MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 18 : E m o s i


__ADS_3

Mbak Wiwit menatap Rani dari ujung kaki hingga ujung rambut heran dan hal iitu membuat Rani merasa tak nyaman. Hari ini memang Rani memutuskan untuk ke rumah Mbak Wiwit ia butuh masukan bagaimana cara membujuk Bapaknya agar Rani tak perlu menikah.


“Kenapa sih Mbak?” Rani melengos, dan masuk ke kamar Mbak Wiwit begitu saja.


“Katanya kamu hamil?” Tanya Mbak Wiwit tanpa dosa.


Rani memutar bola matanya, “Enggak. Kata siapa? Apa gosip seperti itu sudah menyebar di kampung kita?”


Mbak Wiwit mengelus perutnya yang mulai membesar, “Bapak kamu beberapa hari ini ke sini terus, galau banget beliau takut kalau anaknya beneran hamil.”


“Aku nggak hamil Mbak, bahkan udah aku tes nggak ada tanda-tanda dua garis itu,” jelas Rani ia merebahkan tubuhnya di samping Wiwit.


“Trus kenapa mukamu lesu gitu?” tanya Wiwit memperhatikan wajah Rani yang sedari tadi lecek seperti baju belum di setrika.


“Bapak kekeuh pengen aku menikah Mbak,” jawab Rani lesu.


Mbak Wiwit bangkit dari posisi tidurnya, kini ia memilih untuk bersadar di kepala ranjang hamil muda membuat Wiwit hanya ingin bermalas-malasan.


“Sama pria yang nidurin kamu?”


Rani mengangguk, kini matanya tampak berkaca-kaca mengingat bagaimamna Bapak yang bersikeras mau Rani tetap menikah dengan Tama.


“Dia sepertinya pria baik Ran.”


“Kalau dia baik seharusnya nggak melecehkan perempuan Mbak, baik dari mana coba?”


“Namanya juga khilaf,” jawab Mbak Wiwit enteng yang membuat Rani memutar bola matanya.


“Aku curiga sebenarnya dia menggunakan pelet Mbak,” ucap Rani ia kini turut duduk.


Mbak Wiwit menatapnya aneh, “Ngawur kamu.”


“Buktinya semua orang sekarang sudah berpihak pada laki-laki itu, bahkan Bapak merelakan anaknya untuk dinikahi pria bejat seperti dia,” ujar Rani menggebu-gebu.


Mbak Wiwit menggeleng, “Rani, semua manusia pasti melakukan kesalahan termasuk dia. Tapi aku bisa bilang kalau Tama itu orang baik karena dia berani minta maaf sama Bapakmu, bahkan waktu Bapakmu ke sini anak itu ngintilin sampe sujud di kaki Bapakmu. Aku sampai heran kok ya dia nggak takut.”


“Cerita Mbak Wiwit nggak membuat aku goyah, aku tetap nggak mau menikah sama dia,” ucap Rani


kesal.


“Ya terserah kamu, tapi yang aku lihat dia anak baik. Lagi pula apa salahnya menikah dengan dia Rani? Toh nggak mungkin kan kamu akan menceritakan aib ini ke siapapun nanti lelaki yang mau menikahi kamu?”


Rani paham yang Mbak Wiwit makasud aib itu adalah bahwa fakta Rani nggak perawan lagi, kenapa sih semua orang mempermasalahkan hal itu tapi menerima orang yang telah melakukannya yaitu memberi kesempatan kepada Tama.


Ini kan kejahatan dia, harusnya dia yang di suruh pergi sejauh-jauhnya bukannya memaksa Rani untuk menikah dengan lelaki itu dengan alasan siapa nanti yang mau menerima dirinya karena sudah tak perawan, ini sangat menekan dirinya. Rani merasa tak punya harga diri lagi, bahkan taka da seorang pun yang memihak dirinya.


“Nggak ada seorang pun yang ngertiin aku, di sini aku tu korban Mbak. Tapi kalian menyuruh aku menikah dengan penjahat itu,” ucapnya semakin memberengut.


