
Tama ingin segera pulang saat itu juga setelah mengetahui Rafi masih bersama Rani, namun dirinya dihadang oleh Retno.
Karena di hari libur kerja café cukup ramai Tama diminta bantu-bantu oleh teman sekolahnya itu, bahkan Tama mulai mengerjakan apa yang dirinya bisa lakukan, seperti mengantar pesanan dan mencuci gelas dan piring-piring hingga tak terasa waktu berjalan begitu saja.
“Maaf ya Tama, kita hari ini lagi repot banget. Makasih lho, udah gercep banget,” tutur Laras merasa tak enak dengan Tama.
“Nggak apa-apa kali Ras, anggep aja ini trainingnya Tama, iya kan Tam?” Kini Retno turut menimpali.
Tama hanya tersenyum simpul, kalau bisa sih sebenarnya tadi dirinya ingin segera pulang menemui Rani.
Akhirnya mereka selesai juga untuk hari ini, semua meja dan kursi telah tertata dengan rapi, kehadiran Tama ternyata sangat membantu dan itulah yang dicari oleh Retno dan Laras.
“Tama, nih, buat bini lo di rumah, gue yang bikin jadi pasti enak,” ucap Retno dengan percaya diri memberikan paperbag yang berisi pastry buatannya.
Tama dapat mencium aroma wangi dari paperbag tersebut, “Ini harum banget Ret, makasih ya. Pasti suka banget istri gue.”
“Iya sama-sama, udah gih duluan aja lo. Besok kesini jam Sembilan ya,” ucap Retno mengingatkan.
Tama melipat meletakkan kain lap di atas wastafel, ia mengamati sekitar sekali lagi memastikan memang semua pekerjaan telah dirinya kerjakan.
“Oke. Gue duluan ya, Ras gue duluan ya,” pamit Tama pada Retno dan Laras yang tengah menghitung hasil pemasukan hari ini.
“Yoi, hati-hati!” seru keduanya serempak.
Tama meninggalkan café pada pukul 22.45 wib saat ia membuka ponselnya, mungkin Rani sudah tidur duluan pikirnya.
Tama sempat berpikir untuk pulang ke kontrakannya saja agar tak mengganggu Rani, namun Tama tak dapat membohongi dirinya kalau ia ingin bertemu dengan Rani akhirnya Tama melajukan kendaraannya menuju ke kostan Rani.
Meski sudah terbilang malam namun beginilah Jakarta tetap ramai, berbeda saat berada di kampung Rani, sekitar pukul 20.00 malam pun sudah terlihat sepi karena setiap orang sudah beristirahat di rumahnya masig-masing, ngomong-ngomong Tama jadi kangen Ibu dan Bapak mungkin dirinya besok akan menghubungi mertuanya itu.
Tama sampai juga di kostan Rani tepat pukul sebelas malam, namun lampu kamar Rani masih menyala.
Ada sedikit rasa senang mengetahui hal tersebut, ia berpikir mungkin saja Rani memang menunggu dirinya.
Tama tak lupa mengunci stank motornya berjaga-jaga saja agar kendaraannya aman, namun kemudian Tama teringat sesuatu, yaampun ia sudah janji pada Rani kalau mereka akan menemui Bu Lina, ia harus minta maaf karena melupakan janjinya.
Tama perlahan mengetuk pintu, “Assalamualaikum, Rani.”
Tak ada jawaban Tama kembali mengetuk pintu, “Rani? Kamu udah tidur?”
“Iya, sebentar,” jawab Rani kemudian.
Terdengar langkah kaki mendekat pertanda Rani akan membuka pintu, Tama menahan napas tak pernah ia bayangkan sebelumnya momen ini. Pulang kerja dan lansung disambut oleh istrinya di rumah.
Rani membuka pintu menampilkan dirinya yang terlihat bangun tidur, matanya merah khas orang masih mengantuk.
“Maaf ya, aku pulangnya kemaleman,” ucap Tama kembali menutup pintu.
“Iya, aku ketiduran tadi,” jawab Rani kemudian.
__ADS_1
“Kamu udah makan belum?” tanya Tama pada Rani yang ternyata perempuan itu tengah menguap.
Rani kemudian menatap paperbag di tangan Tama, “Kamu bawa apa? Wangi banget.”
“Ini kue, buatan teman aku sendiri lho, mau nyobain?” Tama sudah siap duduk di samping Rani.
Keduanya duduk di atas karpet bulu Rani, tepat di depan tempat tidur. Tama mengeluarkan kue tersebut dari paperbagnya dan memberikannya pada Rani.
Rani yang sejak tadi belum makan karena tak enak hati pada suaminya yang belum pulang langsung memakannya dengan lahap.
“Oh, ini pastry pisang coklat aku suka banget!” Rani antusias memakannya.
“Kamu suka atau emang lagi laper sih, lahap gitu makannya,” tawa Tama.
Rani mengunyah terlebih dahulu pastry di mulutnya, “Kamu tadi langsung kerja ya?”
“Iya, aku ditawarin bantu-bantu juga di cafenya Retno, temanku SMA dulu. Eh kamu tahu nggak sih, waktu aku ceritain kalau aku sudah menikah dia kaget banget, kamu mau nggak kalau kamu main ke tempat kerja aku kapan-kapan?” tanya Tama bersemangat.
Namun Rani tak sama semangatnya dengan pria itu, “Nanti ya, inshaallah. Soalnya aku juga besok udah mulai kerja.”
“Iya nggak apa-apa, sebisa kamu aja,” ucap Tama mencoba memahami Rani, “Oh iya maaf ya, aku pulangnya kemalaman jadi kita nggak bisa ketemu Bu Lina.”
Rani mengangguk, “Iya, besok juga nggak masalah. Aku tadi juga udah nunjukin akta nikah, jadi nggak ada yang perlu dipermasalahkan.”
