MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 36 : C e m b u r u .2


__ADS_3

Sepanjang jalan yang dipikirkan oleh Tama ialah apakah Rafi sudah pulang, tak hanya karena dirinya tak suka pada pria itu namun Rani butuh istirahat terlebih besok perempuan itu harus masuk kerja.


Akhirnya Tama menepikan motornya ia akan coba menelpon Rani, untuk mengetahui apakah cecurut itu sudah pulang apa belum.


Meski Tama tak pernah melakukan panggilan dengan Rani sebelumnya namun tak sulit baginya menemukan kontak Rani, ia teringat bagaimana dirinya meminta nomor ponsel Rani pada Rendi, adik iparnya.


Nada sambungan panggilan terhubung setelah Tama mengklik panggil pada kontak Rani, namun tak diangkat oleh pemiliknya.


Jangan panggil Tama kalau dirinya mudah menyerah, akhirnya Tama coba menelpon kembali nomor Rani.


*“Halo?” *Akhirnya Rani mengangkat panggilannya, Tama senang bukan main.


“Rani?” tanya Tama memastikan.


“Iya, ini siapa ya?” memang Rani belum memiliki kontak dirinya.


Tama membuka helmnya terlebih dahulu agar lebih jelas mendengar suara Rani, “Rani, ini aku Tama.”


“Oh ini kamu, kamu kok punya nomor aku?”


Tama tertawa, “Ya punya dong, kamu kan istri aku. Kamu jahat banget nggak punya nomor suaminya sendiri.”


“Maaf, ada apa nelpon? Udah mau pulang?”


“Belum Rani, belum juga nyampe aku.”


“Trus kenapa?”


Tama berdehem sebelum menyampaikan maksud dari dirinya yang menelpon, “Em, itu Rafi apa masih di sana?”


“Masih.”


“Oh, yasudah.”


“Itu aja?” tanya Rani.


“Iya,” Tama ingin segera menyuruh Rafi pulang, tapi ia bingung mengatakannya terlebih pasti Rani pun lebih senang bersama Rafi.


“Mau aku suruh pulang, dianya?”


Tama kesal, haruskah Rani bertanya seperti itu jelaslah dirinya lebih senang jika Rafi segera pulang, “Terserah kamu.”


“Yasudah aku tutup ya?”


Tama tak menjawab, ia diam saja namun hatinya bergemuruh kesal dengan Rani yang tidak peka, suami kamu lagi cemburu lho Rani, ada pria lain yang bertemu dengan kamu, tapi Tama tak mampu mengatakannya.


“Tama?” suara Rani kembali terdengar.


“Kamu mau nyuruh Rafi pulang?” tanya Tama memastikan.


“Mungkin, kata kamu terserah aku kan?”

__ADS_1


Tama menghela napas, “Yasudah terserah kamu.”


Masih dengan kekesalan yang memenuhi dadanya Tama menutup begitu saja panggilannya, biarkan suka-suka Rani.


Setelah memastikan hemlnya terpasang dengan baik Tama kembalinya melajukan motornya, namun kali ini dengan kecepatan tinggi. Tama ingin melampiaskan kekesalannya, bahkan tak peduli dengan teriakan kesal orang di jalan karena Tama menyalip sesuka hati.


Melewati dua lampu merah akhirnya Tama sampai juga pada bangunan kecil di pinggir jalan, meski terlihat sederhana namun café tersebut terlihat ramai pengunjung.


Setelah melepaskan helmnya Tama memasuki Café dengan desain minimalis itu, Tama celingukan mencari seseorang namun ia tak dapat menemukannya, akhirnya Tama memilih untuk bertanya pada seseorang yang tengah sibuk membuat coffe latte.


“Permisi, apa Retnonya ada?” tanya Tama dengan sopan pada perempuan berambut sebahu yang


mengenakan bando.


“Tama ya? tadi Retno sempet cerita ada temennya yang mau kesini soalnya,” ujar perempuan tersebut.


“Iya, tadi pagi memang saya sempat kontak Retno.” Tama memang sempat memberitahu Retno kalau dirinya hari ini akan ke café perempuan itu.


“Santai aja kali, kita seumuran kok. Lo tunggu di sini dulu ya, Retnonya di belakang, mau minum apa?” tawar teman Retno.


“Em, gue minumnya nanti aja,” jawab Tama dengan sopan.


“Oke gue panggilin dulu ya, Retnonya.”


Tama menunggu dengan memainkan ponselnya, ia bahkan kembali membuka kontak untuk mencari nama Rani, namun sebelum mengklik tombol panggil ragu-ragu takut Rani malah akan terganggu, hingga beberapa kali Tama melakukannya.


“Yaelah telpon aja kali,” suara Retno tahu-tahu terdengar di sebelahnya.


