
Tama sedari tadi tak tenang, ia khawatir dengan Rani apakah perempuan itu dapat fokus bekerja setelah apa yang terjadi tadi pagi.
Sebenarnya jika bisa Tama ingin melarang Rani untuk izin saja hari ini, namun pasti perempuan itu akan menolak.
Teringat jelas bagaimana tadi pagi Rani menangis, dan itu membuat Tama pun merasa sangat bersalah telah melakukan hal bejat itu pada Rani. Belum lagi sekarang Rani merasa malu untuk keluar dari kamar, Tama harus meyakinkan terlebih dahulu perempuan itu kalau tak ada satupun porang di luar baru Rani mau berangkat kerja.
Tama benar-benar membenci Rafi kali ini, ia sudah cukup sabar menghadapi pria itu tapi karena Rafi sudah membuat Rani seterpukul itu, Tama tak akan tinggal diam.
Tama mengambil hodienya ia akan pergi ke kantor polisi untuk mengambil motornya, semoga saja tak perlu mengurus banyak hal agar sore ini Tama dapat menjemput Rani.
Namun sebelum itu mungkin ia akan datang ke cafe karena merasa tak enak hati dengan Retno dan rekan kerja lainnya, selain itu mungkin Tama dapat meminta informasi mengenai di mana polsek tempat sepeda motornya saat ini berada.
Tama mengenakan masker, serta kaca mata hitam agar orang lain tak dapat melihat kondisi mukanya yang masih lebam.
Saat Tama mengunci pintu kepalanya terasa berdenyut seseorang memukulnya dari belakang,
"Aduh," Tama mengaduh seraya memegangi kepalanya.
"Sukurin!" umpat seseorang yang telah memukulnya dengan keras.
Ternyata itu Yori, iya Yori tetangga Rani yang seringkali diomeli Rani. Tama mengelus-ngelus kepalanya, "Yori? kenapa?"
Yori sudah melipat tangannya di dada, gadis itu memasang muka galak membuat Tama bergidik ngeri.
"Lo bener-bener ya! ternyata lo yang jahatin Rani, kalau malam itu gue tahu kalian berantem gara-gara elo udah gue usir jauh-jauh!"
Yori kini kembali memukul-mukul Tama dengan bringas, ia bahkan menendang tulang kering Tama membuat pria itu kembali mengaduh kesakitan.
"Yori udah, sakit ya ampun. Aku udah minta maaf kok sama Rani, ampun!" ucap Tama ia berusaha menghindari setiap pukulan Yori.
Yori mengambil sapu yang tergeletak di depan kamarnya, "Laki macam apa lo segitu biadabnya sama Rani, lo tahu dia udah kaya kakak gue sendiri woi! dan lo dengan teganya ngelakuin hal itu."
"Aduh Yori, iya maaf aduh! Aduh," Tama memegangi kakinya yang terkena pukulan sapu Yori, "Tenang dulu ya," ucap Tama menjauhkan tubuhnya.
"Sekarang gue baru tahu kenapa Rani malam itu nangis kejer, bener-bener ya lo Tama! pergi dari sini!" teriak Yori geram melihat Tama.
Yori ternyata tadi pagi turut menyaksikan apa yang terjadi, dan itu membuat dirinya bukan main naik pitam melihat Tama.
__ADS_1
"Yori, tenang dulu ya. Masalah gue sama Rani udah clear, gue udah minta maaf. Tolong izinin gue sekarang jadi suami yang baik buat Rani."
Yori kembali melayangkan sapunya, "Lo nggak pantas buat cewek sebaik dan sepolos Rani. Lo nggak pantes!"
"Yori, astagfirullah maaf tolong udah, aduh!" Tama tak dapat mengelak lagi, tenaga Yori saat ini lebih besar darinya.
"Nggak akan gue lepasin lo gitu aja ya! gue patahin sekalian kaki lo kalau perlu!" Emosi Yori semakin menjadi-jadi membuat Tama tak ada pilihan lain selain melarikan diri.
"Yori, maafin gue! Tolong kasih gue kesempatan ya, gue akan jagain Rani!" teriak Tama sambil berusaha berlari dengan cepat meski sedikit pincang.
Tama sampai ngos-ngosan ia menoleh kebelakang takut kalau Yori masih mengikutinya, untungnya gadis itu tak mengejarnya lagi. Ternyata meski gadis itu lebih mungil darinya namun Tama sangat kewalahan menghadapinya, terlebih keadaan Tama yang belum pulih betul.
Tama memilih naik angkot menuju cafe Comfort Zone, mengenakan hodie hitam, masker serta kaca mata hitam sepertinya membuat Tama terlihat sedikit aneh karena sedari tadi semua yang ada di dalam angkot menatapnya.
