
Rani dengan segera berlari menuju kamar mandi saat merasakan ingin buang air kecil, memang pagi ini ia bangun kesiangan karena semalam tak dapat tidur dengan baik. Ia hari ini akan melakukan tes untuk memastikan apakah dirinya hamil atau tidak. Meskipun begitu, Rani tak begitu khawatir karena taka da tanda-tanda jika dirinya hamil.
Kini Rani akan memasukkan alat itu kedalam wadah kecil, setelah mendiamkannya beberapa saat ia kemudian mengangkat alat tersebut.
Benar dugaannya taka da tanda-tanda yang mengartikan bahwa dirinya hamil, Rani sumriangah ia tak sabar memberi tahu Bapak dan Ibu kabar baik ini, ia segera berlari menuju ruang tengah karena jam segini pasti Bapak dan Ibu sedang ngeteh di ruang tengah.
“Bapak, Ibu, Rani nggak hamil,” kata Rani kegirangan, sepertinya sudah sangat lama Rani tak merasa segirang ini beberapa waktu belakangan.
Ibu menyambutnya dengan sama sumringah, “Alhamdulillah, Nduk.”
Berbeda dengan Ibu, Bapak justru memperlihatkan rauh wajah sebaliknya, beliau masih dengan setelan datarnya kemarin tak banyak memberikan respon.
“Syukur kalau begitu,” jawab beliau singkat.
“Bapak kok seperti tidak senang gini toh,” Ibu sepertinya sama herannya dengan Rani.
“Nggak senang gimana Bu, kalau memang nggak hamil ya syukur. Berarti Rani emang belum waktunya jadi seorang Ibu.” Bapak menyandarkan tubuhnya sepenuhnya pada sandaran kursi.
“Kok mukanya Bapak kaya gitu?” Ibu masih mendesak Bapak yang tak terlihat seceria kami.
“Udah Bu, nggak apa-apa,” kata Rani pada Ibunya, “Bapak sekarang nggak usah pusing mikirin pernikahan Rani ya, sekarang toh sudah ketahuan Rani tidak hamil.” Rani kini beralih pada Bapaknya.
Sesaat hening, Bapak tak memberikan reaksi namun kalimat beliau selanjutnya mampu membuat Rani tersedak.
“Kamu harus tetap nikah. Bapak sudah mempersiapkan semuanya sama Pakdhemu, nggak perlu mewah-mewah yang penting kamu nikah.”
“Bapak, Rani nggak mau menikah,” rengeknya, Rani masih nggak tahu kenapa Bapak bersikeras ingin Rani segera menikah.
“Bapak kenapa toh, kalau Rani belum siap biarin saja Pak,” kata Ibu berharap dapat membantu Rani membujuk Bapak.
Bapak berdiri dari tepat duduknya, “Kamu perempuan Rani, Bapak nggak tenang kalau kamu belum nikah. Masalah kemaren sudah cukup bikin Bapak hampir jantungan, pokoknya kamu harus menikah dengan Tama, dia mau bertanggung jawab.”
“Bapak,,,,,” Rani kehabisa kata-kata sejak kapan juga Bapak tahu nama Tama.
“Sudah! Bapak nggak mau dibantah. Kamu harus menikah, minggu depan kita langsungkan pernikahan kamu,” kata Bapak tak mau lagi di bantah.
__ADS_1
“Kenapa harus dengan pria yang sudah merusak hidup Rani, Pak?” tanya Rani tak habis pikir.
“Karena dia pemuda yang mau bertanggung jawab, lagi pula dalam kondisi kamu yang sekarang apa ada yang masih mau melamarmu Rani? Nggak mau Bapak kalau orang lain tahu aib keluarga kita ini.”
Suara Bapak sekarang tak terdengar setegar sebelumnya, beliau pun mulai bergetar. Meskipun Rani sakit mendengarnya, namun tentunya kebenaran ini pun sulit bagi Bapak.
Selesai sudah semua rencana Rani, Bapak telah memutuskan apa yang harus Rani lakukan sekarang? Ia menatap Ibu yang juga masih tampak terkejut dengan sikap Bapak.
“Bu,” panggilnya.
Ibu menoleh kearah Rani, namun beliau juga tak tahu apa yang harus dilakukan, “Rani, Ibu juga nggak tahu harus gimana, kamu nurut aja sama Bapak.”
Bapak berlalu meninggalkan secangkir tehnya yang masih mengepulkan asap, Rani dapat melihat punggung
laki-laki itu tampak rapuh.