“Kita nggak membenarkan apa yang Tama lakukan Rani, dan kita pasti memihak kamu. Tapi ini dia mau bertanggung jawab, kenapa harus kamu tolak?”


“Dia bertanggung jawab pun nggak akan merubah keadaan aku Mbak, traumaku, dan sakit hati ku.”


“Rani, gini. Aku juga mengalami hal yang sama, tapi ya aku coba untuk kasih kesempatan buat Heri tanggung jawab dan berubah.”


“Kita berbeda Mbak, kalian melakukan itu atas dasar suka-sama suka meskipun ada paksaan dari Heri, tapi kalau aku ? Aku bahkan baru kenal sama dia, lebih parahnya aku pacaran sama sahabat dia lho. Dia mabuk Mbak, dalam keadaan nggak sadar,” jelas Rani bersungut-sungut.

__ADS_1


“Jadi kamu maunya gituan kalau dia sadar Ran?”


“ASTAGFIRULLAH MBAKKKK!”


Mbak Wiwit terbahak-bahak seperti orang yang tak berdosa, salah memang Rani memilih membicarakannya pada Mbak Wiwit, bukannya dapat solusi malah Rani tambah emosi lagi hari ini.


“Aku dari tadi ngomong serius lho Mbak.”


“Iya iya maaf, aku jangan jelek-jelekin orang mulu ah, anakku denger nih,” ujar Wiwit dengan mengelus-ngelus perutnya.


Rani menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan dramatis, “terserah kamu Mbak, terserah, capek aku. Bahkan Bapak nggak ngertiin aku.”


Mbak Wiwit mengusap-usap punggung Rani yang membelakanginya, “Sabar ya, Bapak kamu tu khawatir sama anak perempuannya. Beliau pasti takut kalau kamu nanti harus mengalami hal yang sama lagi.”


“Aku takut banget waktu mau tes kehamilan tadi pagi, takut kalau aku beneran isi selesai semua,” kata Rani mengusap matanya yang telah basah.


“Tapi kamu harus tetap coba periksa lho Ran.”


“Ngapain? Aku beneran nggak hamil Mbak.”


“Memastikan saja, siapa tahu nggak akurat alat tesnya itu. Temenku pernah ada yang gitu, eh ternyata pas di USG hamil dia sudah jalan seminggu,” jelas Wiwit.


“Nanti deh kapan-kapan.”


“Jangan kapan-kapan, lebih cepat lebih baik biar ketahuan mumpung masih kecil.”


“Gusti! Aku nggak hamil pokoknya!”


“Ya terserah kamu kalau gitu Ran, tapi kalau ternyata hamil bukan salah aku ya.”


“Kalau enggak menikah saja dengan pacarmu itu,” usul Mbak Wiwit kemudian.


“Nggak Mbak, aku nggak akan tega melakukan itu. Dia pantas dapat seseorang yang lebih baik dari aku.”


Rani kemudian teringat dengan Rafi, di mana pria itu sekarang? apakah sudah kembali ke Jakarta? Terakhir kali mereka bertemu Rafi terlihat sangat kusut bahkakn pipinya tirus, Rani yakin pria itu mengalami hari yang berat seperti dirinya.


“Duh Ran, kamu tu mikirnya terlalu ruwet, ayo di persimple aja sih. Yang sudah terjadi biarlah, udah, ikhlas.”


“Ikhlas pala mu Mbak!”


Meski percakapannya dengan Wiwit tak menghasilkan kesimpulan yang jelas namun sedikit melegakan perasaan kalut Rani beberapa hari ini, meskipun emosi setidaknya dia sudah mengeluarkan unek-uneknya.


Ponselnya yang sedari tadi tergeletak berdering tanda seseorang menghubunginya, Rani langsung menggeser tanda terima pada layarnya setelah melihat nama yang


tertera.


“Halo Mbak,” sapanya.