Bahkan ada Ibu-Ibu yang merapatkan tasnya, mungkin saja tampilannya saat ini sangat mencurigakan membuat orang dalam angkot tampak was-was.
Tama sempat berpikir untuk membuka kaca matanya namun ia mengurungkan niatnya itu, bisa gawat kalau mereka melihat matanya yang bengkak pasti dikira pencopet habis dipukulin masa beneran.
Akhirnya Tama menghela napas lega saat waktunya ia turun karena letak cafe yang tak jauh lagi, meski angkot tersebut tak berhenti tepat didepan Comfort Zone namun tak masalah karena Tama hanya perlu berjalan sedikit lagi.
Mungkin tak hanya dirinya yang merasa lega tapi juga semua orang di dalam angkot, Tama tertawa sendiri membayangkan raut wajah semua orang tadi.
"Lagi pada ngapain nih?" sapa Tama pada kedua perempuan itu namun diluar dugaannya, Retno dan juga Laras terlihat aneh melihatnya.
"Siapa ya?" tanya Retno membuat Tama terbahak-bahak.
Tama melepas masker dan kacamatanya, "Ya ampun ini gue. Nggak ketemu beberapa jam doang kenapa pada lupa sama gue sih."
"Tama? lo ngapain di sini!" Retno sudah siap mengomelinya.
Begitu juga dengan Laras, "Bukan main ni anak, ngapain lo? bukannya istirahat di rumah."
"Tenang-tenang gue cuman mau nanya dimana motor gue kok, nggak akan kerja hari ini. Lagian udah janji sama Rani, kalau hari ini gue nggak kerja," ucap Tama kemudian.
"Syukurlah kalau gitu, gue kira lo mau kerja." ucap Laras.
"Oh iya, kata Altar semalem lo diomelin bini lo ya?" goda Retno membuat Tama sedikit malu.
__ADS_1
"Enggak, biasa perempuan kalau lagi khawatir," ujar Tama merasa salah tingkah sendiri melihat bagaimana Rani semalam mengelus tangannya.
"Cih, senyum-senyum sendiri lo!" tutur Retno memukul bahu Tama, membuat pria itu berteriak kencang.
"Sakit yaampun! lo tahu gue hari ini udah dipukul orang berkali-kali, sama Rafi, Yori tetangga Rani, terus tambah lo satu lagi," cerita Tama mengelus tubuhnya sendiri.
"Rafi ketempat lo?" tanya Retno kemudian, pasalnya ia sedikit tahu mengenai Tama dan Rafi yang belakangan tak akur meski Retno tak mengetahui kisahnya secara keseluruhan.
Tama mengangguk, "Gue udah tahu sekarang siapa yang nyerang gue semalem."
"Maksud lo si Rafi Rafi itu ada kaitannya?" tanya Laras ikut penasaran.
"Iya," jawab Tama yakin.
"Udah lo lapor aja sama polisi, gue siap kalau lo butuh saksi," ucap Retno bersemangat.
Tama menerawang, ada hal yang dia pikirkan kalaupun ia melaporkan kasus ini akan sia-sia melawan mereka, "Nggak gampang ngelawan mereka."
"Kenapa?" tanya Laras penasaran pasalnya, diantara Retno dan Tama dirinyalah yang tak begitu mengenal lingkup pertemanan kedua temannya itu.
"Pejabat Ras," jawab Retno coba menjelaskan pada Laras, "Biasalah palingan bokap mereka bakal ngurusin, apalagi Rafi ortunya pengacara ya Tam?"
Tama mengangguk, "Iya, kayanya bakal percuma juga."
"Jangan berkecil hati dulu lo, coba dulu siapa tahu masih ada penegak hukum yang nggak terpengaruh sama yang begituan," ujar Retno coba menyemangatinya.
"Semoga aja ya," kata Tama berharap apa yang Retno katakan ada benarnya.
"Lo harus lebih hati-hati Tama, gue jadi khawatir kalau lo jalan sendiri gini. Bisa aja Rafi masih ngincer lo kan?" Laras mencoba mengingatkannya benar memang kejadian semalam tak dapat dianggap sepele.
"Iya Tama, lo kudu hati-hati," ucap Retno turut mewanti-wanti nya.
"Tapi yang bikin khawatir gue sekarang bukan diri gue sendiri, tapi Rani. Gue takut banget dia kenapa-napa," ujar Tama.
Terlebih atas kejadian tadi pagi, pasti Rafi akan lebih membencinya. Tama takut jika suatu saat dirinya tak ada di samping Rani, Rafi akan melakukan sesuatu pada perempuan itu.
[]
__ADS_1
Ps. hmmmmm jadi ikut deg degan apa yang bakal Rafi lakuin nanti :(