MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 71 : K a g e t


__ADS_3


Ilustrasi from pinterest 📌


...****************...


Hari ini hanya dihabiskan Tama untuk menjaga Rani.


Sekali pria itu pergi untuk mengambil ponsel Rani di rumah, namun selebihnya hari ini ia habiskan berbaring di tempat tidur pasien, membuat Rani sedikit tak enak dengan suster yang mondar-mandir mengecek kondisinya.


Tapi nampaknya pria itu tak merasa terganggu sedikitpun, bahkan waktu Mbak Lulu datang menjenguknya tadi, tetap saja Tama memilih tak beranjak.


Hanya saja bedanya ia mau merubah posisi tidurnya jadi duduk.


Waktu Retno dan Laras datang pria itu hanya tersenyum malu-malu, padahal Retno telah melemparkan tatapan jijik padanya.


Untung saja Babe dan Emak, mengerti kedua orang tua itu langsung izin pulang waktu dokter bilang tak perlu khawatir karena keadaan Rani akan berangsur membaik.


Tapi Rani tahu pasti alasan sesungguhnya karena ingin meninggalkannya dan Tama berdua, lihat saja setelah solat magrib, Tama kembali goleran di tempat Rani.


Sedangkan Rani terduduk karena merasa bosan seharian berada di kamar.


"Sebenarnya yang sakit siapa sih? Kenapa kamu yang tidur mulu dari tadi?" protes Rani mengikat rambutnya.


Tama meringsut memeluk pinggangnya membuat Rani untuk beberapa saat kembali tegang, "Tama!"


Omelan Rani tak membuat Tama lantas melepaskan tangannya.


Rani baru paham kalau beginilah cara Tama menyalurkan kesedihannya, tanpa mengucapkan secara gamblang kalau dirinya sedang tak baik-baik saja, Tama lebih memperlihatkan tingkah manjanya pada Rani.


Setelahnya air mata keluar begitu saja, awalnya Rani akan panik. Namun sekarang ia hanay akan memberikan Tama pelukan agar lelaki itu merasa lebih baik.


Tapi jangan salah Tama akan tetap siaga kalau saja Rani membutuhkan sesuatu, "Geseran dulu, aku pengen makan jeruk."


Tama langsung bangkit meraih buah berwarna oranye di samping Rani.


"Aku bisa sendiri Tama," ucap Rani.


Menatap Rani sesaat kemudian Tama memberikan buah bulat itu ke tangan Rani.


Rani mendesah, ia tarik kata-katanya tadi bahwa Tama suami siaga.


"Kamu waktu kemaren aku hamil perasaan perhatian," decak Rani kesal.


"Yaudah sini aku kupasin," pinta Tama.

__ADS_1


Namun Rani masih bergeming, ia kupas jeruk di tangannya dengan muka mencebik.


"Kamu dulu aja nggak aku minta, udah ngupasin duluan , apa karena sekarang aku nggak hamil anak kamu?" protes Rani lagi.


Tama kembali duduk di tepi ranjang samping Rani, ia lantas mengambil jeruk tersebut.


"Kok kamu ngomong gitu, ada ataupun nggaknya anak kita aku tetep sayang kok sama kamu. Aku udah cinta Rani, sama kamu."


Perkataan Tama sukses membuat Rani menahan senyumnya.


"Kalau kamu gimana?" tanya Tama menyodorkan satu jeruk ke mulut Rani, "akk," menyuruhnya membuka mulut.


Rani patuh membuka mulutnya, "Maksudnya aku gimana?"


Rani mengernyitkan alisnya, "Asem banget."


"Masak sih?" Tama ikut mencoba jeruk, tepat detik berikutnya ia memuntahkan kembali jeruk tersebut karena sangat masam.


Rani menyaksikan hal tersebut tertawa karena ekspresi lucu Tama.


"Udah aku bilang, nggak percaya sih."


"Pasti Retno belinya nggak ikhlas nih," ucap Tama mengingat bagaimana galaknya salah satu temannya itu.


Tama meneguk air putih terlebih dahulu sebelum menyodorkannya pada Rani.


"Maksud aku, dengan nggak adanya anak kita sekarang apa kamu akan tetap mau melanjutkan hubungan kita?"


