mencari ponsel pria itu, mereka membuka saku celana, bahkan saku
jaketnya, untung saja benar ponsel Tama ada di saku jaket jeansnya.
“Gue ketemu sama hp dia,” seru Retno bersemangat.
“Hush! Lo jangan berisik ini rumah sakit,” ucap Altar mengingatkan ternyata sedari tadi dirinya ikut membantu mereka mencari ponsel Tama.
Retno hanya menanggapinya dengan memasang muka malas, semuanya serentak mendekat untuk membuka ponsel Tama.
Begitu membuka kunci layar, semua merasa lega karena Tama tak memberikan kata sandi
sehingga mereka tak butuh waktu lama.
Namun sayang saat mereka hendak mengetikkan nama di pencarian kontak, semuanya kebingungan siapa nama istri Tama, pasalnya mereka pun belum pernah tahu nama istri pria itu.
“Coba lo tulis, istriku,” ucap Altar yang coba menebak.
“Dih, Tama nggak selebay itu kali,” gerutu Retno namun ia tetap mengetikkan kata
istriku pada ponsel.
Hasilnya nihil, tak ditemukan kontak dengan nama tersebut, mereka harus berpikir keras siapa orang yang harus dihubungi.
“Coba nomor Bapak atau Ibunya Kak,” ucap Aya coba memberi solusi lain.
__ADS_1
Retno menatapnya dengan ekspresi sedih, “Nggak punya Nyokap Bokap dia.”
“Yatim piatu?” tanya Aya polos.
“Bukan, ya gitu deh pokoknya panjang ceritanya,” ujar Retno tak ingin membagikan kisah yang menurutnya bagian dari privasi Tama.
“Em, Ibu dari anak-anakku,” ujar Altar lagi.
Retno memasang muka kesal, “Lo bisa serius nggak sih.”
“Itu serius, gue nggak bercanda. Temen-temen gue dikantor ngasih nama bininya gitu, ada juga Ibu negara, sayangku, bendahara,” Altar menyebutkan semua nama kontak istri temannya yang ia tahu.
“Udah ah, lo mending diem aja,” omel Retno kesal.
“Coba lo lihat di riwayat panggilan atau pesannya, siapa tahu kontak teratas itu
istrinya,” ucap Laras menengahi.
“Oh iya kenapa kita nggak kepikiran ya,” ucap Retno kemudian.
Tepat detik itu ponsel Tama berdering membuat mereka terkejut, “Eh, eh gimana nih,” panik Retno.
“Angkatlah,” ujar Laras menyuruh Retno menerima panggilan tersebut.
Retno menatap layar ponsel Tama yang tertera emoticon love (❤) di sana, “Lo aja deh Ras, yang angkat.”
Perempuan itu melemparkan ponsel begitu saja pada Laras, untung saja Laras menangkapnya dengan sigap namun ia malah memberikan ponsel itu pada Aya, “Lo aja ya Aya.”
Aya sama bingungnya, “Ih, Kak jangan aku. Bang Altar aja deh, takutnya nanti bininya salah paham.”
“Kalian pada ngapain?” terdengar suara Tama, sontak membuat mereka kegirangan.
“Tama, ya ampun akhirnya lo sadar juga,” ucap Retno merasa sangat lega.
“Bang Tama udah nggak apa-apa?” tanya Aya tak kalah kegirangan.
“Tama lo kenal nggak sama penjahat tadi?” Laras pun turut melontarkan pertanyaan pada Tama.
Tama dengan cepat menerima panggilan tersebut setelah mengetahui siapa yang
menelponnya, “Halo, Rani maaf ya, kamu pasti khawatir.”
“Tama! Kamu dari mana aja aku udah nelpon dari tadi lho, aku ngirim pesan berkali-kali
kenapa kamu nggak jawab,” terdengar suara Rani yang sudah sangat kesal.
“Rani maaf ya, aku bikin kamu khawatir,” ucap Tama berharap Rani memakluminya.
“Trus jam segini kenapa belum pulang Tama!”
Tama meringis meski Rani tak dapat melihatnya ia merasa bersalah membuat perempuan itu terjaga hingga larut malam, “Maaf ya, aku tadi ngelembur.”
Hal tersebut membuat semua orang dihadapannya sontak protes, mengapa Tama tak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Seenggaknya kamu ngabarin."
“Yaudah, aku jalan pulang sekarang ya,” ucap Tama pada Rani.
Kemudian ponsel ditutup membuat Retno yang sedari tadi menahan diri akhirnya protes juga, “Lo kenapa nggak bilang sih, keadaaan lo udah mau sekarat tadi anjir.”
Tama memasang muka bersalah, “Sorry banget ya, ngerepotin kalian. Gue nggak bisa
bilang sama Rani yang sebenarnya, soalnya dia lagi hamil takut kepikiran.”
“Tetap aja lo nggak bisa pulang sekarang Tama,” ujar Laras menimpali.
