
Suasana semakin tegang masih belum ada yang berani bicara, Bapak menatap kedua pria yang
hanya terhalang meja di hadapannya.
Rani jangan tanya bagaimana perasaannya saat ini, ia benar-benar kalut, bagaimana
kalau Bapak ngamuk dan mengusirnya saat ini juga.
“Jadi siapa diantara kalian yang telah menghamili anak saya?” tanya Bapak tegas dan penuh
menekanan.
Rani semakin menenggelamkan kepalanya, apa yang harus dirinya lakukan sekarang, tadi Rani sempat berpikir akan pingsan namun ia menggeleng lagi mengingat dirinya tak memiliki bakat dalam berakting bisa gawat kalau ketahuan Bapak dan Ibu.
Kedua pria terlihat begitu gugup, beberapa kali Tama bahkan mengusap tangannya yang berkeringat dingin.
“Apa Rani beneran hamil Pak?” Rafi yang bertanya kali ini, meskipun tak terlihat segugup
Tama namun pria tersebut turut gusar.
Ibu yang masih matanya sudah sembab karena sedari tadi menangis mengangkat benda laknat
yang membuat keributan ini terjadi, “Lihat ini, anak saya punya benda ini. Bukannya sudah cukup membuktikan kalau dia hamil,” ucapnya yang kembali menangis.
“Bu, aku bahkakn belum pakai alat itu, jadi aku pun belum tahu kalau aku hamil atau tidak?” Rani kali ini memberanikan diri pasalnya memang benar ia bahkan tak yakin kalau dirinya saat ini hamil.
“Tetap saja Rani, kamu anak Bapak sudah ada yang menodai! Kamu kira Bapak akan diam saja?”
Bapak menatap lurus pada kedua pria di hadapannya, “Jawab siapa yang telah melakukannya?!” meja kini menjadi sasaran Bapak, beliau dengan kencang memukul meja tak berdosa itu.
Tama yang sudah gugup menjadi semakin gugup, bahkan tangannya bergetar saat mengangkat tangan untuk mengakui bahwa ia yang telah melakukannya.
“Sa,,, Saya Pak,” jawabnya.
Rani dapat mendengar suaranya yang bergetar, mungkin ia pun takut kalau Bapak akan mengeluarkan celurit saat ini.
Bapak menatap Rani, “Apa kalian suka sama suka?”
__ADS_1
Rani menggeleng dengan cepat, “Dia mabuk Pak,” sekelabat Rani kembali mengingat kejadian mala
itu Rani meremas ujung bajunya.
Bapapk kini telah berdiri bahkan meja yang menjadi satu-satunya benja yang menjadi penghalang antara mereka telah Bapak tending begitu saja sebelum beliau memukuli Tama.
Bapak kali ini serius, belum pernah seumur hidup Rani melihat Bapaknya memukul orang seperti itu. Mungkin dalam pandangan Bapak, Tama adalah samsak tinju bahkan teriakan Ibu dan Rani tak beliau hiraukan lagi.
“Pak Astagfirullah! Sadar Pak!” Ibu berusaha menarik lengan Bapak, namun sayang kekuatan Ibu pastinya kalah kali ini Bapak benar-benar murka.
Rani sebanarnya tak masalah jika Tama harus babak belur, karena itu yang sebanarnya ingin Rani lakukan pada pria itu namuan tetap saja ia tak mau jika ada yang meninggal di rumahnya, bahkan Tama tak berusaha menghindar pria itu malah dengan meringis masih menahan setiap pukulan yang Bapak kasih.
“Rafi jangan diam saja! ayo bantu Rafi! Bapak nggak boleh mukulin orang gini,” Rani berteriak pada Rafi yang hanya menyaksikan apa yang tengah Bapaknya lakukan.
Rafi pastinya juga senang, terlebih sedari kemaren ia masih belum puas menghajar Tama.
“Bapak! Udah!” Rani pun turut menarik lengan besar Bapaknya.
Rani takut kalau emosi Bapak semakin tak terkendali bisa kena serangan jantung, apalagi Ibu beliau masih berusaha menarik-narik kaos Bapak sambil terus menangis sakit sekali hati Rani menyaksikan hal ini.
Akhirnya Rafi yang memiliki tenaga paling kuat untuk menghentikan aksi Bapak, beliau sudah ngos-ngosan sekarang.
“Kamu harus bertanggung jawab karena sudah mengotori anak saya!” kata Bapak masih dengan di tahan oleh Rafi.
