
Rani menurut saat Tama menariknya pada salah satu kaki lima di pinggir jalan yang tampak ramai, ia sendiri bingung kenapa tak melakukan penolakan seperti biasanya mungkin karena lelah dan nggak mood juga untuk marah-marah, jadi di sini Rani bersama Tama menunggu bakso pesanannya.
“Kamu suka bakso kan?” tanya pria yang ternyata memiliki tahi lalat kecil di samping mata kanannya, baru kali ini Rani sedekat ini dengan Tama sehingga ia baru menyadari hal tersebut.
Rani menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Tama, “Biasa aja.”
Tama mengambil tissue di atas meja untuk mengelap sisa-sisa sambal orang sebelumnya yang masih tersisa “Kata Ibu kamu suka bakso.”
“Sekarang enggak, apalagi makannya sama kamu,” jawab Rani jutek, sengaja ingin membuat Tama sadar bahwa tak ada kesempatan bagi pria itu dalam hidup Rani, sekalipun pria itu berbuat baik.
“Dih, kok gitu. Lalu apa yang kamu suka Rani?” tanya Tama masih berusaha mencari tahu kesukaan perempuan dengan rambut sebahu itu, bener dugaannya bahkan Rani tampak lebih cantik saat dilihat dari dekat.
Rani membuka ponselnya berusaha mencari sesuatu yang dapat ia tonton agar orang di sampingnya tak banyak tanya, “Nggak ada,” jawabnya kemudian.
Tama kemudian bangkit entah kemana Rani tak peduli, ia masih sibuk dengan ponselnya melihat berbagai status yang ada di sosial media, tak selang lama dua mangkuk bakso
Disajikan dihadapannya.
Asap dari bakso menguar membuat Rani yang beberapa hari ini tak napsu makan ingin segera melahapnya. Rani menambahkan dua sendok penuh sambal kedalam baksonya, Rani sudah menelan ludah entah berapa kali karena tak sabar menyeruput kuah tersebut.
Ia melihat tempat di sebelahnya masing kosong, kemana sih ni orang, batinnya karena Tama tak segera kembali.
Rani tak sabar lagi, biarlah Tama pergi kemana dirinya tak mau ambil pusing Rani segera menyeruput kuah bakso yang masih panas itu, karena panas dan pedas yang menjadi satu membuat Rani tersedak.
Rani terbatuk-batuh merasakan kerongkongannya yang terasa panas, seseorang lalu datang menepuk-nepuk punggungnya lembut.
“Rani kamu kenapa?” ternyata Tama yang kini tampak panik.
Rani masih terbatuk-batuk tak mampu menjawab, Tama dengan sigap membukakan tutup botol air mineral yang tadi dirinya beli.
“Minum dulu ya,” Tama dengan segera menyerahkan sebotol air tersebut pada Rani.
Rani meneguknya hingga habis setengah, perempuan itu bahkan ngos-ngosan masih dengan mengelus dadanya yang beberapa saat lalu sulit bernapas.
“Pelan-pelan minumnya,” kata Tama lembut.
Tama tertawa terbahak-bahak melihat ekpresi Rani sekarang, bahkan mulutnya basah setelah minum air barusan, Rani menatapnya kesal.
__ADS_1
“Kok bisa sih?” tanya Tama kemudian.
“Panas banget kuahnya, trus pedes pas masuk kerongkongan kayanya aku belum siap keselek deh,” jelas Rani meskipun masih berusaha mengatur kembali napasnya.
“Makanya pelan-pelan makannya,” Tama menepuk puncap kepala Rani.
Entah Rani tak menyadarinya atau tak ambil pusing dengan apa yang Tama lakukan, karena perempuan itu bahkan tak menepis tangan Tama seperti biasanya sehingga senyuman Tama semakin lebar.
“Seneng? Seneng? Liat orang lain menderita,” gerutu Rani kemudian dengan wajah cemberutnya yang sudah biasa Tama lihat belakangan ini.
“Lucu,” kata Tama pelan.
“Kamu ngapain sih masih di sini? Emang nggak masalah ninggal kerjaan di Jakarta?” tanya Rani mengalihkan pembicaraan.
“Aku kerjanya nggak ada yang terikat,” jawab Tama menambahkan sedikit kecap di mangkuknya.
“Emang kerjanya apa?” tanya Rani.
Tama tersenyum ke arah Rani, nggak salah ini apa yang dirinya dengar perempuan itu mulai ingin tahu mengenai kehidupannya?