Tama berusaha untuk bangkit, meski detik berikutnya ia meringis merasa tubuhnya terasa sakit semua, “Aduh,,,”
“Makanya jangan sok kuat, lo bahkan mengenaskan Tama. Lo kenal nggak sih sama orang yang ngehajar lo tadi kayanya bukan begal biasa deh, soalnya mereka nggak ngincer barang-barang lo tapi ngincer lo,” ujar Retno berterus terang menyampaikan apa
yang sempat dia lihat tadi.
__ADS_1
Tama diam sejenak, ia sempat mendengar suara seseorang yang sangat familiar sebelum dirinya pingsan tadi. Namun Tama menggeleng, ia ingin memastikan sendiri
sebelum mengatakannya, apalagi Tama tak punya bukti untuk membuat pelaku
dihukum atas perbuatan mereka.
“Nggak tahu gue,” ucapnya kemudian, “Tapi gue harus pulang, Rani nunggu gue di rumah.”
“Bang, jangan pulang dong keadaan lo masih parah banget,” ucap Aya mengingatkan ia
prihatin dengan Tama.
Tama menolak keras, biaya rumah sakit pastinya mahal. Tabungannya sekarang ia fokuskan untuk Rani dan keperluan persalinan nanti, nggak mau Tama menghamburkan uang untuk dirinya sendiri.
“Gue nggak apa-apa guys, please ya gue mau pulang. Sorry banget waktu kalian tersita
banyak buat ngurusin gue,” ucap Tama dengan tulus, ia benar-benar merasa
bersalah dengan rekan kerjanya itu.
Melihat Tama yang tak bisa lagi diajak kompromi akhirnya Retno dan Laras menemui dokter
untuk mengurus kepulangan Tama, untungnya luka Tama dapat diobati sambil jalan tak perlu di rumah sakit sehingga dokter memperbolehkan pria itu untuk pulang.
Meski begitu keadaan Tama benar-benar lemah, ia kesulitan mengenakan jaketnya sendiri yang harus dibantu oleh Altar.
“Oh iya, untuk biaya ini tadi gue transfer ke siapa?” tanya Tama yang sukses membuat Retno melotot tajam.
“Gila ya lo, lo anggap kita orang lain? udah sih lo sekarang fokus nyembuhin diri nggak
usah mikirin biaya rumah sakit. Laras udah ngebackup semuanya, make uang
admistrasi usaha kita,” jelas Retno.
Tama semakin merasa tak enak hati, “Sorry ya Ras, lo boleh kok potong gaji gue.”
“Udah Tam, tenang aja. Kita emang nyediain dana darurat untuk hal-hal kaya gini,” ucap Laras
tenang.
Retno menggeplak punggung Tama keras, sehingga lelaki itu mengaduh kesakitan, “Sakit ya Allah.”
“Lagian gue sambit juga lo,” ujar Retno kesal.
Tama hanya meringis memperlihatkan gigi-giginya, “Oh iya, Aya sorry ya dek lo juga ikutan ngurusin gue, kasian waktu ngerjain skripsi lo kepotong.”
“Udah Bang, santai,” ucap Aya mengibaskan tangannya tanda tak keberatan dengan hal tersebut.
“Ini obat yang harus lo minum, jangan di skip sampai itu luka sembuh semua. Palingan dokter bentar lagi kesini, terus kita bisa pulang,” tutup Retno akhirnya, perempuan itu geleng-geleng kepala melihat Tama dengan keadaan seperti itu kekeh tetap mau pulang, terlebih ini sudah lewat tengah malam, "Oh iya, lo juga kudu periksa organ dalam ya, nanti kudu balik ke rumah sakit lagi."
“Thanks ya,” ucap Tama menerima obat tersebut.
“Lo gue anterin aja ya bro, bahaya keadaan gini bawa motor sendiri,” ucap Altar yang sedari tadi hanya menyimak.
“Iya, lo mendingan dianterin Altar,” ujar Laras ikut menyetujui agar Tama tak membawa motornya sendiri.
“Nggak usah, gue bawa motor kok,” kata Tama merasa keberatan, ia bahkan membawa motornya mengapa harus diantar namun alasan sebenarnya Tama sudah merasa sangat merepotkan rekan-rekannya itu.
“Motor lo di kantor polisi masih ditahan buat bukti, kalau mau ambil nanti aja pas udah sembuh,” ujar Retno kemudian yang sontak membuat Tama terkejut.
“Kenapa di polisi?” tanyanya tak percaya.
“Tadi di lokasi kejadian polisi dateng, biarin aja kasus ini diselidiki biar penjahat yang udah bikin lo gini ketangkep,” imbuh Retno panjang lebar.
Tama menghela napas panjang, apa lagi ini yang terjadi padanya kenapa banyak orang yang berbuat jahat padanya. Tetapi Untuk sekarang Tama ingin segera pulang bertemu Rani, setelahnya nanti akan ia pikirkan lagi, sekarang tubuhnya sudah begitu remuk.
[]
Ps. Semoga sampai rumah nggak diomelin Rani ya Tamanya, kasian banget doi :(
sorry banget kalau banyak typo hehe✌🤍
__ADS_1