
Tepat pukul tiga dini hari akhirnya bus yang menghantarkan mereka tiba di tujuan akhir, yaitu Jakarta.
Tama mengecek satu persatu barang yang mereka bawa dari kampung, dua kardus serta satu koper besar baju istrinya. Rani sudah pasti tak ia izinkan membawa apapun agar perempuan itu tak kelelahan.
Meski dini hari tapi beruntungnya di kota besar ini tetap ramai, sehingga mereka dapat dengan mudah menemukan angkutan umum.
“Kita mau naik apa?” Tanya Rani merapatkan jaket Tama yang masih ia kenakan.
Tama berpikir sejenak sebelum akhirnya dirinya memutuskan untuk naik angkutan umum beurupa angkot, “Kalau naik angkot kamu nggak keberatan?”
“Aku nggak masalah, tapi bawaan kita banyak,” ucap Rani menunjuk barang bawaannya.
Tama meletakkan satu kardus di atas koper agar lebih mudah membawanya, “Nggak apa-apa, jam segini pasti sepi, barang-barang ini bisa masuk.”
Setelah Rani sepakat dengan pendapatnya itu, Tama kemudian menaiki angkot yang sudah ngetem sejak tadi di depan terminal, untungnya karena tak ada lagi penumpang lain akhirnya supir angkot itu memilih mengantarkan Rani dan Tama terlebih dahulu.
“Dari kampung ya dek?” tanya Bapak supir angkot yang rambutnya sudah memutih semua.
Tama tersenyum sopan, “Iya Pak, dari kampung istri saya.”
Tama dapat menyaksikan ekspresi beliau dari kaca spion depan, “Oalah sudah suami istri, saya kira kalian Abang Adik, soalnya mirip Mas.”
Tama tertawa, sedangkan Rani hanya tersenyum simpul namun dalam hati perempuan itu tentunya protes karena menurutnya dia dan Tama tak mirip sama sekali, terlebih ia merasa hidungnya lebih mancung.
Jalanan kota Jakarta di jam tiga pagi membuat mereka merasa jalanan milik sendiri, nggak ada kesemrawutan yang biasanya mereka saksikan sehingga tak butuh waktu lama Rani dan Tama sampai.
“Makasih ya Pak,” tutur Tama sopan setelah membayar angkot tersebut.
Tinggal masuk ke dalam gang, sampai juga di kostan Rani. Namun bukan Rani namanya kalau mendengarkan Tama begitu saja, perempuan itu ngotot membawa satu kardusnya sendiri.
“Rani, ya Allah jangan. Tolong ya jangan, kehamilan kamu masih harus ekstra di jaga.”
Tama gemas sendiri melihat Rani, ia mengambil paksa kardus yang Rani bawa.
“Jangan lebay! Orang aku masih kuat bawa ginian, lagian ini enteng banget,” kekeh Rani mempertahankan kardus di tangannya.
“Rani, jangan gitu dong. Aku nggak bisa kasar sama kamu, tapi kamu tolong dengerin aku kali ini aja,” ucap Tama panjang lebar.
Keduanya masih memperebutkan kardus tersebut dengan menarik tali rapiah yang mengikat kotak itu, baik sisi Rani maupun sisi Tama tak ada yang mau mengalah melepaskannya.
“Mau sampai matahari terbit kita berdiri di sini?” kesal Rani.
“Yasudah, kamu lepasin dulu,” ucap Tama memohon.
Rani berdecak, “Tama, ih aku masih bisa bawa ini. Ini enteng banget kok, lagian kamu kesusahan gitu bawanya. Ya? please? Nggak usah ribet kali ini aja.”
Tama menghela napas, akhirnya dengan berat hati pria itu melepaskan pegangannya pada kardus itu, “Kalau nggak kuat bilang ya, jangan maksain.”
Rani tertawa kemenangan, “Iya, bawel.”
Meskipun kesal namun Tama sedikit lega, baru kali ini ia melihat Rani tertawa, “Seneng sekarang?”
Rani yang akan berjalan membalikkan tubuhnya menatap Tama, “Ye, ikut-ikutan.”
“Ikut-ikutan apaan?” Tama kembali menarik koper dan mendahului Rani.
“Itu ngomong, seneng sekarang? aku kan sempet gituin kamu,” jelas Rani.