“Cie mulai kepoo,,,,” goda Tama.
Rani mengerucutkan bibirnya, “Apaan sih, enggak. Maksud aku kenapa nanya gitu biar kamu cepat pergi dari sini.”
“Halah, bilang aja kamu mulai penasaran dengan hidup aku,” ucap Tama yakin “Aku main gitar, palingan ya manggung sama temen-temen atau sesekali main di caffe. Belakangan ini lagi sepi job.”
Rani mengagguk-angguk paham, ia kemudian mengingat pada malan di villa waktu itu pantas saja pria itu selalu memainkan gitar.
“Nggak semapan Rafi ya?” cicit Tama menebak apa yang saat ini Rani pikirkan tentag dirinya.
Rani menatapnya, “Aku nggak mikir kaya gitu lho ya, lagian setiap orang punya
bidangnya maisng-masing.”
“Aku juga nggak sekaya Rafi, belum punyay rumah sendiri, keluarga juga nggak lengkap. Makanya aku bersikeras mau bertanggung jawab supaya anak aku punyay Bapak,” jelas Tama tanpa diminta Rani.
“Maksud kamu keluarga nggak lengkap?” tanya Rani pelan, “Tapi kalau kamu nggak mau jawab nggak masalah kok.”
__ADS_1
Tama mengedikkan bahunya tanda bahwa dirinya tak keberatan, “Aku anak yang nggak Ibuku inginkkan, lahir tanpa seorag Ayah. Beliau depresi begitu aku lahir, jadi ya aku di rawat sama nenek aku.”
Rani terkejut namun lebih tepatnya ia sedikit merasa bersalah dengan sikap jahatnya terhadap Tama selama ini, kehidupan pria ini ternyata sudah cukup menderita, bagaimana tidak? pria ini bahkan tak diterima oleh Ibunya sendiri terlepas dari kesalahan Tama.
Rani mengelus perutnya yang masih rata, ia tak ingin anaknya merasa tak diterima juga oleh dirinya berusaha meyakinkan makhluk kecil yang akan tumbuh di perutnya bahwa kehadirannyay sangat berharga dan Rani amat bahagia menantinya.
“Tapi aku janji Rani, kalau aku akan bertanggung jawab sama kamu dan anak kita. Aku akan berusaha untuk menghidupi kalian, walaupun aku nggak bisa janji kalau kamu akan selalu bahagia namun nggak akan aku biarin kamu menderita sendirian, tolong kasih aku kesempatan ya?”
Rani menelan ludahnya susah payah, setelah mengetahui kehidupan Tama sepertinyay Rani tak dapat bersikap seperti biasanya, terlebih tatapan lelaki itu saat ini membuat Rani entahlah hanya dapat mematung.
“Rani kamu kenapa?” tanya Tama kini menyentuh dahi Rani memastikan perempuan itu baik-baik saja.
“Eh iya, nggak apa-apa.”
“Kok ngelamun gitu,” tanya Tama.
“Enggak, siapa juga yang melamun,” jawab Rani, ia kemudian meneguk air minumnya.
“Kamu,” kata Tama.
“Enggak.”
“Iya Rani, kamu melamun.”
“Enggak Tama.”
Tama meletakkan alat makannya, kini ia sepenuhnya menghadap ke Rani, “Kamu nggak perlu kasihan sama aku. Aku cerit itu semua bukan mau nyari simpati kamu kok, aku hanya pengen kamu tahu kalau aku nggak akan biarin anak kita nanti merasakan hal yang sama kaya aku. Kamu masih punya hak sepenuhnya buat benci aku Rani.”
Lagi-lagi Tama membuat Rani salah tingkah dengan tatapan pria itu terlebih Tama yang semakin mendekatkan dirinya pada Rani membuat mereka hampir nyarisi tak berjarak, Rani hanya dapat mengangguk-angguk.
“Kamu kenapa sih,” tanya Tama heran.
“Apa sih, enggak!” sewot Rani, “Buruan makannya, aku mau pulang Bapak dan Ibu pasti sedang menunggu.”
Sebenarnya Rani hanya mengalihkan pembicaraan dan menyamarkan salah tingkahnya saja makanya berpura-pura kesal, padahal jantungnya sudah deg-degan bukan main, jangan sampai cerita ini akan seperti ftv benci jadi cinta gara-gara bakso lagi, Rani menggeleng-geleng berusaha menghapus pikiran anehnya.
[]
__ADS_1