
Ilustrasi from Pinterest📌
...****************...
"Tama," panggil Rani lirih.
Rani merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya. Seluruh tubuhnya lemah tak berdaya.
Sedangkan Tama masih meratapi apa yang tadi dokter katakan, anaknya tak dapat diselamatkan.
Tekanan berat yang Rani rasakan membuat pendarahan hebat terjadi, sehingga perempuan itu harus mengalami keguguran.
Tama menggenggam jemari Rani yang masih begitu dingin, "Rani, di mana yang sakit?"
"Perut aku sakit," lirih Rani.
Tama tak dapat menahan lagi air matanya, ia dekap Rani yang masih terbaring di tempat tidur pasien.
"Tama kamu kenapa?" tanya Rani bingung masih tak mengerti dengan apa yang telah dirinya alami.
Tama menenggelamkan seluruh wajahnya di perut Rani, "Anak kita Ran, anak kita pergi."
Meski dengan suara yang teredam, Rani dapat mendengarnya dengan jelas.
Rani tercekat, ternyata sakit luar biasa yang dirinya rasakan tadi karena ia mengalami keguguran.
"Nggak! nggak mungkin! aku udah nerima anak ini Tama, aku udah sayang sama dia! kenapa dia milih pergi?!"
Tama mengusap bulir di pipi Rani yang semakin deras, "Rani," apa yang harus dirinya katakan pada istrinya, "Rani ini bukan salah kamu."
Rani memukul-mukul perutnya sendiri, wajahnya yang putih terlihat memerah bahkan urat lehernya tampak jelas karena raungannya.
"Tama,,,,, ini salah aku,,,,,,, ini salah aku," kata Rani sesegukan.
__ADS_1
Tama menggeleng, ia tahan kedua tangan Rani dalam dekapannya, "Ini bukan salah kamu sayang, ini salah aku nggak bisa jagain kalian."
Rani menatap Tama yang sama hancurnya dengan dirinya, "Tama, apa yang harus kita lakukan agar dia kembali,,,,,," Rani kembali pada perut ratanya, "Biar dia tetap di sini sama kita."
Tama menggeleng lemah, "Rani,," ia kembali mengusap pelan wajah Rani, "Kita doakan dia bahagia di sana ya? Kita harus belajar menerima semua ini."
"Enggak Tama! Anak aku masih di sini!" jerit Rani tertahan. Masih tak percaya dengan kenyataan yang mereka hadapi.
Tama mendekap Rani, namun kali ini ia tak mengatakan satu patah katapun Biar saja istrinya meluapkan semua kesedihannya.
"Tamaa,,,,,, aku harus gimana biar dia kembali?"
Tama merasakan baju yang dirinya kenakan basah, ia kecup Rani sekali lagi sebelum kembali mendekap perempuan itu.
"Tama," panggil Emak yang ternyata telah berada di belakangnya.
Tama melepaskan Rani yang masih sesegukan.
"Emak?" tanya Tama tak percaya orang tuanya itu tetap bersikeras datang ke rumah sakit.
"Maaf Tama Emak nggak sabar nunggu sampai matahari terbit," jelas Babe.
"Mak, anak Rani udah nggak ada," lirih Rani.
Babe Jerris menepuk-nepuk pundak Tama yang kini menunduk tak berdaya.
''Allah akan ganti kesedihan kalian sama sesuatu yang lebih baik nantinya Rani. Kamu harus sabar nerima semua takdir Allah," ujar Emak lagi membuat Rani hanya dapat mengangguk pasrah.
Babe Jerris menarik tangan Tama untuk meninggalkan kedua perempuan itu terlebih dahulu, agar Rani menenangkan dirinya.
Namun tak hanya itu, Jerris tentu paham betul Tama tak beda jauh hancurnya.
Tama duduk di kursi tunggu koridor rumah sakit mengikuti Jerris.
"Sabar Tama, serahin semuanya sama yang di atas. Lo kudu kuat biar Rani juga kuat," ucap Jerris menepuk pundak Tama menguatkan, Jerris tahu bagaimana rasanya karena dirinyapun sampai sekarang tak memiliki seorang anak setelah istrinya beberapa kali mengalami keguguran.
__ADS_1
Tama mengurut pelipisnya, "Mana bisa Be, cobaan hidup Tama nggak ada habisnya.''
"Percaya sama gue, Tuhan sayang banget sama lo dan Rani. Setelah semua ini gue yakin hidup lo akan berangsur-angsur membaik. Percaya Tama," ujar Jerris berusaha membuat pria yang telah dirinya anggap seperti anak sendiri itu tak putus asa.
Tama menghembuskan napas lelah, semoga saja apa yang Babenya itu katakan benar adanya.
"Terus temen-temen lo gimana?" tanya Jerris menanyakan kelima teman Tama yang telah menculik Rani.
"Penyelidikan masih berlanjut, terutama buat Waren dalang di balik semua ini," ucap Tama kemudian.
"Lagian ya, lo kenapa bego banget Tama, Tama gue ajarin jadi anak pemberani kenapa bisa-bisanya lo dimanfaatin mereka,'' kesal Babe Jerris.
Tama mengepalkan tangannya teringat pada manusia biadab itu, semua ini terjadi karena mereka semua.
Tama harus merasakan kehilangan anaknya karena Rafi dan gengnya itu.
Percakapan Tama dan Babe terhenti karena Emak, keluar dari ruangan perawatan Rani.
Setelah menatap tama beberapa waktu Emak memeluk anaknya itu, "Tama, ya Allah semoga kamu dan Rani kuat."
Tama membalas pelukan Emak beberapa saat, sebelum ia kembali mengurainya, "Mak, doain Tama sama Rani ya."
Emak mengangguk, perempuan yang telah Tama anggap seperti Ibunya sendiri itu kemudian duduk tepat di sampingnya.
"Rani udah tenang, tadi Ibu suruh tidur. Kamu udah ngabarin keluarga Rani?"
Tama menggeleng, apa yang harus dirinya katakan pada kedua orang tua Rani.
Emak masih menunggu jawaban, perempuan itu tak mengalihkan pandangannya dari Tama.
"Tama bingung harus ngomong gimana, cerita kalau Rani diculik. Tama nggak mau bikin mereka kepikiran," jelas Tama.
"Tapi mereka harus tahu bagaimana keadaan Rani sekarang, dan fakta bahwa calon cucu mereka udah nggak ada," imbuh Jerris.
Tama mengangguk paham, "Mungkin nanti Tama omongin lagi sama Rani gimana baiknya."
__ADS_1
Mengingat usia Bapak dan Ibu Rani, membuat Tama harus ekstra hati-hati memberitahu hal ini, untuk sekarang biar saja keadaan Rani lebih baik terlebih dahulu.
[]