Tama tahu apa yang Rani maksud, namun pria itu memilih berpura-pura tak mengerti dengan apa yang Rani katanya. “Nggak tahu tuh aku, yang mana?”
__ADS_1
Tama mengedikkan bahunya, membuat Rani kesal namun dirinya mengekori pria di depannya itu, “Tungguin dong,” kesal Rani, ia buru-buru mengejar langkah lebar Tama.
Tak ada satupun manusia yang terlihat melewati gang ini, lagi pula siapa juga yang akan keluar di jam-jam segini, palingan semua orang masih tertidur dengan pulas.
Rani kemudian terkejut mendapati seseorang yang tengah membuka pintu kamar tepat di samping kamarnya, “Ya ampun, Yori! Kamu ngapain?”
Seseorang yang namanya di sebut lantas menatap Rani dengan mata ngantuknya, “Rani? Gue kira lo nggak akan ke Jakarta lagi.”
Rani meletakkan kardus tepat di depan kamarnya, sedangkan Tama turut melakukan apa yang perempuan itu lakukan.
“Kamu ngapain jam segini baru pulang?” pekik Rani.
Yori mengusap kupingnya karena suara Rani sangat kencang di telinganya, “Rani, jangan teriak-teriak, lo nggak tahu ini jam berapa?”
Rani menyadari hal tersebut, dirinya kemudian melihat sekeliling berharap taka da yang tiba-tiba keluar kamar untuk melayangkan protes.
“Lagian kamu dari mana? Anak gadis pulang jam segini.”
Yori melepaskan satu kunci dari gantungannya itu dan menyerahkannya pada Rani, karena memang dirinya sempat Rani titipkan kunci kamar, “Ni kunci lo.”
Rani dengan segera menerima kunci tersebut, “Makasih. Tapi jawab dulu dari mana?”
Yori cengengesan, “Habis kerja di bar gue,soalnya bokap lagi kurang pemasukannya makanya gue harus cari uang lebih buat bayar kuliah.”
Rani yang sebelumnya seperti emak-emak yang siap menyemprot anaknya dengan kekesalannya akhirnya melunak, “Ya ampun, kasian banget kamu. Yasudah, buruan masuk istirahat.”
Sebelum Yori melakukan apa yang Rani suruh, dirinya mengalihkan perhatiannya pada seseorang di belakang Rani, “Akhirnya ini yang lo pilih Ran?”
Rani memutar bola matanya, “Apaan sih, kamu kira baju di pilah-pilih, udah sana masuk!”
Yori terbahak, akhirnya remaja itu memilih untuk masuk ke kamarnya meninggalkan Rani dan Tama yang berusaha memasukkan barang.
Rani berpikir sejenak sebelum ia paham siapa yang Tama maksud sebagai tetangga, “Oh Yori?”
Tama mengangguk, pria itu penasaran karena Rani tampak begitu akrab dengan Yori.
“Dia sudah setahun di sini, ya gitu anak merantau jadi kudu sering-sering diomelin biar nggak kelewat batas,” jelas Rani.
Tama terlihat bingung meletakkan barang-barang karena kamar Rani yang tak begitu luas, ia sampai berpikir apa akan muat jika dirinya tinggal bersama Rani.
“Pantesan, kamu terlihat seperti lagi marahin Iyo,” kekeh Tama.
“Jangan di situ Tama, kardusnya kamu taruh di bawah tempat tidur saja. Besok baru aku bongkar isinya,” ucap Rani menyadari kebingungan Tama.
Rani masuk ke kamar mandi mencuci muka serta mengganti pakaiannya lebih nyaman agar dapat istirahat, sedangkan Tama masih kebingungan apa yang harus dirinya lakukan terlebih itu ranah Rani sehingga dirinya masih tak leluasa.
Rani menyadari gerak-gerik kikuk Tama yang duduk di bawah tempat tidur, sebenarnya tak jauh berbeda dengan dirinya yang sedikit gugup karena tak biasanya ia harus berbagi kamar dengan orang lain terlebih itu seorang lelaki. Tetapi tetap saja Rani akan memasang muka biasa saja, seakan tak terpengaruh dengan kehadiran Tama.
“Kamu mau langsung istirahat?” tanya Rani mengeluarkan sprei beserta sarung bantal dari lemarinya.
