MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 29 : H o r m o n


__ADS_3

“Kenapa? ngambek lagi?” tanya Tama pada Rani yang sedari tadi hanya diam saja dengan wajah yang sangat kusut.


Rani tak menjawab ia hanya beringsut menjauhi Tama yang saat ini tidur tepat di sampingnya. Jangan tanya gimana mereka akhirnya tidur seranjang mala mini untuk kali pertama setelah menikah, tentu saja ada campur tangan Ibu. Tadinya maupun Tama dan Rani masih bingung bagaimana mereka akan tidur bersama terlebih pernikahan terjadi bukan karena cinta. Terlebih Tama yang tak ingin Rani merasa tidak nyaman memilih untuk tidur di lur.


“Lagian hobi banget bikin kesel.”


Rani menjawab ketus, ia kembali beringsut menjauhi Tama bahkan jika lengannya tak ditahan Tama Rani hampr saja jatuh dari tempat tidur.


“Udah, kalau kamu ngejauh gitu terus mending aku keluar ya?” Tama menahan lengan Rani.


“Nggak usah. Nanti di kira aku istri jahat yang nyuruh suaminya tidur di luar,” sungut Rani.


Tama terkekeh, “Jadi sekarang aku sudah kamu akui suamimu Ran?”


“Ya terus apa? Pembantuku?” ketus Rani.


Tama sedikit terluka mendengarnya namun tentu saja ia sembunyikan, “Ya Allah teganya.”


Tak hanya kesal, ada rasa was-was saat Rani berada di dekat Tama seperti ini, masih trauma dengan kejadian yang Rani lakukan.


“Apa kamu selalu minum?” tanya Rani kemudian masih membelakangi Tama.


Tama yang sebelumnya telentang memiringkan menghadap Rani, kini ia dapat menatap riap-riap rambut hitam Rani.


“Sesekali kalau lagi banyak pikiran saja.”


“Aku nggak suka suami yang hobi mabuk-mabukan,” tukas Rani.


“Aku nggak hobi minum kok, sesekali saja.”


“Tetap saja aku tetap nggak suka.”


“Noted. Aku akan berusaha nggak minum lagi. Kamu takut sama aku yang mabuk malam itu ya?”


“Apa kamu selalu bersikap seperti itu saat mabuk?”


“Aku nggak tahu, karena nggak ingat.”


“Apa kamu selalu meniduri perempuan saat mabuk?”


Tama tercekat ia membalik tubuh Rani agar menghadap dirinya, “Rani, demi apapun aku nggak pernah melakukan hal keji itu pada perempuan manapun, aku selalu menghormati mereka.”


“Lalu bagaimana dengan aku?” tanya Rani ketus, kini matanya mulai berkaca-kaca.


“Rani, aku nggak tahu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, aku sudah jatuh hati dari pertama lihat kamu.”


“Cih, mulut buaya seperti kamu mana bisa aku percaya,” ketus Rani.


Tama kembali terluka, meski begitu ia menyadari Rani yang menahan tangis sehingga ia berusaha untuk berbicara dengan selembut mungkin.


“Maafin aku Rani. Malam itu aku memang manusian yang sangat berdosa. Tapi aku nggak pernah mainin dan nidurin perempuan sembarang atau buaya apalah itu yang kamu pikirin.”

__ADS_1


Tama mengusap bulir-bulir air mata Rani yang jatuh juga di pipi perempuan itu, dirinya bahkan tak pernah membayangkan dalam hidupnya akan menyakiti seorang wanita seperti ini, apakah ini karma bagi Tama atas perlakuan ayahnya dulu pada Ibunya.


Rani meremas kaos yang Tama kenakan malam itu, “Tama, kamu orang paling jahat yang pernah aku temui. Tapi kenapa orang tua aku bisa yakin sama kamu, aku nggak tahu harus berbuat apa.”


Rani akhirnya kembali sesegukan, mengingat apa yang telah terjadi dalam hidupnya belakangan ini.


Hati Tama tentunya semakin sakit, ingin ia mengutuk dirinya sendiri jika bisa, ingin Tama mengambil menghapus memori pahit malam itu dalam ingatan Rani, Tama ingin melakukan semua hal agar perempuan itu tak terluka lagi namun apa daya Tama tak dapat melakukan apapun.


Akhirnya Tama memberanikan diri untuk memeluk Rani, “Rani, maafin aku. Maafin aku, tolong jangan simpan luka itu terlalu dalam, keluarin semua, kalau dengan lenyap aku di muka bumi bisa membuat kamu lebih baik, lakukan saja Rani. Tapi tolong jangan terlalu menyiksa diri kammu sendiri.”


Tama mengelus pelan rambut Rani dalam dekapannya, lengannya yang lebih besar dapat menangkup tubuh Rani dalam pelukannya terlebih posisi mereka saat ini yang saling berhadapan. Tak ada penolakan dari Rani, namun tak ada juga gestur menerima perempuan itu hanya diam bak patung yang menangis tanpa henti.


Tama mengelus pelan lengan Rani, “Apa aku nyakitin kamu Rani malam itu?” Tangan Tama kini turun ke pugung Rani dan pri aitu usap pelan layaknya porselin yang sangat rapuh.


Rani yang dalam dekapannya mengangguk, jika teringat lagi malam itu memanng seluruh tubuh Rani rasanya remuk.


Menyadari jawaban Rani Tama semakin mengeratkan dekapannya, namun tetap dengan lembut agar tak menyakiti perempuan itu.


Entahlah Rani sendiri bingung ia tak menolak lagi setiap perlakuan Tama, terlebih pernikahannya yang berjalan begitu mudah apakah hal ini terjadi karena adanya restu dan doa Bapak Ibu? Rani pun tak tahu. Rasa kesal dan jijiknya hilang begitu saja, atau karena anak dalam kandungannya? Rani berpikir keras sambil menangis.


