
Rani terbangun dengan mata sembab, ia bahkan baru dapat tertidur pukul tiga pagi, saat ini jam di mejanya telah menunjukkan angka enam.
Ia segera bergegas untuk mengemasi barang karena hari ini jadwal Rani pulang ke kampung
halamannya, terlebih Rani harus membeli tiket bus di terminal sebelum kehabisan bangku.
Setelah kejadian semalam Rani hanya ingin sesegera mungkin meninggalkan kota ini, ia berharap tak bertemu lagi dengan Rafi ataupun Tama.
Semalam seingat Rani ada Yori yang menemaninya, namun Yori pun tampaknya paham bahwa bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan apa yang terjadi, entah pukul berapa Yori kembali ke kamarnya sendiri.
Rani memasukkan bajunya dalam koper yang ia beli minggu lalu, pulang kali ini rasanya Rani ingin berlama-lama di rumah.
Ia meperhatikan sekeliling kamarnya, sebenarnya Rani tak memiliki banyak barang, hanya satu lemari, satu kipas angin, dan meja belajar yang ia fungsikan untuk meletakkan printilan seperti sisir, bedak, tas, jam serta beberapa buku yang Rani baca sesekali, jika disatukan tetap saja kopernya akan sangat penuh, lagi pula tak mungkin kipas angin ia masukkan dalam koper.
Rani masih berpikir barang apa yang kira-kira akan dirinya bawa pulang, ponselnya berdering. Ternyata Ibu yang menelponnya, “Assalamualaikum Nduk,” suara ibunya terdengar setelah Rani menggeser layar terima.
“Waalaikumsalam,” jawab Rani.
“Nduk kamu jadi pulang kan?”Tanya Ibu dari seberang, terdengar sedikit bising di tempat Ibunya.
“Iya Bu, ini Rani lagi beres-beres. Besok palingan Rani sudah nyampe rumah.”
Rani menutup rapat koper yang telah penuh, ia bahkan harus berusaha menekannya agar dapat di resleting dengan benar.
“Yaudah, hati-hati ya Nduk.”
Ibunya kemudian menutup panggilan tersebut, bagaimanapun keadaan keluarganya Rani sangat bersyukur masih memiliki Ibu yang sangat menyayanginya.
Rani kemudian segera mandi dan mempersiapkan dirinya, karena perjalanan yang ia tempuh akan menghabiskan waktu berjam-jam di bus Rani memilih mengenakan pakaian yang nyaman, celana kulot kain serta kaos putih dengan motif bunga di bagian bawahnya serta jaket jeans crop top jaga-jaga kalau AC busnya nanti dingin.
Rani menarik koper beratnya, sebelum menutup semua pintu Rani memastikan tak ada aliran listrik yang masih menyala ia mencabut semua kebel serta mematikan saklar seluruh lampu.
Rani cukup terkejut melihat sesosok perempuan yang bersandar di bangku panjang depan kamar Rani,
“Astagfirullah,” katanya mengelus dada.
Sosok itu ternyata terkejut mendengar suara Rani, ia membuka matanya dan bangkit dengan rambut yang acak-acakkan.
“Yori? Kamu ngapain di situ?” Ternyata sosok perempuan itu adalah Yori.
Yori berjalan ke arahnya, “Mau kemana lo? Masih pagi buta gini,”
__ADS_1
“Kamu ngapain di situ?” Tanya Rani lagi.
“Ketiduran gue, tadinya takut ada yang gangguin lo lagi makanya gue tiduran di sini,” tutur Yori mengikat rambutnya yang berantakan.
Rani tersentuh, Yori semalaman ternyata menjaga dirinya, bahkan perempuan yang sudah Rani anggap adiknya sendiri itu rela tak tidur dengan nyaman di kasurnya yang empuk, namun tetap saja Rani harus menasehatinya.
“Yaampun, kamu bisa tidur di dalam kamar. Lagian kamu perempuan, nggak aman semalaman di luar begini Yori.”
Yori hanya cengengesan, “Mau kemana sih lo? Mana bawa koper segala lagi.”
“Mau pulang kampung. Oh iya, boleh nggak aku nitip kunci kamar sama kamu kalau mau make kipas angin ambil aja.”
Rani menyerahkan kuncinya pada Yori, tak ada barang berharga di dalam sehingga Rani cukup tenang meninggalkan kamarnya.
Yori menerima kunci tersebut, “Emangnya bakal lama di kampung?”
Rani mengangguk, “Pengennya sih gitu.”
“Gara-gara dua cowok semalam?” tanya Yori lagi.
