
Tama menunggu di lobby kantor Rani, ia ingin menjemput istrinya itu hari ini semoga saja Rani akan senang melihat dirinya.
Pria itu menyandarkan tubuhnya yang terlalu lelah hari ini, tak hanya tubuhnya yang lelah namun juga pikirannya bagaimana cara menggertak Rafi dan teman-temannya nanti.
Apa Tama hanya bisa pasrah menerima apapun yang akan mereka lakukan padanya, ia menghela napas berharap ada cara lain yang dapat dirinya lakukan.
Tama melebarkan senyumnya saat melihat Rani dan teman-temannya keluar, "Hai," sapa Tama.
Meski awalnya terkejut namun Tama dapat melihat perempuan itu mengendalikan ekspresinya agar terlihat biasa saja.
"Cie, dijemput suami tuh."
Goda salah satu teman Rani yang belum Tama ketahui siapa namanya, "Halo," sapa Tama dengan ramah.
"Kita duluan ya Mbah Rani," ucap teman Rani lainnya.
"Hati-hati ya!" Rani melambaikan tangan sebelum ia beralih pada Tama.
"Kamu ngapain di sini! bukannya istirahat di rumah," omel Rani pada suaminya.
"Aku pengen sesekali jemput kamu, masak nggak boleh jemput istri sendiri," ujar Tama memasang wajah berpura-pura terluka.
"Dih, apaan si. Kamu tu harusnya istirahat biar cepet sembuh, emang udah ambil motor?" tanya Rani memastikan dengan apa Tama datang menjemputnya.
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran, "Itu," tunjuk Tama pada salah satu motor matic berwarna hitamnya.
Tama bahkan membeli satu helm lagi untuk Rani agar dirinya dapat pergi kemanapun dengan perempuan itu menggunakan motor kesayangannya.
"Tadi gimana di kantor polisi?" tanya Rani.
Tama mengenakan helm pada Rani, "Nggak ada hasilnya."
"Maksudnya?" tanya Rani bingung.
Tama mengenakan helm dirinya terlebih dahulu, "Aku bukan siapa-siapa Rani, pasti kalah sama Rafi dan teman-temannya. Mereka punya relasi yang kuat, jadi kasus ini ditutup gitu aja."
Rani sedih mendengarnya, pantas saja Tama terlihat kalut sedari tadi meski pria itu berusaha tersenyum selebar mungkin padanya tetap saja Rani mengetahui apa yang Tama rasakan.
Tama menyalakan motornya sebelum menyuruh Rani untuk duduk di belakanganya, "Ayo, naik."
Rani mengangguk patuh, untungnya saja motor Tama tak begitu tinggi membuat Rani tak kesulitan, "Kamu bisa bawa motornya? tangannya nggak sakit?"
"Nggak apa-apa aman kok, nanti kalau sakit kamu yang bawa motor ya?" seru Tama mulai melajukan kendaraannya itu.
"Aku nggak bisa bawa motor," ucap Rani kemudian.
"Yah, terus gimana dong," tutur Tama membuat Rani merasa bersalah karena tak dapat membantu Tama.
"Iya gimana ya, maaf ya. Nanti kita naik angkot aja deh," ucap Rani kemudian.
Tama tertawa, "Udah tenang aja aku bisa kok."
"Apa?" tanya Rani karena saat ini mereka di tengah jalan membuat suara Tama tak begitu terdengar, "Kamu ngomong apa Tama?"
"Kamu tenang aja aku bisa bawa motornya," ucap Tama meninggikan suaranya.
"Apa Tama?" tanya Rani lagi.
Tama tertawa terbahak-bahak, "Rani cantik."
__ADS_1
Dan Rani mendengarnya dengan jelas kali ini, ia mencubit pinggang Tama, "Ga jelas."
"Pegangan Rani," ujar Tama sedikit meninggikan suaranya.
"Ngapain?" tanya Rani polos.
"Kamu nggak takut jatuh?"
"Enggak tuh,"
"Kalau jatuh jangan salahin aku ya," goda Tama membuat Rani sedikit menarik ujung hodie Tama.
"Jangan pegangan gitu," ucap Tama.
"Ha?"
"Peluk Rani, peluk pinggang aku."
"Apaan sih. Udah fokus bawa motornya Tama, kamu tu selalu ribet deh," ucap Rani kesal.
Tama hanya terkekeh, Rani sudah mulai mengomelinya seperti biasa itu artinya suasana hati perempuan itu telah membaik.
Tama menghentikan motornya pada salah satu pedagang kaki lima yang membuat Rani bertanya-tanya kenapa mereka tak langsung pulang saja.
"Tama mau ngapain?" tanya begitu ia turun dari motor.
"Kita makan dulu ya," ucap Tama melepaskan pengait helm Rani.
Saat pria itu menuntun tangannya, Rani hanya diam saja menurut ternyata Tama mengajaknya untuk makan sate.
Rani melihat seorang pria berkumis tengah mengipas-ngipas sate sehingga asap menguar memenuhi jalanan.
Rani mengangguk ia memilih duduk terlebih dahulu, "Iya, aku juga laper."
Tama memesan dua porsi sate kambing untuk mereka, yang membuat Rani takjub pria itu terlihat sangat sopan berbicara dengan penjual sate.