Tanya Tama sekonyong-konyong, membuat Rani sedikit terpojok.


Rani terlihat terluka, "Kamu kenapa mikir gitu?"


Tama meneguk ludahnya, sepertinya apa yang akan dia katakan sesuatu yang menyakitkan bagi pria itu, "Selama ini kan, kamu mau menikah sama aku karena kamu hamil kan?"


Mata Rani rasanya penuh, ia hampir saja menangis kalau saja ia mengedipkan matanya.


"Awalnya iya, tapi apa kamu nggak lihat usaha aku untuk nerima kamu?"


Tama bergerak-gerak gelisah, jeruk di tangannya telah ia letakkan begitu saja di meja.


"Aku sudah menerima kamu Tama," lanjut Rani meyakinkan diri.


Tama berkedip-kedip tak percaya, namun matanya terlihat berbinar.


"Ada ataupun nggak, adanya kamu di samping aku sekarang bikin aku mikir semuanya akan baik-baik saja," sambung Rani lagi.

__ADS_1


Rani dapat melihat hidung Tama yang kembang kempis, mungkin pria itu tengah menahan untuk nggak loncat-loncat sekarang.


"Kalau Rafi kembali lagi apa kamu, akan-"


"Enggak!" Rani dengan cepat memotong kalimat yang belum selesai pria di sampingnya itu katakan.


"Aku nggak akan kembali pada Rafi, nggak sudi aku balik sama bajingan itu," cibir Rani membuat Tama tertawa, "Dibandingkan dia, aku udah bersyukur banget, Bapak kekeh minta aku nikah sama kamu Tama."


Tama kembali tersenyum senang, sebelum akhirnya ekspresinya kembali sedih.


"Tapi pernikahan tanpa cinta bakal hambar banget lho," tutur Tama masih berusaha memancing Rani.


"Sebenarnya yang mau kamu omongin apa sih!" Rani gemas mendengar rengekan suaminya.


Tama mengerutkan mulutnya persis seperti yang pria itu lakukan kalau lagi ngambek, atau saat Rani omeli, "Ya, kamu akan nyesel nggak kalau kita lanjutin pernikahan ini. Aku takut aja kalau kamu nggak bahagia."


"Kamu mau kita sampai di sini aja?" Tembak Rani ingin sedikit menguji Tama.


Tama melotot dalam hitungan detik, "Nggak, aku nggak mau."


"Lalu," desak Rani lagi.


"Ya, kalau aku pengennya kita tetep bareng-bareng. Aku nggak bisa kehilangan kamu Rani, tapi ,,,,,,,," Tama mengambil tangan Rani yang terkulai bebas di sisinya, "aku nggak mau kalau kamu ternyata nggak bahagia hidup sama aku."


Rani menahan tawa mendengar kalimat terakhir yang pria itu utarakan, terlebih dengan wajahnya yang merengut manja.


"Aku juga Tama, aku nggak bisa kehilangan kamu, aku udah sayang sama kamu, aku khawatir banget tiap kamu nggak ada di samping aku."


Akhirnya runtuh juga kegengsian Rani selama ini.


Tama tak dapat berkata-kata ia menghambur kembali menarik tubuh Rani dalam dekapannya.


"Kalau aku nggak bahagia, dan nggak mau hidup sama kamu mana mungkin aku mau di peluk gini, apa lagi tadi kita habiss-" ucapan Rani terhenti karena Tama mengurai pelukannya.


Tama mengerling jahil, "Habis apa?"


Tak menjawab Rani justru melepas tangannya yang berada di pinggang Tama, ia menaikkan tangannya untuk meraih tengkuk Tama, ia tempelkan wajahnya, membuat Tama yang kali ini gugup.


Rani mengulum perlahan menuntun Tama untuk melakukan hal yang sama, untuk beberapa saat mereka menikmati suasana tersebut sebelum pintu terbuka, terdengar suara familiar membuat Rani dan Tama terkejut bukan main.


"Astagfirullah!"


Entah bagaimana ceritanya, Bapak berdiri di ambang pintu bersama Ibu yang menyusul di belakangnya.


[]

__ADS_1


__ADS_2