Rani mengurung dirinya dalam kamar, meskipun terlihat seperti anak-anak ia hanya berharap Bapaknya dapat berubah pikiran bahkan Rani dengan sengaja tak makan sedikitpun, biar saja kalau nanti dirinya sakit.
Belum selesai dengan Bapak, Rani harus di kejutkan dengan kedatangan Tama di siang hari, namun Rani bersikeras tak mau menemui pria itu sekarang bahkan sudah hampir malam mungkin saja pria itu langsung Bapak usir tadi. Lagi pula yang benar saja, ngapain juga dia berani sekali ke rumah Rani, apa nggak kapok dipukuli Bapak kemaren, pikir Rani.
Seperti saat ini, ia hendak mandi tentunya namun di waktu magrib pastilah semua penghuni rumah ada termasuk Bapak, Rani harus ekstra hati-hati untuk ke belakang.
Membuka pintu Rani menghela napas lega karena tak ada satu orang pun yang terlihat di ruang keluarga karena letak kamarnya yang memang tepat di damping ruang keluarga.
Ia harus melanjutkan berjalanannya, Rani melangkah perlahan melewati dapur, yang syukurnya pun nggak ada orang, ini pada kemana tumben sepi, batinnya.
Setelah dapur maka tak jauh lagi letak kamar mandi, karena Rani yakin ternyata tak ada seorangpun ia kini dapat berjalan dengan santai, namun tetap saja hidup tak selalu berjalan dengan apa yang kita inginkan betapa terkejutnya Rani mendapati seseorang kini baru saja keluar dari kamar mandinya, iya, kamar mandi rumahnya. Siapa yang telah mengizinkan orang asing ini masuk ke rumahnya dengan leluasa.
Rani membeliakkan matanya, “AAAAAAAA!”
Rani teriak histeris, ia berharap sosok itu hantu atau siluman sekalian dari pada manusia sungguhan.
Pria itu yang juga terkejut mengelus dadanya, “Rani, kamu kenapa?”
“Kamu ngapain di sini?” tanya Rani.
__ADS_1
Pemuda yang ditanya mulai terlihat tenang, ia mengusap rambutnya yang basah terkena cipratan air, Rani bisa menebak bahwa pria itu habis berwudhu.
“Rani kenapa kamu teriak-teriak?” Ibu yang entah dari mana kini tepat dibelakangnya.
“Siapa yang ngizinin dia masuk Bu?” tanyanya terdengar kesal menunjuk pria dihadapannya.
Ibu melihat ke arah orang yang Rani maksud, “Bapakmu, ngajak Nak Tama ke masjid.”
Rani mengaga tak percaya, “Kok bisa Bu?”
“Dia dari siang nempelin Bapakmu mulu, nggak tahu kok bisa luluh, Ibu juga kaget.”
Apalagi Rani Bu, ia sama kagetnya apa Bapak dia santet ya kenapa Bapak bisa luluh sama orang yang sudah jahat dengan anaknya sendiri.
Tama masih tak beranjak dari posisinya saat ini, pria itu terlihat kikuk menggaruk-garuk kepalanya.
“Sudah, sana Nak Tama kamu ditungguin Bapak di luar,” ucap Ibu kemudian mengingatkan.
Tama tak mengatakan apapun ia ngacir begitu saja melewati Rani yang masih melongo, tak percaya dengan apa yang tengah terjadi.
“Udah, sana sholat keburu wkatu magrib habis Nduk,” suruh Ibu.
“Bu, Bapak kenapa ya, kok Rani semakin bingung dengan sikap Bapak,” Rani menggelengkan
kepalanya heran.
“Walaupun keputusan Bapak buat kamu sekarang bingung, kamu ikutin saja. Percaya Nduk, Bapak pastinya mau yang terbaik buat kamu. Kalau soal Tama, ya manusia pasti ada khilafnya, nggak salah toh, kalau kita ngasih kesempatan buat seseorang memperbaiki salahnya,” kata Ibu panjang lebar tapi tetap saja tak dapat Rani
terima begitu saja, ia masih sangat membenci Tama.
“Kalau itu keputusan Bapak dan Ibu, tapi nggak buat Rani Bu. Bahkan Rani belum bisa maafin perbuatan dia,” ucap Rani dengan sungguh-sungguh.
“Itu sangat wajar, Ibu juga paham perasaan kamu pastilah butuh waktu untuk itu. Ibu pun sama sakit hatinya dengan Tama. Tapi lihat dia tadi minta maaf pada Bapak dan Ibu membuat Ibu ingin memberinya kesempatan.”
Ibu menepuk pundak Rani sebelum beliau berlalu, apakah bisa Rani selapang Ibu dan Bapak menerima semua ini?
__ADS_1
[]