Berbeda dengan Rafi yang akan tetap duduk ditempat sambil memesan, Tama memilih untuk mendekati penjual sate itu secara langsung saat memesan makanan.
Ponsel Rani tiba-tiba berdering, ia dengan cepat mengangkatnya, "Assalamualaikum Bu."
"Walaikumsalam Nduk, kamu gimana kabarnya baik-baik toh di sana?"
"Alhamdulillah, baik."
"Nak Tama gimana?"
Rani melihat Tama yang kembali duduk di sebelahnya, "Alhamdulillah Bu, kita baik kok."
Rani berbisik pada Tama seraya menunjuk ponselnya, bahwa yang tengah menelponnya Ibu. Tama mengangguk meminta ponselnya di speaker, untungnya tak ramai orang di tenda sate itu.
"Kamu lagi di luar ya? kok kaya rame gitu."
"Iya Bu, Rani sama Tama lagi makan di luar."
"Ibu ini Tama," ucap Tama ikut nimbrung.
"Iya Le, yaa Allah kamu baik-baik aja kan? nggak dimarahin Rani terus toh?" tanya Ibu yang membuat Rani merasa disudutkan.
"Ya Allah Bu, Rani mana pernah marah-marahin dia," ucap Rani sedikit ngambek.
__ADS_1
Tama tertawa, "Enggak kok Bu, Rani baik. Ibu jangan khawatir lagi ya, ini Rani nya udah makin sayang sama Tama," ucap Tama membuat Rani melotot.
"Alhamdulillah, kalian baik-baik ya di sana. Ibu tadi sempet kepikiran kalian makanya nelpon."
Rani melihat Tama, namun pria itu meyakinkan untuk mengatakan yang baik-baik saja agar Ibu di kampung tak khawatir.
"Kita baik Bu."
"Jabang bayi gimana udah periksa?" tanya iBu memastikan keadaan calon cucunya.
"Besok kita mau periksa Bu, iyakan Tama?" Rani meminta dukungan pada pria disampingnya, meski awalnya Tama kebingungan karena belum ada pembahasan lagi mengenai kapan Rani akan kontrol ke dokter mengenai kandungannya namun Tama mengangguk.
"Iya Bu, inshaallah besok kita akan periksa ke dokterk. Oh iya, Bapak gimana Bu?" tanya Tama kemudian.
"Bapak, baik-baik aja. Ini disamping Ibu nggak mau ngomong katanya takut nangis."
Tama dan Rani tertawa mendengar jawaban Ibu, "Bapak jangan terlalu capek ya," ujar Rani.
Terdengar suara grasak-grusuk sebelum Ibu menjawab, "Kata Bapak iya Nduk," Ibu jadi penyampai pesan antara Bapak dan Rani.
"Yaudah kalian makan dulu, kalau ada apa-apa kabarin Ibu ya."
"Ibu sama Bapak sehat-sehat nggih. Besok Rani transfer buat belanja Ibu ya," ucap Rani kemudian.
"Udah nggak usah Rani, kamu urusin keperluan anak kamu aja."
"Udah ada kok Bu, nggak apa-apa besok Rani transfer ya. Untuk sekolah adek-adek juga."
"Yasudah, makasih ya Nduk," ucap Ibu akhirnya meski Rani tahu Ibunya itu pasti merasa tak enak.
"Iya Bu. udah dulu ya, assalamualaikum."
Rani menutup telponnya setelah mendapat jawaban dari Ibu, ia hampir saja kelupaan kalau bulan ini harus mengirim uang ke rumah. Meskipun Rani sudah menikah tetap saja orang tuanya menjadi prioritas Rani untuk saat ini.
"Memangnya besok kita akan ke dokter?" tanay Tama kemudian ia kembali membahas apa yang Rani katakan pada Ibu tadi.
Rani memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, "Iya, sekalian kamu periksa lagi ya, mumpung aku besok libur."
Tama baru ingat Rani kalau hari minggu memang libur, "Oke kalau gitu, aku jug audah penasaran gimana kabar anak kita."
Rani dapat melihat betapa sumringahnya Tama, ia turut tersenyum menyaksikannya.
"Aku nggak nyangka Rafi jahat sama kamu," ucap Rani kemudian.
Tama kembali menatap Rani, "Udah biasa, aku lebih khawatir kalau kamu bakal dia ganggu juga."
"Tapi aku yakin kok, kamu pasti nggak akan biarin Rafi ngelakuin hal itu," ucap Rani yakin.
Tama tersenyum baru kali ini ia mellihat Rani sebegitu percayanya padanya, "Makasih ya, sa,,,, yang."
Rani memukul lengannya begitu saja melupakan fakta kalau di sana ada jahitannya, "Kebiasaaan nggak bisa diajak serius."
"Aw! Rani sakit," ringis Tama memegangi lengannya yang tertutup hodie.
"Eh, eh, maaf, Tama, maaf aku lupa," ucap Rani panik.
Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak menyadari kebodohan keduanya, meski polisi tak dapat melindungi Tama namun ia akan berusaha melindungi dirinya dan keluarga kecilnya sendiri apapun akan ia pertaruhkan bahkan hidupnya sendiri.
[]
__ADS_1