Tama yang sudah lemas dan menahan kesakitan di seluruh wajah dan tubuhnya berusaha menjawab, “Saya akan bertanggung jawab Pak, saya akan menikahi Rani.”
Rani membelalakkan mata, enteng sekali pria itu berbicara tanpa berpikir panjang.
“Enggak, Rani akan menikah dengan saya!” semuanya terkejut karena Rafi yang mengatakan hal tersebut.
“Enggak Pak, Rani nggak hamil! Rani belum siap menikah,” kata Rani, ia tak mungkin menikah dengan Tama apalagi ia masih sangat membenci Tama, begitupun dengan Rafi, Rani merasa tak pantas jika menikah dengan Rafi.
“Meskipun kamu nggak hamil, dia harus tanggung jawab Nduk,” ucap Ibu.
“Kalau begitu kamu harus tes sekarang, kalau kamu hamil berarti kamu harus segera menikah!” Tanpa tedeng aling-aling Bapak mengatakan hal tersebut yang mampu membuat Rani semakin membelalakkan matanya.
“Rani nggak mungkin tes sekarang Pak, karena tes kehamilan itu harus dilakukan pagi hari saat Rani buang air kecil pertama setelah bangun tidur. Lagian Rani yakin, kalau enggak hamil,” ujar Rani masih berusaha agar Bapak tidak menyuruhnya menikah dengan siapapun.
__ADS_1
“Kalau hasilnya kamu hamil, aku akan tanggung jawab Rani,” ujar Tama yang kini telah duduk dengan tegak kembali.
“Rani, aku bahkan sudah melamar kamu. Aku nggak masalah dengan hal ini, jadi kamu tetap menikah sama aku ya sayang,” Rafi yang tak mau kalah turut membujuk Rani.
“Enggak Rafi, kita harus menyudahi hubungan ini. Aku sudah nggak pantas bersanding sama kamu, aku, aku mau kita putus,” cicit Rani, ia bahkan tak mampu melihat bola mata kekasihnya itu.
“Rani aku nggak masalah,” ucap Rafi kembali.
Bapak kini mengambil alih perhatian dengan kembali mengatakan Tama lah yang harus bertanggung jawab, “Kamu yang sudah melakukannya pada anak saya, jadi kamu harus bertanggung jawab.”
“Bapak, kenapa harus segera menikah Rani bahkan belum tentu hamil!” Rani sedikit meninggikan suaranya kali ini.
“Rani, Bapak nggak mau anak yang kamu kandung itu nggak punya seorang ayah, apa kata orang nanti,” Ibu mendekati Rani.
“Tapi Bu, Rani belum siap menikah. Rani sekarang bahkan nggak pantas untuk siapapun, Rani sudah kotor,” Rani kini terduduk di lantai ia menangis meratapi nasibnya.
“Dia yang harus bertanggung jawab!” Bapak dengan tegas menunjuk Tama, sebelum akhirnya beliau masuk ke kamarnya dan membanting pintu.
Hidup Rani kini benar-benar kacau, tak hanya dirinya Bapak dan Ibunya terluka ia kembali sesak dengan apa yang tengah Rani alami.
Ibu memeluknya dengan erat, mereka kembali menangis bersama “Ibu maafin Rani, Ibu maafin Rani,” kata Rani berulang kali.
Tama berlutut di hadapan Rani “Rani aku minta maaf, tolong maafin aku. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua.”
Rani melepaskan dirinya dari dekapan Ibu, ia lantas begitu saja melayangkan tangannya untuk menampar Tama.
“Apa yang bisa kamu perbaiki?! Hidup aku hancur sekarang! bahkan kamu sudah hancurin keluargaku Tama! Apa yang bisa kamu perbaiki?!”
Setelah berhari-hari Rani menahan diri akhirnya kini ia dapat melmapiaskan kekesalannya pada pria tersebut.
“Tampar aku lagi! Pukul! Sampai kamu puas! Kalau itu yang bisa bikin kamu lega Rani, pukul!” Tama meraih tangan Rani yang kemudian ia pukul-pukulkan pada wajahnya begitu saja.
Tak ada yang berkata lagi, hanya terdengar tangisan dalam rumah Rani kepulangannya kali ini tak membawa hangat dalam keluarganya.
“Lo emang harusnya di hajar sampai mati bangsat!”
Rani terkejut setengah mati karena kini Rafi sudah menghajar kembali Tama di hadapannya, bahkan di hadapan Ibunya.
__ADS_1
[]