“Rani! Gimana liburan kamu di kampung? Seru kan?” Mbak Lula terdengar bersemangat menanyakan hal tersebut pada Rani, nggak tahu aja kalau


kepulangan Rani kali ini bagaikan neraka.


“Ya begitulah Mbak,” jawab Rani tak bersemangat.


“Kamu balik ke Jakarta kapan?”

__ADS_1


Waktu mengizinkan Rani pulang kampung, Mbak Lula memang hanya berpesan jangan lama-lama tapi Rani tak yakin akan segera balik ke Jakarta terlebih masalahnya sekarang. Rani juga yakin Bapak nggak akan mengizinkannya berangkat lagi ke Jakarta.


“Mbak kayaknya aku nggak akan ke Jakarta lagi deh,” ujar Rani pelan.


“Lho kenapa?!”


Rani harus menjauhkan ponselnya karena suara Lula yang tinggi membuat telinga Rani berdengung.


“Ada masalah Mbak, tapi aku nggak bisa cerita sekarang.”


“Rani, kalau tahu gitu aku nggak akan kasih izin kamu ulang kampung kemaren. Kita keteteran banget, anak baru nggak bisa diandelin Ran.”


Dari suaranya Rani yakin Mbak Lula setengah kesal, mungkin karena tokonya yang lagi hectic.


“Semangat ya Mbak!” hanya itu yang dapat Rani sampaikan saat ini, bukannya ia tak peduli tapi hidup Rani sekarang pun tengah di ambang kehancuran. Jika bisa ia ingin angkat tangan pada kamera, namun kameranya di mana Rani sendiri tak mengetahuinya.


“Oke deh Ran, semoga masalah kamu cepat selesai dengan baik ya. Kalau sudah, jangan lupa balik ke sini, tapi kalau pun enggak nanti kabarin aku ya?” suara Mbak  Lula kembali menghangat, khas Mbak Lula biasanya yang sangat pengertian.


“Iya Mbak, siap.”


Panggilan berakhir karena Mbak Lulu yang harus kembali menghandle pekerjaannya, Rani kembali meletakkan ponselnya begitu saja.


Sudah berhari-hari Rani bahkan tak bersemangat untuk sekedar memainkan ponsel seperti


biasanya.


“Habis nikah tetap kerja nggak masalah tahu Ran,” tahu-tahu Mbak Wiwit nyeletuk, pasti sedari tadi perempuan itu mendengar percakapan Rani.


Rani memperlihatkan wajah masamnya, “Apa sih, Mbak. Siapa juga yang mau nikah.”


Pintu kamar Mbak Wiwit yang dibiarkan sedikit terbuka membuat Rani dapat melihat seseorang berjalan mendekat, ternyata itu adik lak-lakinya yang jarang sekali Rani lihat di rumah.


“Ngapain?” tanya Rani begitu Rendi, adiknya melongokkan kepala ke dalam.


Pakdhe Marno yang memang kakak laki-laki dari Ibu membuat mereka pun berhubungan baik sama ke anak-anaknya, sehingga sudah biasa masuk kerumah satu sama lain seperti ini.


“Dicariin Bapak,” jawab Rendi singkat.


“Ngapain?”


“Katanya sih, mau minjem KTP Mbak Rani.”


Rani melotot, “Buat apa?”


“Mana Ku tahu,” Rendi mengangkat kedua bahunya tanda ia tak mengetahui alasan Bapak.


Rani lantas menatap Mbak Wiwit dan Rendi bergantian, “Bapak mau utang pinjol kali ya?”


Wiwit hampir menjitak kepala Rani, “Yakali Ran, palingan buat ngurus ke KUA.”


Rani melongo, setelahnya ia segera berlari sekencang mungkin Rani akan menyembunyikan semua berkasnya sekarang, pokoknya Rani tetap nggak akan menikah dengan Tama.


Wiwit dan Rendi yang menyaksikan hal tersebut hanya saling bertukar pandangan tak percaya


dengan apa yang mereka lihat, Rani seperti angin topan kecang di siang hari.

__ADS_1


[]


__ADS_2