“Sebenarnya,” ucap Tama terputus ia ragu ingin menyampaikan sesuatu pada Rani.
“Sebenarnya apa?” tanya Rani penasaran, “Kamu punya cewek lain?”
“Ya lagian, sebenarnya apa? Ngomong aja sih nggak usah ribet,” ucap Rani kembali pada mode judesnya perempuan itu pada Tama, karena perempuan itu tak pernah bersikap seperti ini pada orang lain hanya pada Tama seorang Rani akan dalam mode judes.
“Sebenarnya Babe, sama Emak, pengen ketemu sama kamu.”
“Babe, sama Emak?” tanya Rani cengo.
“Iya, orang yang aku ceritain ngasih aku tinggal di kontrakannya.”
Rani mengangguk tanda dirinya paham apa yang Tama maksud, “Oh iya, yaudah tapi aku bisanya pas pulang kerja, atau kalau enggak hari minggu aku libur.”
“Kamu hari sabtu nggak libur?” Tama mengambil segelas air dari galon tanpa dispenser di kamar Rani yang kemudian ia serahkan pada Rani.
“Kalau sabtu piket sistemnya, jadi gantian. Kadang aku libur tapi kadang masuk juga,” jelas Rani menerima segelas air dari Tama.
“Kita kayanya harus beli dispenser deh, kamu nggak kesusahan kalau nuang air dari galon langsung?” tanya Tama memang setelah ia perhatikan mereka butuh setidaknya dispenser.
Rani berpikir sejenak, “Ya kalau galonnya penuh agak susah sih, mau beli?”
“Besok aku nyari dispenser ya?” tanya Tama meminta persetujuan istrinya.
“Yaudah, terserah kamu,” putus Rani akhirnya.
__ADS_1
“Kalau kamu libur kita ke dokter ya?” bujuk Tama.
“Jangan sering-sering periksa, mahal,” seloroh Rani yang kemudian meneguk air minumnya.
“Rani, aku sekarang sudah kerja, jadi kamu jangan terlalu mikirin masalah uang ya.”
“Kebutuhan kedepannya makin banyak Tama, dan kita nggak boleh menghambur-hamburkan uang.”
Tama keberatan dengan apa yang Rani katakana, “Kok menghamburkan uang, kan kita periksa untuk memastikan kesehatan anak kita.”
“Belum seminggu lho aku ke dokter waktu kita masih dikampung kemaren,” protes Rani.
“Iya, tapi kita kan harus mastiin anak kita nggak kenapa-kenapa setelah perjalanan jauh Rani.”
Rani mengehela napas lelah, “Yaudah terserah kamu aja.”
“Kamu memang segitunya nggak peduli dengan anak kita?” Mungkin karena hari ini Tama sedikit lelah, entah kemana bicaranya semakin melantur di malam hari.
Rani meletakkan pastrynya di atas paper bag, ia bahkan tak napsu lagi makan setelah mendengar apa yang Tama katakana, “Kalau bisa milih aku belum siap mengandung Tama, aku juga sedang berusaha menerima keadaan ini, anak ini.”
Detik berikutnya Tama merasa bersalah, ia seharusnya tak menekan Rani, terlebih emosi Rani memang sensitif karena tengah mengandung, “Iya Rani aku minta maaf ya, kalau bisa aku ingin sekali mengganti posisi kamu, biar aku yang mengandung anak kita.”
Rani berdiri tak ingin melanjutkan lagi memakan pastry enak itu, dirinya juga tak ingin lagi melanjutkan perdebatannya dengan Tama, “Udah, aku capek. Besok mau kerja, terserah kamu mau mikir buruk tentang aku.”
Tama dengan sigap menarik lengan Rani, “Rani,,,,,,,,” panggilnya berusaha selembut mungkin.
Rani tak menjawab ia hanya menatap Tama dengan tatapan yang sulit untuk di artikan, “Kamu nggak makan lagi?” hanya itu keluar dari mulut Tama.
“Nggak,” jawab Rani kesal mengibaskan tangan orang yang membuatnya tak napsu makan lagi, Rani tak menghiraukan lagi apa yang Tama katakana ia langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, biar saja kalalu Tama menganggapnya seperti anak kecil.
“Rani, maafin aku ya?” Tama menepuk pelan puncak kepala Rani yang tertutup selimut.
“Rani, aku boleh tidur di samping kamu?” tanya Tama lagi, namun masih tak ada jawaban dari Rani, tampaknya perempuan itu ingin mempertahankan kemarahannya.
“Rani, yaampun aku lupa ambil bantal di kontrakan lama,” ucap Tama lagi berharap di respon Rani.
“Aku tidur barengan sama kamu aja ya, nggak apa-apa kan kepala kita dempetan?” Tama masih berusaha mencairkan suasana.
“Atau aku yang pakai bantalnya, kamu tidur di lengan aku ya? lengan aku kokoh banget tahu Ran?” Tama sudah mengkhayak kemana-mana dan itu sukses membuat Rani bereaksi.
“Apaan sih Tama! sana mandi!”
Teriak Rani kesal, perempuan itu sudah membuka selimutnya wajahnya bahkan memerah entah karena malu atau karena kepanasan di bawah selimut padahal musim kemarau sangat panas di Ibu kota.
Tama tertawa terbahak-bahak meskipun pada akhirnya pria itu menuruti permintaan Rani, ia sedang berusaha menerima serta memaklumi kerumitan yang tengah terjadi dalam rumah tangga mereka, atau mungkin akan sering terjadi.
[]
Ps. Agar riweh ya dua pasangan ini :(
__ADS_1
Masih enjoy kan guysssss? Jangan lupa kalau suka di share ya, terima kasih!