Tama yang menyaksikan hal itu dengan sigap mengambil alih sprei untuk membantu Rani membereskan tempat tidur.
“Kayanya, kita harus beli bantal lagi,” ujar Rani karena di kamarnya hanya terdapat satu bantal dan guling kecil.
“Nggak usah Rani, aku nanti ke kontrakan buat ngambil barang aku di sana. Ada kasur, bantal,dan guling kok,” ucap Tama.
Rani kemudian mengangguk, benar juga dari pada beli lagi mendingan uangnya untuk hal lain.
“Kamu di kontrakan sendiri?” tanyanya kemudian.
__ADS_1
Tama mengangguk, “Iya, semenjak Nenek nggak ada aku sendirian. Tapi aku nggak pernah bayar kontrakan Rani.”
Rani menatap Tama dengan tatapan bertanya apa maksud dari perkataannya, Tama tersenyum lebar, “Iya aku nggak pernah bayar, karena gratis.”
“Kok bisa?” tanya Rani penasaran.
Sudah beres dengan kasur kemudian Tama mengambil sarung bantal di tangan Rani, “Iya, jadi aku kan dari kecil di situ, nah waktu Nenek meninggal yang punya kontrakan kasihan. Jadi aku udah dianggap anaknya sendiri, tapi nggak gratis seratus persen sih, aku juga tetap di kasih tugas.”
Rani semakin penasaran, “Tugas apa?”
Kini kasur dan bantal sudah rapi, siap untuk di tidur, “Sudah beres. Tugas bersihin kontrakan.”
Rani duduk di tepi kasur, “Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu punya orang tua angkat?”
Tama turut duduk di samping Rani, “Bukan orang tua angkat juga sih, tapi ya mereka ngasih izin aku tinggal di tempatnya aja.”
“Sama saja Tama, setidaknya kamu ngabarin mereka kalau kamu mau menikah,” tutur Rani.
Tama mengangkat bahunya, “Nanti deh, aku kasih tahu mereka. Kamu sekarang istirahat, ya.”
“Kamu mau langsung pergi?” tanya Rani yang melihat Tama kembali menyangklong tas ranselnya.
Tama menatap pada Rani, “Cie, pengen aku di sini ya?”
Rani memutar bola matanya melihat tingkah Tama yang menurutnya sangat tak dewasa, “Bukan begitu maksudku.”
“Aku mau ke kontrakan dulu, siapa tahu ada yang bisa aku kerjakan.”
“Tapi Tama, bahkan ini masih gelap di luar.
“Nggak apa-apa, nanti aku sambil mampir solat di masjid aja.”
“Kenapa nggak solat di sini?”
“Emang kamu mau aku solat di sini?”
Lagi-lagi Rani menghela napas, lelah sekali dirinya menghadapi Tama, “Terserah kamu saja.”
Tama terkekeh, “Aku mau ngambil barang-barang ku dulu Rani, lagian aku juga harus mencari kerja. Oh iya, apa kamu nanti langsung masuk kerja? Mau aku antar? Aku ambil motor sekalian.”
“Aku masuk kerja kembali besok, hari ini mau beberes dan istirahat dulu,” jelas Rani.
Tama mengangguk, “Oke deh, aku pergi dulu ya. Selamat istirahat.”
Tama kemudian keluar, ia menutup pintu rapat-rapat berharap Rani tetap aman meski tak ada dirinya di samping perempuan itu. Saat ini tujuan Tama hanya satu menunggu jawaban dari Retno, temannya perihal pekerjaan yang dirinya lamar serta mencari pekerjaan apapun yang dapat ia kerjakan untuk bisa menafkahi Rani. Jakarta
tempat semua orang berjuang demi anak, istri serta keluarga dan Tama siap melakukannya dengan apapun resiko yang harus dirinya hadapi nanti.
[]
Teman-teman jangan lupa like, komen dan vote yaaaa!!! Aku suka banget baca komen dari kalian, jadi makin semangat nulisnya.
Terima kasih ya sudah mampir semoga suka!
oh iya jangan lupa baca cerita baruku juga ❤
Semoga segala urusan kalian dimudahkan ya, semoga doa-doa baik selalu menyertai kalian semua para pembaca aku di manapun kalian berada❤🤍🥂
*Lebih dekat dengan penulis
__ADS_1
Instagram & TikTok : @seiringannnnn🍳