Rani menggeleng lebih tepatnya ia tak mau menjawab apabila mengenai masalah dua pemuda itu,
“Aku pamit ya, hati-hati kamu di sini. Jangan pulang terlalu malam kalau main.”
“Iya bawel!” kesal Yori.
Rani menarik kopernya, ia ingin memesan grab car langsung menuju stasiun terdekat namun sebelumnya Rani berjalan menuju apotek yang berada di depan jalan raya, sekitar 2 km dari kostnya.
Ia merasa hal ini harus dipersiapkan, apapun yang terjadi Rani harus siap menghadapinya nanti.
Rani memberanikan diri untuk membeli test pack meskipun dalam hatinya sibuk merapal jangan sampai dirinya hamil.
Rani meminta test pack yang paling bagus agar hasilnya akurat, ia memandang benda kecil yang diberikan petugas apotek padanya, ia bahkan tak sadar mengusap perut ratanya.
Jika memang ada yang telah hidup di dalam sana apakah Rani akan tega melenyapkan makhluk tak berdosa itu? Rani menggelengkan kepalanya.
“Mbak gimana? jadi yang itu?” pertanyaan petugas apotek membuat Rani yang tengah melamun sadar kembali.
“Eh, iya Mbak jadi.”
Rani mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar alat tes tersebut, ia bahkan takrepot-repot meminta plastik, dengan segera memasukkannya kedalam tas slempang yang ia kenakan.
__ADS_1
Notifikasi dari aplikasi hijau muncul tanda mobil yang akan mengantarkannya telah tiba,Rani kembali memastikan apakah lokasinya telah sesuai, ia kemudian langsung menuju tempat tujuannya tentunya setelah memasukkan koper.
Jalan cukup padat membuat Rani membutuhkan waktu lebih lama tiba di stasiun, ia berharap masih ada tiket Jakarta – Boyolali yang tersedia.
Rani membuka tasnya, ia kembali memperhatikan benda berukuran kecil memanjang yang dibelinya tadi, kalau nanti dirinya hamil apakah Tama akan bertanggung jawab? Pikirnya.
Lalu bagaimana dengan Rafi pria yang sangat Rani cintai, kisah mereka tampaknya akan berakhir cepat atau lambat.
Rafi pun telah mengetahui hal yang sebenarnya, Rani akan sangat paham apabila nanti Rafi memilih untuk tak melanjutkan hubungan mereka.
Kalaupun Rafi memilih bertahan dirinyalah yang akan memilih tetap mengakhirinya, karena Rani merasa tak pantas bersanding dengan Rafi.
Rani kembali meneteskan air mata, apapun keputusan yang dirinya ambil nantinya pasti akan ada resikonya. Ia hanya berharap pilihannya nanti adalah pilihan yang terbaik untuk semuanya, ia harus dengan dewasa menyikapi hal ini bahkan berlarut-larut tak akan membuat kehidupan Rani berhenti begitu saja setidaknya waktu Rani tak terbuang dengan hanya meratapi sisa hidupnya.
Bahkan bagi seorang Tama, mungkin apabila benar ia mengandung anak dari laki-laki itu Rani harus belajar menerimanya karena pria itu adalah ayah dari anak ini.
“Mbak sudah sampai,” suara pengemudi di bangku depan mengangetkan Rani.
“Oh, iya Pak.”
Rani keluar dengan membawa semua barangnya, saat ia hendak berbalik menuju pintu masuk stasiun Bapak yang telah mengantarnya tadi memanggil Rani kembali.
“Mbak!”
Rani kemudian menoleh, “Iya Pak?”
Bapak tersebut kemudian mengarahkan tangannya yang menangkup seperti bunga yang masih mengatup ke arahnya, Rani sedikit bingung.
“Kenapa Pak?”
Bapak tersebut kemudian mendekat, “Ini ada yang ketinggalan,” pria paruh baya tersebut sedikit membuka tangannya agar Rani dapat mengintip apa isi di dalamnya.
Rani seketika menepok jidatnya sendiri, “Yaampun, maaf ya Pak.”
Ternyata test pact tadi terjatuh dari tangannya, dan ia lupa mengambilnya kembali, Rani segera mengambil benda itu dan langsung ia masukkan dalam tas.
“Hati-hati ya Mbak, semoga apapun masalah yang lagi Mbak hadapi ada jalan keluarnya.”
Rani hampir saja menangis mendengar ucapan Bapak tersebut, ternyata Bapak itu memperhatikan dirinya sedari tadi.
Rani menahan tangisnya sambil berjalan memesan tiket, semoga perjalanannya lancar begitu pula dengan perjalanan hidupnya nanti.
__ADS_1
[]