“Eh Retno, apa kabar lo?” Tama melakukan tos akrab pada sahabat lamanya itu.


Tama dan Laras saling bertukar senyum sebagai tanda halo perkenalan keduanya.


“Oh iya lo bawa gitar nggak?” tanya Retno kemudian.


Tama menepuk jidatnya bisa-bisanya dirinya melupakan hal tersbut, “Gue lupa lagi.”


“Yah, gimana sih lo. Padahal kita udah diskusiin, kalau lo bawa gitar hari ini aja langsung mulai kerja,” terang Retno yang menyayangkan hal tersebut.


“Sorry, gue kira kalian mau rundingin dulu,” ujar Tama.


“Mulai besok juga nggak masalah Ret,” kali ini Laras yang turut nimbrung.


“Okedeh, mulai besok ya lo kerjanya. Eh tapi lo nggak sendiri,” ucap Retno memberikan info mengenai pekerjaan Tama.


“Sama siapa?” tanya Tama penasaran.


“Ada adek junior gue dulu di kampus, lagi butuh pemasukan tambahan katanya. Jadi nanti kalian modelnya kaya akustikan gitu, nah dia yang bakal nyanyi dan lo cukup ngiringin aja,” jelas Retno.


Tama mengangguk-ngangguk paham, “Oke, nggak masalah gue.”


“Selain itu, di café kita nggak setiap hari ada live music Tam, palingan hari mulai hari Rabu sampai minggu aja jam tiga sore sampai malam jam sepuluhan lah. Gimana apa lo keberatan?” tanya Laras, berharap Tama dapat mempertimbangkan hal tersebut.

__ADS_1


Tama berpikir sejenak, “Nggak masalah, gue bisa nyari kerjaan sampingan lagi nanti.”


“Eh lo kayanya lagi butuh duit banget deh, kenapa woi?” tanya Retno penasaran.


“Ya gitu deh, namanya juga harus menafkahi keluarga,” ucap Tama bangga.


Retno tentunya terkejut, “Ha? Demi apa? Lo udah merried?”


Tama mengangguk, “Udah, sorry ya nggak bisa ngundang. Soalnya cuma sederhana acaranya.”


“Sumpah?” Retno tampaknya masih tak percaya dengan hal tersebut.


“Iya, Retno. Gue udah nikah, sama perempuan cantic banget, dan gue bentar lagi mau punya anak,” ucap Tama yakin.


Retno semakin menganga, “Ya Allah, Alhamdulillah deh kalau gitu. Lo jangan pulang dulu ya, gue bikin banyak kue-kue nanti lo bawa pulang deh.”


“Retno, ayo kita lagi banyak pesenan ni, jangan kelamaan ngobrol. Tama sorry ya,” ucap Laras yang akan mengantarkan pesanannya.


“Oke Ras. Oh iya Tama kalau lo nggak keberatan, boleh kok lo bantu-bantu kita, soalnya kita juga butuh karyawan,” tutur Retno yang kini sudah sibuk beralih pada gelas-gelas kotor di wastafel.


“Serius?” tanya Tama memastikan.


Retno mengangguk, “Iya.”


Jangan tanya perasaan Tama sekarang, pria itu senangnya bukan main jalannya benar-benar di permudah ia kemudian teringat Rani juga harus segera ke dokter untuk periksa kehamilan. Akhirnya Tama menerima tawaran Retno tersebut, semoga saja ia dapat bekerja dengan baik.


Tama ingin segera menyampaikan hal baik ini pada Rani, semoga saja Rani ikut senang mendengarnya ia dengan segera menelpon Rani kembali.


“Halo Rani,” ucap Tama begitu mendengar suara Rani di sebrang.


“Iya, Tama apa lagi?” tanya Rani.


“Aku udah dapet kerja,” ucap Tama bersemangat.


“Alhamdulillah, selamat ya,” ucap Rani, namun kemudian terdengar suara seseorang lainnya, “Rani makan ini ya?”


Dan Tama hapal betul suara siapa itu, Tama langsung berubah drastis, ia kembali ke mode galau lagi merasa kesal dengan Rafi yang tak tahu diri itu.


“Rani, Rafi masih di sana?” tanyanya.


“Masih,” jawab Rani singkat.


“Oh yasudah.”


“Iya.”


Rani menjawab tak kalah singkat dari dirinya, dan Tama sebal sekali dengan hal itu. Ia ingin


pulang segera pulang dan mengusir Rafi.


[]

__ADS_1


Ps. Gimana? pada kesel sama Rafi nggak nih? ahahahahhhahaha


Enjoy ya guysss!!!!! terima kasih sudah mampir ke ceritaku emmuachhh


__ADS_2