Tama dapat merasakan Rani yang sudah mulai tenang, ia pun menyadari gerakan Rani yang sanagt di luar duagaannya, “Kamu kenapa gelang-geleng Rani?”


Rani mendongakkan wajahnya yang masih masah oleh air mata untuk dapat melihat wajah Tama, “Apaan sih enggak.”


Tama kemudian tak dapat menahan tawanya, “Kamu emang selalu gitu ya?”


“Selalu gitu gimana?” Rani kembali ke mode judesnya, ia bahkan menarik diri agar lolos dari dekapan tangan.


“Selalu merusak suasana, sering tiba-tiba random ngelakuin hal yang tak terduga. Habis nangis geleng-geleng kepala,” jelas Tama yang kembali tertawa, beberapa hari ini cukup membuatnya mulai mengerti sedikit banyak tentang Rani.


“Apaan sih enggak mulu, kan aku yang bisa nilai Rani. Tapi mungkin juga karena anak kita.”


Rani mengerucutkan mulutnya tak terima dengan apa yang Tama katakan, “Tauk ah laper…”


Rani memegangi perutnya yang merasa lapar padahal ini sudah pukul satu dini hari, tumben-tumbenan Rani pengen makan tengah malam.


“Kamu laper? Mau aku bikinin mie?” tawar Tama.


Meski tawaran Tama menggiurkan bahkan membuat Rani sudah menelan ludah membayangkan menyeruput kuah mie, Rani tetap sok cuek menanggapinya.


“Nggak usah.”


Tama menatap Rani jahil, “Serius nggak mau mie, yaudah aku mau makan mie sendiri ah.”


Pria itu kemudian bangkit untuk membuat mie, Rani masih mempertahankan imagenya untuk sok cuek.


“Bikin mie ah, emm enaknya apa ya, mie rasa soto pake cabe yang pedes banget.” Tama sengaja mengatakan hal tersebut untuk menggoda Rani.


Jangan tanya Rani sudah sangat tergoda dengan hal itu, pertahanannya lemah kalau soal mie kuah ia bahkan sudah menelan ludah entah yang kesekian kali.


Tama kembali melirik Rani, ia tersenyum kemudian berniat megusili Rani lebih lagi.

__ADS_1


“Bikin mie dulu ah,” tutur Tama meninggalkan Rani.


Tama tertawa, mengingat ekspresi istrinya itu. Kemudian dengan perlahan Tama mulai menghidupkan kompor serta menyiapkan air untuk memasak mie, Tama sudah hapal dengan letak pelatan dapur di rumah Rani.


Rani menelan ludahnya mencium aroma mie instan kesukaannya itu, akhirnya Rani yang tak tahan lagi menyusul Tama di dapur.


Tama hampir saja menjatuhkan pisau di tangannya yang memotong sawi sisa Ibu tumis tadi sore, “Astagfirullah, Rani kaget aku.”


Rani memasang muka sok masam, namun tentunya gagal karen aekspresinya sekarang seperti orang yang memohon untuk di beri semangkok mie.


“Apaan sih, orang mau minum.”


Rani berjalan mengambil air minum diatas meja, ia menuangkan air putih dari ceretmasih dengan matanya tak lepas dari mie yang tengah Tama masak.


“Pengen mie kan?” Tama kembali menggodanya.


Rani melemparkan tatapan kesal, “Enggak.”


“Yakin? Hmmm harum banget. Pake sayur, telor, cabe, komplit pokoknya.”


Tama mengibas-ngibaskan asap dari mie di panci agar aromanyay dapat menyebar ke seluruh dapur.


Rani akhirnya kalah, setelah meneguk airnya habis Rani mendekati Tama, “Ih mau!”


Tama tertawa melihat tingkah perempuan yang kini telah menjadi istrinya itu, polos sekali kamu Rani, batinnya.


Keduanya tak sadar sedari tadi Bapak dan Ibu ternyata tersenyum menyaksikan tingkah mereka berdua, doa-doa baik tak pernah berhenti keduanya rapal untuk menyertai kehidupan anaknya.


Rani lupa bahwa hidup kadang berjalan di luar prediksi manusia, tak semuanya ada jawabannya sekarang, karena cerita hidup ini telah di tulis oleh sang pencipta yang maha baik dan mengetahui apa yang tidak diketahui manusia itu sendiri, dan ternyata inilah hidup yang harus Rani jalani.


"Ibu sama Bapak ngapain di sini?"


Reflek Ibu menutup mulut Iyo yang sudah berada tepat dibelakangnya, begitupun dengan Bapak yang hampir saja jantungan karena terkejut.


"Hus, diem kamu mau ngapain?" tanya Ibu dengan berbisik.


Iyo menarik tangan Ibu yang menutup mulutnya, "Mau pipis."


Memang letak toilet dan dapur mereka berdekatan, sehingga harus melewati dapur terlebih dahulu untuk dapat sampai ke kamar kecil.


"Yaudah sana," tutur Bapak.


"Bapak! kok yaudah sana, jangan dulu kamu tunggu di sini dulu," Ibu memperingatkan Iyo, agar tak menganggu Rani dan Tama.


"Ibukkkkk," rengek Iyo.


"Lagi pada ngapain?"


Ketiga orang tersebut terkejut dengan kedatangan Rani dan Tama yang sudah memegang satu mangkok mie instan di tangannya.


"Enggak Nduk, inni Iyo kebelet pipis katanya."

__ADS_1


Ibu kemudian mendorong Iyo, sedangkan Bapak sudah ngacir duluan masuk kembali ke kamar bisa runtuh wibawanya kalau ketahuan ngintip anaknya sendiri gini.


[]


__ADS_2